BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 281


__ADS_3

Selamat membaca ..


 


“My oh my... a beautiful angel has been sent for me tonight. ( Oh Tuhan, seorang malaikat cantik telah dikirim untuk gue malam ini ).”


John memutar badannya untuk melihat siapa yang dimaksud oleh  Jeff.


Mata John pun sama berbinarnya dengan Jeff saat melihat wanita yang baru saja memasuki kafe tempat mereka berdua berada saat ini.


“Aila?.”


“Do you know her John?. ( Lo kenal dia John? ).”


Jeff bertanya pada John karena si bule koplak itu menggumamkan sebuah nama.


“Aila.” Jawab John. “Dia bukan malaikat cantik yang dikirim Tuhan buat lo! Tapi buat gue!.”


“Tunggu, jadi dia istri orang yang lo incar itu, John?!.”


“Just shut up, Jeff!. ( Udah diam lo, Jeff! ). Gue belum tanya soal itu sama dia. Masih ada kemungkinan dia masih single.”


John melotot dengan cepat pada Jeff yang sekarang sedang cengengesan, lalu ia berdiri sambil membetulkan jasnya.


Bersiap untuk menyapa seorang wanita yang tak lama disusul oleh temannya.


“Nah kalau yang sama dia itu siapa?.”


Tanya Jeff menanyakan seorang wanita lagi yang tak lama muncul.


“Temannya mungkin.” Sahut John cepat. “Lo kalau mau godain tuh temannya aja. Aila is mine. ( Aila milik gue ).”


**


“Hi, Aila.” John sudah menghampiri wanita yang merupakan adik dari rekan kerjanya itu. “Hi.” Ia juga menyapa teman dari wanita itu.


“Eh, Mister John?. Um, John I mean. ( Eh, Tuan John?. Um, John maksud saya ).”


Wanita bernama Aila itu nampak sedikit terkejut melihat kehadiran John yang menyapanya.


“Glad to meet you here, Aila. ( Senang ketemu kamu disini, Aila ).” Ucap John dengan sikap sok cool nya.


Aila pun tersenyum. “Glad to meet you here, too ( Senang bertemu anda juga disini ).”


“Want to join in my table?. ( Mau bergabung dimejaku? ).” John menunjuk meja tempat dia dan Jeff berada.


“Um .... is it okay?. I don’t want to disturb you, actually. ( Um .. tidak apa – apakah?. Saya tidak ingin mengganggu, sebenarnya ).”


John menunjukkan senyum terbaiknya. “You won’t disturbing me at all. ( Kamu tidak akan menggangguku sama sekali ). Ucap John.


Aila bersitatap sebentar dengan teman perempuan yang datang bersamanya. Nampaknya temannya itu memberi kode untuk menerima tawaran John, dan akhirnya wanita bernama Aila itu mengangguk setuju untuk bergabung di meja John dan Jeff.


'Horee ...' Batin John berbahagia.


****


Andrew melangkahkan kakinya diatas lantai marmer kediaman pribadinya bersama Fania. Menyusul sang istri yang sudah lebih dulu ia suruh masuk ke kamar mereka, sebelum ia berbicara dengan asisten rumah tangga yang


bekerja disitu.


“Heart?.” Andrew memanggil Fania.


Tak lama wanita paling cantik sejagad raya dimata Andrew itu muncul dari balik walk in closet.


“Yaaahhhh kenapa ga tunggu aku dulu ganti bajunya?.” Andrew menunjukkan wajah kecewa yang dibuat – buat.


“Dih, apa sih?.” Fania terkekeh.


Andrew langsung merengkuhnya dalam pelukan.


“Apa?.”


“Kamu ga mandi?.”


“Engga ah, dingin.”


“Mandi sama aku, airnya jadi hangat pasti.”


“Mendidih iya. Bukan hangat lagi.” Ucap Fania dan gantian Andrew yang terkekeh. “Mandi atau ganti baju dulu sana.”


“Mau kemana sih?.” Ucap Andrew saat Fania melepaskan diri darinya.


“Aku mau siapkan makanan untuk kita. Kulkas ada isinya ga?.”


“Kulkas full isinya.” Sahut Andrew.


“Ya sudah aku ke bawah dulu.”


“Aku segera menyusul.”


****


“Sedang membuat apa, hem?.” Andrew merengkuh pinggang Fania yang sedang berkutat dengan penggorengan dan kompor di dapur mereka. Istrinya itu nampak sibuk sendirian.


“Aku liat ada mashed potato instant, jadi aku buat itu sama ini omelette.” Fania menjawab pertanyaan suaminya itu sambil tangannya masih sedikit sibuk. “Harum banget. Kamu mandi?.”


“Iya. Perlu aku bantu?.”

__ADS_1


“Udah hampir selesai.”


“Maaf ya, kamu jadi repot karena para maid tidak disini.”


“Ga masalah. Begini doang sih.”


Fania meletakkan omelette kedua yang dia buat lalu meletakkan diatas piring yang sudah berisi mashed potato juga diatasnya.


Andrew melepaskan rengkuhannya. Membantu Fania membawa piring berisikan mashed potato dan omelette ke meja makan. “Kamu bawakan air minum ya?.”


“Okay.”


***


“Oh iya D, aku baru inget. Bukannya hari ini kamu bilang ada urusan di Manchester?.”


Ucap Fania saat dia datang dengan membawakan minuman untuknya dan Andrew.


“Yang tiba – tiba datang ke kantor siapa?.” Sahut Andrew. “Kamu mau ambil apalagi?. Sendok dan garpu sudah aku bawakan ini.”


“Lepas celemek dulu ini.” Ucap Fania lagi setengah teriak saat berjalan kembali ke arah dapur.


‘Mudah – mudahan bajunya juga dilepas.’ Batin mesum si Donald Bebek penuh harap.


“Kamu ga jadi ke Manchester?.”


“Kan kamu tadi keburu datang ke kantor, Heart.”


“Mmm ... sorry.”


“Ga masalah. Jeff dan John sudah mewakilkan.”


“Eh, ngapain sih?.” Fania setengah terkejut, karena Andrew membawanya keatas pangkuan. “Lepas dong D, aku kan mau makan.”


Andrew menggeleng. “Kita makan begini. Lebih nikmat.” Ia kemudian memposisikan kaki Fania lebar lebar diatas pangkuannya. Menggeser piring ke sebelah kanannya untuk memudahkan untuk menyendok dan menyuapi Fania.


“D, ih apa sih. Nanti tiba – tiba pelayan kita ada yang dateng gimana coba.”


“Kita hanya tinggal berdua saja didalam rumah ini sampai besok.”


“Oh. Mereka libur?.”


“Aku liburkan.” Andrew mulai menyendokkan makanan.


“Semuanya?.”


“Kecuali penjaga di luar.”


“Bukannya kalau di rumah Dad dan Mom para maid liburnya gantian?. Aku juga belum terlalu mengenal mereka yang bekerja disini.”


Andrew menatap Fania dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Perasaan aku ga enak nih.”


Ucap Fania sambil menelisik wajah Andrew yang sedang menyuapinya dan menyuapi dirinya sendiri.


“Jangan suka berpikiran buruk pada suami sendiri.”


Andrew berkata sambil senyam senyum ga jelas, sepertinya sebuah rencana sudah tersusun rapih diotaknya.


'Aku akan buat semuanya jadi enak nanti.'


**


“Biarkan saja, nanti biar maid yang mencucinya.” Ucap Andrew selepas mereka menyelesaikan makan mereka.


“Tanggung. Biar ga berantakan.” Sahut Fania yang akan memulai mencuci peralatan bekas memasak dan makan yang tadi ia gunakan.


Andrew mencegahnya. “Better you prepare a dessert for me. ( Lebih baik kamu siapkan pencuci mulut untuk aku ).”


“Oh iya ya.” Fania menghentikan dirinya untuk mencuci perabot. “Kamu mau dessert atau kopi?.”


‘Kamu.’ Batin Andrew menjawab.


“D?.”


“Apa saja.”


“Ini ada Ice cream sama puding, mau yang mana?.”


Fania mengeluarkan dua macam pencuci mulut tersebut dari dalam kulkas.


“Ice cream.” Fania mengangguk dan memasukkan puding kembali ke dalam kulkas.


“Nih.” Fania menyodorkan es krim pada si Donald Bebek yang wajahnya tampak penuh arti. “Mau makan dimana?.”


“Disini.” Ucap Andrew yang langsung mengangkat tubuh Fania dan mendudukkan istrinya itu dihadapannya, diatas meja marmer dalam dapur mereka.


“Jangan mikir aneh – aneh Donald Bebek!.”


Ucap Fania sambil menelisik wajah suaminya yang memiliki arti tersendiri.


“Aku butuh susu.”


Andrew menyeringai dan Fania sudah bisa menebak kemana arah kalimat itu mengarah.


‘Oh Tuhan...’ Batin Fania berucap ia spontan menutupi dadanya. “Jangan macem – macem! Ini di dapur!.”

__ADS_1


“Satu macam saja.” Ucap Andrew yang langsung mengukung Fania dan ia makin menyeringai.


“Donald Bebeeek...!!!.”


“Katanya mau kerja?. Ini aku kasih kerjaan.”


Ucap Andrew tak menghilangkan seringainya sambil mulai melucuti atasan piyama yang dipakai Fania.


“D, ih!.” Fania mencoba menghentikan aksi mesum suaminya yang kakinya sudah mengunci kaki Fania.


“Feed me. ( Suapin aku ).”


Andrew memberikan gelas kaca pada Fania berisi es krim yang sudah diambilkan oleh istrinya tadi, sambil melebarkan piyama Fania yang kancingnya sudah sukses ia buka semua.


“D, ih!. Kancingin lagi ga!. Dingin aku nih!.”


“Aku hangatkan.”


Andrew mengambil gelas es krim dari tangan istrinya dan gantian ia menyuapi es krim pada Fania. Tak lama langsung meraih bibir Fania untuk disesapnya.


“This ice cream more delicious in this way. ( Es krim ini rasanya jauh lebih enak kalau begini ).” Bisik Andrew, dengan wajah m*sum yang sudah tersetel. “Aku ingin mencoba ditempat lain ....”


“Ap – apa?.” Fania terbata saat Andrew melepas piyamanya, menyisakan satu penyanggah dan tangan Andrew pun sudah bersiap untuk melepaskan penyanggah yang mengganggu pemandangan mata Andrew. “D ....”


“Suapi aku.”


Andrew menyodorkan gelas kaca berisi es krim tadi kembali pada Fania. Menghiraukan Fania yang wajahnya sudah merona saat ini.


“D – D.... ini di dap-pur.” Fania masih terbata, berusaha menutupi dadanya yang sudah polos itu sambil dengan polosnya menyuapi Es krim ke dalam mulut suaminya yang sedang menyeringai m*sum padanya saat ini.


“We need another new atmosphere. ( Kita butuh suasana baru ).”


“Iya, tap – i.”


Andrew mengambil gelas es krim dari tangan Fania, menyuap satu sendokan kemudian meletakkannya sembarang. Memandang Fania dengan intens tanpa menghilangkan seringainya. Menikmati wajah gugup istrinya yang sudah merona.


Tak lama, karena bibirnya sudah mendarat di salah satu gunung himalaya kembar milik Fania. “Es krim ini makin terasa enak, Heart.” Ucap Andrew yang menghentikan kegiatannya sesaat lalu kembali melanjutkan.


“I – iya .... En – nak .. Ah...” Fania tak kuasa menahan desahannya. ‘Siaud ! Siaud!. Bener – bener si Donald Bebek!.’ Umpatnya dalam hati. ‘Tapi emang en -naaak.... Oh Tuhan ...’ Fania merutuki dirinya yang sudah terbuai dalam hati.


‘Fix, besok – besok makan ice creamnya begini.’ Batin msum Andrew bermonolog. ‘Dingin – dingin empuk!*.’


“D, jangan gini...”


Fania mencoba menjauhkan kepala dan tangan Andrew dari gunung himalaya kembar miliknya.


Berhasil ternyata Andrew menjauhkan bibir dan tangannya dari sana. Tapi tak bisa membuat Fania bernafas lega.


“Ya udah, kalau kamu maunya begitu. Aku maunya begini.”


‘Oh, Astaga Dragon!.’ Mata Fania membulat karena Andrew sudah bersiap melepaskan hot pant miliknya. ‘Boleh gue poles ga sih nih palanya.’ Umpat Fania namun pada akhirnya ia meloloskan desahannya saat ‘si bona’ sudah


menempatkan belalainya di sebuah goa.


‘Meja billiard gagal, meja dapur sukses.’


Batin Andrew berhore ria.


***


“Gimana, seru kan main di dapur?. Ucap Andrew dengan entengnya pada Fania, selepas main ulek –ulekan diatas meja marmer yang terpatri permanen disana. Fania tak menjawab. Masih coba mengatur nafasnya.


“Gila!.”


Fania menyahut sambil memandang sebal pada Andrew.


“Tapi enak kan?.”


Andrew masih meringkus tubuh Fania, meski sang istri sudah mulai berusaha lepas dari kungkungannya.


“Ya udah, minggir ah.”


Fania mencoba mendorong tubuh Andrew, biarpun si Donald Bebek mesum itu bilang hanya ada mereka berdua didalam rumah, namun tetap saja Fania merasa waspada.


Jangan sampai kejadian tercyiduk seperti di ruang billiard rumah Dad dan Mom sampai terulang. Ditambah saat ini ia dan Andrew sudah polos se – polos – polos – nya.


Namun Andrew tetap pada posisinya. Seringainya nampak lagi.


‘Jangan lagi Ya amplooop ....’ Batin Fania yang merasa ngeri. “Pegel D, aku.”


“Ya udah di sofa ruang tamu, kalau begitu. Lembut kok disana.”


Andrew langsung mengangkat tubuh Fania tanpa pikir panjang.


‘Ya Tuhan, selamatkan Fania , ya Tuhan.’ Batin si Kajol meratap.


Andrew memancing lagi sang istri untuk ronde tambahan. Bermain disekitar leher, telinga dan yang tak mungkin terlewat pastinya, ya bagian dada montok sang istri yang sudah tak berdaya dalam kungkungannya di atas sofa.


“Sekali lagi. Janji abis ini sudah.” Ucap Andrew dan dia mulai bersiap, dengan seringai kemenangan di wajahnya.


“Serah dah serah Abang mau ngapain lagi!  Eneng Pasraaaahhh....!!!!.”


**


To be continue ...


Horee udah bedug !!!

__ADS_1


__ADS_2