BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 160


__ADS_3

Selamat membaca...




“Sejak kapan lo tau Fania bisa balapan?.” Tanya Andrew kala dirinya berikut Reno dan dua J berkumpul untuk sekedar minum kopi setelah mengantarkan Dad dan Mom ke Bandara.


“Dihari yang sama saat lo tau kalau Little F sudah ketemu.” Jawab Reno. “He’s got the same reaction like both of you last night. (Dia punya reaksi yang sama seperti kalian berdua semalam). Memberitahu kalau dia tau dari John yang cerita soal sumber kepanikannya waktu si bule koplak telpon Reno dengan amat panik.


“Hem.” Sahut Andrew. “Benar – benar ga gue pernah terbersit sekalipun di otak gue kalau si Demi Moore KW yang ga pernah bisa main basket ternyata terlalu jago di lintasan.”


“Same as You. (Sama).” Sahut Reno.


“Little F kalian berdua itu penuh kejutan, dudes.” Ucap John.


“Very! (Sangat!).” Timpal Jeff.


“Fania bilang semalam udah sekitar tiga tahun kenal sama FC. Kenapa kita ga tau?.” Ucap Andrew lagi.


“Selama dua tahun dia di belakang layar. Belajar sama Three Muskeeter. Setahun lalu baru keliatan dia punya bakat kata Vla.” Jelas Reno. “Setahun ini dia udah terkenal disana. We never pay attention with that. (Kita kan ga terlalu merhatiin).”


“Ya lo berdua kan sibuk sama bisnis dan cari si Fania setahun kemarin.” Timpal Jeff. “Ternyata selama ini sebenarnya kalian bertiga itu udah dekat tanpa disadari.”


“Ya bener. Padahal dulu kita sempet kagum kagum waktu liat LIVE anak FC Indo and Singapore were raced.” Timpal John sekarang.


“She’s in on that race?. (Dia ikut di situ).” Tanya Andrew.


“In?.(ikut)?.” Sahut John. “She’s the winner lah. (Dia yang menanglah).” Jawab John.


“Really, John?.(Beneran John).” Tanya Jeff tak percaya.


“Yap. Cuman kita kan ga tonton sampai habis itu LIVE. Cuma si Brian aja bilang yang menang anak baru di


lintasan.” Jawab John. “Ternyata dia Little F kalian.”


“Harusnya setahun lalu kita udah ketemu.” Reno menyunggingkan senyum.


“Ya padahal si Arman pernah bilang. Ada cewe baru dikomunitas. Cakep, Keren. Lo pasti naksir.” Sahut Andrew. “Tapi gue abaikan.” Andrew terkekeh. “Tapi milik ga kemana Bro! Pada akhirnya cewe yang dibilang Arman itu udah jadi milik gue kan sekarang?!.”


“Whatever!.” Sahut Reno dan dua J malas.


“By the Way, Ndrew. We’re stick on our plan right? (Rencana tetep kan?).” Tanya Jeff.


“Of course. (Tentu saja).” Sahut Andrew.


“Tapi Om Herman dan Tante Bela menolak.” Ucap Reno.


“That’s why Dad and Mom go there, right?. (Itulah kenapa Dad dan Mom pergi kesana, kan?).” Sahut Andrew.


**


“Babe, kamu sudah kosongkan jadwal untuk seminggu ini?.” Tanya Reno pada Ara saat mereka berdua memulai aktifitas di hari Senin untuk menyelesaikan segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan mereka karena dipastikan dalam minggu ini mereka akan bertolak dari London.


“Dua minggu sudah aku kosongkan, Hon.” Sahut Ara.


“Kita tinggal tunggu kabar dari Dad and Mom hari ini.” Ucap Reno.


Dan mereka berdua melakukan aktifitas pekerjaan mereka masing – masing yang dipastikan akan banyak sekali hari ini termasuk Andrew dan dua J. Meninggalkan Fania sendirian di Kediaman Smith karena Michelle juga sudah memulai kuliahnya sejak seminggu yang lalu.


“Iseng amat ish.” Gerutu Fania yang ditinggal sendirian di kediaman Smith. “Oh iya.” Fania meraih ponselnya lalu melirik jam. “Masih Shubuh ya. Pasti lagi pada ribet ini keluarga cemara jam segini.” Fania berbicara sendiri. Kemudian iseng melihat  status orang – orang di aplikasi chatnya. ‘Tumben amat udah tiga hari perasaan ini keluarga cemara ga gatel pasang status apaan kek gitu.’ Batinnya.


Fania kemudian menyibukkan dirinya untuk membuat pastel buat para penghuni rumah yang sedang beraktifitas di luar. Daripada gabut si Kajol.


**

__ADS_1


“Heart.” Sapa Andrew saat laki – laki itu sudah kembali ke kediaman Smith dan bersiap untuk istirahat di kamarnya dan Fania.


“Hem?.” Sahut Fania yang sedang menonton televisi.


“Besok aku harus pergi.” Ucap Andrew membuat Fania mengalihkan perhatiannya.


“Ke?.” Tanya Fania singkat.


Andrew tak langsung menjawab. Laki – laki itu tampak berpikir sebentar.


“Nald?.” Fania memanggil.


“Ada urusan pekerjaan di luar London.” Ucap Andrew.


“Ke luar negeri maksud kamu?.” Tanya Fania. “Kok mendadak?.”


“Hem, seperti itulah. Ada hal yang sedikit mendesak.” Jawab Andrew.


“Kamu kenapa sih?.” Tanya Fania.


“Kenapa gimana maksud kamu?.” Andrew bertanya balik.


“Kayak ada yang mengganggu pikiran kamu.” Jawab Fania. Andrew tersenyum tipis. “Ga bisa cerita sama aku?.”


“Jangan terlalu dipikirkan.” Andrew mengelus kepala Fania. “Istirahat yuk, aku cape. Pagi – pagi sekali aku sudah berangkat.”


“Kok mendadak banget sih Nald. Udah perginya besok, pagi-pagi pula. Terus aku gimana?.” Fania masih ingin membahas sepertinya meski Andrew sudah berdiri dari duduknya.


“Ada R, Ara, Michelle sama John.” Ucap Andrew. “Lagipula besok kamu mau lihat – lihat kampusnya Michelle juga, kan?.” Andrew berbicara sambil tetap melangkah ke ranjang.


“Tapi kan kamu janji mau nemenin aku?.” Sahut Fania. “Nald, kalo ada apa – apa itu ngomong, kek.”


“Aku hanya ada urusan mendesak di Luar London. That’s it (Itu saja).” Sahut Andrew yang kini sudah duduk diranjang. “Besok Michelle dan John yang akan pergi sama kamu. Oke?.”


“Ya kalo aku maunya sama kamu?!.” Sahut Fania.


“Egois?. Kamu bilang aku egois?.” Fania beranjak dari duduknya. “Aku itu Cuma tanya kamu kenapa?!. Paling engga share lah, meski mungkin soal kerjaan kamu yang aku ga ngerti.”


“Heart, Please!. Aku lelah okay?.” Ucap Andrew yang kemudian merebahkan badannya.


“Terserahlah!”. Fania mencebik lalu bergegas naik ranjang dan memposisikan tidurnya jauh dari Andrew dengan menghadap ke lain arah. ‘Nanti kalau gue masa bodoh dibilang ga care. Giliran ditanya malah bikes.’ Batin Fania yang kemudian memasang headset dan mendengarkan musik melalui ipodnya hingga ia terlelap pulas.


**


“Morning.” Sapa Fania pada mereka yang berada di ruang makan pagi itu.


“Morning Little F.” Sahut Reno dan Ara.


“Morning Jol.” Sahut John.


“Morning Kak Fania. Nanti jadi kan mau liat – liat kampus aku?.” Sahut Michelle seraya bertanya. Namun Fania tidak terlalu memperhatikannya karena matanya tidak melihat Jeff juga si Donald di ruang makan.


“Andrew sama Jeff sudah berangkat sebelum subuh tadi.” Ucap Reno yang paham kalau Fania sedang mencari


keberadaan si botak yang sudah pasti tidak ada di kamar saat Fania bangun.


“Oh jadi juga dia pergi?.” Sahut Fania. “Kok ga bangunin gue sih. Ga sopan amat ga pamitan.”


“Buru – buru Fan. Ga tega juga kali bangunin elo.” Sahut John.


“Hem.” Fania malas menanggapi, lalu menyibukkan diri memilih menu sarapan yang tersedia.


Reno, Ara, John dan Michelle saling pandang.


“Jangan cemberut kalau makan.” Ucap Reno. “Setelah ini siap – siap berangkat ke kampus Michelle ditemani John?.”

__ADS_1


“Hem.” Fania masih menjawab dengan malas.


**


Malam kian menjelang, setelah tadi pagi Fania beserta Michelle dan John pergi melihat – lihat ke kampusnya Michelle yang menjadi rekomendasi Universitas untuk Fania kuliah.


Andrew hanya sekali memberi kabar. Fania tak membalas chat Andrew sengaja agar Donald nya itu


menelepon. Tapi sampai detik ini malah chat dari Andrew pun tak ada lagi.


“Ini piano bisa dipake Chel?.” Tanya Fania saat mereka selesai makan malam.


“Bisa.” Ara yang menjawab. “Kamu bisa main piano emangnya?.”


“Lagu klasik sih ga bisa. Piano sih belom coba. Orgen iye bisa, belajar sama si Papah.” Ucap Fania. “Pernah sih diajarin Yuza juga main piano.”


“Try then. ( Coba gih ).” Celetuk Reno.


“Iya Jol, udah lama gue ga denger lo nyanyi juga.” Timpal John.


“Ish Kak Fania. Apa sih yang Kak Fania ga bisa?.” Michelle ikut menimpali. “Aku liat foto – foto perform kak Fania di IG kakak. Keren Kak. Sumpah.”


“Rezeki kakak kamu kan kalau kata si Jeff juga. Fania paket komplit.” Ucap Ara.


“Bucin.” Celetuk John membuat mereka terkekeh.


Fania hanya tersenyum tipis. ‘Hhh, kalo beneran bucin kan paling engga telpon kek.’ Batinnya. “Di rumah ini yang bisa main piano siapa?. Jangan bilang ini pajangan doang.”


“Dad bisa main piano. Jago. Tuh Ara sama Michelle juga bisa.” Sahut John


“Coba mainkan Kajolita Esperansah de La Costa.” Celetuk Reno. “Daripada liat muka lo yang ditekuk begitu mending gue denger lo nyanyi.”


“Rese.” Sahut Fania menekan beberapa tuts piano, coba menyelaraskan nada.


🎶🎶 


🎶🎶


Ku benci hari ini, Kamu tak di sini


Kau minta aku, Berfikir tanpa marah dan cemburu


🎶


Salahnya memang ada di aku, Cemburui kamu


Aku tak mampu sikapi rasa rindu, Yang memburu


🎶


Tidakkah boleh jika aku cemburu


Ku lakukan karena aku cinta kamu


🎶


Jangan begini


Aku tak mau sendiri di sini dan berteman sepi


🎶🎶


🎶🎶


*

__ADS_1


To be continue .....*


__ADS_2