BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 272


__ADS_3

Selamat membaca ..





“Heart.” Suara Andrew mengagetkan Fania dan Dewa.


Raut wajah Andrew nampak datar namun mata elangnya nampak menyorot tajam pemandangan didepannya barusan.


“D?. Udah pulang?.” Fania langsung menyambangi Andrew saat melihat suaminya datang. ‘Mati gue, mati.’


“Hem.” Andrew hanya menjawab dengan deheman sambil menerima Fania yang memeluk pinggangnya. Menatap Dewa seperti tak berkedip.


“Hey, Ndrew.” Sapa Dewa dengan sikapnya yang biasa.


“Kapan dateng lo?.” Tanya Andrew datar.


“Beberapa jam lalu.” Jawab Dewa santai.


Fania yang membaca situasi ga enak sedang berpikir keras untuk segera mengajak Andrew keluar dari dapur kakak gantengnya.


“D.” Suara Fania sukses membuat Andrew menoleh padanya.


“Sedang apa, hem?.”


“Lagi diajarin resep dessert baru sama Kak Dewa.”


“Rambut kamu kotor, nanti keramas.” Andrew setengah mengibas kan tangannya di rambut Fania seperti membersihkan sesuatu.


Dewa hanya setengah terkekeh melihat Andrew yang tampak sedang menyindirnya.


‘Dasar. Cuma gitu aja dia cembokur.’


“Yang lain mana?.”


“Sudah berkumpul di ruang makan.”


“Ya udah yuk, kita kesana juga.”


Fania menggandeng tangan Andrew untuk bergegas ke ruang makan.


“Ayo, Kak Dewa.”


“Ga perlu diajak dia juga akan kesana dengan sendirinya.”


“Iya.” Fania menjawab Andrew yang suaranya terdengar datar namun terkesan nyinyir.


Fania dan Dewa sama – sama menggeleng pelan.


“Ngapain lo berduaan di dapur sama Dewa?.” Celetuk Jeff pada Fania yang langsung disambut pelototan oleh si Kajol. Sementara Andrew diam saja dan menarikkan kursi agar Fania duduk.


“Ga usah iseng mulut lo, nanti rumah ini kebakaran.” Timpal Dewa yang paham kalau Andrew itu sepertinya cemburu tapi berlagak sok cool.


“Namanya juga kompor mele dug.”


Fania mengiyakan Dewa sambil melirik sinis pada Jeff yang terkekeh geli termasuk anggota keluarga yang lainnya.


“Eh?.” Fania sedikit kaget karena Andrew menggeser kursi yang sedang ia duduki lebih rapat pada suaminya itu.


Andrew masih berlagak sok cool, namun Fania tak protes.


“Kamu mau makan pakai apa, D?.”


“Up to you ( Terserah kamu ).”


“Cukup?.”


Fania bertanya setelah menyendokkan nasi dan beberapa lauk ke piring Andrew. Si Donald Bebek itupun mengangguk.


“Apa?.” Fania sedikit heran saat Andrew menahan dirinya saat ingin menyendokkan makanan ke piringnya sendiri.


“Open your mouth ( Buka mulut kamu ).”


Andrew sudah menyendokkan makanan pada sendok yang sedang ia pegang dan sudah ia arahkan dekat mulut Fania.


‘Oh ya ampun, dia cemburu guys.’ Batin Fania yang langsung mengingat saat Dewa menyuapinya untuk mencicipi dessert. Fania tak ada pilihan selain membuka mulutnya. Daripada ngamuk entar si Donald Bebek. Berabe.


‘Amit. Bocah kelakuan.’ Batin Dewa yang juga merasakan kecemburuan Andrew padanya.


“Mau aku suapin juga?.” Ucap Fania pada Andrew, meski iseng aja sebenarnya.


Andrew mengangguk sambil melirik pada Dewa. “Sure, if you insist ( Boleh, kalau kamu memaksa ).”


‘Gue nanya perasaan, kaga maksa.’ Batin si Kajol protes. Ia langsung menyuapi Andrew.


Adegan suap – suapan si Kajol dan Donald Bebek pun berakhir sampai mereka selesai makan.


‘Pasti lagi cemburu sama si Dewa.’ Batin Reno yang menduga, kurang lebih sama dengan anggota keluarga yang lainnya.


Namun mereka lebih memilih diam dan membiarkan si Andrew dengan kecemburuannya itu.


“So, kamu sama Fania kapan mau kembali ke London, Drew?.”


Tanya Ara saat mereka semua sudah bergeser ke ruang keluarga di rumahnya dan Reno.


“The day after tomorrow ( Lusa ).” Jawab Andrew cepat.


“Bukannya lo bilang seminggu lagi baru balik ke London?.” Celetuk John.


“Fania harus kuliah, sudah cuti terlalu lama.” Ucap Andrew santai.


Fania sendiri yang sedang menggendong Varen, hanya mendengarkan tak mau menjawab. Serah aja si Donald Bebek maunya gimana dah. Apalagi dia cemburu kayaknya gara – gara melihat adegan Dewa yang menyuapi dessert plus membetulkan anak rambut Fania.


“Wuih, apa nih?.” Celetuk Jeff saat Bi Cici dan satu asisten rumah tangga lagi, membawakan dessert yang tadi dibuat oleh Dewa dan Fania.


“Ini yang tadi kamu buat, Dewa?.” Tanya Mom sambil mencicip dessert yang tampak menggoda itu.


Dewa mengangguk.


“Emang cocok kamu kalau mau buka restoran, Wa.”


Mama Anye menimpali dan diiyakan juga oleh yang lain kecuali Andrew yang tampak masa bodoh.


“Naomy, kamu mau lagi?.”

__ADS_1


Tanya Dewa pada Fania.


“Engga.” Belum sempat Fania menjawab tapi Andrew sudah menyambar. “Aku mengantuk, Heart. Ayo kita pulang.”


“Iya.”


Fania mengiyakan dan memberikan Varen pada Ara.


Melihat Andrew yang sudah berdiri dengan raut wajah datarnya, membuat Fania tak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan Andrew saat ini. Cari aman.


“Everyone ( Semuanya ), kami duluan.”


Ucap Andrew yang langsung menggandeng Fania. Dan Fania hanya sempat melambaikan tangannya tanpa pamit lagi karena Andrew sudah setengah menggeret nya.


“Jangan kasar – kasar sama adik gue.”


Celetuk Reno yang disambut kekehan oleh mereka yang berada didekatnya.


“Ada kejadian apa sih Wa?. Si Donald Bebek kayaknya cemburu banget itu?.” Tanya Ara iseng pada Dewa saat Andrew dan Fania sudah pergi.


“Ga ada kejadian apa – apa. Si Andrew nya aja itu sih.”


“Ga mungkin ga ada apa – apa, kalo melihat si botak begitu tadi.” Celetuk John.


“Gue hanya nyuapin Naomy dessert sama betulin rambut dia doang.”


Ucapan Dewa membuat semua mata memandang padanya. Dewa mengendikkan bahu sambil membuka sedikit tangannya saat semua orang menoleh padanya. Menggambarkan pertanyaan, ‘ada yang salah?’.


Alhasil semua orang malah tergelak.


“Wa, wa. Pantas si Andrew begitu. Jelas aja dia cemburu. Aroma tubuh lo aja bisa buat dia cemburu, Wa.” Celetuk Jeff sambil tergelak.


“Even if it’s possible, Andrew want to make every men eyes blind if they watching Fania without blinking ( Bahkan kalau mungkin, Andrew mau membuat mata semua yang pria yang memperhatikan Fania itu buta ).”


Dad ikut menimpali dan semua orang kembali tergelak.


Dad Andrew menjadi bahan gibahan keluarganya sendiri malam ini.


***


“Mau langsung mandi, D?.” Tanya Fania saat dirinya dan Andrew sudah berada di kamar mereka di Kediaman Smith di Jakarta.


Andrew hanya mengangguk.


“Mau mandi di bathup atau shower?.”


“Any ( Sembarang ).” Andrew menyahut singkat.


Fania menatap punggung Andrew sekilas yang sedang berjalan ke dalam walk in closet sambil tersenyum dan menggeleng pelan. Paham kalau Andrew sedang menahan cemburunya pada Dewa.


“Kalau kamu mau mandi di bathup, aku siapkan dulu airnya kan D.” Ucap Fania yang menyusul Andrew ke dalam walk in closet.


“Lebih baik kamu yang mandi duluan. Cuci rambut kamu.”


Ucap Andrew dengan nada suaranya yang masih datar sambil melepaskan stu persatu pakaian kerja yang masih menempel ditubuhnya.


Fania tersenyum saja. “Aku sudah keramas tadi pagi.”


“Aku lihat tadi ada kotoran di rambut kamu.”


“D...”


“Kamu cemburu?.”


Fania membantu Andrew membuka kancing kemejanya.


“Menurut kamu?.”


“Cemburu.”


“Kalau sudah tahu, kenapa masih tanya?.”


Fania hanya tersenyum. Sedikit menelan ludah karena kancing kemeja Andrew yang sudah terbuka semua.


“Better you take a shower now ( Lebih baik kamu mandi sekarang ).” Andrew menggandeng Fania ke kamar mandi melalui connecting door.


“Kamu marah?.” Tanya Fania saat Andrew sudah membawanya ke kamar mandi.


Andrew tak menjawab pertanyaannya itu.


“Mau mandi di bathup atau shower?.” Andrew menyalakan kran bathup setelah melengos dari Fania.


“Dimana aja, asal sama kamu.”


Fania sudah berdiri di dalam bathup dengan hanya sepasang pakaian kurang bahan.


Andrew hanya melihatnya tak bicara, meski seketika ia spontan menelan saliva melihat pemandangan tubuh Fania didepannya.


Fania tau kalau Donald Bebek tercintanya itu sedang merajuk, tau juga sebenarnya Andrew sudah tergoda dengannya saat ini. Namun suaminya itu masih berlagak sok cool.


“Ga mau mandi bareng?.”


Fania melingkarkan tangannya dileher Andrew, bergelayut manja. ‘Aish, saat ini gue merasa seperti wanita penggoda.’ Batin Fania terkekeh geli. ‘Biarin dah ah, laki sendiri ini.’


Deg!. Seketika ada rasa hangat yang Andrew rasakan menjalari setiap tubuhnya saat ini.


Ia tertegun sambil memandangi Fania yang wajahnya nampak seperti sedang menggodanya.


“Are you teasing me? ( Apa kamu sedang menggoda aku? ).” Tanya Andrew dengan suara yang masih datar, namun jantungnya sudah berdegup kencang.


“Aku hanya mencoba minta maaf.” Fania berkata pelan.


“For? ( Untuk? ).”


“Ya, untuk apa yang kamu lihat tadi. Aku dan Kak....”


“Don’t say another man’s name while you with me ( Jangan sebut nama pria lain saat kamu sedang bersama aku ).”


“Iya, maaf. Please?.” Fania menunjukkan puppy eyes.


Andrew diam.


“Jangan marah, ya?.”


Andrew masih diam.


“D, udah ga cinta sama aku?.” Fania memasang wajah memelas. ‘Lebay lo, Jol.’ Batinnya mengatai dirinya sendiri.

__ADS_1


Sukses, karena Andrew terdengar menghela nafasnya.


“You know it very well how the way I feel for you ( Kamu sangat tahu bagaimana perasaan aku ke kamu ). So don’t play with it ( Jadi jangan bermain dengan itu ).”


Fania sedikit meringis karena Andrew mendorong pinggangnya rapat ketubuh kekar suaminya itu. “Iya maaf, aku ga ada maksud.”


“Show me then ( Tunjukkan kalau begitu ).” Ucap Andrew sambil menatap Fania lekat – lekat.


Fania mengerutkan dahinya.


“Show me how the way you feel sorry ( Tunjukkan padaku kalau kamu memang menyesal ). Ucap Andrew. “Minta maaflah dengan benar.” Bisiknya ditelinga Fania.


Fania sedang berpikir. ‘Apa sih maksudnya?.’ Sementara Andrew tampak menyeringai tipis. ‘Dasar!.’ Fania akhirnya paham.


Fania menggapai bibir Andrew dengan bibirnya.


**** NOTED DARI AUTHOR **** AUTHOR TULIS PAKE CAPSLOCK NIH YAK\, SEKEDAR MENGINGATKAN. WKWKWK ****


***** KALO SEKIRANYA LAGI PUASA\, PART YANG INI AMPE AKHIR JANGAN DIBACA DULU. SISAIN KALO UDAH BEDUG\, BARU BACA *****


***** AUTHOR KAGA MAU TANGGUNG JAWAB KALO PIKIRAN READER PADA AMBYAAAR ***** 


***** UDAH AUTHOR INGETIN POKOKNYA *****


Lanjut ah .... 😈 (tolong ampuni author yang kadang kaga ada akhlak ini. wkwkwkwk)


 


“Apa itu sudah benar?.”


Fania sedikit menggoda setelah memberikan ciumannya dibibir Andrew.


“Belum.”


Fania tersenyum.


Kembali menggapai bibir Andrew dengan bibirnya, m*magutnya dengan lembut. Memainkan sedikit lama, meski Andrew belum meresponnya.


Satu tangannya merayap dipunggung polos Andrew. Andrew sedikit menggeliat, ada yang sudah mulai menyebar ditubuhnya kini. Namun masih berlagak sok cool, meski kini bibirnya sudah bergerak mengikuti irama bibir Fania.


Tangan Fania menarik tengkuk Andrew sembari menekannya hingga membuat ciuman mereka menjadi semakin dalam, hingga nafas keduanya terdengar menderu, memburu.


Andrew melepas sisa pakaian yang melekat ditubuhnya, masuk kedalam bathup dan mendudukkan dirinya didalam sana. Tak melepaskan tautan bibirnya dengan Fania. membuat Fania duduk diatasnya.


Kedua tangan mereka tak tinggal diam. Tangan Andrew sudah meloloskan sisa pakaian yang tadi masih melekat ditubuh Fania. Hingga kulit polos keduanya saling menempel menghasilkan gelenyar indah dari setiap sentuhan


masing – masing.


Tangan Andrew menggapai dua benda kenyal yang tadi sempat terhimpit olehnya. Mer*mas dan mengecupi dengan gemas.


Sesekali menggigit kecil puncaknya yang sudah mengeras. Membuat sang pemilik mengerang tak karuan, diikuti dengan gerakannya yang sensual.


Membuat tubuh yang bergerak sensual itu sesekali mengenai benda yang nampak sudah tegak sejak tadi.


“D ....”


Fania mendesah manja saat kedua tangan Andrew sudah memegang pinggulnya dan memposisikan tubuhnya ditengah, tepat diatas benda milik suaminya yang sudah nampak siap ‘berperang’ itu.


Andrew menurunkan tubuh Fania perlahan, melakukan penyatuan.


Fania menahan nafas, menggigit bibir bawahnya ketika Andrew sudah menyatukan milik mereka. Kedua tangannya sudah melingkar dibahu lebar Andrew.


“Bergerak, Heart.” Bisik Andrew setelah dia berhasil membenamkan miliknya keseluruhan pada Fania.


Fania pun perlahan mulai menggerakkan tubuhnya diatas sang suami yang membiarkannya memegang kendali. Saling menatap dan kadang mata mereka tertutup dengan erangan dan desahan yang semakin sering terdengar didalam kamar mandi itu.


Fania menggerakkan tubuhnya lebih cepat ketika merasakan sesuatu yang sedang mendesaknya.


Andrew menekan pinggulnya lebih keras.


Berusaha juga menggapai apa yang akan digapai oleh istrinya.


Semakin lama tubuh mereka bergerak semakin cepat. Hingga keduanya mengejang dan mengerang hampir bersamaan. Saling menekan tubuh masing – masing atas pelepasan yang luar biasa dahsyat. Berpelukan erat, karena rasanya tulang ditubuh mereka terlepas, dan urat mereka terasa hampir putus.


“Udah benar belum permintaan maaf aku?.” Bisik Fania yang masih mengalungkan tangannya di leher Andrew, sementara suaminya itu masih nampak terengah mengatur nafasnya.


Andrew terkekeh, belum melepaskan diri.


“Udah ga marah, kan?.”


Andrew hanya tersenyum tipis.


“D ....”


Andrew mengangguk sambil menyandarkan kepalanya disisi bathup belakangnya dengan matanya yang terpejam.


“Bener, ga marah lagi?.”


Fania bertanya sambil mengangkat kepala Andrew yang barusan bersandar itu.


“Lagi.” Ucap Andrew pelan.


“Hah?!.”


Fania melepaskan tangannya dari kepala Andrew.


“Yang tadi untuk dia yang sudah menyuapi kamu. Untuk dia yang membelai kepala kamu, belum.”


Andrew menyeringai jahil.


“Engga, ah. Aku cape!.” Fania hendak melepaskan dirinya. ‘Gila kali, keringet aja masih nempel ini.’


Namun Andrew tak membiarkannya. Ia dengan cepat mencengkram pinggang ramping Fania dengan perut ratanya yang sempurna itu.


“D ....”


Fania hendak protes namun kemudian desahan lolos dari mulutnya karena Andrew sudah menggerakkan kembali sesuatu dibawah sana.


Tangan dan bibirnya kembali bergerilya ditubuh Fania. Membuat seketika hasratnya naik lagi. Sang istri yang sempat meronta sudah nampak kembali terbuai, karena desahan sudah kian lolos tak terhitung lagi keluar dari


mulutnya. Andrew hanya tersenyum sambil terus bergerak.


Sekali lagi membawa Fania dalam kenikmatan yang hakiki.


‘Donald Bebek kaga ada akhlaaaak....’ Batin Fania mengumpat. “Ahhhh, D ....” Namun mulutnya tak berhenti mendesah.


****

__ADS_1


To be continue....


Selamat menunggu waktu berbuka puasa. Wkwkwkwk ......


__ADS_2