BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 267


__ADS_3

Nih dikasih dua episode lagi biar pada anteng 😄


**


Selamat membaca ...


 


“Oh iya Kak. Itu .. urusan keluarga lo udah selesai?.” Tanya Fania disela piknik mereka


“Sedikit lagi.” Ucap Reno santai. “Tinggal nunggu lo tanda tangan, kan?.”


“Humm...”


“Udah ambil keputusan belum?.” Tanya Reno pada Fania yang barusan hanya ber Hum ria itu.


“Udah sih. Nanti lah. Sekarang nikmatin dulu ini piknik.” Ucap Fania. “Minggu depan aja kita ngeliweut gimana?. Nanti Fania minta Syahrini KW kirimin ikan asin, cabe jablay de el el pokoknya”


Semuanya tergelak saat mendengar Fania menyebut Syahrini KW barusan. Paham karena sebutan itu dimaksudkan untuk Mama Bela.


“Lo catat aja. Tiga hari lagi kan John mau balik kesini. Nah bisa titip dia nanti.” Ucap Reno.


"Oh Kak John, mau kesini?."


"Iya."


“Cabe jablay itu apa Fania?.” Mom sedikit kurang paham. “Yang Mom tau cabai di Indonesia itu, cabai keriting, merah dan rawit, kan?.”


Fania terkekeh sendiri.


“Pasti sebutan asalnya Kak Fania.” Celetuk Michelle.


“Ye... makanya nanti liburan ke Indonesia. Ntar gue ajak lo ke pasar impres mengenal jenis cabe di Indonesia.”


Fania menanggapi ucapan Michelle dan membuat yang lain terkekeh geli.


“Cabe jablay itu, cabe super pedes Mom. Cabe Sayiton nirozim ”


“Oh, I see. ( Oh begitu ).”


“Yah seperti ituh.”


“Jangan makan yang terlalu pedas.” Celetuk Andrew.


“Iya benar, Ndrew.” Timpal Jeff sambil menggigit sandwich nya. “Mulut lo aja udah pedas kalo menyindir orang.”


Fania menjulurkan lidahnya pada Jeff.


“Eh iya Kak Reno sama Kak Ara ga balik lagi ke Frognal?.” Tanya si Kajol.


“Kenapa lo ngusir?.” Sahut Reno.


“Dih, sensi amat Yigit Kozen. Gue mau ikut kalo lo mau balik lagi kerumah lo Kak.” Timpal Fania yang juga penggemar serial Turki itu.


“Mau apa? Mau menginap disana?.” Tanya Andrew dan Fania mengangguk.


“Bener ya, nanti ikut kalo Kak Ara sama kakak kamu ini balik kesana?.” Timpal Ara.


“Bener dong.” Sahut Fania. “Boleh kan, D?.”


“Coba aja dia bilang ga boleh.” Celetuk Reno sambil melirik malas pada Andrew. Yang lain hanya terkekeh dan Andrew membalas lirikan Reno dengan ekspresi yang sama.


Piknik keluarga Smith weekend itu diteruskan dengan obrolan ringan dan candaan.

__ADS_1


**


“Is he still breathing?. ( Apa dia masih bernafas? ).”


“I guess so. ( Gue rasa begitu ). Hanya masih belum membuka mata.”


“Then that woman, R?. ( Terus cewek itu, R? ).”


Tiga laki – laki Keluarga Smith masih bertengger di halaman belakang ketika acara piknik mereka usai.


Sisanya sudah kembali ke dalam rumah dan memilih ruang santai sambil menikmati cemilan yang tersedia.


“Gue belum memikirkan mau gue apain itu cewe kurang ajar.”


“Ga ada ide lo, Ndrew?.” Goda Jeff pada Andrew.


Andrew menggeleng. “Leave her for me. ( Tinggalin dia buat gue ).” Andrew meremas tangannya menahan geram. Reno dan Jeff paham, karena cewe yang bernama Inggrid itu Andrew dan Fania sampai kehilangan bayi mereka.


“What are you going to do to her?. ( Lo mau apain dia? ).” Tanya Reno dengan santai. “Mau lo buat seperti Cindy?.”


“Bahkan lebih buruk.”


Ketiga pria itu lalu tenggelam dalam pikirannya masing – masing.


Seorang pelayan datang menghampiri ketiga pria tamvan tersebut.


“Excuse me, Mister Reno. ( Permisi Tuan Reno ).” Ucap pelayan tersebut dengan sopan.


“What is it, Lita?. ( Ada apa, Lita? ).” Tanya Reno dengan santai.


“You have a guest, Sir. ( Ada tamu untuk anda, Tuan ).”


“A guest?. ( Tamu? ).” Reno mengernyitkan dahinya. “Who?. ( Siapa? ).”


“Mister Peter Alexander. ( Tuan Peter Alexander ).”


“Excuse me, Mister Anthony. ( Permisi Tuan Anthony ).” Theresa menghampiri Tuannya yang sedang bercengkrama bersama istri, putri dan kedua menantu perempuannya.


“Yes, Theresa?. ( Ya, Theresa? ).” Sahut Tuan Anthony pada kepala pelayan di kediamannya itu.


“Mister Peter is here. ( Ada Tuan Peter datang ).”


Raut wajah semua orang berubah tegang, kecuali Fania.


‘Mister Peter?. Ayahnya Kak Reno bukannya?.’


**


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Peter Alexander?. Karena seingat saya, saya tidak mengundang anda datang.” Reno masuk menghampiri orang yang mencarinya ke ruang tamu, dengan Andrew dan Jeff yang berada sedikit jauh dibelakangnya. Sengaja kayaknya, males negor.


Disaat yang sama Dad dan Mom muncul juga dari arah ruang santai.


“Apa begini cara kamu menyambut Ayahmu?.” Pria bernama Peter yang merupakan ayah kandung Reno itu berkata sambil memandang tajam pada putranya yang memasang wajah datar.


Dad Anthony menghampiri ayah Reno.


“How are you, Peter?. ( Apa kabarmu, Peter? ).”


Dad menyapa dengan hangat dan tersenyum pada Tuan Peter.


“What do you think?. ( Bagaimana menurutmu? ).” Namun Tuan Peter tersenyum sinis padanya. “You taught him so well, untill he becomes too arrogant.... ( sampai – sampai dia menjadi sombong ... ) and insolent! ( dan kurang ajar ! ).”


“Don’t be so rude, Peter. ( Tidak perlu kasar, Peter ). Have a seat. ( Silahkan duduk ).” Dad mempersilahkan.

__ADS_1


Tuan Peter kembali tersenyum sinis. “Rude?. ( Kasar? ). You know what he did to Irvin?!. ( Apa kau tau apa yang sudah dia lakukan pada, Irvin?! ).”


Tuan Peter mengacungkan telunjuknya pada Reno yang terlihat santai. Dan menyunggingkan senyum sinis pada ayah kandungnya itu.


“Bicara langsung pada intinya saja. Ini hanya antara kita. Tidak ada hubungan dengan Dad dan keluarga Smith.” Ucap Reno datar.


Tak lama Ara, Fania dan Michelle juga keluar dari arah ruang santai. Andrew langsung menghampiri Fania. Ara menghampiri Reno.


“Ayah, apa kabar?.”


Ara mengulurkan tangannya untuk mencium tangan sang ayah mertua, namun ditepis oleh Tuan Peter.


Rahang Reno tampak mengeras melihat tangan Ara yang ditepis kasar oleh ayahnya itu. “Kamu ga perlu lagi sopan padanya, Ara.”


Ara hanya terdiam setelah mendengar ucapan Reno. Lalu berdiri tepat disamping Reno sambil mengelus – elus lembut punggung suaminya itu. Mencoba menyampaikan pesan agar Reno menahan emosinya.


“Pergi ke kamar, Ara.”


Ucap Reno pada Ara, tanpa mengalihkan tatapan dari ayahnya.


“Iya.”


Ucap Ara pelan, tak ingin membantah suaminya.


“Mari, Mom antar, Ara.”


Mom menghampiri Ara lalu berjalan bersama menantu sulungnya menuju kamar Reno dan Ara.


“Kamu juga pergi ke kamar ya?.” Andrew berbicara pada Fania dilain sudut yang tak jauh dari Reno.


Fania mengangguk.


“Ayo Kak, kita keatas.”


Michelle langsung menggandeng tangan Fania.


Tuan Peter mengalihkan pandangannya pada Fania yang berjalan bersama Michelle.


“Apa itu dia?.” Ucap Tuan Peter yang menunjuk Fania dengan kepalanya. “Gadis yang bernama Fania?.”


Fania menghentikan langkahnya.


Semua mata menoleh pada Fania, Andrew kembali mendekati Fania.


“Pergi ke kamar, Heart.”


“Siapa dia, sampai kamu begitu lebih membelanya sampai – sampai menelantarkan adik – adik kamu sendiri dan memberikan hak mereka pada gadis tidak jelas itu, hah?!.”


Andrew melangkah maju. “Watch the way you talk!. ( Jaga bicara anda! ). Gadis yang ada sebut tidak jelas itu, is my wife! ( Adalah istri saya! ).” Andrew menatap geram pada ayah kandung Reno yang menghina Fania nya itu.


“D..”


Fania mencekal tangan Andrew.


“Pergi ke kamar sekarang, Heart.”


Fania menurut dan melanjutkan lagi langkahnya bersama Michelle.


“Don’t ever say anything bad about my wife or I won’t hold myself. ( Jangan pernah bicara buruk tentang istri saya, atau saya tidak akan enggan ).”


***


 To be continue ...

__ADS_1


**Selamat menunggu waktu berbuka, gengs!."**


Author mau nyari takjil dulu😄***


__ADS_2