BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 225


__ADS_3

Selamat membaca...


 


Flashback on


‘Semalem gue ditolak mentah – mentah. Tapi tidur segala meluk.’ Gerutu Fania dalam hatinya kala terbangun dan menyadari tangan Andrew melingkar diperutnya. Ia bangun dan beringsut dengan sangat perlahan dari ranjang.


Melirik jam digital diatas nakas, lalu langsung bergegas untuk Sholat Shubuh.


“Bangunin ga ya?.” Fania bergumam sendiri selepas ia melakukan Sholat Subuh sambil menatap Andrew. “Ck. Gue masih sebel. Tapi kalo ga gue bangunin nambah dosa gue ini.” Fania nampak menimbang – nimbang. “Bodo ah.”


Memilih untuk tidak membangunkan Andrew dan langsung bergegas mandi kemudian berpakaian dan sedikit berdandan tipis. Melakukan segala hal saat Andrew masih terlelap dan nampak sangat pulas itu dengan perlahan. Lagi males ngomong sama si Donald, gegara semalem suaminya itu menolak untuk diajak bermanja – manjaan.


“Segitunya yang belom mau punya anak.” Ia masih menggerutu dalam gumamannya saat berada di walk in closet untuk mengambil tasnya.


‘Padahal gue udah nyiapin ini kndom.’* Fania membuka bungkusan dalam tas yang ia pakai kemarin. Salah satu alat kontrasepsi yang sengaja ia beli saat ia meminta Andrew mengantarkannya ke sebuah mini market serba ada.


Ia sudah berusaha memahami ketakutan Andrew terkait antara keselamatan dirinya kalau menghadapi proses kehamilan dan kelahiran. Jadilah Fania berinisiatif untuk membeli salah satu alat kontrasepsi itu.


Fania meraih ponselnya. ‘Kak’.


Mengetik dan mengirimkan pesan ke nomor kakak gantengnya. ‘Kenapa?. Mau ngomel lagi?.’


‘Mau minta tolong. Ga boleh bilang engga!.’


‘Pasti minta tolong yang aneh – aneh kalo bilang di chat gini.’


‘Pinter Pak Reno Alexander. Ga sia – sia kuliah di Oxford.’


‘Mau minta tolong apa?.’


‘Gue mau jalan – jalan sendiri ga sama si Donald Bebek. Ga mau tau gimana caranya, jangan sampe dia bisa melacak keberadaan gue. Tapi gue ke kampus dulu.’


‘Bertengkar lagi?. Ke kampus ngapain?. Bukannya lo ga ada kuliah hari ini?.’


‘Kepo banget!. Udah pokoknya gue minta tolong kayak gitu. Yaaaaaaaa.’


‘Ya udah. Tapi tetep lo gue pantau. Gue kirim orang buat mengawal lo. Tunggu sampai orang suruhan gue dateng, nanti dia yang menemani lo.’


‘Terserahlah kalo itu sih. Asal si Donald Bebek ga bisa nemuin gue sampe nanti gue puas maen.’


‘Dengan satu syarat. Lo berhenti sentimen sama gue soal insiden kemarin.’


‘Oke deal.’


Flashback off


***


“Good morning, Miss Fania ( Selamat pagi, Nona Fania ).” Seorang wanita berbadan tegap menyapa Fania saat gadis itu tengah duduk – duduk di halaman kampus.


“Morning.” Sahut Fania sambil memandangi wanita yang menyapanya itu. Cantik namun garis wajahnya nampak tegas meski wanita itu tersenyum. “And you are? ( Dan kamu adalah? ).”


“I’m Alexandra Miss. Mister Reno sent me to accompany you ( Saya Alexandra Nona. Tuan Reno yang mengirim saya untuk menemani Nona ).” Ucap wanita bernama Alexandra itu dengan sopan. “You can call me Alex ( Anda bisa memanggilku Alex ).”


Fania manggut – manggut. ‘Set deh Kak Reno, beneran dia ngirim bodyguard. Tapi bagus deh kalo Bodyguard nya cewe.’ Batinnya. “Can I take your picture? ( Gue bisa foto lo? ).” Tanya Fania pada Alex.


“May I know why? ( Boleh saya tahu kenapa? ).” Alex sedikit heran.


“I want to confirm with my Brother ( Gue mau konfirmasi ke kakak gue ).” Fania lebih berhati – hati kini pada orang asing terlebih lagi. Ingat pengalaman di Thailand.


“Feel free to do that, then ( Silahkan kalau begitu ).”


Alex mempersilahkan Fania untuk memotret dirinya, lalu Fania langsung mengirim foto Alex sembari menanyakan tentang wanita itu pada kakak gantengnya.


“My Brother has confirmed you ( Kakak gue udah mengkonfirmasi ).” Fania lega karena Alex memang orang suruhan Reno. “Can we go now? ( Bisa kita pergi sekarang? ).”


***

__ADS_1


Ponsel Fania berdering tak lama setelah Alex menjemputnya.


“Halo Little F, lo masih di kampus?.” Panggilan dari kakak gantengnya yang langsung Fania terima.


“Masih, tapi udah mau jalan sama si Lara Croft suruhan lo nih.”


“Si Botak nyariin lo.”


“Bodo amat!” Sahut Fania ketus.


Reno terdengar terkekeh disebrang telpon. “Kenapa lagi lo sama dia sih?.”


“Ada deh. Urusan suami istri ini mah. Yang penting itu tadi yang gue minta sama lo jangan lupa.”


“Iya udah. Udah gue suruh orang gue buat menyembunyikan sinyal gps lo. Seumur hidup itu sinyal gps ponsel lo


bakal ada di kampus lo terus.”


“Cakeeeppp.”


“Udah nih kita impas ya. Lo jangan ungkit – ungkit lagi kejadian kemarin.”


“Iyaa ....”


“Ya udah. Keep in touch ( Kabarin ) ya. Jangan main jauh – jauh.”


”Jauh – jauh kemana tau. Ini aja lo kirim si Lara Croft buat ngintilin gue.”


Reno nampak terkekeh lagi. “Ya kan gue harus tetep kirim orang buat jagain lo. Mana mungkin gue biarkan adik


kesayangan gue yang sedang kesal sama suaminya berkeliaran sendirian.”


“Tau ah.” Fania mencebik. “Ya udah ya, gue mau halan – halan dulu.”


“Oke. Enjoy your time. ( Nikmatin waktu lo ).Mau kemana sih lo memangnya?.”


“Mau mampir ke London Book Fair sebentar, terus ke Camden sama gue mau ngerasain naik semua transportasi London di zona satu sampe enam.”


Reno memutuskan panggilannya.


***


“Alex, take me to Camden Town, please. ( Alex, tolong bawa aku ke Camden Town ).” Fania baru selesai mengunjungi London Book Fair dan sekarang ia sudah berada di dalam mobil milik Alex. “I sit next to you. ( Gue duduk di samping lo ).”


Fania menolak untuk duduk di belakang, meski Alex sudah membukakan pintu dengan hormat.


“You should sit at the back seat, Miss. I’m afraid you will not feel comfortable. ( Anda sebaiknya duduk dibelakang Nona. Aku khawatir anda merasa tidak nyaman ).”


“My Brother send you to accompany me today, right?. ( Kakak gue ngirim lo buat nemenin gue hari ini, kan? ).”


“To protect you also Miss. ( Juga untuk melindungi anda, Nona ).”


“Ya, ya.” Fania memutar bola matanya. “Just take me to Camden Town. ( Anter gue ke Camden Town ).” Dia tetap duduk di depan. Alex pun sungkan jika harus memaksa Fania untuk pindah ke belakang lagi. Dan sang Bodyguard


wanita itu pun menyalakan mesin mobilnya.


“Have you ever been there, Miss?. ( Apa kamu pernah kesana, Nona? ).”


“Nope.  That’s why I wanna go there now. ( Belum. Makanya pengen kesana sekarang ). And please, just call me Fania. You older than me, right?. ( Dan tolong panggil gue dengan Fania aja. Lo lebih tua dari gue, kan? ).”


“You are my Young Lady, Miss. I cannot be impolite to you. ( Anda adalah Nona Muda saya. Saya tidak bisa kalau harus bersikap tidak sopan ).” Alex adalah seorang Bodyguard perempuan yang dipercaya Reno untuk menjaga


Fania untuk menemani adik kesayangannya itu menghabiskan waktu hari ini.


“Well, this is an order, okay. You call me Fania. ( Ini perintah, oke. Panggil gue Fania ). And now I want you to take me every where I ask and act like a friend. ( Dan sekarang gue mau elo bawa gue kemanapun yang gue minta dan bersikap layaknya teman ).” Fania memberikan perintah pada Alex. ‘Kaku banget kek kanebo kering.’ Batin Fania.


“As your order than, Miss. ( Sesuai perintah anda kalau begitu, Nona ).” Fania menoleh dan melotot pada Alex. “Fania, I mean. ( Fania, maksud saya ).”


“Nice. ( Bagus ).”

__ADS_1


‘Just like Mister Reno. Cannot be refuted. ( Persis dengan Tuan Reno. Tidak bisa dibantah ).’ Batin Alex, lalu ia mengemudikan mobilnya mengarah ke Camden Town, sesuai permintaan Fania.


***


“Excuse me. ( Permisi ).” Andrew memohon diri untuk menerima telpon saat dirinya sedang meeting dengan beberapa staffnya beserta Jeff juga. “What is it Ezra. ( Ada apa Ezra? ).” Telpon yang berasal dari Ezra yang memang sudah ditugaskan Andrew untuk menyusul Fania di kampusnya.


‘Sir. ( Tuan ).’ Ezra berbicara dari sebrang telpon. ‘Mrs. Fania is not at the Campus. ( Nyonya Fania tidak ada di Kampus.’


“What?!. ( Apa?! ).” Andrew setengah memekik. Jeff beserta para staff langsung menghentikan pembicaraan mereka.


‘Yes Sir, she is not at the Campus. I’ve been looking around and check every place here. But she is not here and no one see her. ( Ya Tuan, dia tidak di Kampus. Saya sudah mencari disekeliling dan mengecek semua tempat disini. Tapi saya tidak menemukannya dan tak ada juga orang yang melihatnya ).’


“Are you sure about that Ezra?. ( Apa lo udah yakin soal itu Ezra ).” Sahut Andrew. “ Check once again. Last time I saw her GPS showed that she still in Campus few minutes ago. ( Cek sekali lagi. Terakhir gue liat GPS nya dia masih di Kampus beberapa menit yang lalu ).”


‘Already Sir. I already checked every spot in this Campus but Mrs. Fania is not around. ( Sudah Tuan. Saya sudah mengecek beberapa kali setiap sudut di Kampus ini tapi memang Nyonya Fania tidak ada ).’ Ezra kembali menjelaskan. ‘ I even already confirmed to this Campus office and they said that Mrs. Fania has no class today. ( Saya bahkan sudah mengkonfirmasi ke Pihak Kampus dan mereka bilang Nyonya Fania tidak ada kelas hari ini ).’


“CK!.” Andrew Berdecak. Ia nampak kesal. “Then find her. Search every place here in London to find her as soon as possible!. ( Temukan dia. Cari di setiap tempat di London ini dan temukan dia secepatnya! ).”


‘Okay Sir. ( Baik Tuan ).’


Andrew memutuskan panggilan telpon dengan Ezra. ‘Faniaa!....’ Batin Andrew sedikit geram.


***


“Wow!.”


Fania dan Alex sudah berada di Camden Town. Sebuah tempat yang didirikan sekitar tahun 1971 dimana terkenal dengan pasarnya, sebuah pusat mode dan hal – hal unik di dekat Kanal Regent.


Fania pun berdecak kagum saat dirinya sudah berada di surga bagi budaya tandingan ini. Melihat banyaknya lokasi hiburan yang meliputi Live Music,  Klub – klub Alternatif dan Pub – Pub Retro, dan Bintang – Bintang besar yang bermain di Jazz Cafe dan Roundhouse.


Alex sedikit menyunggingkan senyumnya melihat sikap Fania yang terkesan santai dan cuek. Nona Muda yang sedang di kawalnya itu nampak begitu sumringah. Namun Alex juga selalu dalam posisi standby berada di dekat Fania dan selalu menjaga matanya demi keselamatan sang Nona Muda yang kadang meraih lengannya untuk berjalan bersama sambil berbicara dengan cerocosan nya. Dan masuk ke beberapa Toko di dalam Camden Lock Market.


****


“Jeff teruskan meeting ini. Nanti lo kasih gue laporannya.” Andrew nampak gusar.


“Ada apa?.” Jeff bertanya karena heran melihat raut wajah Andrew. “Si Kajol?.”


Andrew mengangguk. “ She’s not at the Campus. ( Dia ga ada di kampus ). “ ia menghela nafas kasar.


“Her GPS?. ( GPS nya? ).” Tanya Jeff lagi.


“Itulah. GPS nya ada di Kampus. Tapi Ezra bilang Fania ga ada disana. Bahkan jadwal yang tadi ditunjukkan Michelle kalau dia ga ada perkuliahan hari ini memang benar. Bahkan Ezra juga sudah kroscek ke Pihak Campus langsung.”


“Kalian abis bertengkar?.” Jeff bertanya lagi.


“I told later. I have to find her now. ( Ntar gue ceritain. Gue harus cari dia sekarang ).”


Jeff pun mengangguk paham. Andrew kemudian segera bergegas untuk keluar dari ruang meeting dan Perusahaan untuk mencari Fania.


‘Ck. Childish. ( Kekanak – kanakan ).’ Batin Andrew menggerutu.


***


Tring ..


Ponsel Fania berdering kala ia dan Alex sudah selesai di Camden Town. Sekarang Fania ingin merasakan naik Bus Double Decker. Bus berwarna merah yang jadi ikonnya Kota London. Rasanya tak afdol kalau belum naik itu bis kalau sedang berada di London.


Fania mengeluarkan ponselnya yang berdering dari dalam tas. ‘My Beloved Donald.’ Nama si pemanggil tertera di layar ponsel Fania.


“Harusnya gue ganti ini nama kontaknya jadi si botak ngeselin.” Fania bergumam namun tak menerima panggilan Andrew yang sedang menderingkan ponselnya saat ini.


“Are you talking to me, Fania?. ( Apa anda berbicara pada saya, Fania? ).” Tanya Alex yang merasa mendengar Fania berbicara namun pelan.


Fania menggeleng sambil masih melihat ponselnya yang tak lama berhenti berdering. Tak lama nada notifikasi chat berbunyi. Pesan dari Andrew muncul dan terlihat di jendela apung ponselnya.


‘WHERE ARE YOU?. ( DIMANA KAMU?! ).’ Pesan dari Andrew bertuliskan dengan huruf besar semua. Menandakan si pengirim sedang dalam mode murka.


Fania sedikit menelan salivanya.

__ADS_1


***


To be continue..


__ADS_2