BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 88


__ADS_3

Selamat membaca ...


- - -


Fania bergegas turun dari mobil setelah Ara. Ia tahu kalau memang sudah sampai di rumah Reno dan Ara, karena toh dia Cuma pura – pura aja tidur untuk menghindari interogasi dari Reno dan Ara sepanjang perjalanan.


Fania sudah tidak melihat Reno lagi saat ia ingin turun dan berpikir mungkin kakak gantengnya sudah masuk duluan.


Alangkah terkejutnya Fania, karena saat dirinya turun dari mobil Donald sudah berdiri tegak sedikit berjarak di


depannya seraya menatap Fania. Gadis itu ingin berbicara, tapi bingung mau bicara apa.


Hanya sekilas memandang Andrew sebentar dan berharap si Donald yang membuka omongan padanya.


Tapi Andrew pun tetap diam namun matanya terus mendikte gerak gerik Fania sejak gadis itu turun dari mobil.


“Ka...k Reno kayaknya udah ke dalem.” Ucap Fania kikuk yang akhirnya menyerah untuk membuka omongan dengan Andrew.


“Ga cari Reno.” Sahut Andrew singkat sambil terus menatap Fania dan membuat Fania makin kikuk sedikit risih.


Mencoba sibuk membuka resleting tasnya supaya terlihat seperti mencari sesuatu karna Fania tau melalui ekor matanya, kalau Andrew meski berjarak sedang menghadang jalannya.


‘Ah taulah.’ Batin Fania. Ia pun meneruskan langkahnya setelah menutup kembali resleting tasnya, namun lengannya di cekal oleh tangan kekar Andrew.


“Gue cari lo.” Ucap Andrew sambil terus menatap Fania. “Liat gue.” Katanya lagi. Datar tapi ada penekanan dalam caranya berbicara.


Mau tidak mau, rela tidak rela, Fania pun menatap Andrew.


“Remember what I told you, Andrew.” Suara Reno terdengar dari belakang Fania.


Dan Fania sedikit terkejut kalau ternyata Reno ada di belakang dari tadi dan mungkin, bukan mungkin lagi. Memang Reno melihat interaksi Fania pada Andrew.


“Kak Ren, kirain dah masuk.” Ucap Fania. Reno tersenyum dan seperti biasa membelai kepala Fania.


“You should talk with Andrew, Little F.” Ucap Reno dan Ara pun terlihat keluar dari dalam rumah.


Fania yang tangannya masih dicekal Andrew, perlahan berusaha melepaskan. Tapi Andrew makin mengeratkan cekalan nya meski tanpa tenaga yang berarti. Hanya sekedar kode kalau dia tak akan melepaskan lengan Fania sebelum gadis itu mengiyakan untuk bicara dengannya berdua.


“Andrew, Fania, kalian lebih baik ngobrol di dalam aja ya?.” Ajak Ara pada Andrew dan Fania.


Akhirnya Fania menoleh pada Andrew. “Mau ngomong apa sih Ndrew?. Besok kan bisa. Lepasin kek.” Ucap Fania pada Andrew.


“Ulangi. Barusan bilang apa?!. Sejak kapan lo panggil gue pake nama gue?!.” Ucap Andrew.


“Loh emang itu nama lo kan?. Andrew!.” Sahut Fania. “Udah sih soal gitu aja pake dibahas.”


Reno dan Ara masih belum masuk ke dalam rumah. Karna merasa ada sedikit ketegangan antara Andrew dan Fania, hanya mereka belum ikut campur untuk bicara ataupun bertindak.


“I ask you Fania, sejak kapan lo panggil gue pakai nama gue?!.” Tanya Andrew dengan penekanan.


“Sejak hari ini dan seterusnya!.” Ucap Fania dengan ketus pada Andrew akhirnya.


****


“I ask you Fania, sejak kapan lo panggil gue pakai nama gue?.” Tanya Andrew dengan penekanan.

__ADS_1


“Sejak hari ini dan seterusnya.” Ucap Fania dengan ketus pada Andrew akhirnya. Berharap Andrew tersinggung dan melepaskannya.


“R, Ara, I take her with me.” Ucap Andrew setengah menoleh pada Reno dan Ara. Reno melangkah maju mendekati Andrew.


“Bicara disini aja. Don’t push her.” Ucap Reno sambil melihat Andrew yang sedang menatap Little F mereka.


“Besok aja Ndrew, gue cape.” Ucap Fania.


Fania yang sudah merubah panggilannya dari Donald menjadi Andrew, benar – benar memprovokasi laki – laki plontos itu.


“Gue pun cape. Akan lebih cape kalau lo terus menghindar.” Ucap Andrew pada Fania.


Fania menghela nafasnya. Sementara Andrew terus saja menatapnya. Tatapan memaksa meski tanpa kata.


“Oke, Fine. Kita ngomong kalo gitu. Lo mau omongin apa?. Lo mau nanya apa?.” Ucap Fania yang akhirnya menyerah.


“R, Ara you both better go inside and have some rest. I’ll take Fania with me.” Ucap Andrew pada Reno dan Ara.


“Ndrew,...” Reno belom menyelesaikan kalimatnya tapi Andrew sudah menyela.


“She’ll be okay. Don’t you guys worry. Gue jaga dia dengan nyawa gue.” Ucap Andrew. “Come, kita bicara, tapi ga


disini.” Ucap Andrew seraya mengajak Fania pergi tanpa menunggu si Little F bicara lagi.


Reno dan Ara tidak bicara lagi setelah Andrew mengatakan akan menjaga Fania dengan nyawanya. Fania pun sempat terkejut saat Andrew berkata seperti itu tadi. Sampai akhirnya ia pun pasrah untuk ikut dengan Andrew.


“Kak Ren, Kak Ara. Gue sama Andrew dulu ya. Kalian istirahat aja.” Ucap Fania


“Ya udah kalau gitu.” Ucap Ara dan Reno pun mengangguk.


****


“Lo bilang lo mau ngomong?. Terus malem – malem gini lo mau ajak gue ngomong dimana?.” Tanya Fania pada Andrew, karena tadi selepas Andrew mengajaknya menjauh dari Reno dan Ara. Fania pikir mereka akan bicara paling – paling di bangku taman yang ada di halaman rumah Reno dan Ara.


Tapi nyatanya Andrew menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil dan Andrew langsung melajukan mobilnya itu.


Andrew tidak menjawab. Hingga sampai ia menghentikan mobilnya dan ternyata Andrew membawa Fania ke rumahnya.


“Ngapain lo ajak gue ke rumah lo?. Apa bedanya sih ngomong di rumah kak Reno sama disini?.” Cecar Fania. Tapi Andrew malah langsung keluar dari mobil tanpa menjawab.


Fania lumayan jengkel pada Andrew. Ia menarik nafas berat menahan kesal karena merasa diabaikan.


‘Astaga, maunya apa sih itu orang?!.’ Gerutu Fania masih di dalam mobil Andrew. ‘Jangan harap gue turun terus ngejar dia. Ish, ogah.’


Cie Fania, cinta tapi gengsi kalo kata incess.


Cek lek.


Pintu mobil yang ada disebelah kiri Fania terbuka.


“Turun.” Ucap Andrew pada Fania. Sementara gadis itu tidak terlihat akan beranjak dari duduknya. Fania malah


melirik Andrew dengan sinis karena kesal.


“Ngomong disini aja udah. Abis itu anter gue balik lagi ke rumah kak Reno.” Ucap Fania ketus pada Andrew. Dan laki – laki plontos itu, tanpa dilihat Fania, mendongakkan kepalanya seperti sedang menarik nafas.

__ADS_1


“Turun. Gue ga akan ulangi lagi. I count to three, kalo ga turun juga, gue gendong.” Ucap Andrew.


Fania juga masih kekeh dengan pendiriannya. “Satu.... Dua....”


Sebelum Andrew menyebutkan angka tiga, Fania akhirnya keluar dari dalam mobil Andrew.


“Nih. Udah puas, Ndrew?!.” Ucap Fania sambil menghadap Andrew dan bicara dengan ketus. Andrew hanya meliriknya sekilas lalu menutup pintu mobil.


Kekesalan Fania belum selesai. Karna setelah menutup pintu mobil si Donald alias Andrew masih saja tidak bilang apa – apa. Malah laki – laki plontos pujaan hati Fania itu berjalan santai menuju ke dalam rumahnya.


“Ih ni orang ya. Bener – bener nguji sabar gue.” Gumam Fania lalu. “Andrew!.” Panggil Fania sambil berusaha


mengejarnya. Tapi Andrew tetap berjalan tanpa menoleh apalagi berhenti.


Fania masih terus mengejar Andrew yang sudah masuk ke dalam rumah. “Andrew!.” Panggilnya dengan nada suara kesal.


Andrew tetap saja berjalan santai dan menghiraukan Fania yang mengejar dan memanggilnya. Suara si Little F terdengar kesal saat memanggilnya.


“Drew! Andrew!. Mau lo apa sih?!.” Nah suara Fania udah naik satu oktaf. Tapi Andrew tetap bergeming dan sekarang sudah menaiki anak tangga menuju lantai dua rumahnya. “DONALD!.” Akhirnya kata itu lolos dari mulut Fania.


Andrew tersenyum tipis yang tidak terlihat oleh Fania. Barulah dia menghentikan langkahnya saat mendengar Fania menyebut 'Donald' dan menoleh pada Fania tepat saat dia sudah sampai di lantai dua dan Fania berdiri di tengah – tengah anak tangga dengan wajah yang menahan kesal.


“Udah inget sekarang?.” Tanya Andrew seperti menyindir pada Fania sambil menatap si Little F.


“Dah puas lo kan, gue panggil Donald?. Sekarang ngomong.” Sahut Fania. Bi Cici dan beberapa pelayan yang mungkin mendengar suara Fania yang lumayan kencang ditengah malam, mengagetkan mereka dan membuat para asisten rumah tangga di rumah Andrew buru – buru menghampiri sumber suara.


“Tuan Andrew, Nona Fania.” Sapa bi Cici kepala Asisten rumah tangga di kediaman Andrew yang terkejut melihat Andrew dan Fania tampak sedang bertengkar.


Sedikit khawatir juga setelah melihat sebentar wajah Fania yang tampak murka pada Tuan Mudanya. Kebetulan Bi Cici juga sudah lumayan mengenal Fania karna gadis itu pernah beberapa hari menginap di rumah Andrew.


“Maaf Tuan, Nona, ada apa?. Kenapa bertengkar?.” Ucap Bi Cici.


“Ga apa – apa Bi.” Ucap Andrew dan Fania bersamaan dan kemudian mereka saling melirik.


“See? Suara lo membangunkan seisi rumah.” Sindir Andrew pada Fania.


“Salah siapa? Salah lo kan nyuekin gue dari tadi!.” Sahut Fania yang menghiraukan Bi Cici dan beberapa pelayan yang masih terpaku di tempatnya.


“Lo marah gue cuekin? Kesal merasa diabaikan?. Ya seperti itu perasaan gue sejak di kafe tadi!.” Ucap Andrew


dengan suara sedikit meninggi pada kalimat terakhirnya.


Membuat Fania sedikit terkejut dan tak suka karena merasa Andrew barusan membentaknya.


“Bi Cici dan yang lain silahkan kembali ke kamar masing – masing dan lanjutkan istirahat.” Ucap Andrew pada kepala ART nya tersebut.


“Tapi Tuan..” Bi Cici berniat bicara namun keburu di potong Andrew.


“Saya ga suka dibantah, Bibi tau kan?. Sekarang tolong tinggalkan saya dan Fania.” Ucap Andrew datar.


“Baik Tuan Muda, saya dan yang lain permisi dulu. Kalau Tuan Muda dan Nona butuh sesuatu jangan sungkan ya.” Ucap Bi Cici sopan lalu pamit dari hadapan Andrew dan Fania yang tidak menjawab ucapannya dan membawa serta pelayan yang lain untuk meninggalkan dua orang mirip pasangan yang sedang bertengkar itu.


**


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2