BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 124


__ADS_3

Selamat membaca ...


Fania perlahan membuka matanya, melirik jam digital diatas nakas tempat tidur Andrew yang menunjukkan sudah


pukul 6 sore. Gadis itu mengerjap kan matanya sambil mengumpulkan nyawa namun belum berniat beranjak dari tempat tidur saking nyamannya itu kasur. Mana empuk, tebel, hangat.


Ah ya hangat, bikin mager. Membetulkan posisi kepalanya sambil menarik sedikit selimut yang sedikit turun


diperutnya.


Tangan Fania menyentuh bantal yang ada di bawah kepalanya. Merasakan bantalan itu terasa begitu halus seperti


lapisan kulit. Fania merentangkan tangan kirinya masih dalam posisi tidurnya yang miring.


“Nah nih tangan gue sendiri. Berarti....” Mata Fania membulat seketika namun tak berani bergerak. Diwaktu yang sama menyadari ada sedikit beban berat yang merengkuh pinggangnya dari samping. Fania menelan kasar salivanya. Memberanikan diri melihat kedalam selimut, takut kalau kalau ...


“Tangan aku masih diluar sweater kamu.” Suara serak khas orang bangun tidur yang Fania sangat kenal. Suara


seksinya si Donald yang didengar Fania setiap pagi saat membangunkan laki – laki itu di sofa kamarnya yang di Jakarta.


Deg. Suara Andrew terdengar sangat dekat ditelinganya bahkan nafasnya pun kembali terasa di tengkuk Fania.


Fania memberanikan diri untuk membalikkan badannya dan benar saja manik matanya menemukan wajah Andrew yang matanya masih terpejam.


“N-Nald ....” Panggil Fania pelan sedikit terbata.


“Heemm....” Donald menyahut tapi tidak membuka matanya malah makin mendekatkan tubuh Fania padanya. “Nyenyak tidurnya?.” Andrew pun membuka matanya sambil tersenyum karena mendapati wajah Fania tepat saat dia membuka mata. ‘Heaven. (Surga)’ Batin Andrew.


“Kamu juga tidur disini?.” Tanya Fania dengan sedikit kegugupan yang terdengar dari suaranya.


“Ini kamar aku, kan?.” Jawab Andrew sambil tetap memandangi Fania, membuat si Kajol KW salting.


“Iya maksud aku ... kok kamu tidur ditempat tidur ini juga?.” Ucap Fania lagi.


“Tempat tidur aku juga kan ini?.” Jawab Andrew yang tak putus memandangi Fania yang ia tahu kalau si pacar sedang gugup, mendapati dirinya seranjang dengan Andrew saat ini. Sejak tadi sih sebenarnya. Hanya Andrew menunggu Fania benar – benar terlelap baru ia beringsut naik ketempat tidur, hanya untuk memeluk Fania sambil tidur. That’s it.


“Iya tau, semua yang di kamar ini punya kamu. Kenapa ga bangunin aku kalau mau tidur disini. Aku bisa pindah kok, takutnya kamu terganggu.” Ucap Fania yang suaranya sudah mulai normal.


“Biasakan mulai dari sekarang.” Ucap Andrew sambil membelai kepala Fania.


“Maksudnya?.” Fania tak paham maksud ucapan Andrew barusan.


“Mulai hari ini dan seterusnya, biasakan diri kamu tidur seranjang dengan aku.” Jawab Andrew santai.


‘Apa?! Gue ga salah denger itu si Donald bebek ngomong barusan. Biasain tidur seranjang?. Ih gila kali.’ Batin Fania.


Tuk. Andrew mengetuk pelan dahi Fania dengan telunjuknya. “ Jangan mikir macem – macem. Kita Cuma tidur kan? Hem?.”


“I-iya sih tapi....” Fania menggantung ucapannya.

__ADS_1


“Tapi?.” Tanya Andrew yang sudah menopang kepalanya dengan tangan yang tadi menjadi bantal Fania.


“Aku ga enak sama keluarga kamu, Nald. Kesannya aku yang kecentilan sama kamu.” Fania jujur dengan apa yang dia rasa dan pikirkan.


“Itu saja?.” Tanya Andrew dan Fania mengangguk pelan.


“Mereka ga akan bahas soal itu.” Ucap Andrew. ‘ Ga akan berani.’ Batinnya.


“Tapi....” Fania mau berbicara lagi tapi Andrew keburu memotong.


“Siap – siap yuk, sebentar lagi waktu makan malam.” Ucap Andrew. “Kalau kamu udah ga lelah, aku ajak


berkeliling sebentar.” Andrew beringsut turun dari tempat tidur. “Mau mandi?.” Tanyanya.


“Iya deh, aku mau mandi.” Jawab Fania.


“Shower or Bathtub?.” Tanya Andrew lagi.


“Shower aja biar cepet.” Jawab Fania. “Tapi aku mandi sendiri loh ya.”


***


“Andrew sama Fania sudah bangun belum sih?.” Tanya Nyonya Erna pada semua orang yang ada disekitarnya. Keluarga Smith, termasuk Jeff yang memang juga sudah dianggap bagian dari keluarga tersebut sedang bersantai menunggu hidangan makan malam tersaji di ruang makan yang kini sedang disiapkan oleh para pelayan yang bekerja di rumah mereka.


“Nanti juga mereka turun Mom.” Jawab Reno. Sambil mengganti channel TV.


“Jeff coba kamu cek.” Ucap Nyonya Erna. “Kasian nanti Fania kelaparan anak orang.” Ucap Nyonya Erna lagi yang


“Nanti ganggu loh Mom, Kak Andrew nanti malah marah.” Sahut Michelle yang bergelayut manja pada Ara.


“Iya sih, takutnya Andrew masih bad mood gara – gara insiden tadi siang.” Ucap Nyonya Erna.


“Eh iya Kak Ara, bukannya kalau menurut ceritanya Kak Andrew sama Kak Reno, yang namanya Fania itu katanya


Tomboy?. But what I have seen, she didn’t look like a tomboy girl at all (Tapi yang aku liat dia ga seperti cewe tomboi sama sekali).Cantik . Very (Sangat).” Ucap Michelle seraya bertanya.


“Itu kan dulu Chel, waktu dia masih remaja. Sekarang dia udah dewasa lah.” Sahut Reno.


“Not only you, Michelle Ma Belle (Ga cuma lo yang heran. Michelle sayang). Kak Jeff juga shocked waktu pertama kali tau kalau itu si Fania, yang dulunya laki banget sampe ke rambut – rambutnya.” Sahut Jeff. “Orang yang Kak Jeff tau dari fotonya ya begitu. Tapi ternyata, Damned, She’s hot now, though (Wow, dia sangat seksi).”


“Awas lo Kak Jeff, didenger Kak Andrew. Kak Jeff bicara begitu soal Fania.” Sahut Michelle yang memang suka


takut sama kakaknya sendiri yang menurutnya galak, suka ngatur lebih – lebih dari Dadnya.


“Iya loh, Mom juga sama kagetnya. I can’t believe it’s her (Sampe ga percaya itu dia).” Sahut Mom.


“Ya aku aja sama Reno ga akan mengenali dia itu Little F nya Reno sama Andrew kalau waktu di acara saat di


Hotel dia ga sebut namanya. Karena melihat kalung pemberian Reno sama Andrew, makanya Reno yakin itu Fania nya mereka.” Ucap Ara. “Tapi waktu dia sebut namanya Fania sih, feeling sama otak aku udah jalan.” Ara membanggakan diri sambil melirik suaminya.

__ADS_1


“Thanks to you then, my Dear smart wife (Terima kasih padamu kalau begitu istriku sayang).” Ucap Reno yang berdiri lalu menunduk memberi hormat tanda salut bermaksud menggoda Ara yang Pede.


Semua orang yang ada disitu tertawa dengan tingkah Reno yang hanya ia perlihatkan pada keluarganya itu,


termasuk juga pada Fania. Hanya Dad saja yang belum menyampaikan pendapatnya. Laki – laki paruh baya yang masih terlihat berwibawa hanya menikmati suasana hangat dengan keluarganya saat ini.


“Apa mungkin dia melakukan bedah plastik?.” Tanya Michelle.


“Nope. She’s not (Engga).” Jawab Jeff.


“Kak Jeff kan juga baru ketemu. Mana tau dia bedah plastik atau engga. Sudah biasa kan?.” Ucap Michelle.


“Keluarga Fania itu sederhana Chel. Mereka bahkan ga punya mobil. So That is very impossible (Jadi sangat tidak mungkin)  kalau Fania itu bedah plastik.” Sahut Jeff dan Michelle hanya menggangguk.


“Coba Jeff, cek Andrew sama Fania sana. Takutnya si Fania sudah lapar, tapi ditahan tuh sama Bos kamu yang Moody.” Ucap Nyonya Erna.


“Maid juga belum selesai Mom. Nanti juga mereka turun pasti. Andrew mana tega membiarkan Little F kelaparan.”


Sahut Reno.


“Kalaupun Andrew tega, nih Over Protective Brother nya Fania pasti turun tangan.” Sambar Ara.


“Ish, Kak Ara, bilang Kak Reno Over Protective. Nah tadi Kak Ara belain Fania depan Cindy sampai begitu nya.


Aku aja sakit hati dengernya, apalagi Cindy.” Ucapan Michelle membuat yang lain terkekeh.


“Over Protective Sister lah.” Sahut Ara dan lagi lagi mereka terkekeh.


“Andrew itu lagi bucin Mom. Let him. Baru ini punya pacar yang bisa membuat dia demam dalam kondisi sehat.”


Ucap Jeff asal yang membuat Ara dan Reno terkekeh geli karena paham maksud si bule gila.


“I don’t understand about what you mean (Aku tidak mengerti maksudmu).” Ucap Nyonya Erna.


“Andrew itu tergila – gila sama goyangannya Fania, Mom. Mungkin sebelum turun Andrew minta Fania bergoyang dulu supaya bagus moodnya anak Mom satu itu.” Kan si Jeff suka asal jeblak.


“Apa kamu bilang?!.” Nyonya Erna sontak kaget, begitupun Tuan Anthony yang kaget dalam tenangnya.


Wanita itu pun langsung melangkah cepat menuju kamar Andrew. ‘Oh Tuhan, Andrew... jangan rusak anak gadis orang.’ Batin Nyonya Erna. Dan ia kini sudah berada di depan pintu kamar Andrew. Sedikit ragu, namun kemudian mengetuk pintu. “Andrew?. Kamu sudah bangun?.” Tidak ada sahutan.


Mencoba membuka gagang pintu dan ternyata tidak terkunci. Kosong, tidak terlihat Andrew atau Fania di tempat


tidur. Nyonya Erna hendak berjalan ke balkon kamar sampai sebuah suara dari walk in closet yang pintunya sedikit terbuka, menghentikan langkahnya.


“Aw, s-sakit Nald, pelan – pelan. Perih....”


“Tahan ya Sweetheart, Cuma sebentar aja ini sakitnya.”


***

__ADS_1


To be continue ...


OMG  Fania diapain Andrew itu ....  👀


__ADS_2