BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 173


__ADS_3

Selamat membaca ...


*


Peringatan keras untuk adik – adik yang belum cukup umur kalo bisa diskip dlu aja episode yang ini yah adik – adikku sayang. Takutnya kalian gede sebelum waktunya 😄. Peringatan juga ditujukan untuk para Jomblo ya (karena takut pada pengen. Bahaya entar). Wkwkwk. Kalo yang udah nikah serah dah. Karna di Episode ini ada unsur yang menuju area dewasa yang bikin mupeng.😜


**


“Aku mau mandi.” Fania menggeser tubuh Andrew dari atasnya karena fix, si Kajol biar pun bukan akan melakukan yang ena – ena lagi untuk pertama kalinya dia tetap merasa gugup. “Nald, gerah nih. Lengket badan aku.” Mencoba merajuk karena Andrew tak sesenti pun menggeserkan badannya.


Andrew tersenyum lebar lalu mengalah dan menggeser tubuhnya ke samping. Fania buru – buru kabur ke kamar mandi lalu terdengar pintu kamar mandi yang sepertinya sengaja di kunci Fania. Takut ada serangan mendadak dari Andrew.


“Hahahaha.” Andrew tergelak geli dengan dirinya yang setengah berbaring dan bertopang diatas satu sikunya melihat Fania yang barusan kabur darinya.


“Haah ... selamat.” Gumam Fania saat dia berhasil masuk kekamar mandi setelah langsung menutup dan menguncinya. Melarikan diri dari Andrew yang terdengar sedang tergelak di luar sana. “Wow.” Fania terperangah melihat kamar mandi yang juga ikut dihias sedemikian rupa seperti kamar tidur pengantin miliknya dan Andrew.


Taburan mawar merah yang berserakan teratur yang juga tertabur didalam Bathtub yang lumayan besar beserta beberapa buah lilin disekelilingnya. Fania hanya bisa tersenyum memandangi apa yang sedang dilihatnya saat ini.


Nyonya Andrew memegangi dadanya sambil berkaca di cermin wastafel seraya tersenyum memandangi lagi dirinya lalu mengangkat tangan kanannya. Tersenyum penuh arti memandangi jari yang tersemat cincin pernikahannya.


Semuanya bagai mimpi. Pertemuannya kembali dengan Kak Reno dan Donaldnya hingga sampai akhirnya ke titik ini , dimana sekarang dia dan Donald Bebek kesayangannya sudah terikat dalam satu ikatan suci Pernikahan.


Kalau ini hanya mimpi, rasanya Fania tak ingin bangun dari tidurnya sekarang. “ Haish.” Fania tiba – tiba menepuk dahinya. Dia lupa bawa baju ganti ternyata. Ragu – ragu melangkah mendekati pintu sambil berdecak, ngeri ngeri sedep antara takut sama pengen diserang sama suaminya.


“Lupa bawa baju ganti?.” Suara bariton yang sangat dikenal Fania serta merta mengejutkan dan membuat Fania membulatkan matanya saat ia ingin membuka pintu kamar mandi kembali.


**


Andrew tergelak geli pada istrinya, dengan dirinya yang setengah berbaring dan bertopang diatas satu sikunya melihat Fania yang barusan kabur ke dalam kamar mandi dan langsung mengunci pintu kamar mandi tersebut.


Tak lama ia bangun dari posisinya sambil masih sedikit terkekeh dengan memandang pintu kamar mandi yang tertutup. Namun tak lama seringai jahil terlihat dari sudut bibir Andrew. Laki – laki itu langsung membuka sepatu berikut kaos kaki lalu bergegas berdiri menuju walk in closet sambil membuka satu persatu kancing kemejanya dan


melemparkan kemeja itu ke sembarang arah sambil membuka ikat pinggangnya juga.

__ADS_1


“You can’t run from me that easy, my wife. ( Kamu tak bisa lari dariku dengan mudah, istriku ).” Gumam Andrew dengan seringainya saat sudah berada di dekat pintu penghubung antara walk in closet dan kamar mandi yang setengah terbuka dan Fania lupa soal connecting door tersebut.


***


“Lupa bawa baju ganti?.” Suara bariton yang sangat dikenal Fania serta merta mengejutkan dan membuat Fania membulatkan matanya saat ia ingin membuka pintu kamar mandi kembali.


Fania menggigit bibir bawahnya seraya memejamkan mata tanpa berbalik. ‘Haish, gue lupa ini kamar ada connecting door nya’. Batin Fania.


“Kalau mau ambil baju ganti lewat sini lebih dekat.” Ucap Andrew dengan nada suara yang datar namun dengan senyum liciknya yang tidak dilihat Fania karena wanita itu masih tampak enggan untuk berbalik.


Sambil mengerucutkan bibirnya, Fania akhirnya membalikkan badannya.


Ah matanya menemukan pemandangan indah sedang bersandar pada tembok dekat connecting door. Badan Atletis nan tegap yang sudah tanpa atasan, dengan perut kotak kotak, yang entah ada berapa pak itu tercetak begitu sempurna diperutnya. Dada bidang yang di sebelah kirinya tergores tinta permanen bertuliskan ‘Fania’, membuatnya terlihat seksi.


Fania mengalihkan pandangannya, menggaruk kepalanya yang tak gatal untuk menutupi dirinya yang spontan menelan salivanya. ‘Goyah iman gue ini mah.’


“Kenapa mau pegang?.” Andrew sudah berada di depan Fania yang tadi mengalihkan pandangannya.


“Sini.” Andrew membawa Fania berdiri di depan wastafel. “Jangan suka curi – curi pandang.” Ucap Andrew berbisik ditelinga Fania membuat pori pori ditubuh Fania membesar akibat bisikan dan hembusan nafas Andrew yang menyentuh tengkuknya.


“Lagian kamu. Ngagetin si.” Ucap Fania menutupi canggung nya. Sementara Andrew melepaskan satu persatu ikat dan jepit rambut dikepala istrinya itu.


“Aku suka rambut kamu yang tergerai.” Bisik Andrew sambil memandangi wajah Fania lewat cermin wastafel yang terlihat makin bersemu karena sudah salah tingkah.


“Eng... kamu mau mandi duluan?.” Fania coba mengalihkan gugupnya dari pandangan Andrew yang intens padanya melalui cermin wastafel. “Ga pa-pa si....”


“Mandi bareng ga masalah kan?.” Ucap Andrew lalu mengecup tengkuk belakang Fania. Fix tubuh Fania benar benar meremang sekarang. Andrew sudah menyentuh salah satu titik sensitif ditubuh Fania dengan bibirnya.


“N-nalld ....” Suara Fania sedikit bergetar, Andrew seperti sedang total menggodanya saat ini. Meski bukan untuk yang pertama kali bagi Fania, tetap saja Fania masih gugup kalau membayangkan Andrew bergerak diatasnya nanti.


Fania tanpa sadar mendongak pelan kala bibir Andrew mulai menyusuri lehernya, tanpa juga menyadari Andrew sudah membuka resleting atasan gaun pernikahannya. Hingga saat rok bawahan gaun pengantin yang Fania pakai melorot dengan mulus dari pinggangnya. Barulah Fania setengah tersentak melihat rok dari stelan gaun pengantin india yang tadi dipakainya sudah berada dibawah menutupi lantai ditempatnya berdiri.


Andrew menyeringai nakal melihat keterkejutan Fania yang baru sadar Andrew sedang melucuti pakaiannya.

__ADS_1


“Ga mungkin mandi pakai baju pengantin kan?.” Andrew membuka atasan gaun Fania dengan masih memposisikan Fania didepannya menghadap cermin, melihat bagaimana Andrew melepaskan atasan itu dengan perlahan.


Andrew meneguk kasar salivanya saat dada penuh sang istri itu setengahnya tampak menyembul dari balik penyangga berwarna merah. Sesuatu yang sedikit terasa sesak dibawah sana terasa makin sesak saja sepertinya.


“M-m .. Nald ....”


“Stay right where you are. ( Tetap di tempat kamu).” Andrew memundurkan sedikit tubuhnya. Memandangi tubuh ramping nan molek itu secara intens dari belakang. Sekali lagi menelan kasar salivanya. Dua potong pakaian berenda warna merah itu benar benar terlihat begitu kontras ditubuh putih Fania.


Begitu menantang, meski baru bagian belakangnya saja. Bongkahan dibelakang yang beberapa kali ia lihat bergoyang perlahan dan sesekali berputar saat Fania bergoyang sewaktu istrinya itu bernyanyi kini sudah terhalang satu lapis kain tipis saja.


Tangan Fania mencengkram erat pinggiran wastafel. Malu, karena sesekali ia melirik Andrew yang seperti sedang mengabsen setiap inci tubuhnya dari belakang. Semakin dibuat tak karuan karna saat kembali melirik, Andrew tampak akan membuka celana panjang yang tadi ia pakai.


Fania kembali mengalihkan pandangannya. Malu, gugup, kikuk. Sementara Andrew menyeringai nakal saat membuka celana panjangnya sambil memandangi wajah Fania yang makin nampak memerah melalui cermin wastafel.


“Turn around, Heart. (Berbalik sayang).” Ucap Andrew sambil menatap Fania melalui cermin. Dan sudah menempatkan celana panjang yang tadi ia pakai dibawah kakinya. Menyisakan celana boxer hitam yang nampak seperti kekecilan itu. Ah entahlah. Celana boxernya yang kekecilan atau....


Fania termangu masih memandangi Andrew melalui cermin. 'Habislah gue ini.'


“Kenapa hem?. Nervous? (Gugup?).” Kini Andrew sudah menempelkan tubuh bagian depannya dengan tubuh bagian belakang Fania. Menciptakan gelenyar aneh yang memiliki sensasi tersendiri saat tubuh yang hanya tinggal tersisa sedikit bahan itu saling bersentuhan.


Fania mengangguk pelan. Membuat Andrew tersenyum lembut kali ini. “Aku juga.” Bisik Andrew. “Yuk mandi.” Andrew menggandeng Fania menuju bathtub yang bertabur bunga. Mendudukkan dirinya di sisi wastafel sambil membiarkan Fania berdiri didepannya. Sekali lagi mengabsen setiap inci tubuh istrinya yang sedang dirundung gugup, malu dan kikuk nya dipandangi sekali lagi seperti itu oleh Andrew.


“Jangan liatin aku begitu ah.” Fania yang risih akhirnya spontan menutup dua mata Andrew dengan satu tangannya.


“I want you. Now!. ( Aku menginginkanmu. Sekarang! ).


***


To be continue ..


Gantungin ah, biar pada puyeng nunggu kelanjutan 😄


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK

__ADS_1


__ADS_2