
*Halo - halo readers Bukan Sekedar Sahabat yang setia. Mohon Maaf baru bisa update hari ini ya ... Karena kemarin listrik padam seharian dan baru on hari ini*
Selamat membaca ....
“Heart, can we talk now? ( Sayang, bisa kita bicara sekarang? ).” Tanya Andrew saat Fania sudah keluar dari kamar mandi. “Duduk dekat aku sini.”
“Aku mau bikin kopi dulu.” Jawab Fania sambil berlalu.
“Let me ( Biar aku saja ). You wait here. ( Kamu tunggu disini ).” Ucap Andrew yang segera mencekal tangan Fania pelan. Fania menurut dan duduk disofa sambil menyetel televisi.
Selang berapa lama Andrew kembali dengan dua buah cangkir di tangannya.
“Ini, hati – hati panas.” Memberikan salah satu cangkir pada Fania.
“Thanks ( Makasih ).” Ucap Fania menerima cangkir yang disodorkan Andrew. Menyesap nya sedikit lalu meletakkan diatas meja dan matanya kembali mengarah ke televisi.
“I’m sorry, very sorry ( Aku benar – benar minta maaf ).” Ucap Andrew lirih yang kini sudah duduk bersimpuh sembari meletakkan kepalanya diatas paha Fania.
Fania menghela nafasnya pelan lalu menatap Andrew yang kini sudah sedang menatapnya. Berharap ada sesuatu yang keluar dari mulut istrinya.
“Ga perlu minta maaf. Aku yang kecentilan emang.” Ucap Fania datar.
“Hey.” Andrew merubah posisinya. Kini ia berlutut sambil menangkup wajah Fania. “Don’t talk like that ( Jangan bicara begitu ).”
“Memang itu kenyataannya kan?.” Sahut Fania lagi. Datar. “Aku lupa kalo punya suami.” Menyindir perkataan Andrew tadi.
‘Ck.’ Andrew berdecak dalam hatinya, namun dirinya langsung memeluk Fania. “Maaf. Aku benar – benar minta maaf, Heart. Maaf kalau perkataan aku menyakiti hati kamu. Aku terlalu cemburu.”
“Aku udah instrospeksi diri seperti yang kamu suruh tadi.” Ucap Fania masih dengan nada datar tak balik memeluk Andrew. “Emang aku yang ga tau diri, kecentilan depan cowok lain. Bener kok yang kamu bilang.”
__ADS_1
‘Ah, Ya Tuhan. Kenapa dia pendendam begini sih?.’ Batin Andrew menggerutu. “Aku minta maaf, Heart. Jangan begini, please?.” Memohon sambil kembali menangkup wajah Fania yang matanya sudah berkaca – kaca.
“Hati aku sakit tau?.” Ucap Fania lirih. “Kamu bahkan tau semua password aku. Masih kamu ragukan aku?.” Menahan matanya tak berkedip agar air mata yang sedang terbendung tak menetes. “Inget, sama siapa aku serahkan mahkota aku sebelum nikah?. Sekuat tenaga aku jaga. Aku serahin gitu aja ke kamu loh, Nald. Tanpa
penolakan yang berarti....”
Fania memalingkan wajahnya. Air matanya tak bisa lagi ia tahan.
“Masih kamu ragukan aku?. Ma....” Fania tak keburu melanjutkan kata – kata nya karena Andrew membungkam mulut Fania pelan dengan satu jarinya.
“Ssstt. Stop it, please? ( Hentikan, tolong? ).” Ucap Andrew lirih. “Aku yang salah. Aku.” Ucapnya lagi dengan nada suara yang terdengar penuh penyesalan. “Aku bukan meragukan kamu, Heart. Aku cemburu. Kesal karena laki – laki itu memegang tangan kamu, menatap kamu dengan intens tepat di depan mata aku.”
Kini Andrew menempelkan dahinya pada dahi Fania.
“Maaf, kalau pada akhirnya ucapan aku menyakiti kamu. Maaf....” Hati Andrew mencelos. Sakit mendengar ucapan dan sindiran Fania padanya. Sadar kata – kata yang keluar atas dasar cemburu pada laki – laki yang terlihat memiliki ketertarikan yang amat sangat pada istrinya, sudah benar – benar menyinggung perasaan Fania.
“Kamu marah kan, kalau aku meragukan kamu?. Aku juga sama, Nald.. Karena satu – satunya laki – laki yang menguasai hati aku selama enam tahun ini Cuma kamu.” Pada akhirnya Fania melingkarkan kedua tangannya dileher Andrew. “Cuma kamu, Nald.” Terisak karena dadanya terasa sesak. Memeluk Andrew erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Andrew.
“Forgive me ( Maafkan aku)....” Andrew merengkuh punggung Fania, memeluk dengan erat. Merasa amat sangat bersalah. “Kamu boleh kasih hukuman ke aku, hem?.”
Fania menggeleng masih merengkuh Andrew.
Fania kembali menggeleng sambil menatap Andrew. “Jangan pernah ragukan aku, itu aja.” Mendaratkan satu kecupan dibibir suaminya. “I love you ( Aku cinta kamu ).”
“I love you more ( Aku lebih mencintaimu ).” Meraih wajah Fania dan menciumnya lembut. “Maafkan aku ya?.”
Entah untuk yang keberapa kali laki – laki itu meminta maaf. Kali ini Fania mengangguk dengan senyuman. Meski tipis namun tidak sinis. Membuat hati Andrew seketika lega.
**
“Heart, wake up. ( Sayang, bangun ).” Ucap Andrew perlahan membangunkan Fania kala mentari sudah menunjukkan sinarnya. Mengobrol hingga larut malam membuat keduanya terlelap dengan sangat. Ditambah perdebatan ego dan hati lumayan sedikit menguras. Hingga Andrew bahkan tak kepikiran untuk meminta jatah.
Hatinya sudah dipenuhi rasa bersalah pada Fania atas kecemburuannya.
Tersenyum memperhatikan wajah istrinya yang sangat indah untuk dipandang itu. Sekali lagi mencoba membangunkan Fania dengan sentuhan lembut diwajahnya.
__ADS_1
“Nyonya Andrew .. bangun sudah siang.” Berbisik ditelinga Fania.
Merasakan ada belaian diwajah dan hembusan nafas ditelinganya membuat Fania perlahan terbangun.
Tersenyum kala melihat wajah Andrew saat matanya terbuka.
“Jam berapa ini?.” Tanya Fania dengan suara khas orang bangun tidur. Serak, namun seksi bagi Andrew.
“Maunya?.” Jawab Andrew sambil membelai wajah Fania dan menyibakkan sedikit rambut Fania yang berantakan di wajah cantik istrinya.
“Kita kelewatan lagi subuh pasti ya?.” Ucap Fania belum beringsut dari tempatnya sambil memandang pada Andrew.
“Iya, aku lupa pasang alarm.” Sahut Andrew. “Mau bangun apa masih mau tidur, hem?.”
“Kita jadi pulang hari ini?.” Pertanyaan Fania sedikit mengejutkan Andrew. Namun laki – laki itu ingat semalam sebelum baikan Fania sempat bilang kalau dia rasa sudah cukup berbulan madu.
“Kenapa, hem?.” Andrew berlagak lupa dengan permintaan Fania semalam.
“Ga apa – apa. Aku udah bosen aja disini.” Sahut Fania sambil mengucek pelan matanya.
“Terserah kamu aja. Asal jangan bosan sama aku.” Andrew mencium bibir Fania. “Morning kiss. (Ciuman selamat pagi).”
Fania tersenyum lagi.” Ga akan. Mati pun juga aku bawa cinta aku ke kamu.” Fania sekedar menjawab namun Andrew merubah raut wajahnya.
“Hey, don’t talk like that. (Jangan bicara begitu).” Andrew menatap Fania dengan wajah serius. “You die. I die. We die together.(Kamu mati, aku juga. Kita mati bersama).”
Fania hanya tersenyum. “Ya aku kan ngomong bener. Cinta aku ke kamu akan aku bawa sampai mati, Nald.” Ucap Fania sambil memeluk erat Andrew. "Takutnya keraguan kamu belum hilang."
“Stop it. (Hentikan).” Andrew menatap Fania dalam. “Jangan bicara seperti itu lagi, oke?. Aku minta maaf soal semalam. But please, don’t talk like that anymore (Tapi tolong, jangan bicara soal itu lagi).”
“Iya, iya. Udah aku maafin.” Fania tersenyum. “I Love you, always. (Aku mencintaimu, selalu).” Cup!. “Morning kiss (Ciuman selamat pagi).” Fania mengecup bibir Andrew lembut.
*
To be continue ...*
__ADS_1
*Author juga turut prihatin buat para readers yang terkena dampak banjir. Semoga di beri kesabaran ya semua*
Salam Manis Selalu dari Author😍