
♦KEKHAWATIRAN♦
Selamat membaca ...
London
Fania dan Andrew beserta seluruh Keluarga Smith sudah kembali ke London. Minus dua J karena dua orang itu ikut Dewa bertolak ke Jerman. Selain ada urusan bisnis, dua J sekaligus ingin berkunjung ke resto milik Dewa yang laki – laki itu rintis di sana.
“D... aku belom pernah ke Jerman.”
Andrew meletakkan ponselnya diatas nakas. Beringsut untuk tiduran dengan kepala diatas paha Fania seperti biasa. “Kenapa tiba – tiba mau kesana?.”
“Pengen aja. Seru kayaknya liat postingannya ini anak kembar.” Ucap Fania yang masih memegang ponselnya sambil menunjukkan postingan dua J yang sedang berada disana. “Pengen liat apa aja yang ada disana.”
“Bukan karena kangen Dewa?.”
Ucap Andrew datar sambil mengelus – elus perut Fania.
“Cie cemburu nih ye.”
“Siapa bilang?. Aku hanya tanya.”
Andrew berlagak sok cool.
“Jadi ga apa – apa nih kalo aku kangen sama Kak Dewa?.”
Andrew memberikan tatapan tajamnya pada Fania, namun bukannya takut Fania malah terkekeh.
“Sepertinya kamu sudah mulai bertingkah. Mau aku kurung di kamar seterusnya ga boleh kemana – mana selain dengan aku?.”
“Segitunya.” Ucap Fania sambil masih terkekeh dan membelai pipi Andrew yang wajahnya sedang merungut itu. “Ya kalo kangen sebagai teman kan wajar D, seperti aku kangen kak John dan kak Jeff misalnya. Kangen ngobrol, kangen becanda. Seperti itulah.”
“Tetap ga boleh!.”
“Iya, iya.” Sahut Fania cepat. “Tapi kamu jangan gitu juga sih sentimen sama Kak Dewa, kan dia sahabat kamu juga.”
“Dulu. Sekarang berteman biasa aja. Kenyataan kalian pernah dekat dan terlalu dekat bahkan membuat aku kesal kalau lihat dia.”
“Ck Donald Bebek kalo begini mukanya ngegemesin banget.”
Cup!. Andrew bangkit dan langsung menyambar bibir Fania.
“Udah ga usah bicarakan si Dewa terus. Lebih baik kita tidur.”
“Iya, iya. Jangan kelewat sebel. Ntar anaknya mirip Kak Dewa loh.”
Fania terkekeh dan langsung menyembunyikan dirinya dibalik selimut.
“Enak aja!. Aku yang cape – cape buat masa mukanya mirip dia.”
“Ih apa sih?!.” Fania menepis tangan Andrew yang sudah berada didadanya sambil membuka kancing atasan piyama yang ia kenakan.
“Memastikan bayi kita hanya mirip aku atau kamu.”
Dan Andrew pada akhirnya sukses meloloskan seluruh pakaian Fania dari tubuh sang istri yang sudah menggeliat pasrah dengan seksi dibawah kungkungannya.
**
Satu bulan kemudian
Fania dan Andrew sudah berada bersama Judith untuk pemeriksaan rutin setiap bulannya.
“Your baby is in good condition ( Bayi kalian dalam kondisi yang baik ). Overall, everything about the baby are good ( Secara keseluruhan, semuanya bagus ).” Ucap Judith Fania dan Andrew dan menciptakan senyuman dibibir keduanya. “Next month I suggest you take the Amniosinthetic Test Fania and another few test ( Bulan depan aku sarankan kamu melakukan tes amniosintetis, Fania. Dan beberapa tes lainnya. ).”
Fania dan Andrew kompak mengernyitkan dahi mereka. “What kind of test is that? ( Tes apa itu? ).”
Fania yang memang ga paham mengajukan pertanyaan pada Judith. “A test to make sure that your baby has no genetic disorder ( Sebuah tes untuk memastikan kalau bayi kalian tidak mempunyai gangguan genetik ).” Ucap Judith.
“Is it danger ir having any kind of risk? ( Apa itu berbahaya atau memiliki resiko? ).” Tanya Andrew sedikit khawatir.
“Just in case. But from what I’ve seen that your baby is healthy and have big probability for not having that. But it’s okay to take test ( Hanya untuk berjaga – jaga. Tapi dari yang aku lihat bayi kalian sehat dan besar kemungkinan tidak memiliki gangguan tersebut. Namun lebih baik agar tetap melakukan tes ).”
“Um, is it possible for me to do a natural, normal Birth? ( Um, apa memungkinkan untukku melakukan persalinan normal ).”
“There is always a probability Fania, no need to have a big worries. We’ll see about if the time is closer ( Selalu ada yang namanya kemungkinan Fania, tidak perlu terlalu khawatir. Kita akan lihat nanti setelah waktunya sudah dekat ).”
Fania dan Andrew mengangguk setelah mendengarkan penjelasan Judith.
Lalu beranjak pergi dari ruang praktek dokter cantik tersebut setelah informasi yang didapat soal bayi mereka dirasa cukup.
__ADS_1
***
“D. Kamu beneran ga ingin tahu jenis kelamin anak kita?. Ga penasaran emang?.” Ucap Fania saat sudah berada di dalam mobil bersama Andrew.
“No ( Engga ). Aku ingin hal itu menjadi kejutan, rasanya pasti berbeda daripada sudah mengetahui lebih awal.”
“Ya udah, terserah kamu, D.”
Andrew tersenyum dan mendaratkan satu kecupan di kening Fania.
“Terima kasih atas pengertiannya Nyonya Andrew.”
Fania terkekeh.
“Sama – sama Tuan Andrew.”
***
“Memikirkan apalagi, hem?.”
Andrew merangkul Fania yang berdiri di area favoritnya di kamar mereka.
Fania selalu refleks menyandarkan punggungnya jika Andrew memeluknya dari belakang seperti ini. Amat nyaman untuk Fania.
“Bukan apa – apa.”
“Ibu hamil jangan suka bohong.”
“Orang ga hamil juga mana boleh bohong sih.”
“Memikirkan apa, hem?. Soal tes bulan depan?.” Andrew mendaratkan b*kongnya di kursi balkon, membawa Fania juga diatas pangkuannya.
“Sedikit.”
“Kan Judith bilang itu hanya tes biasa.”
“Iya, tapi kan ga Cuma satu tes itu aja.”
“Lalu?.”
“Sedikit khawatir aja soal bayi kita.”
“Tadi Judith bilang bayi kita dalam kondisi yang bagus kan?.”
“Iya.”
“Iya.” Sesaat mereka terdiam. “D.”
“Hem?.”
“Boleh aku minta satu hal?.”
“Jangankan satu, satu juta hal kamu minta akan aku lakukan jika memang aku mampu.”
Fania tersenyum, lalu mengecup kening Andrew.
“Jika kamu ditempatkan dalam posisi harus memilih antara keselamatan aku dan anak kita, tolong selamatkan dia. Buah cinta kita.”
****
“Ndrew!.”
“Ndrew!.”
Reno dan Jeff bergantian memanggil Andrew saat tengah rapat. Namun laki – laki itu seperti sedang tidak berada disana. Entah apa yang dibicarakan dalam meeting nya bersama Reno dan beberapa Staff penting di Perusahaan. yang jelas Andrew sedang tidak fokus.
Tubuhnya memang sedang duduk di ruang meeting, namun pikirannya sedang menerawang, melayang jauh dari tempatnya berada sekarang.
“Andrew Adjieran Smith!.”
“What? ( Apa? ).” Andrew tersadar. Sedikit kaget, karena Reno menyebutkan namanya sembari melempar pulpen kearahnya.
“Lagi mikirin apa sih lo?!.”
“Mikir jorok pasti soal si Kajol.” Celetuk Jeff.
Andrew berdecak. “The meeting has finished? ( Meeting nya udah selesai? ).” Dia bahkan tak sadar kalau hanya tinggal dia, Reno dan Jeff dalam ruang meeting.
“Lo bertengkar sama Fania?.” Tanya Reno.
“Engga.” Jawab Andrew singkat dengan wajah yang sedikit khawatir.
__ADS_1
“Ada masalah jangan disimpan sendiri.” Ucap Jeff.
“Apa soal kehamilan Fania?.” Tanya Reno yang kini memandangi Andrew dengan intens, begitu juga Jeff yang memandanginya dan terlihat wajahnya khawatir saat membicarakan kehamilan Fania.
Andrew mengangguk pelan.
“Apa ada masalah dengan bayi kalian.”
“Hasil pemeriksaan baik semua. Bagus.” Ucap Andrew.
“Lalu?.” Tanya Jeff.
Andrew terdiam sejenak.
“Perkataan dia semalam yang membuat gue ga tenang.”
“Seandainya kamu ditempatkan dalam posisi harus memilih antara keselamatan aku dan anak kita, tolong selamatkan dia. Buah cinta kita.”
“Jangan bicara yang bukan – bukan, Heart!. Aku ga suka dengar kamu bicara begitu!.”
“Jangan marah. Aku hanya bilang seandainya, kan?.”
“Aku ga mau dengar kamu bicara begitu lagi!.”
“Iya, maaf.”
“Temani gue bertemu Judith, R!.” Andrew berdiri tergesa dari duduknya.
Reno dan Jeff juga ikut berdiri pada akhirnya.
***
“Andrew, R, what you guys are doing here?. Where’s the ladies? ( Andrew, R, kalian sedang apa disini? Mana istri kalian?.”
Owen bertanya pada Andrew dan Reno yang berpapasan dengannya di dalam rumah sakit.
“No, we don’t come with them ( Engga, kami ga datang bersama mereka ).” Sahut Reno.
“Are you guys want to visit someone? ‘cause if there’s any family member of yours is being treated here, I’m surely know about that ( Apa kalian ingin membesuk seseorang?. Karena kalau ada anggota keluarga kalian yang sedang
dirawat disini, aku pastinya tahu ).”
“We’re going to meet you wife. Is she around?. I haven’t called her yet ( Kami mau menemui istrimu. Apa dia sedang praktek? Karena aku belum sempat menghubunginya ).”
“Ya she’s here. Come, I’ll take you guys to her office ( Ya dia ada. Ayo, gue antar kalian ke ruangannya ).”
***
“Just like I said to you and Fania yesterday Andrew, your baby is in a very good condition ( Seperti yang aku bilang kemarin padamu dan Fania. Andrew. Bayi kalian dalam kondisi yang sangat baik ).” Ucap Judith saat Andrew dan Reno beserta Owen sudah berada di ruang prakteknya saat ini.
“Then I ask you once again ( Lalu aku tanya juga padamu sekali lagi ). Is my wife womb condition could have any risk when the birth time comes? ( Apa kondisi rahim istriku beresiko saat waktu kelahiran nanti? ). A serious condition, is what I mean ( Kondisi yang serius, maksudku ).”
Andrew bertanya dengan mimik wajah yang serius dengan penekanan pada ucapannya ke Judith.
“If Fania in a stabil health, nothing serious thought, that she might have to be a trigger of a high stress, then everything going to be alright ( Jika Fania dalam kondisi kesehatan yang stabil, tidak ada hal serius yang mungkin ia pikirkan yang mempu memicu stress berkepanjangan, maka semua akan baik – baik saja ).”
Judith menjelaskan pada Andrew yang terlihat sedikit gusar.
“But like I said, the same thing that I’ve ever said to R and Ara also, that every pregnancy has their own risk ( Tapi seperti yang aku bilang, hal yang sama seperti yang pernah aku katakan pada R dan Ara, kalau setiap kehamilan memiliki resikonya masing – masing ).” Judith melanjutkan. “Why you look anxious? Is Fania having a lamentation? ( Kenapa kamu terlihat gelisah? Apa Fania ada keluhan? ).”
Andrew terdiam sejenak.
“All the test you said yesterday, can you advance the schedule in this week? ( Semua tes yang kamu bilang kemarin, apa bisa dipercepat dalam minggu ini? ).” Tanya Andrew.
“Ya sure ( Ya tentu ).”
“When? ( Kapan? ).”
“Wait. Let me see my schedule ( Sebentar. Biar aku cek jadwalku dulu ).” Ucap Judith sambil membuka buku catatan kecilnya.
Sementara Reno dan Owen membiarkan Andrew dan Judith berbicara tanpa menginterupsi. Membiarkan Andrew menanyakan segala hal yang ingin dia ketahui soal kesehatan Fania dan bayi mereka.
“How about three days ahead? ( Bagaimana kalau tiga hari lagi? ).” Ucap Judith.
“Okay ( Oke ).” Sahut Andrew. “Do all kind of test, to make sure that my baby are okay, especially my Fania ( Lakukan segala tes, untuk memastikan kalau bayiku baik – baik saja, terutama Faniaku ).” Sambungnya lagi dengan penekanan.
*
To be continue ..*
Hola, masih setia disindang para readernya BSS yang blaem - blaem?.
__ADS_1
Kalo masih jangan lupa dukungan jempolnya iye.
Ma acih.