
♣ SATU CINTA YANG SELESAI ♣
Selamat membaca......
Daun – daun berguguran di Kota London saat ini. Inggris sudah memasuki musim gugur dan jalanan banyak ditutupi oleh daun – daun tua yang berguguran.
Fania dan Andrew baru saja tiba di Mansion Keluarga Adjieran Smith bersama Andrea yang berada dalam buaian Fania.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Andrew dan Fania pada Dad dan Mom yang sudah menunggu kedatangan mereka dipintu masuk Mansion.
“Wa’alaikumsalam.”
Dad dan Mom menjawab bersamaan dan Mom langsung meraih Andrea dari buaian Fania.
“Sepi amat ini rumah.”
“Sangat.” Sahut Mom atas ucapan Fania. “Untung kalian datang.”
“Mom was right, so glad you both and my lovely grand daughter come here today. Or me and your Mom will feel very lonely (Mom benar, untung saja kalian berdua dan cucu perempuan kesayanganku datang hari ini. Kalau tidak aku dan Mom akan merasa sangat kesepian.”
“Ayo ah, kita ngobrol di dalam aja.”
“Bukannya Kak John datang dari Indo?.” Tanya Fania pada Andrew.
“Memang dari tiga hari yang lalu.”
“Terus kemana dia?. Tumben ga mampir ke rumah. Biasanya kalau kita lagi di Frognal and dia dateng suka nyelonong aja kesana.”
“Paling dia sibuk sama cewenya, Heart. Bucin baru harap maklum.” Ucap Andrew dan Fania beserta Dad juga Mom terkekeh mendengarnya.
“Oh iya, ya. Dia bilang kan pas balik lagi kesini mau bahas soal rencana lamarannya ke orang tuanya Aila di Singapur.” Sahut Fania dan Andrew manggut – manggut.
***
Praaannngg! ....
Sebuah meja kaca hancur berantakan akibat pukulan dari sebuah tangan seorang laki – laki yang sangat frustasi saat ini.
“DAMNEEEDDDDD!!!!! (SIALAAANNNNN!!!!).”
Teriakan yang terdengar penuh amarah terdengar menggema di dalam sebuah Penthouse bersamaan dengan suara meja kaca yang pecah dan hancur berantakan.
“KAMU ANGGAP APA AKU SELAMA INI????!!!!.”
Teriakan itu terdengar lagi. Suara yang terdengar sedang dalam kemarahan yang amat sangat, bercampur getir dan frustasi. Luka yang timbul di kepalan tangan bersamaan darah yang mengalir tak dihiraukannya.
‘Aku minta maaf, John. Aku sungguh – sungguh minta maaf. Aku tak bisa meneruskan hubungan ini.’
‘Salahku dimana, Aila?.’
‘Kamu ga salah John, aku yang salah. Aku yang jahat, John.... Aku sudah berusaha membuka hati aku untuk kamu selama ini. Aku sudah mencoba tapi ternyata tetap ga bisa. Maaf .... aku benar – benar minta maaf.’
‘Kalau ini karena aku yang mendesak untuk melamar kamu dan membuat kamu merasa tidak nyaman, aku ga akan membahasnya lagi sampai kamu benar – benar siap. Aku minta maaf untuk itu, Aila. Aku hanya terlalu takut kehilangan kamu.....’
‘John....’
‘Listen ( dengar ), kamu beritahu aku, kamu mau aku bagaimana, kalau ada sikap aku selama ini yang membuat kamu merasa ga suka, aku akan memperbaikinya, Aila. Aku siap untuk menjadi apa yang kamu mau. Aku...’
‘John! Aku ga pernah mencintai kamu. Maaf... aku sudah berusaha, tapi tetap ga bisa. Aku.... hati aku...’
‘Apa ada orang lain, Aila?. Apa selama aku tidak ada dekat dengan kamu, kamu bermain dengan laki – laki lain?. Jawab!.’
__ADS_1
‘Dia ..... dia bukan orang lain, John.... Dia orang yang sama, yang pernah aku cintai dan ga pernah berhenti aku cintai....’
‘Mantan suami kamu? ....’
‘Maaf.... maaf kalau ini menyakiti kamu, tapi aku... aku sudah ga sanggup untuk menepiskan kenyataan bahwa aku masih mencintai dia.... dan dia pun begitu.... aku ....’
‘Dan kamu ingin kembali padanya?.’
‘Maaf ....’
“BRENGSEEEKKKK!!!.”
John kembali berteriak frustasi di dalam Penthouse nya. Wajah tampan dan penampilan elegan nya sudah tidak ada, berganti wajah yang suram dengan guratan amarah serta kesedihan yang mendalam dimatanya yang sudah
dihiasi bulir air mata. Berkali kali ia mengusap kasar wajahnya.
“Damned, Aila. Tega banget kamu memperlakukan aku seperti ini .... Apa yang kurang dari aku ...?. Apa yang aku ga punya yang ga bisa dibandingkan dengan dia?..... APAAA???!!! ....”
Laki – laki yang selalunya terlihat sumringah dan elegan itu malam ini sedang tidak ada. Wajah sumringahnya berganti dengan wajah yang nampak suram dan putus asa. Hancur sudah mimpinya untuk membina hidup bahagia dengan sang pujaan hati yang tadi sore memutuskan hubungan mereka.
*****
“D?.” Fania menghampiri Andrew yang sedang menerima panggilan telpon di balkon kamar mereka. “Ada apa?.” Tanya Fania sedikit khawatir karena raut wajah Andrew yang sedikit nampak khawatir juga.
“Heart, aku tinggal sebentar ga apa – apa?.”
“Ga apa – apa. Tapi ada apa?. Kok kayaknya muka kamu agak khawatir gitu?.”
“Aku mau mengecek si John. Dia bilang sudah datang ke sini sejak kemarin lusa, tapi R bilang dia ga datang atau mampir ke Perusahaan dua hari ini dan ponselnya juga ga bisa dihubungi.” Ucap Andrew. “GPS terakhir ada di Penthouse nya. So aku mau kesana. Jeff dan R serta Nino, mereka sedang mengarah ke sana juga.”
“Udah minta pihak gedung untuk mengecek?.”
“Sudah, mereka sedang mengecek. Aku belum dapat info terbaru. Jadi aku mau langsung kesana. Mereka bilang saat datang ke gedung apartemen, penampilan si John kacau balau dan dari sejak dia datang mereka belum melihat dia keluar lagi dari Penthouse nya.”
“Ya ampun, Kak John kenapa ya?.”
“Aku perlu ikut ga?. Biar Andrea aku titip Mom.”
“Ga usah, kamu disini aja. Tunggu kabar dari aku.”
Fania mengangguk.
“Aku berangkat dulu ya.” Andrew mengecup pucuk kepala dan bibir Fania lalu bergegas untuk pergi menuju ke Apartemen John.
***
‘Harapan memang tak selalu membahagiakan dan bisa menyakitkan’
“Holy crap.... ( Ya ampun..... ).”
Andrew memandang terkejut saat dirinya sampai di Penthouse milik John.
Penthouse yang biasanya rapih itu nampak seperti kapal pecah, banyak kaca yang berserakan dimana – mana. Dari mulai meja kaca yang hancur sampai ke lemari kaca yang berisi koleksi minuman serta pecahan gelas yang juga berserakan.
Namun sudah ada dua orang yang sedang membersihkan pecahan kaca yang berserakan.
Mungkin R atau Jeff sudah memanggil mereka karena keduanya sudah sampai duluan berikut Nino saat Andrew sudah sampai di Penthouse milik John.
“What was goin’ on? ( Apa yang sudah terjadi? ).”
“Sudah begini saat gue datang.”
“Si John mana?.”
__ADS_1
“His room ( Dikamarnya ). Mabuk berat. Chaos! ( Kacau! ).”
Andrew menggelengkan kepalanya melihat – lihat keadaan Penthouse John yang hancur di beberapa sisi. Ada noda darah juga yang terlihat di pecahan kaca yang belum dibersihkan.
“Gila, kenapa dia?.”
“I think ( Gue rasa ) ada hubungannya dengan Aila.”
Jeff menunjukkan barang yang ia temukan tercecer di lantai pada Andrew.
Sebuah cincin permata yang didesain untuk seorang wanita.
Andrew mengambilnya dari tangan Jeff. “Ck!.” Ia berdecak sambil menghela nafasnya.
Keempat pria yang datang ke Penthouse John itu sejenak saling tatap. Sepertinya pikiran mereka sama dan sudah paham dengan apa yang terjadi pada John saat ini.
“Well I think we have to prepare an entertainment for that desperate man ( Yah gue rasa kita harus menyiapkan hiburan untuk laki – laki yang sedang depresi itu ).”
“Ya I guess so ( Ya gue rasa begitu ).”
“Well, Nino. I’m afraid you will be very busy for a while ( Yah Nino. Gue rasa lo akan sedikit lebih sibuk untuk sementara waktu ).”
"I guess so ( Gue rasa begitu ).” Keempat laki – laki itu terkekeh bersama.
“I think I’ll stay here tonight. At least untill that broken bucin wake up ( Gue rasa, gue akan tinggal disini malam ini. Setidaknya sampai si bucin yang patah hati itu bangun ).” Ucapnya Andrew.
“Yeah me too. I’ll call Ara ( Yah gue juga. Gue hubungi Ara dulu ).”
“I’ll call Fania also ( Gue juga mau hubungi Fania ).”
Malam ini, Andrew, Reno, Jeff dan juga Nino sepakat untuk bermalam di Penthouse milik John. Jaga – jaga, takut si bule koplak pendek pikirannya.
Meski pun rasanya tidak mungkin juga kalau John sampai mencoba mengakhiri hidupnya hanya karena patah hati.
Tapi apapun bisa terjadi dalam cinta. Apapun bisa dilakukan dalam cinta, dan kadang patah hati karna cinta bahkan bisa membuat orang yang pintar pun menjadi orang bodoh dalam sekejap mata.
Nah daripada – daripada, empat orang laki – laki tersebut memutuskan untuk bermalam di Penthouse milik John ini.
“Nino, get something from the refrigerator. I’m thirsty. If nothing inside, go find something to accompany us ( Nino, ambil sesuatu dari kulkas. Gue haus. Kalau ga ada apa – apa, pergi cari sesuatu untuk menemani kita ).” Ucap Reno pada Nino.
“Aye, Boss ( Oke, Boss ).”
***
“What are you guys doing? ( Lo semua pada ngapain? ).” John sudah terbangun dan buru – buru bangun meski masih merasakan sakit di kepalanya akibat terlalu banyak minum. Tangannya yang terluka semalam pun sudah dibalut perban.
Ia langsung beranjak karena mendengar suara ribut – ribut yang berasal dari bagian tengah Penthouse nya.
“Gue pikir lo mati.”
John setengah terkekeh.
“Kapan kalian datang?.”
“Last night, when you almost dead ( Semalam, saat lo hampir mati ).”
“Yeah, right. Gue hanya minum alkohol, bukan pembasmi serangga.” John terkekeh sinis.
“Harusnya lo lihat diri lo semalam. Macam orang bodoh yang udah sekarat!.”
“Hanya melampiaskan kekesalan. Gue akan akan terlalu bodoh berpikir untuk mengakhiri hidup hanya karena cinta yang selesai.” Ia menenggak minuman dari satu kaleng yang sudah terbuka. “Patah satu tumbuh sejuta, kan?.”
**
__ADS_1
To be continue .....
JEMPOL JANGAN LUPA YA ZHEYENK – ZHEYENGKUH