
Selamat membaca ...
*
“Seriusan? Siapa Aja?.” Fania terdengar sedang berbicara dengan seseorang di telpon saat Andrew masuk kamar. Sepertinya sedang asik telponan di balkon hingga tak menyadari Andrew yang sudah berdiri dan bersandar di pintu balkon sembari mendengarkan Fania berbicara dengan seseorang disebrang sana.
“ ............. “
“Wuih lengkap. Dalam rangka apa?.” Fania masih asik di telpon.
“ ............. “
“ Ya udah nanti berkabar deh.” Fania mengakhiri panggilan.
“Berkabar sama siapa?.” Suara bariton pria nan seksi menyapa telinga Fania. Membuat gadis itu menoleh karena amat mengenali siapa pemilik suara itu.
“Kenapa sih suka tiba – tiba muncul. Tau – tau nongol ga ada suaranya.” Ucap Fania saat Andrew menghampirinya.
“Berkabar sama siapa, hem?.” Tanya Andrew lagi sambil memeluk pinggang ramping Fania sambil menatap wajahnya.
“Temen. Aku kasih tau juga kamu ga kenal.” Jawab Fania.
“Male or Female? ( Laki – laki atau Perempuan? ). “ Tanya Andrew. Biasa sih nada suaranya, tapi tatapan matanya penuh selidik.
Fania tersenyum geli. “Laki – laki. Ga usah cemburu.” Cup!. Fania memberi kecupan di pipi Andrew.
“Aku kan hanya tanya.” Ucap Andrew.
“Iya hanya tanya, tapi mata kamu nih, merhatiin nya sampe kayak gitu.” Sahut Fania.
Andrew terkekeh. “ Sudah mandi ?.” Tanya Andrew dan dijawab dengan anggukan oleh Fania. “ Kenapa ga langsung turun sarapan?. Masih sakitkah?.”
“Udah engga.” Jawab Fania sambil menggeleng. ‘Ngilu – ngilu sedep aja kalo inget semalem.’ Batin Fania.
“ Sarapan yuk.” Ajak Andrew sambil menggandeng Fania untuk membawanya turun ke ruang makan.
*
“Good Morning Everyone. ( Selamat pagi semua ).” Sapa Michelle yang baru saja bergabung di ruang makan.
“Good Morning.” Jawab yang lain yang sudah memulai sarapan mereka.
“Mom sakit?.” Tanya Michelle yang melihat Mom Erna sedang memijit – mijit keningnya sendiri.
“Pusing gara – gara Kakak Kamu satu tuh.” Jawab Mom.
“Siapa? Kak Andrew?.” Tanya Michelle. “Masih kepikiran yang semalam?. Mom kayak ga tau Kak Andrew aja kalau marah sama orang gimana. Apalagi semalem Kak Fania digoda laki – laki lain. Tau sendiri Kak Andrew kayak apa ke Kak Fania. Over Possesive ( Posesif yang berlebihan ).”
__ADS_1
“Haish, bukan itu lah.” Sahut Mom.
“Terus?.” Tanya Michelle sambil mulai menikmati sarapan dengan menu Indonesia. Nasi goreng favoritnya.
“Makan dulu, baru ngobrol.” Reno mencoba mengingatkan.
“Kamu ni juga Ren, malah santai aja. Fania itu tanggung jawab kamu kan harusnya.” Timpal Mom yang mengabaikan aturan untuk tidak mengobrol saat makan. Tapi Tuan Anthony membiarkan.
“Ada apa sih?.” Tanya Michelle penasaran.
“Tuh, si Donald Bebek ga sabaran udah minta jatah Malam Pertama aja sama Fania.” Ucap Mom.
“Wow.” Sahut Michelle sambil menyuap nasgor nya.
“Ini lagi Wow.” Protes Mom atas jawaban Michelle membuat yang lain tersenyum geli.
“Ya terus?. Michelle harus kaget gitu?. This is London, Mom (Ini London, Mom). Sudah ga aneh kan?.” Jawab Michelle enteng karena di budaya barat s*ks bebas sudah terdengar biasa meski ia pun masih menjaga mahkotanya walau sudah duduk di bangku kuliah.
“Mereka sudah dewasa, Mom. Andrew juga pasti sadar betul konsekuensinya. Dan Reno sangat paham bagaimana perasaan Andrew pada Fania. Tanggung jawab itu tidak hanya pada Reno, tapi dari dulu Andrew memang sudah meminta untuk berbagi tanggung jawab soal Fania. And you know it very well ( Dan Mom tau itu dengan sangat baik ).” Jelas Reno.
“R was right, My Love. ( R memang benar, sayang ). “ Timpal Tuan Anthony.
“Iyalah Mom. Andrew isn’t a Casanova. (Andrew kan bukan petualang cinta). Sahut Ara.
“Semalam kan anak Mom itu juga melepas his virginity (Keperjakaannya) juga.” Timpal Jeff membuat yang lain terkekeh.
“A Virgin Bad Boy.( Cowok nakal yang masih perjaka ). Awesome (Keren).” Timpal John juga.
“Haish kalian ini, benar – benar.” Gerutu Mom.
“Ya udah sih Mom, ga usah terlalu dipikirkan. Kak Andrew dengan senang hati pasti mau bertanggung jawab. Memang sengaja menurut aku sih, biar Kak Fania ga kemana – mana.” Ucap Michelle.
“Everything are all set, remember? (Semua sudah dipersiapkan, ingat?).” Ucap Tuan Anthony.
“Ya, ya.” Akhirnya Mom pasrah. “Mom, Cuma takut Andrew ketagihan aja itu khilaf nya. Kan kasian si Fania.” Ucap Mom sambil menghela nafasnya.
Membuat yang lain terkekeh geli kalau Mom Erna sudah berpikir yang aneh – aneh.
‘Harus gerak cepat ini, sebelum Fania digempur habis – habisan sama Andrew.’ Batin Mom.
*
Para lelaki keluarga Smith nampak asik berleha – leha siang itu di ruang santai kediaman mereka. Sedang menonton salah satu channel otomotif di YouTube. Termasuk Michelle yang juga ikut nonton sambil tiduran di sofa sambil ikut menonton meski dirinya juga ga paham soal otomotif. Cuma tau mobil bagus, mahal sama nyetir. Sisanya urusan bengkel kalo ada masalah.
“Seru sekali sepertinya.” Ucap Ara yang membawakan minuman dan camilan untuk teman nongkrong mereka.
“Sini Kak Fania.” Panggil Michelle.
“Ck.” Decak Andrew yang langsung memeluk Fania dan duduk sambil mendekap gadis itu dari belakang.
“Ih Kak Andrew. Nanti di kamar juga pelukan lagi.” Protes Michelle namun diabaikan Andrew. Fania terkekeh sementara yang lain udah geleng – geleng aja deh. Malas menyindir si Andrew juga percuma pikir mereka.
__ADS_1
“Nonton apa sih?.” Tanya Fania.
“Men’s World. (Dunianya Laki – laki).” Sahut Andrew.
‘Wow Subaru. Pengen ngerasain jadinya.’ Batin Fania.
“Masih kerenan juga Lamborghini aku.” Celetuk Michelle.
“Alah Lamborghini Cuma buat gegayaan aja.” Sahut Reno.
“Mending kamu pakai Mercedes SLS seperti Kak Ara, Chel. Lebih cocok tuh sama kamu.” Goda Ara.
‘Oh Wow. Pembicaraan apa ini?.’ Batin Fania yang takjub. ‘Yang satu punya Lambo yang satu Mercy SLS yang harganya 200 ribu Dolar. Gue hanya punya cinta. Hhh Nasib.’
“Kalian ni cewe – cewe. Taunya yang penting mobil cakep aja dari luar. Shiny (Mengkilat).” Celetuk Jeff. "Mobil untuk kami para pria jantan itu bukan sekedar model, tapi tarikannya Beibs."
“Ya iyalah Mobil itu yang penting cantik kalo aku sih. Masa akunya udah cantik naik mobilnya yang biasa.” Sahut Michelle.
“Kamu mau mobil juga?.” Tanya Andrew pada Fania. “Aston Martin kayaknya cocok untuk kamu.” Ucap Andrew enteng. Fania tercengang lagi.
“Wow kamu kaya sekali abang Donald kalo beliin aku Aston Martin.” Goda Fania.
“Memang.” Sahut Andrew sombong.
“Iya, iya.” Fania malas menanggapi.
‘Beneran ni anak tulus banget. Beneran ga tau seberapa banyak kekayaan keluarga ini. Bisa shock dia kalau tau total kekayaan pribadi Kakak sama calon suaminya.’ Batin John.
‘Mungkin mata si Fania suka error apa dia punya penyakit hilang ingatan setengah yang kadang kambuh. Ga liat apa ini rumah Dad kayak gini, masih nanya aja Kekayaannya si Andrew. Belom tau aja aset pribadinya.’ Batin Jeff. ‘Jangankan Aston Martin. Minta Ferrari aja dibeliin.’
“Ini maksudnya apaan sih?. Mau bandingkan mobil gitu?.” Tanya Michelle karena kurang paham liat para abang
nontonin dua mobil yang gambarnya jadi satu di channel itu.
“Dijelasin juga ga akan paham.” Sahut Reno.
“Bandingin teknik juga Chel.” Sambung Fania yang matanya serius ke arah TV.
“Sok tahu.” Andrew terkekeh.
“Emang Sok You Know sekali kamu biduan.” Timpal Jeff.
‘Emang dia tau persis.’ Batin John.
“Elah ini kan game Forza Horizon seri ke 7. Bandingin teknik Hoonigan Donuts Drift nya Ken Block sama Drift nya mobil Subaru di film Baby Driver. Drifting Tricky Technique Comparison ( Perbandingan teknik ngepot yang menipu ).” Ucap Fania.
Dan semua mata menatap pada Fania terkecuali John yang tersenyum penuh arti.
*
To be continue ....
__ADS_1