
Selamat membaca..
**********************
“Kak, lo ga cape apa jemput gue melulu?“ tanya Fania menghampiri John yang sedang duduk di Kafe tempat Fania manggung barusan.
“Mau bagaimana lagi? Tugas negara.“ jawab John seraya tersenyum.
“Ya elah..“
“It’s okay Sweety, lagipula hitung – hitung gue nongkrong kan sambil jemput lo nyanyi? Seru kok liat anak band lo kalo manggung . Lumayan untuk menghilangkan penat.“
“Ya tapi abis itu lo kudu anter gue ke Bekasi trus balik lagi ke Jakarta.“
“Minta apartemen lah sama abang lo..“ sahut John santai.
“Ish, ogah amat ngabisin duit Kak Reno-“
“Duit abang lo susah habisnya. Terus itu mobil kenapa belum dipakai – pakai sih?..“
“Ntar Sabtu rencananya mau ngajak keluarga cemara jalan – jalan.“
“Keluarga Cemara ?“
“Papa, mama ama si Prita minta diajak jalan jalan pake mobil baru-“
“Oh keluarga lo namanya Keluarga Cemara, Fan?..“
‘Dih dasar bule oon.‘ Batin Fania. “Ayo balik Kak. Tuh anak- anak juga udah mau pada balik..“ajak Fania pada John kemudian untuk meninggalkan Kafe tersebut berhubung besok Fania masih harus berangkat kerja ke kantor.
“Hi, Tuan John..“ sapa Kak Rita berikut Vivi dan The Boyz.
“Hi, guys..“ sahut John ramah.
“Asik deh Fania menang banyak lu di jemput Tuan John melulu..“ goda Kiki.
“Bacot lu ah.“ sahut Fania.
John yang berdiri disamping Fania hanya tersenyum melihat Fania dan salah satu anak bandnya itu. Kemudian berpisah untuk pulang dengan kendaraan masing –masing.
“Yuk Guys kita duluan..“ucap Fania pamit pada teman – temannya dan Kak Rita saat akan masuk ke dalam mobil John.
“Oke Fan. Titi Dj.“ balas Kak Rita mewakili yang lain yang hanya mengangkat tangannya pada Fania dan John.
“Sampe ketemu, Kak.“
Kemudian Fania masuk ke dalam mobil John dan mobil itu pun melaju untuk sampai ke rumah Fania di Bekasi.
John hanya mengantar Fania tanpa berniat mampir karena dia merasa Fania lelah karena aktifitas gadis itu hari ini dan dia sendiri pun harus segera kembali ke apartemennya untuk beristirahat karena besok John harus sampai
memimpin Rapat di Perusahaan.
“Gue langsung ya, Fan? istirahat Lo. Salam untuk Keluarga Cemara..“ ucap John seraya pamit dan kembali duduk di belakang kemudi dan langsung menjalankan mobilnya untuk pulang ke apartemen.
Fania terkekeh mendengar John titip salam buat keluarga cemara yang mungkin John pikir adalah marga keluarganya secara serius.
“Iya Kak, makasih seperti biasa dan hati – hati.“ Kemudian Fania melambaikan tangannya dan langsung bergegas masuk rumah untuk membersihkan diri dan tidur.
__ADS_1
**
Hari sabtu yang ditunggu keluarga cemara tiba. Fania sengaja memang sudah mengosongkan jadwalnya hari ini untuk menepati janjinya pada mama , papa dan Prita, termasuk izin untuk tidak ikut perform malam minggu ini di Kafe milik teman Reno.
Kak Rita juga bukan Manajer yang kejam yang tidak memikirkan kepentingan pribadi para anak asuhnya, terlebih Fania yang hampir selalu taat pada jadwal.
“Kita mau kemana ini jadinya?“ tanya Fania saat sedang duduk menunggu kedua orang tua dan adeknya heboh mau jalan – jalan pake mobil baru yang kerennya minta ampun.
“Ke Mol lah kak, sopping kek sekali kali belanjain Mamah.“ ucap mamahnya yang lagi sibuk dandan di samping Fania.
“Apaan sekali kali. Lah itu duit yang suka Fania kasih bukannya suka mama belanjain noh ke Tanah Mpo?..“ sahut Fania.
“Oh, jadi mulai itung –itungan nih sama emak sendiri?!“ Mamahnya Fania menatap putri sulungnya itu dengan tajam.
“Wa elah, sensi amat emak – emak.“ sahut Fania malas menimpali mamanya kalo mukanya udah begitu. ‘*P*anjang urusan’. Batin Fania.
“Kak itu mobil baru ga dipanasin dulu?..“.ucap papahnya Fania yang baru saja keluar dari kamar.
“Iya.“ Fania beranjak dari duduknya dan mengambil kunci mobil yang tadi dia letakkan diatas meja depan TV.
“Kak ikut..“ Tiba – tiba Prita menyusul kakaknya yang mau memanaskan mesin mobil barunya itu.
“Apaan sih udik amat? Orang mau manasin mobil doang..“ protes Fania.
“Biarin aja sih Adeknya nge rasain dulu itu mobil sebelum jalan Kak, ntar biar ga mabok..“ ucap mama Fania kemudian tertawa diikuti papa Fania yang juga tertawa mendengar ucapan istrinya itu.
“Apaan sih Mama ih, Prita mau liat dalemnya.“ protes Prita pada mamanya.
Fania hanya geleng – geleng sambil berjalan kearah luar depan pagar rumahnya , tempat mobil pemberian si kakak ganteng terparkir dengan indah. ‘Ampun dah!‘ batin Fania.
Berhubung ini hari Sabtu, maka bertambah lah ibu ibu dan bapak bapak rumpes lagi pada duduk santai di bangku panjang hasil urunan keluarga Fania dan tetangga dekat mereka yang dibuat agar bisa ngumpul seperti hari ini.
“Widih Fania dah cakep aje lu! Mau nyanyi?..“ tanya salah satu bapak rumpes.
“Ngelenong.“ jawab Fania asal sambil terkekeh kecil diselingi ketawa para ibu dan bapak yang lain.
“Het raisa udah cakep juga.“ Masih si bapak rumpes yang nyeletuk tapi kali ini dia menggoda si Prita.
“Udah cakep sih dari bayi..“ sahut Prita. Sementara Fania sudah membuka pintu mobil dan menyalakan mesinnya, sambil melihat – lihat lebih detail lagi segala hal yang ada di dalam mobil barunya itu.
“Kak bukain ini pintu belakang..“ pinta Prita yang sudah berdiri disamping Fania dan memegang handle pintu mobil. Fania pun membukakan pintu untuk Prita.
Fania duduk di belakang kemudi sambil memperhatikan area sekitar kemudi mobil itu.
‘Ya Allah, satu per satu mimpi gue jadi nyata..‘ batin Fania.
“Keren banget kak sumpah mobil lo ni..“ suara Prita membuyarkan lamunan Fania.
“Ih cakep banget Fania mobilnya..“ Salah satu ibu rumpes ternyata udah berdiri disamping Fania yang membiarkan pintu mobil terbuka saat dia sedang duduk di belakang kemudi.
“Lah yang punya aja cakep..“ sahut Fania cengengesan sambil keluar dari mobilnya. “Eh Raiso, jangan sentuh apa – apaan.“ ucap Fania pada Prita “Gue ambil tas dulu..“
Prita sepertinya tidak terlalu menghiraukan ucapan kakaknya itu karena dia masih sibuk mengabsen interior mobil Fania.
“Udah rapih?“ tanya Fania saat papasan dengan papa dan mamanya .
“Udah.“ jawab si mamah.
__ADS_1
“Tar dulu Fania ambil tas..“
“Dompet ama duitnya jangan lupa. Tar bawa tas doang ga ada duitnya berabe.“ celetuk si Papa sementara Fania sudah masuk kedalam buat mengambil tas dan ponselnya. Dan ia pun langsung keluar lagi setelah mendapatkan tasnya.
“Mah kunci rumah mana?..“ tanya Fania menghampiri mamahnya.
“Jalan sekarang?“ tanya mamanya balik.
“Iye nyah!..“ jawab Fania.
“Ya udah sono siapin itu mobil. Mama aja yang kunci rumah..“ ucap mamanya
“Kompor liat lagi mah.“ ucap si papah.
“Iye..“ jawab Mama Fania sambil melangkah lagi kedalam rumah mereka untuk mengecek kompor de El El untuk memastikan hal – hal penting yang bisa memicu musibah. Setelah merasa aman terkendali, mama Fania pun keluar dan mengunci rumah dan pagar.
“Titip Ye?..“ Ucap Papa Fania pada para anggota klub rumpes yang lagi ngumpul di area jalan depan rumah Fania. “Jalan – jalan dulu kitah..“ ucap Papa Fania lagi kemudian langsung bergegas masuk ke dalam mobil dimana Fania,
mamanya dan Prita udah duduk cantik.
“Udah yuk jalan, Kak.“ ucap mama Fania .
“Seatbelt pake pah.“ Fania menoleh ke arah papanya yang duduk di kursi penumpang depan di samping dirinya.
“Oh iye!..“ ucap si Papa sambil memasang Seatbelt nya.
“Udah nih ya? Jalan sekarang..“ Fania berbicara pada tiga anggota keluarga cemara yang udah dalam posisi di mobilnya.
“Berdoa dulu..“ Mamahnya Fania mengingatkan.
Keempatnya pun berdoa sebelum Fania melajukan mobil barunya.
"Bismillahhi tawakkaltu 'alallah, laa haula wa laa quwwata illa billaah. “Subhaanalladzii sakhkhara lanaa hadzaa wamaa kunnaa lahuu muqriniin, wa innaa ilaa rabbinaa lamunqolibuun.”
Dan Fania pun akhirnya kesampaian mencoba mobil baru pemberian kakak gantengnya sekalian mengajak keluarganya itu jalan – jalan ke emol.
“Kak, kamu bisa bawa mobil kapan belajarnya?..“ tanya Papa Fania karna penasaran liat Fania mengemudikan mobil dengan lihai.
Wajar sih papanya nanya, karena mereka sendiri memang ga punya mobil pribadi sebelumnya. Hanya punya sebuah sepeda motor yang biasa di pakai si papa dan dirinya juga Prita. Sementara mamanya emang Cuma berbakat sebagai penumpang.
“Udah lama..“ jawab Fania singkat sambil fokus ke jalanan.
Papa ga tau si anak sulungnya kan Bandel Pah.
“Belajar pake mobil siapa kamu,Kak?..“ tanya mama yang ikut penasaran.
Sementara Prita menikmati perjalanan sambil jadi pendengar yang baik.
“Michael Schumacher..“ Lagi – lagi Fania menjawab singkat dan asal.
“Sape itu?“ tanya mamahnya Fania yang emang ga kenal sama orang yang Fania maksud.
“Anaknya Pak Lurah." jawab Fania lagi dengan asal.
Papa Fania dan Prita geleng – geleng aja denger jawaban Fania. Sementara mamanya cuma manggut – manggut aja.
‘Kenal aje si Fania sama anaknya Pak Lurah?..‘ batin mamahnya Fania.
__ADS_1
***
To be Continue ..