BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 245


__ADS_3

Selamat membaca ..


“Naomy?.”


Ucap Andrew dan Dewa mengangguk.


“Ada lebih dari ratusan wanita yang bernama Naomy ini di London, Bro. Naomy who? (Naomy siapa?). Nama belakang atau mungkin nama suaminya. Dan asal lo tau, nama depan istri gue juga Naomy. Tapi ga mungkin istri gue kan?.”


Dewa tersenyum.


“Dewa!.”


“Tante Anye.” Dewa dan Andrew menoleh ke asal suara.


“Dewa, kamu apa kabar, Nak?.”


Mama Anye menghampiri Dewa dengan sumringah dan langsung memeluk keponakannya itu.


Dewa tersenyum dan memeluk juga Mama Anye. “Baik Tante. Tante juga apa kabar?.” Jawab Dewa seraya bertanya setelah melepaskan pelukan dan mencium tangan Mama Anye dengan takdzim.


“Tante baik, Alhamdulillah.”


“Syukurlah.”


“Eh iya, Ndrew. Tadi kamu dicari Fania. Dia belum makan itu, nunggu kamu katanya.”


“Oh iya, mana Fania, Mam?.” Ucap Andrew sambil celingukan mencari keberadaan Fania.


“Sepertinya tadi ke arah dapur.” Sahut Mama Anye. “Kamu susul deh Ndrew, kasihan itu dia dari tadi bolak – balik mengecek ini itu. Takut ada yang kurang katanya. Kamu ajak makan dulu deh Fania nya.”


“Memang dia susah diam kan, Mam?.” Ucap Andrew sambil tersenyum.


‘Fania....’ Batin Dewa.


“Ya udah Mam, Andrew susul Fania dulu.” Ucap Andrew lagi. “Wa, gue tinggal dulu sebentar. Lo makanlah dulu.”


Dewa tersenyum tipis dan mengangguk.


Andrew kemudian berjalan menuju dapur, untuk mencari Fania.


**


“Heart.” Panggil Andrew mesra, saat melihat Fania berada di dapur sedang mengecek beberapa dessert untuk disajikan. Seperti yang Mama Anye bilang barusan.


“Nald ....” Fania menoleh pada Andrew lalu mengelap tangannya.


“D.” Ucap Andrew sambil membetulkan anak rambut Fania yang sedikit berantakan dari balik kerudung putih yang dipakainya.


“Iya, D.” Ucap Fania. Hubungan mereka sudah lebih baik dari sebelumnya sekarang. Setelah Fania menyuruh Andrew kembali untuk tidur di ranjang mereka karena udah ga tega.


“Kamu ngapain masih repot disini, hem?. Kan sudah ada orang – orang dari Event Organizer untuk mengurus acara ini.” Ucap Andrew yang sudah berdiri mendekat dengan Fania sambil mengusap pelan wajah cantik istrinya itu. “Cantik pakai penutup kepala.”


“Kerudung ini namanya.” Sahut Fania sambil tersenyum. “Belum siap.”


Andrew balas tersenyum.


“Aku hanya bilang kamu cantik dengan kerudung ini. Bukan menyuruh kamu memakai seterusnya. Hak kamu, Heart.”


“Iya, D.” Ucap Fania sambil masih dengan senyumnya. “Kamu dari mana aja sih?.”


“Sorry. Ada sepupunya Ara datang dari Norwegia. Sahabat lama aku.”


Fania hanya manggut – manggut dan ber OH ria.


“Yuk, makan dulu. Sekalian aku kenalkan kamu ke dia. Tapi sebelum itu ....”


“Apa?.”


“Boleh minta satu kecupan dipipi?.”


“Hm, mulai ngelunjak.”

__ADS_1


Andrew setengah terkekeh.


“Kan dipipi. Bukan disini.” Ucap Andrew sambil menyentuh bibirnya dengan telunjuk.


“Dasar Donald Bebek.” Fania menggeleng pelan namun dengan senyuman.


Cup!.


Sebuah kecupan singkat dari Fania mendarat di pipi Andrew. Membuat si Donald Bebek tersenyum kesenengan.


‘Perlahan tapi pasti, Donald Bebek ....’ Batinnya bermonolog. ‘Udah mau mengecup, pasti kan mau nanti cium bibir, habis itu... ah.’ Omesh Andrew mulai menyusun rencana.


Sementara itu beberapa orang yang ada di dekat mereka jadi salting sendiri melihat sepasang suami istri yang nampak mesra itu.


“Ya udah yuk.” Ajak Fania pada Andrew.


Andrew pun mengangguk seraya menggandeng tangan Fania lalu berjalan kembali untuk berada bersama keluarga mereka dan para tamu.


***


“Hey Little F, dari mana aja sih?. Dari tadi dicariin ga kelihatan.”


Ucap Reno saat melihat Andrew dan Fania yang sudah datang bergabung.


“Dari dapur tadi ngecek dessert takut ada yang kurang.” Sahut Fania.


Reno dan Ara yang berada disampingnya hanya geleng – geleng saja.


“Ngapain sih Sweety, kamu masih repot begitu. Orang udah diurus sama EO juga.” Ucap Ara.


“Like you don’t know her, Ara (Kayak ga tau dia aja lo, Ara).” Andrew menimpali ucapan Ara.


“Ya udah makan dulu sana. Belom makan pasti kan, Little F?.” Ucap Reno seraya bertanya. “Kalian makan dulu lah.”


“Iya ini gue mau ajak dia makan.” Sahut Andrew. “Oh iya, si Dewa mana?.”


‘Dewa?.’ Batin Fania.


“Oke.” Sahut Andrew dan Fania barengan. Lalu bergegas berjalan menuju meja tempat tersajinya aneka makanan. “Dewa itu siapa, D.?” Fania bertanya pada Andrew.


“Tadi yang aku bilang. Sepupunya Ara. Sahabat lama aku.” Jawab Andrew.


‘Dewa... Ka Dewa .... jadi inget dia.’ Batin Fania mengingat seseorang dimasa lalu.


“Heart.”


 ‘Apa kabarnya dia sekarang ya?.’ Batinnya bermonolog lagi.


“Heart.” Suara Andrew dan tangan yang menyentuh dagunya menyadarkan Fania dari lamunan.


“Eh iya, kenapa?.”


“Kok melamun?.”


“Siapa yang ngelamun. Lagi inget – inget naro hp dimana.” Fania berkelit. “Namanya Dewa gitu?. Dewa aja?.”


“Kok jadi penasaran, hem?.” Tanya Andrew.


“Mau tau aja, kan katanya sepupunya Kak Ara, sahabat lama kamu, tapi aku selama ini ga pernah denger nama dia disebut.”


“Yah dia lama tinggal di Norwegia. Baru sekarang bisa datang lagi.” Ucap Andrew sambil mengambil makanan bersama Fania.


Fania hanya ber OH ria.


“Sedikit amat makannya, Sweety?.” Tanya Ara saat Fania sudah duduk disebelahnya.


“Jaim Kak, ntar kalo tamu udah pada pulang, baru gue habek.” Sahut Fania setengah berbisik dan Ara terkekeh.


“Apalagi habek.” Celetuk Ara.


“Ntar gue beliin kamus bahasa Betawi.” Timpal Kania dan mereka berdua terkekeh. “Eh iya Kak Ara dari tadi Andrew menyebutkan nama Dewa, Dewa. Katanya sepupu Kak Ara?.”

__ADS_1


“Iya Dewa. Sepupu aku. Lumayan deket sama kita dulu. Cuman dia pernah kecelakaan parah. Terus terapi di Norwegia. Nah sekarang udah sehat lagi, makanya dia langsung menyempatkan datang hari ini.”


“Emm. Berarti waktu nikahan aku ga ada ya?.” Tanya Fania sambil memakan makanannya.


“Engga. Dia belum sehat banget waktu itu.”


Fania hanya manggut – manggut saja.


“Kan sudah dibilang, dia habis kecelakaan parah. Lalu melakukan pengobatan dan terapi di Norweg.” Timpal Andrew.


“Iyaaaa .... Donald Bebek.” Sahut Fania pada Andrew yang kemudian tersenyum lebar padanya. “Namanya Dewa siapa?. Dewa maut apa Dewa Judi, atau Dewa asmara?.” Ucap Fania sambil terkekeh.


“Dewa Finn.” Sebuah suara seperti sedang menjawab pertanyaan Fania.


‘Kayak gue kenal suaranya.’ Batin Fania belum menoleh ke belakang.


“Hai Wa, udah makan?.” Reno terdengar bertanya pada pria yang barusan bersuara.


“Udah. Nih bareng dua pria gila.” Sahut Dewa setengah terkekeh menunjuk dua J yang datang bersamanya.


Fania menoleh untuk melihat si pria yang suaranya seperti ia kenal.


“Heart, kenalkan ini Dewa, yang tadi aku bilang.” Ucap Andrew yang sudah mengajak Fania untuk mendekat. “Wa, kenalkan. Ini istri gue, Fania.”


Dewa tersenyum manis, sementara Fania seperti mengerjap kan matanya. Tak percaya dengan sosok yang berdiri di depannya sekarang. ‘Kenapa dunia pernovelan ini sempit sekali, Author?.’ Batin Fania bermonolog.


Wkwkwkwk....😃


“Halo, apa kabar?.” Dewa masih tersenyum manis pada Fania yang nampak terpaku.


“Ka ....”


Fania setengah terbata.


“Lama ga ketemu ya?.” Ucap Dewa yang sudah mengulurkan tangannya. “Naomy?.”


“Ka Dewa....?.”


Fania akhirnya berucap. Reno, Ara beserta dua J yang ada di dekat Fania dan Dewa sedikit terheran melihat Fania dan Dewa yang nampaknya sudah saling kenal.


Sementara Andrew? ..


‘Eh iya lo bilang mantan cewe pujaan lo itu ada di London, kan?. Siapa namanya gue lupa, mungkin gue kenal.’


‘Naomy....’


Seketika Andrew mengingat sedikit pembicaraannya bersama Dewa tentang nama wanita pujaan Dewa.


Seorang wanita yang ia ketahui kalau Dewa tak hanya memuja, namun amat sangat mencintainya.


Seorang wanita yang fotonya pernah ditunjukkan oleh Dewa beberapa tahun lalu, sudah lumayan lama hingga Andrew tak lagi ingat wajah wanita yang pernah ditunjukkan Dewa dalam ponselnya. Yang membuat mata dan wajah Dewa begitu bahagia saat bercerita tentang wanita tersebut. Namun saat itu Dewa masih takut untuk menyampaikan perasaannya pada sang wanita pujaannya, hingga Dewa mengalami kecelakaan yang cukup parah dan sempat koma.


Andrew menatap Fania dengan tatapan yang sulit diartikan.


‘Dan asal lo tau, nama depan istri gue juga Naomy. Tapi ga mungkin istri gue kan?.’


Kembali teringat ucapannya sendiri pada Dewa beberapa waktu lalu.


Memandangi Dewa yang sedang mengulurkan tangannya dengan tersenyum pada Fania, dan memandangi Fania yang nampak terkejut melihat Dewa.


‘Lo tau Ndrew?. Gue ga pernah merasa hati gue sepenuh ini sebelum bertemu dia. Indah namanya, seindah orangnya. Cantik wajah dan hatinya. Bukan seperti para wanita – wanita yang sering ada dikeliling kita yang kebanyakan matre, munafik. Dia berbeda... Dia yang mampu bikin hati gue bergetar setiap kali dia tersenyum dengan cantiknya... Dia mampu memenuhi hati gue dengan bahagia, meski hanya dengan mendengar suaranya aja. Dia Naomy.... Naomy Stephania....’


Ingatan Andrew seketika terbang ke masa lalu, mengingat saat Dewa bercerita dengan begitu bersemangat dengan aura bahagia di wajahnya tentang si wanita pujaannya itu.


‘Damned! (Sial!).’ Batin Andrew yang rasanya tak percaya dengan kebetulan yang terjadi saat ini.


**


To be continue ...


Satu episode lagi biar penasaran 😄

__ADS_1


__ADS_2