BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 41


__ADS_3

Selamat membaca...




Akhirnya Sabtu siang itu Fania sampai di salah satu Mal Besar yang ada di daerah Bekasi untuk mengajak Keluarga cemara kesayangannya itu jalan – jalan.


‘ Jangankan ke Puncak, di ajak ke Mol aje kita girang Fan ‘. Begitu kira – kira kutipan yang di copas dikit sama keluarganya buat Fania.


Fania memang termasuk anak yang berbakti dan royal pada orang tua dan adiknya. Bukan kali pertama sih mereka jalan – jalan ke Mal. Toh sebelumnya juga Fania suka mengajak mereka mengunjungi beberapa Mal di daerahnya walau hanya untuk sekedar makan atau belanja bulanan kayak orang – orang.


Hanya saja kali ini sedikit berbeda, karena mereka datang menggunakan mobil pribadi milik Fania, bukan dengan taksi online seperti biasanya. Udah gitu Fania gegayaan Parkirnya segala Vallet pula. Sekali kali ngikutin horang kayah parkir Vallet.


“ Eh Kak, ngomong – ngomong emang kamu udah gajian?. “ Selidik papanya Fania.


“ Udah “. Jawab Fania pada papanya. “ Makan dulu ya. “


“ Oke Bos. “ Jawab Papa , Mama dan adiknya.


“ Disini aja ya. “ Ucap Fania yang menjatuhkan pilihan untuk makan di restoran suku dan bbq yang ada di Mal tersebut. Ketiga anggota keluarganya mengangguk setuju, lalu Fania berbicara pada salah seorang pelayan untuk menyediakan meja untuk mereka ber empat.


“ Silahkan Kak. “ Ucap si Pelayan resto sembari mengantar Fania dan keluarganya ke meja mereka. Lalu salah satu pelayan yang lain menyiapkan peralatan yang biasa tersedia di restoran suki tersebut.


“ Ikut gue dek. “ Ajak Fania pada Prita untuk menuju ke tempat pilihan makanan yang akan mereka santap.


“ Oke. “ Sahut Prita yang mengekori kakaknya yang sudah mengambil tray untuk membawa makanan.


Fania pun mengambil beberapa tipe makanan yang bisa dibakar dan direbus dan menempatkan nya diatas tray yang dirinya dan Prita bawa. Dia juga mengambil 4 minuman dalam gelas kemudian membayar setiap makanan dan minuman yang sudah mereka ambil di kasir.


Setelah selesai membayar Fania dan Prita kembali ke meja mereka dan mulai memasukkan beberapa makanan tadi untuk di rebus dan dibakar menggunakan peralatan yang sudah tersedia di meja tersebut.


“ Segini abis berapa Kak ?. “ Tanya si papa yang merasa kayaknya ini makanan harganya mahal.


“ Udah makan aja sih Pah. “ Mama Fania yang menjawab pertanyaan papanya Fania.


Papa Fania yang ogah berdebat akhirnya memilih untuk memulai makan.


“ Selamat makan ... . “ Ucap Fania kemudian menyuap nasi dan daging yang sudah matang dari bakaran.


Fania dan keluarganya pun menikmati acara makan mereka di restoran suki dan bbq tersebut sambil mengobrol dan bercanda.


Fania sudah merasa kenyang walaupun masih ada beberapa menu di dalam mangkok aluminium untuk rebusan dan beberapa iris daging di panggangan. Dia membiarkan keluarganya yang menghabiskan karena memang mama dan papanya beserta Prita itu doyan makan.


Sementara menunggu keluarganya yang masih sibuk menikmati makanan Fania mengecek layanan M-banking miliknya.


‘ Udah masuk belum sih gaji ?. ‘ Fania lupa memang belum sempat mengecek transferan gaji bulan ini yang seharusnya sudah keluar semalam.


Tadi Fania menjawab asal waktu papanya bertanya perihal gajinya sudah keluar atau belum. Memang seharusnya sudah, karena biasanya tanggal gajian jatuh pada hari Jumat transferan gajinya biasanya masuk di malam hari nya.


Fania membuka satu aplikasi perbankan untuk mengecek uang gaji di rekening pribadinya. Setelah menginput kode akses dan memasukkan nomor PIN perbankannya, Fania kemudian masuk ke menu info dan mengecek saldo rekeningnya apa sudah bertambah atau belum. Gadis itu selalu mengecek saldo terakhir yang ada di rekeningnya setiap kali dia bertransaksi melalui kartu debitnya. Jadi walau tidak mencatat, Fania akan tetap mengingat jumlah digit angka di rekeningnya.


Jadi Fania coba mengecek apakah bagian pay roll kantornya sudah membayarkan gaji karyawan mereka bulan ini termasuk Fania.


‘ Kalo gaji belom masuk, batal ini nge belanjain keluarga cemara. Ah masih ada tiga juta ini. ‘ Batin Fania.

__ADS_1


Dan Fania pun menekan tulisan m-info yang tertera dan lanjut ke info saldo. Fania hampir menyemburkan minuman di mulutnya saat dia melihat angka yang tertera di handphone dalam aplikasi perbankan tersebut.


Untung aja Fania ga jadi nyembur , kalo engga alamat bakal ke sembur si papa yang duduk di depannya.


Akhirnya karena bisa menahan diri untuk tidak menyemburkan ocha dingin dalam mulutnya, Fania menelan minuman itu hingga membuatnya tersedak hingga batuk – batuk.


“ Uhuk .... Uhuk ... Uhuk .... “.


“ Kenapa Kak ? Makanya minum pelan – pelan. “ Ucap mama Fania yang duduk di sampingnya sambil menepuk – nepuk punggung anak sulungnya.


Fania tak berbicara hanya memberi kode dengan tangannya ke si mama kalo dia ga apa – apa dan membuat mamanya berhenti mengelus punggung Fania dan gadis itu coba menetralkan nafasnya serta mengedip – ngedip kan matanya dengan intens yang masih melototi sejumlah angka yang ada di aplikasi perbankan dalam


handphonenya.


‘ Ini orang pay roll mabok apa sih ? ‘. Batin Fania yang sudah sedikit netral setelah tadi shock melihat jumlah dalam rekeningnya. Yang seharusnya hanya berjumlah 6.500.000 rupiah kalau setelah penambahan gajinya yang senilai


3.500.000 rupiah itu. Karna sebelumnya Fania punya sekitar tiga juta dalam rekeningnya.


Tapi jumlah yang tertera bahkan berkali – kali lipat dari yang dia kira. 76.500.000. Berarti ada kelebihan tujuh puluh juta uang yang masuk ke rekeningnya kalau memang orang pay roll itu salah kirim. Gimana coba Fania ga shock.


Fania hendak menelpon atasannya, Pak Freddy. Namun dia ingat kalau bisa lihat mutasi rekening untuk mengecek kalau seandainya bagian pay roll salah kirim jumlah gajinya.


“ Belum gajian ye Kak ? “. Tanya Papa Fania yang melihat gelagat anaknya yang sedikit panik.


“ Udeh ga usah sedih gitu kalo belom gajian. Mama papa bawa duit kok. “ Ucap Mamanya.


‘ Siapa yang sedih sih. Orang shock juga. ‘ Batin Fania.


“ Udah pah, cuman kayaknya orang kantor salah kirim jumlah. “ Jawab Fania menanggapi papanya kemudian melanjutkan untuk mengecek mutasi rekening.


Tertulis disitu Uang masuk dari pengirim rekening atas nama Reno Alexander. Tanpa ada catatan berita itu uang buat apa.


‘ Astaga, Kak Reno ngapain kirim uang sebanyak ini coba ?. ‘ Batin Fania.


Fania hendak menelpon Reno, tapi sesaat dia ingat kemungkinan di London ini masih sekitar jam 6 pagi. Jadi Fania kemudian membuka aplikasi pesan sosmed berlogo dominan warna hijau itu.


‘ Kak lo kirim uang tujuh puluh juta ke gue buat apaan ?. Salah kirim lo ya ?. ‘ Ketik Fania dalam chatnya. Belom terbaca karna warna centang belum berubah. Fania kemudian meletakkan hp nya dan otaknya sedikit travelling.


“ Ayo Kak, udah selesai nih. “ Suara Papa Fania membuyarkan pikiran Fania yang lagi travelling.


“ Mau kemana nih ?. “ Tanya Fania masih sambil menunggu balasan dari Reno. ‘ Masih tidur kali .‘


Kemudian Fania beserta papa , mama dan Prita beranjak dari duduknya untuk meninggalkan restoran suki dan bbq tersebut.


“ Muter –muter aja liat kali ada yang bagus. “ Ucap si mama.


Akhirnya mereka berempat masuk ke area dalam Mal sambil window shopping. Saat Fania sedang mengikuti keluarga cemara yang masuk ke salah satu toko berbagai macam produk kesehatan dan kecantikan, telpon genggam yang sedang ia pegang berbunyi.


Kak Reno, tertulis ID si pemanggil.


“ Halo Kak. “ Sapa Fania.


‘ Iya Little F , kenapa ?. ‘ Reno menjawab sapaan dengan suara khas seperti orang yang baru bangun tidur.


“ Itu WA gue emang lo belom baca ?.“

__ADS_1


Reno hanya ber OH ria.


“ Itu lo salah kirim duit kak. “ Ucap Fania sambil berjalan jalan di dalam toko yang dimasuki keluarganya tersebut sekalian cari Vitamin.


‘ Mana ada salah. ‘ Jawab Reno santai.


“ Dih, nah tujuh puluh juta yang lo kirim itu buat apaan ?. “ Tanya Fania.


‘ Ya buat lo lah. Buat Jajan. ‘ Jawab Reno tetep santai.


“ Jajan ?! Tujuh Puluh Juta ?!. “ Nada suara Fania sedikit naik, membuat beberapa SPG dan pengunjung yang ada disitu menoleh ke arahnya tapi Fania ga memperhatikan.


Mama dan Papa Fania beserta adiknya yang melihat dan mendengar Fania setengah teriak itu langsung menghampiri Fania. Tapi gadis itu juga ga memperhatikan keluarganya yang sudah berada di dekatnya.


“ Lo ga salah ini Kak ?!. “ Fania kembali ke nada dasar suaranya.


‘ Gue bilang, mana ada gue salah. ‘ Jawab Reno dari sebrang.


“ Jadi ...?? Ini Duit beneran buat gue ?. “ Fania ada diantara rasa ga percaya dan setengah bahagia. Bentar lagi bisa jingkrak jingkrak dia saking bahagianya di kasih tujuh puluh juta buat jajan sama Reno.


‘ Iya Faniaaa, itu uang jajan dari gue buat lo. ‘ Reno menegaskan. ‘ Dipake jangan diliatin doang. Inget yang gue bilang, NURUT ! .‘


“ I – iya Kak. “ Fania spechless.


‘ Ga usah hemat – hemat sama itu uang yang gue kirim. Pakelah, beli apa yang lo mau. Kalo kurang bilang. Lo lagi ajak mama, papa sama Prita jalan – jalan ke Mal kan ?. Traktir lah mereka. Belanjain. Nanti kalo gue sama Ara kesana , kita yang traktir .‘ Ucap Reno panjang lebar.


“ Ya Allah Kak... . “ Fania ter hura eh terharu.


‘ Pake ya, senangkan diri lo dan keluarga lo. Ini salah satu tanggung jawab gue sama lo F. Lo sayangkan sama gue ?. Kalo sayang jangan pernah bantah dan menolak semua pemberian gue. Dan semua hal yang gue lakukan dan kasih sekarang , adalah rasa sayang gue ke elo. Oke ? .‘


“ Iya Kak, ma kasih. “ Fania udah ga bisa berkata – kata selain terima kasih yang tak terhingga sama Reno. “ Ma kasih banyak banyak .“


‘ Ya udah ya, gue mau sarapan dulu. ‘ Ucap Reno sebelum mengakhiri panggilan.


“ Iya Kak. Ma kasih sekali lagi. Salam buat Kak Ara. “ Sahut Fania.


‘ Iya udah ga usah ba per. Take care Sweety. ‘ Reno pun memutuskan panggilan.


“ You too, Kak .“ Fania mendekap telpon genggamnya setelah Reno mengakhiri panggilan. Merasa terharu dan bahagia atas ucapan Reno tadi ditelpon. ‘ Murah rezeki lo Kak. ‘ Fania membatin sambil menyeka air mata di pelupuk mata yang sudah mau turun ke pipinya.


“ Kak, Kenapa ?.” Tanya papa Fania sambil merangkul putri sulungnya yang tampak seperti mau menangis.


“ Iya Kak, ada apa ? .“ Mama Fania ikut bertanya sambil mengelus kepala anaknya. Prita juga tampak khawatir sama kakaknya.


Fania menoleh kepada papanya, ke mamanya, lalu Prita dan menoleh ke mamanya lagi.


“ BELANJA kitaaaa ... !!! .“


- - -



To be continue...


__ADS_1


__ADS_2