
Selamat membaca ...
“Maaf ya, hem?.” Ucap Andrew lagi sambil memegang wajah Fania untuk menatapnya. “Don’t miss understanding about what she said. I Love you, Fania. You’re not my get away. (Jangan salah paham dengan ucapannya. Aku cinta kamu, Fania. Kamu bukan pelarian aku).” Andrew berkata sambil menempelkan dahinya pada Fania. “You are My Everything. (Kamu segalanya). My heart.... Dan kamu orang pertama yang mampu membuat aku merasa seperti ini. Jangan marah Ya?. I love you” Andrew mengecup pucuk dahi dan Fania. “So much.(Sangat).”
‘Kalau perlu aku suruh orang buat jemput keluarga cemara datang kesini buat segera nikahin kamu.’ Batin Andrew.
Ada rasa hangat dalam hati Fania yang mengalir mendengar ucapan dan merasakan perlakuan Andrew padanya. Donald nya bisa seromantis ini bahkan di depan orang lain.
Membuat kesal dan sakit yang sempat ia rasa terbang entah kemana. “Bener aku bukan pelarian?.” Tanya Fania
saat Andrew kembali menatapnya tanpa memperdulikan yang lain lagi.
Andrew pun menggeleng. “Never.(Ga akan pernah).” Jawabnya. “I was in a relationship with her for two years. But with you, untill the rest of my life.” ( Aku pernah berhubungan dengannya selama dua tahun, tapi dengan kamu, sampai sisa hidup aku).
Aaah... meleleh aku tuh..
“Jangan marah ya, hem?.” Ucap Andrew sambil memegang dagu Fania dan gadis itu pun mengangguk. “Ya udah yuk, kita istirahat.” Andrew pun akhirnya menggiring Fania dalam dekapan, berlalu dari semua orang tanpa berkata – kata lagi.
**
“Yuk masuk.” Ucap Andrew setelah membukakan pintu kamarnya seraya sambil tersenyum tipis pada Fania.
“Koper kamu sudah disimpan di walk in closet yang ada disana.” Ucap Andrew saat mereka berdua sudah masuk kekamar Andrew yang luas dan terlihat mewah serta elegan namun tak menghilangkan kesan sisi kelakian Andrew yang Macho.
Fania pun mengedarkan pandangannya di kamar Andrew. Kamar yang amat luas dengan nuansa warna hitam
dan putih itu begitu rapih dan bersih. Tempat tidur berukuran besar yang nampak sangat empuk serta nakas yang elegan disisi kiri dan kanannya yang dihiasi dengan lampu tidur dan jam digital diatas salah satu nakas.
Sebuah sofa panjang berwarna hitam berlapis kulit yang nampak halus serta set televisi yang besarnya ga kira
– kira menurut Fania.
‘Masya Allah. Bagaikan kamar Sultan ama kamar upik abu kalo dibandingkan kamar gue dirumah sih.’ Fania seketika teringat kamarnya dan Prita yang jarang rapihnya hingga selalu membuat Mamahnya ngomel.
“Fan.” Panggil Andrew yang sudah membukakan pintu walk in closet nya namun nampaknya Fania sedang melamun. “Fania.” Panggil Andrew lagi.
“Heeeemm?.” Sahut Fania yang tersadar dari lamunannya lalu matanya mengarah pada Andrew yang berdiri
disamping pintu geser berwarna hitam.
“Sini.” Ucap Andrew yang menyuruh Fania menghampirinya dan Fania menurut. Mengikuti Andrew yang sudah masuk ke dalam walk in closet yang super besar bahkan lebih besar dari walk in closet kamar Andrew yang di Jakarta.
Lemari yang didominasi dengan kaca pada pintunya. Lampu gantung yang modern dan mewah pastinya. Bahkan ada lemari kaca ditengah yang menjajarkan lebih dari sepuluh jam tangan super mahal didalamnya. Jiwa misqueen Fania menjerit melihatnya.
__ADS_1
“Nanti aku suruh maid (pelayan) untuk merapihkan pakaian kamu dalam lemari ya.” Ucap Andrew.
“Ga usah aku aja nanti yang rapiin. Ga banyak juga kok.” Sahut Fania. “Kasih tau aja dimana aku harus simpen baju – baju aku.”
“Sweety, biar nanti maid yang rapihkan baju – baju kamu, sekalian rapihkan lemari supaya pakaian dan
peralatan kamu ada space (ruang) disini, hem?.”
Fania pun mengangguk akhirnya.
“Ya udah kamu ganti baju dulu. Jangan mandi, karna tidur kamu belum cukup tadi. Kamar mandi ada di sebrang
ruangan ini ya. Kamu mau ganti baju dimana?.” Ucap Andrew seraya bertanya.
“Di kamar mandi aja deh, sekalian mau cuci muka sama sikat gigi.” Sahut Fania lalu bergegas membuka kopernya dan mengambil pakaian serta peralatan yang diperlukan untuk cuci muka dan sikat gigi.
Lagi – lagi Fania dibuat terperangah dengan salah satu ruangan di kamar Andrew. Udahlah tadi bagian tengah kamar sama walk in closet bikin dia minder sendiri kalo inget kamarnya. Ini lagi kamar mandinya bikin Fania tambah minder.
“Ampun deh horang kayah. Segala ada sofa dikamar mandi. Buat apaan tau.” Gumam Fania yang sudah berada di dalam kamar mandi Andrew yang lumayan luas itu, juga lebih luas dari kamar mandi kamarnya yang di Jakarta.
Sementara itu Andrew mengganti bajunya di walk in closet.
“Fania....” Gumam Andrew sambil memegang dada kirinya yang kokoh dan terukir satu nama diatas permukaan
kulitnya. Lalu memakai sebuah kaos ketat berlengan pendek yang menonjolkan dada bidangnya sambil tersenyum dan menggeleng tidak percaya kalau dirinya benar – benar menjadi seorang bucin kalau kata dua J, Reno dan Ara.
Gimana ga kurang bucin kalau sampai akhirnya dia membuat tato di dada kirinya bertuliskan nama seorang Fania. Hanya saja Fania belum tau sampai sedalam itu perasaan si Donald pada dirinya.
terbuka.
Namun tidak sampai melangkah ke kamar mandi, karena ekor matanya menangkap siluet seorang gadis yang memakai setelan training ketat dan sweater sedang bersandar di pintu balkon yang sudah tergeser. Fania yang sudah mengganti pakaian, sedang melamun sepertinya. Meski sweater yang dipakai sedikit longgar namun training yang Fania pakai lumayan mencetak dua bongkahan indah dibelakang. Membuat Andrew sedikit menelan salivanya.
Satu tangan Fania memeluk pinggangnya sendiri dan yang satu sedang menyalip kan sebatang rokok di sela
jarinya. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya yang bahkan tidak menyadari Andrew yang sudah berada di dekatnya.
Andrew bersandar di sisi pintu balkon yang satunya sejajar dengan Fania dan berdiri menghadap pada gadis yang
sudah mampu memenangkan hatinya itu yang belum menyadari kehadiran Andrew yang memang belum bersuara. Tersenyum mengagumi sosok indah di depannya itu. Little F yang udah ga Little lagi.
“Mikirin apa sih, hem?.” Andrew akhirnya bersuara.
Fania sedikit terkejut seraya menoleh. “Ga kedengeran datengnya.” Ucap Fania yang memperhatikan Andrew yang
juga sudah berganti pakaian dengan celana training yang gombrang serta kaos yang membuatnya nampak seksi dimata Fania.
“Kamu aja yang keasikan melamun Fan.” Ucap Andrew sambil tersenyum.
“Siapa juga yang ngelamun.” Ucap Fania sambil menyesap rokoknya. “Ga apa – apa kan?.” Tanyanya pada Andrew
__ADS_1
sambil mengangkat jarinya yang terselip rokok.
“Never mind. (Ga masalah).” Ucap Andrew sambil melangkah mendekat dan mengambil rokok dari tangan Fania lalu ikut menyesap nya.
“Eh, itu bekas mulut aku Nal.” Ucap Fania saat melihat Andrew menyesap rokoknya.
Andrew tersenyum pada Fania. “Aku matiin ya, sudah habis ini.” Ucapnya sambil menunjukkan rokok yang hampir
tinggal puntung nya saja. Dan Fania hanya mengangguk.
Andrew mematikan rokok dalam asbak yang tersedia di meja dekat balkon lalu melangkah mendekati Fania dan
berdiri lebih dekat sambil menghadapkan Fania padanya dengan tangan yang satu bertopang pada pintu balkon diatas kepala Fania.
Membuat jantung Fania berdebar debar kalau Andrew sudah sedekat ini.
“Kamu lagi mikirin apa, hem?. Soal insiden tadi?.” Tanya Andrew yang menatap wajah Fania sambil memegang dagu gadis itu agar menatap matanya. “Masih kepikiran soal ucapan dia?.” Tanya Andrew pelan dan menggunakan kata dia, karena tidak mau menyebut nama Cindy di depan Fania. Takut Fania tersinggung terus ngambek, nah ribet urusan kalo kata Andrew.
“Sedikit.” Sahut Fania singkat lalu membuang pandangannya.
“Lihat aku sini.” Andrew kembali menghadapkan wajah Fania padanya. Ada semburat merah di wajah Little F nya,
membuat Fania terlihat menggemaskan dimata Andrew. “Masih sulit percaya sama apa yang udah aku bilang ke semua orang dibawah tadi?.”
“Bukan ga percaya sih tapi ....” Ucap Fania yang menggantung ucapannya.
“Ragu?.” Sahut Andrew seraya bertanya.
“Mungkin.” Sahut Fania.
“Kamu tau?.. kamu wanita pertama selain Mom, Michelle, atau para maid yang bertugas membersihkan kamar, yang aku ajak masuk ke kamar aku ini.” Ucap Andrew dan sukses membuat Fania terkejut namun merasa bahagia.
“Masa?.” Sahut Fania singkat.
“Boleh tanya Mom, kalau ga percaya.” Ucap Andrew.
“Kalau kamar yang di Jakarta?.” Tanya Fania.
“Sama. Baru kamu wanita yang pernah tidur disana.” Jawab Andrew. “Berhenti meragukan aku Fania.”
‘Atau aku makan kamu sekalian.’ Batin Andrew
***
To be continue..
Jangan lupa dukung Author.
LIKE
__ADS_1
VOTE
KOMEN