
♦DON’T CRY SNOWMAN♦ Jangan Menangis Snowman ♦ #2
Selamat membaca ....
*“**Oh My God**.. (Oh Tuhan..).” Nino menutup mulutnya karena terlalu shock. Kakinya terasa lemas.*
*“**CALL ANDREW, NINOO!!**. (HUBUNGI ANDREW, NINOO!!).”*
Reno berteriak histeris, saat dirinya sudah berada didekat salah satu ambulan yang mengevakuasi para korban
kecelakaan. Tubuhnya limbung , namun sekuat tenaga ia tahan tubuhnya agar tak ambruk ketanah.
* “**Sir, Do you know her?**(Tuan, apa anda mengenalnya?).” Seorang petugas menghampiri Reno.*
*“**Yes. She’s... she’s my sister**... (Ya. Dia.. dia adikku...).” Tangis Reno pun pecah. Tak perduli dengan orang – orang yang berada disekelilingnya, tak perduli lagi dirinya siapa. ‘**Little F, kenapa ini harus terjadi?**....’*
*“**She’s seriously injured, Sir. We have to take her to the hospital before it’s too late**(Dia terluka parah, Tuan. Kita*
harus membawanya sekarang sebelum terlambat).” Ucap petugas itu dengan cepat.
*“**I’ll go with her**(Aku akan bersamanya).” Reno bergegas naik ke dalam ambulans yang membawa Fania.*
***
*“**I’m very sorry R**... (Aku benar – benar minta maaf R ...). I already do the best that I can to save her (Aku sudah berbuat yang terbaik yang aku mampu untuk menyelamatkannya ...).”*
“SHE MIGHT BE JUST.. GET UNCONCIOUS, OWEN. PLEASE CHECK HER AGAIN, YOU .... MIGHT BE WRONG, RIGHT?.. (DIA MUNGKIN HANYA.. HANYA TAK SADAR, OWEN. TOLONG PERIKSA DIA LAGI, KAU.... BISA SAJA SALAH, KAN?....). GO AND CHECK HER AGAIN, OWEN, WHY ARE YOU STILL HERE?! (PERGI
DAN PERIKSA DIA LAGI, OWEN, KENAPA LO MASIH DISINI?!).”
“R..”
“CHECK HER AGAIN! (PERIKSA DIA LAGI!).”
“R!” Owen mengguncang bahu Reno yang sudah tak karuan itu. Tak menggubris Nino yang coba menenangkannya. “She’s gone... (dia sudah tiada).”
“No ..... it can’t be happen.. (Tidak.. itu tidak mungkin terjadi...).”
Tangisan Reno kian pilu dan panjang, ambruk pada akhirnya, karena kakinya seolah tak bertulang.
“R!!!.”
Nino dan Owen memapahnya untuk duduk. Badan Reno yang gemetar terduduk lesu dan tertunduk lirih dalam tangisnya.
“I already called Mrs. Ara and Jeff , R. Andrew is with him (Aku sudah menelpon Nyonya Ara dan Jeff, Tuan. Andrew
bersamanya).”
Namun Reno tak menjawab, tenggelam dalam tangis dan sedihnya, menatap kosong saat isakannya mulai terhenti. Tak beranjak dan bergerak saat owen mengajak untuk masuk ke dalam ruang gawat darurat, tempat dimana Fania berada.
“I’ll go to clean her up and take off all of equipment (Aku akan membersihkannya dan melepas peralatan).” Ucap Owen yang kemudian masuk lagi kedalam ruang gawat darurat.
“Dimana dia?!.”
***
“I’m sorry... Andrew ... (Maafkan aku.... Andrew...).” Ucap Owen lirih, karena tenggorokannya pun ikut tercekat.
Langkah Andrew semakin dekat, badannya kian panas seperti terbakar sesuatu yang melebihi api neraka. Tubuhnya limbung namun ia tahan sekuat tenaga agar tak ambruk, seiring rasa takutnya yang kian menyiksa, melihat sosok yang terbaring beserta kain putih yang menutupinya.
“I’m going to clean her up and take off everything. But.. maybe you guys want to see her first.. (Aku hendak
membersihkannya dan melepas semua peralatan. Tapi ... mungkin kalian ingin melihatnya terlebih dahulu...).”
“WHO ALLOWED YOU TO COVERED HER?!! (SIAPA YANG MENGIJINKANMU UNTUK MENUTUPINYA?!!).”
“Andrew.” Ucap Jeff yang mendekati Andrew yang nampak menggila. Sementara Reno menghentikan langkahnya berjarak dari brankar dihadapannya, tak berani untuk melihat, tak sanggup untuk menatap.
“She can has difficulities to breathe oy you covered her like this..... (Dia bisa kesulitan bernafas kalau kau menutupinya seperti ini.....) How dare you... (Beraninya kau...).” Andrew membuka kain putih yang menutupi wajah cantik yang selama empat tahun ini selalu bersamanya.
Airmata Andrew turun tanpa jeda.
“Hey, Heart. Ini ga lucu, oke?.”
Andrew menunduk membelai wajah Fania lembut, tersenyum getir, menolak kenyataan yang terlalu menyakitkan.
“Ayo bangun! Aku janji ga akan larang – larang kamu lagi. Aku janji akan membebaskan kamu melakukan apapun yang kamu mau.... Bangun ya, hem...?.”
__ADS_1
Reno dan Jeff berkali – kali mengusap air mata mereka. Bahkan Reno rasanya tak sanggup lagi berdiri tegak diatas kedua kakinya.
“Bangun, Heart! Kamu dengar aku ga?! Bangun! Atau kamu mau aku hukum, hem?. BANGUN!!!!.”
“Andrew!.” Reno melangkah mendekati Andrew yang gusar mengguncang tubuh Fania yang sudah tak lagi merespon. Bersama Jeff memegangi Andrew yang tak lepas menatap Fania sambil memeganginya.
“CUKUP HEART! KAMU MENGERJAI AKU KAN?! BANGUN!. INI SUDAH GA LUCU!. BANGUUUUUNNN!!!!.”
Andrew terus mengguncang tubuh Fania lebih kencang dari sebelumnya.
“Andrew, for God sake! (Andrew Demi Tuhan!).” Reno mencengkram kuat tubuh Andrew. “Jangan lakukan itu Ndrew, kasihan Little F, nanti badannya sakit. She’s gone.. (Dia sudah tiada..).” Bibirnya bergetar saat mengucapkan kalimat terakhirnya pada Andrew barusan. Pedih, rasanya saat Reno mengatakan dua kata itu. Sh'es gone... Fania mereka telah tiada.
Reno melirik mesin yang masih terhubung ditubuh Fania karena Owen dan para perawatnya belum sempat
melepasnya. Garisnya sudah lurus, tanda sudah tak lagi ada nadi, tak lagi ada detak. Namun tubuh Fania masih hangat. Berbalut perban yang nampak baru dikepalanya, serta sebuah penyangga dilehernya.
Pakaiannya sudah berganti dengan pasien, detak dan nadinya masih ada saat ia dibawa dengan tergesa turun dari
ambulan. Fania sempat mendapat penanganan, Owen dan Judith sempat mengoperasinya, hanya tak lama setelah operasi selesai, ia dilarikan ke unit gawat darurat karena kondisinya menurun drastis, hingga nadi dan jantungnya tak lagi berdetak.
“Kasihan, hem?.” Ucap Andrew yang frustasi. “Lihat... kakak kamu itu mengasihani kamu..... Apa kamu ga kasihan sama aku, Heart?!. BANGUN!!!. BANGUN AKU BILANG!!!.”
DUKK!!
“BANGUN!.”
“ANDREW!.” Reno, Jeff dan Owen benar – benar terkejut dengan tindakan Andrew yang tiba – tiba memukul dada Fania dengan satu kepalannya.
“BANGUN!!!!.” Andrew benar – benar menggila hingga Reno dan Jeff memeganginya.
“ANDREW ENOUGH!! (ANDREW CUKUP!!).” Teriak Reno, mencoba melepaskan cengkraman Andrew dari Fania.
“AKU BENCI KAMU, HEART!!! AKU BENCI KAMUUU!!!!.”
Tit.
“KAMU PEMBOHONG BESAR!.”
Andrew sudah lepas kendali, akal sehatnya sudah hilang.
“YOU SAID YOU LOVE ME, BUT IT’S ONLY YOUR BULLSHIT! (KAU BILANG KAU MENCINTAIKU, TAPI ITU HANYA OMONG KOSONG KAMU!).”
Hati Reno dan Jeff mencelos melihat kondisi Andrew sekarang. Merasa tak tega pada pria berbadan besar yang sudah nampak sangat frustasi sekarang.
Owen beranjak ke dekat mesin yang masih terhubung di tubuh Fania, hendak melepaskannya.
"YOU’RE A BIG LIAR, HEART! I HATE YOU, FOR GOD SAKE I HATE YOU!! (KAMU PEMBOHONG BESAR, HEART! AKU BENCI KAMU! DEMI TUHAN AKU MEMBENCIMU!!!).”
Tit.... Tit...
“Kasihani aku, Heart .... Kasihanilah aku.. How can I breathe without you.. (Bagaimana aku bernafas tanpamu ..).” Tubuh Andrew melemas, matanya kian panas karena tangisannya begitu deras dan lirihannya begitu dalam.
Tit... Tit.. Tit..
***
Who knows what miracles you can achieve?
(Siapa yang tahu keajaiban seperti apa yang bisa kamu dapatkan?)
Ketika Tuhan menghendaki sesuatu, maka hal itu pasti akan terjadi.
***
“Bayi kalian perempuan.” Ucap Reno pada Andrew yang terjebak dalam kesendiriannya, meski seluruh keluarga mereka sudah berdatangan. Kecuali Keluarga Cemara beserta Jeff termasuk Dewa yang masih dalam perjalanan.
Andrew menatap nanar ke arah ruangan dengan pintu besar berwarna putih, dimana Fania sedang berjuang dan diperjuangkan lagi oleh Owen, setelah garis dimonitor jantung dan nadi bergerak dan memunculkan angka kembali.
***
“Kasihani aku, Heart .... Kasihanilah aku.. How can I breathe without you.. (Bagaimana aku bernafas tanpamu ..).”
Tit... Tit.. Tit..
“That’s ... (Itu...).” Owen membeku, ucapannya terbata tak didengar Andrew yang sedang melirih, serta Reno dan Jeff yang sedang menenangkannya. “This is.. very impossible ..... (Ini sangat ... tidak mungkin..).” Owen memastikan apa yang matanya tangkap. “Andrew! She’s back! (Andrew! Dia kembali!).” Owen tanpa sadar memekik. Tanpa berpaling dari layar monitor jantung. "FOR GOD SAKE, SHE'S BACK! (DEMI TUHAN DIA BENAR - BENAR KEMBALI!)." Owen tanpa sadar teriak, melihat garis lurus kian menguat naik dan angka mulai bertambah meski pelan, namun terus naik dengan stabil secara perlahan.
Andrew sontak mendongak dan berdiri. Reno dan Jeff juga mendekat kepada Owen yang masih nampak terkejut, tak berbuat apa – apa.
__ADS_1
“HEART!.”
“LITTLE F!.”
“Fania!...”
“I really can’t believe this... (Aku benar – benar tidak mempercayainya ...).” Owen masih terkesima pada layar
monitor jantung. Hingga suara Andrew dan Reno menyadarkannya.
“DO SOMETHING OWEN! (LAKUKAN SESUATU OWEN!).”
“Sor – ry, I .. You guys please waiting outside (Ma – af, Aku ... kalian tolong tunggu diluar).” Ucap Owen
terbata, sambil menekan salah satu tombol disana untuk memanggil perawat.
“No! I’ll stay! (Tidak! Aku tetap disini!).”
“Ayo, Ndrew biar Owen bisa fokus menyelamatkan Fania.” Jeff mencoba menyeret tubuh Andrew keluar dari ruangan tersebut.
Reno yang sempat terkesima pun juga akhirnya membantu Jeff untuk membawa Andrew keluar dari ruangan tersebut, setelah beberapa perawat datang berlarian ke tempat mereka berada.
“Ndrew!” Reno menyeretnya.
“SAVE HER OWEN! (SELAMATKAN DIA OWEN!)
**
"Biar kamu selalu terbayang - bayang. Obat kalo kangen aku."
Andrew larut dalam lamunannya. Teringat ucapan Fania semalam saat selesai dengan kemesraan mereka.
“Bayi kalian perempuan.” Ucap Reno yang mengambil tempat dan duduk disamping Andrew. Sementara Ara dan Mom juga Michelle, sedang melihat bayi Fania di ruangan khusus bayi.
Meski sangat khawatir pada keadaan Fania yang sedang diberikan penanganan kembali oleh Owen agar nyawa Fania kesayangan mereka selamat itu, tak pelak ada juga bahagia yang menyelimuti keluarga mereka.
Satu sisi hati mereka begitu takut, disisi lain mereka bahagia.
Bahagia, karena kecelakaan parah yang menimpa Fania tidak merenggut bayi yang amat didambakan oleh wanita itu. Meski harus dipaksa lahir sebelum waktunya.
“Apa lo mau melihatnya?.” Ucap Reno lagi sambil menepuk bahu Andrew yang tadi nampak tak mendengar ucapan Reno sebelumnya. Reno berusaha terlihat tegar untuk menguatkan Andrew, meski hatinya mungkin sama hancurnya dengan Andrew.
“Apa?.” Andrew menghapus air matanya dengan segera. “Lo bilang apa barusan?.”
“Bayi kalian selamat. Judith berhasil mengeluarkannya, sebelum kondisi Fania menurun drastis. Meski kondisinya
prematur, tapi bayi kalian sehat.” Ucap Reno. “A very beautiful baby girl, just like her Mom (Bayi perempuan yang sangat cantik, persis seperti ibunya).”
“Syukurlah ... Little F pasti sangat bahagia.” Ucap Andrew pelan dengan senyuman miring yang tersungging di
bibirnya.
“Lo ga mau lihat bayi kalian?. Mereka menempatkannya dalam inkubator di ruangan bayi untuk sementara..” Ucap Reno. “Sorry gue yang meng – adzani bayi kalian tadi.”
“Thanks R.”
“Lo mau kesana?. Biar gue yang tunggu disini.”
Andrew menggeleng. “Gue akan melihatnya bersama Little F ..”
***
“Sir, Sorry I’ve interrupt. This is Mrs. Fania’s bag (Tuan, maaf saya mengganggu. Ini tas Nyonya Fania).”
Nino datang dan memberikan pada Andrew tas yang diberikan oleh petugas padanya. Setelah tahu bahwa kecelakaan parah yang tadi terjadi, menimpa salah satu anggota Keluarga yang memiliki nama besar di kota itu.
“Thanks Nino.” Ucap Andrew pelan dan menerima tas Fania yang terkena sedikit bercak darah itu, lalu mengecek isinya. Meraih ponsel Fania memandangi wallpaper yang terpajang disana. Fotonya dan Fania. Dan membuka lagi chat dari dirinya sendiri lalu tersenyum miring dan air mata Andrew kembali jatuh.
🎹Don't cry, snowman, not in front of me, Who'll catch your tears if you can't catch me, darling, If you can't catch me, darling🎹
“This Snowman will not only cry if you leave him, Heart. He would die.. (Snowman itu tidak hanya akan menangis kalau kamu pergi, Sayang. Dia akan mati...).”
***
To be continue....
Apa hati kalian sudah cukup porak porandah?
__ADS_1
⛄⛄