
Selamat membaca ...
*
Fania dan Andrew menambah waktu menginap mereka selama tiga hari di kediaman Reno. Atas usul Andrew sebenarnya, dia malas kalau harus bertemu Cindy seandainya wanita itu datang lagi ke kediaman Smith. Bahkan Andrew sudah memblok Cindy dari WA dan IG. Pasti cari gara – gara itu cewek untuk mengacaukan hubungannya dengan Fania.
Antisipasi pertama sudah selesai. Andrew sengaja menginap satu hari lagi bersama Fania di kediaman Reno dan Ara karena Cindy tidak mungkin berani datang ke tempat mereka untuk mengejarnya. Mengingat Reno dan Ara memang terlihat kurang menyukai mantan dua tahunnya si Andrew itu.
Andrew membuka matanya namun tak lagi menemukan Fania di sampingnya. Selepas sholat shubuh yang dilakukan sendiri sendiri, mereka memang melanjutkan tidur lagi , karena udara di luar sedang hujan. Beranjak dari ranjang sambil memanggil nama Fania namun tak ada sahutan baik dari kamar mandi ataupun walk in closet.
“Morning ( Pagi ) Andrew.” Sapa Ara yang juga baru keluar dari kamarnya dan Reno yang terletak bersebrangan dengan kamar Fania.
“Morning Ara.” Jawab Andrew dan Reno juga baru keluar dari kamar.
“Fania belum bangun?.” Tanya Reno.
“Ini mau gue cari. Ga ada di kamar.” Jawab Andrew.
“Udah turun mungkin, nunggu kita.” Sahut Ara dan mereka bertiga bergegas turun. Ara bertanya tentang Fania pada pelayan di rumahnya dan para asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman Ara dan Reno juga sudah diberitahu tentang status Fania sebagai Adiknya Reno. “Nina, where’s Fania?.” (Nina, dimana Fania?).
“Oh, Good Morning (Selamat pagi) Mrs. Ara, Mr. Reno, Mr. Andrew.” Sapa Nina dengan sopan.
“Morning, Nina.” Sahut mereka bertiga.
“Miss Fania is in the Kitchen.” (Nona Fania ada di dapur). Jawab Nina. Membuat tiga orang itu heran.
“Kitchen?.” Tanya Reno.
“Yes, Sir. Miss Fania is making breakfast since an hour ago.” (Nona Fania sedang membuat sarapan sejak satu jam lalu). Jawab Nina.
__ADS_1
Ara pun berjalan menuju dapur diikuti Reno dan Andrew. “Fania bisa masak, Hon?.” Ara menoleh kebelakang bertanya pada suaminya.
“No idea.(Ga tau).” Jawab Reno sambil mengendikkan bahunya.
“Masak apa dia sampai satu jam?.” Andrew terkekeh. “I’m afraid she’s gonna blow up your Kitchen.” (Gue takutnya dia bakalan meledakkan dapur lo). Reno ikut terkekeh.
“Fan?.” Panggil Ara dan gadis itu tampak sibuk sedang mrintilin sesuatu di tangannya sambil sesekali membalikkan makanan yang sedang dia buat di penggorengan. Menoleh dengan wajah yang tampak serius namun terlihat lucu.
“Masak?.” Tanya Reno.
“Bangun Rumah.” Jawab Fania ketus. Dan mereka bertiga tertawa.
“Curry Puff?.” (Pastel?). Tanya Andrew sambil memastikan apa yang di pegang Fania, yang terjajar di nampan serta yang ada di penggorengan.
“Wow. Kamu yang bikin ini semua?.” Mata Ara berbinar.
“Amazing. (Menakjubkan).” Sahut Reno.
Andrew mengamati wajah Fania takjub namun tetap seperti ragu. “Serius ini kamu yang buat?.”
“Jangan marah pagi – pagi. Kan kita tanya.” Andrew masih terkekeh sambil mencubit pipi Fania karna gemas melihat wajah sebal Fania.
“Lagian, terus aja pada underestimate (ngeremehin) gue.” Sahut Fania lagi dengan ketus, lalu bergegas mengangkat pastel di penggorengan. ‘Nanti kalo tau gue suka balapan. Pingsan.’ Batinnya.
“Is is true, Ernest?. She made all of this curry puff?.” (Benar itu Ernest?. Dia yang bikin ini pastel semua?). Tanya Reno sambil terkekeh meledek Fania pada sang koki pria yang biasa memasak untuk mereka. Melebarkan senyumnya karena Fania menatapnya sinis dan sebal.
“Yes, Sir. (Iya Tuan).” Jawab Ernest yang juga tersenyum lebar, karena sudah akrab dengan para majikannya dan juga Andrew. “She even didn’t help me to help.” (Dia bahkan tidak memperbolehkan saya membantunya). Koki berumur tiga puluh tahun itu setengah terkekeh.
“Wow, hebat banget adenya Reno.” Goda Reno lagi sambil menoel pipi Fania dari balik meja kitchen set.
“Ih kok bisa sih Fania, kamu bikin kepangan pastel sesempurna itu?. Tanpa cetakan lagi. Aku aja gagal terus.” Ucap Ara yang sudah berdiri disamping Fania, sambil memperhatikan tangan Fania yang terampil mengepang pastel dengan cepat.
"Bisalah. Merem juga bisa." Ucapnya membanggakan diri.
__ADS_1
"Ck .... Ck .... Sombongnya adik Tuan Reno." Goda Ara.
"Bukan sombong, namanya juga anak tukang kue. Dulu waktu papa kena PHK sebelum dapet modal usaha, kan mama jualan kue. Gue bantuin tuh, kadang kalo lagi banyak pesenan dari jam tiga pagi udah ngerjain. Bisa karena biasa." Sahut Fania.
Yah sedikit menyentil Andrew dan Reno dalam hati mereka. Meski Fania sih emang ngomong apa adanya tanpa ada maksud apa - apa juga.
“I can’t believe my eyes.” (Aku ga percaya mata aku). Amazing. (Menakjubkan).” Ucap Andrew sambil geleng – geleng sembari juga memperhatikan tangan Fania yang sedang mengepang pastel.
“Aku yang goreng ya.” Ara menawarkan diri sambil mengangkat pastel yang terlihat sudah coklat dari penggorengan. Lalu memasukkan lagi pastel yang sudah siap goreng kedalam penggorengan.
“Oke. Udah selesai juga ini. Cukup kan ya?. Buat nanti juga untuk Mom, Dad sama Michelle?.” Ucap Fania seraya bertanya.
“Sangat cukup.” Jawab Reno melihat banyaknya pastel yang sudah dibuat Fania.
“Sini cobain yang sudah matang.” Ucap Reno dan Andrew pun duduk disamping Reno.
“Yes, let us try.” (Yap, mari kita coba). Sahut Andrew. Dan Fania mengambilkan dua buah pastel yang sudah matang pada Andrew dan Reno, Ara juga terlihat mengambil satu lalu menyuruh Ernest untuk melanjutkan menggoreng.
“Masih doyan banget emang?.” Ucap Fania sembari bertanya dan menyodorkan pastel matang yang ditempatkan disebuah keranjang rotan beralaskan kertas roti. Lalu Fania menawarkan juga pada Ernest dan Rika. “Ernest, Rika, here, try.” (Ernest, Rika, nih cobain). Ara pun memberi anggukan agar mereka juga ikut mengambil.
“Bukan doyan lagi Jol, ini Kak Ara sejak nikah tuh belajar bikin pastel ga sukses – sukses. Yang mereka bilang rasanya ga seperti buatan Mama Bela. Belum lagi bentuknya.” Ara menggigit pastel yang sudah dia pegang. “OMG.” Matanya berbinar sambil mengunyah pastel buatan Fania. Reno dan Andrew pun sama.
Dua abang ketemu gedenya Fania itu berekspresi kocak sambil tersenyum lebar.
“Benar – benar anaknya Mama Bela.” Ucap Reno sumringah.
“Taste so good Sweety.(Enak banget sayang). Benar kata R, mirip banget rasanya seperti buatan Mama Bela dari dulu pertama kali kita coba.” Sahut Andrew yang juga sumringah.
“Susah Move on mereka itu dari kamu Jol.” Ara hanya geleng – geleng seraya khilap nambah lagi nyomot pastel.
Dan sarapan mereka pagi itu berlanjut di dapur kediaman Reno dan Ara dengan suasana hangat. Kehangatan akan kebersamaan yang hilang selama enam tahun.
*
__ADS_1
To be continue...*