
Selamat membaca ...
- - -
“Mom, let Fania eat first (Mom biarkan Fania makan dulu).” Ucap Andrew saat Michelle memekik menyebut nama Fania si gadis viral di keluarganya.
“Oh iya. Sorry. Mom sampe lupa saking senengnya ketemu kamu lagi Sweety.” Ucap Nyonya Erna sambil memegang dagu Fania.
“Sini Fan. Duduk samping Kak Ara.” Ucap Ara menunjuk kursi disebelahnya.
“Oh iya, Mom almost forget (Mom hampir lupa).” Ucap Nyonya Erna yang mengajak Fania menghampiri Cindy. “By the way Fania, this is Cindy. Cindy this Fania (Fania, perkenalkan ini Cindy dan Cindy, ini Fania).”
Kemudian Cindy dan Fania saling berjabat tangan dan melempar senyum.
“Nice to meet you (Senang berkenalan).” Ucap keduanya.
“Kamu duduk disana ya sayang.” Ucap Nyonya Erna menunjuk kursi disebelah Ara dan Fania pun berjalan menghampiri Ara.
Ruang makan di kediaman Smith lumayan luas. Karna Meja makan mereka mencakup sepuluh kursi.
“Lo mau duduk dimana Bro?.” Bisik Jeff pada Andrew yang masih berdiri seraya meledek Andrew karena didepannya ada dua pilihan kursi. Yakni samping Cindy atau Fania. Memang masih tersisa tiga kursi kosong lagi. Yang dua ada di sebelah Cindy dan Fania. Sementara kursi yang satu lagi adalah yang paling ujung selurusan dengan kursi yang diduduki Tuan Anthony.
“You can sit next to me, Andrew. If you pleased (kamu bisa duduk disebelahku Andrew, kalau kamu mau).” Ucap Cindy yang menawarkan Andrew untuk duduk disampingnya, karena dulu saat mereka masih bersama mereka pasti duduk bersebelahan. Begitupun harapan Cindy hari ini agar Andrew kembali duduk disampingnya.
Ucapan Cindy lumayan menarik perhatian Fania. Namun dia mencoba bersikap biasa saja, meski hatinya bertanya – tanya tentang sosok Cindy. ‘Ini cewe siapa sih?.’
“Tuh ditawarin Ndrew. Mau duduk dimana jadinya?.” Bisik Jeff lagi sambil menahan tawanya melihat Andrew yang sepertinya bimbang dalam pandangan Jeff. Namun Andrew melirik sinis pada si bule gila.
“Pake nanya.” Kemudian Andrew berjalan untuk duduk di samping Fania. Jeff pun tersenyum tipis yang ia sendiri saja yang paham maknanya.
Wajah Cindy pun berubah sedikit suram namun sedikit tersenyum yang nampak seperti dipaksakan karena ternyata Jeff yang duduk disebelahnya.
Sampai akhirnya pelayan menghidangkan Roast Meat yang merupakan salah satu makanan khas Inggris untuk makan siang mereka. Yakni hidangan daging panggang yang juicy.
“Enjoy your meal, everyone (Nikmati makanan kalian).” Ucap Tuan Anthony untuk mempersilahkan yang lain untuk memulai makan.
“Yuk, makan Fan.” Ucap Ara pada Fania.
“Iya Kak.” Jawab Fania lalu ia pun mulai memakan hidangan yang ada di depannya. ‘Wow amazing.’ Batin Fania saat merasakan daging sapi yang begitu empuk, sedikit berair , dan manis.
“Suka?.” Tanya Andrew pada Fania sementara yang lain diam tanpa bicara sambil menikmati makan siang mereka. Karena memang setidaknya sudah menjadi aturan tidak tertulis dalam keluarga Smith dan mungkin dalam keluarga
kalangan atas untuk tidak berbicara saat makan.
Beda sama keluarga cemara yang bukan ngomong lagi kalo pas makan. Bercanda, teriak sama ngakak dah.
Andrew yang bersuara dalam keheningan selain dentingan pisau dan garpu yang kadang menyentuh piring membuat yang lain menoleh padanya, termasuk Cindy yang memperhatikan sikap Andrew pada si gadis bernama Fania.
Fania mengangguk dan menatap Andrew lalu melanjutkan makan siangnya yang teramat sangat nikmat itu.
‘Sayang ga ada nasi ini.’ Batin Fania.
Semua orang akhirnya menikmati makanan mereka dengan khidmat hingga selesai.
__ADS_1
****
“Kita lanjutkan makan dessert di ruang keluarga aja ya.” Ucap Nyonya Erna yang sudah berdiri dan menggandeng
lengan suaminya seraya berjalan keluar dari ruang makan menuju ruang keluarga mereka.
“Come Cindy, let’s go to living room (Ayo Cindy, kita ke ruang keluarga).” Ajak Nyonya Erna pada Cindy karena sebelumnya dia mengajak yang lain menggunakan Bahasa Indonesia.
Cindy pun hanya mengangguk dan kembali memperhatikan Andrew yang sangat cuek padanya. Sementara Fania terlibat obrolan dengan Reno dan Ara di belakang Andrew yang mengekori kedua orang tuanya menuju ruang keluarga.
“Andrew, you don’t even say Hi to me (Kamu bahkan tidak menyapaku).” Cindy mencoba kembali mengajak Andrew berbicara dan wanita itu berjalan di samping Andrew sambil tersenyum.
Sedikit menjadi perhatian Fania karena mendengar ucapan Cindy.
“Hi Cindy, how are you? (Apa kabar?).” Akhirnya Andrew menanggapi Cindy membuat gurat sumringah terlihat di wajah wanita itu.
‘I know you still waiting for me, Andrew (Aku tau kamu masih menungguku).’ Batin Cindy.
Andrew menoleh pada Fania saat semuanya sudah berada di ruang keluarga sambil mendaratkan pantatnya di sebuah sofa panjang. “ Sit here (Duduk sini).” Ucap Andrew sambil menepuk ruang disampingnya.
Cindy tersenyum lebar, lalu menyegerakan dirinya duduk disamping Andrew. Membuat yang lain menatap kedua
orang itu, termasuk Fania. Yang merasa risih karena saat Cindy duduk tepat disamping Andrew, laki – laki itu menatap Cindy tanpa menoleh lagi padanya.
Meski begitu Fania menunjukkan wajah biasa aja. Dan sepertinya ada panggilan alam yang harus dituntaskan oleh
Fania. ‘Duh, gue mau pipis lagi. Gimana ngomongnya coba?.’ Batin Fania.
‘Maksud gue si Fania yang gue suruh duduk disini. Kenapa malah si Cindy.’ Batin Andrew. Namun tidak menyuruh Cindy untuk bergeser.
“Yuk, duduk Little F.” Ajak Reno.
“Kak.” Bisik Fania pada Reno.
“Hemm.” Sahut Reno seperti biasa.
“Toilet dimana deh?.” Tanya Fania masih berbisik.
“Apa Fania?.” Tanya Ara.
“Toilet Kak Ara.” Jawab Fania.
“Ya udah aku anter yuk.” Ucap Ara.
Andrew yang mendengar Fania menanyakan soal toilet sebenarnya ingin langsung berdiri, namun Cindy lagi –
lagi mengajaknya bicara. Mau tidak mau dirinya menoleh pada Cindy dan Fania sudah keburu diantar Ara.
Fania sudah kembali dari toilet namun dirinya menghentikan langkahnya sebentar karena dari luar ruang keluarga
selain yang lain terdengar sedang terlibat obrolan, ia melihat Andrew dan Cindy yang duduk bersebelahan.
Ada sedikit rasa kesal sebenarnya melihat Cindy yang tampak mendekati si Donald nya terus. Namun Fania tidak mau cari masalah karena hari itu dia adalah tamu yang memang tidak tau siapa itu Cindy. Yang Fania pikir mungkin salah satu anggota keluarga Smith.
__ADS_1
“Duduk dimana ini gue coba.” Gumam Fania. “Ah tau ah.” Lalu ia berjalan masuk kembali ke ruang keluarga.
“Kirain nyasar.” Ucap Reno saat melihat Fania datang kembali ke ruang keluarga. Andrew pun menoleh.
“Ya kali.” Sahut Fania.
“Sini.” Panggil Reno dan Fania berjalan menuju ke tempat yang ditunjuk Reno.
Settt. Tangan Fania ditahan Andrew. Mengundang tatapan dari semua orang. Termasuk Cindy. “Mau kemana?.” Tanya Andrew.
“Duduklah masa tidur.” Seperti biasa Fania menyahut asal. Hanya sebenarnya rada sewot ama si Donald.
Reno, Ara dan Jeff yang paham sama celetukan si Kajol seperti biasa hanya terkekeh saja.
“Sini.” Ucap Andrew.
“Ish, sini mana coba?. sini, di karpet maksudnya?. Sahut Fania. ”Yang kosong tuh, samping kak Reno itu tempat duduk.” Sahut Fania lagi.
Settt. Andrew menarik lengan Fania dan pinggang ramping gadis itu dalam duduknya lalu mendaratkan Fania tepat di paha sebelah kanannya. Membuat Nyonya Erna dan Michelle membulatkan mata mereka atas apa yang dilihatnya. Sebenarnya Tuan Anthony sedikit kaget juga melihat Andrew seperti menunjukkan sisi posesif, namun yah Daddy Andrew itu mencoba bersikap biasa dengan pemandangan yang mengagetkan istri dan putri bungsunya.
Termasuk Cindy yang tidak kalah terkejutnya melihat Andrew yang menarik Fania dan mendudukkan gadis itu diatas pangkuannya. Bahkan Andrew tidak pernah bersikap mesra saat mereka masih bersama di depan keluarganya. “An- Drew?.” Ucap Cindy dengan terbata namun Andrew mengabaikan panggilan wanita itu.
Kalau Reno, Ara dan Jeff sih ga terkejut sama kelakuan Andrew yang tiba – tiba mangku Fania begitu. Udah biasa.
Emang Bucin si Andrew sejak pacaran sama si Kajol KW. Bahkan sebelum nembak Fania juga udah ada kebucinan nya.
Fania sebenarnya juga udah biasa duduk dipangkuannya Andrew. Tapi saat ini kan beda situasi dan kondisinya.
Depan keluarganya loh ini. Begitu pikir Fania yang membuat gadis itu risih.
“Ih, apaan sih. Lepas ga.” Fania melotot pada Andrew sambil memukul bahu si Donald.
Namun Andrew malah makin mengeratkan tangannya pada pinggang, bahkan perut Fania tanpa tenaga yang
berarti. Hanya sekedar menahan saja.
“Aku ga suka dibantah Fania. sudah berapa kali aku bilang.” Ucap Andrew datar sambil menatap Fania tanpa mau
memperdulikan yang lain. Termasuk Cindy yang menahan perih dihatinya melihat laki – laki yang ia harap harap untuk kembali sedang memangku gadis lain tepat didepan matanya tanpa memperdulikan perasaannya.
Sementara Nyonya Erna yang duduk didekat Reno, memukul pelan tangan anak angkatnya itu untuk bertanya dengan mukanya yang bergerak menunjuk ke arah Andrew. Reno hanya mengangkat bahunya dan berakhir dengan pelototan Nyonya Erna yang tidak puas dengan jawaban Reno.
“Iya tau. Tapi ga gini juga. Malu kan itu diliatin ih.” Protes Fania. Membuat Andrew menatapnya dengan tajam.
“Apa?. Marah deh.” Ucap Fania yang sebal kalau sudah dilihat dengan pandangan Andrew yang seperti itu.
Cup !. Andrew tanpa ragu meraih wajah Fania dan mengecup bibir gadis kesayangannya itu. Benar – benar
mengejutkan Tuan Anthony, Nyonya Erna, Michelle dan Cindy tentunya. Tak pelak air mata Cindy pun jatuh begitu saja melihat pemandangan yang begitu menyakitkan hatinya. Nyonya Erna dan Michelle bahkan menutup mulutnya saking terkejut dengan apa yang dilakukan Andrew barusan.
***
To be continue ...
__ADS_1