
Selamat membaca ...
“Kamu ga apa – apa, Sweety?.” Ara membantu Fania untuk kembali berdiri tegak setelah adik ipar angkatnya itu didorong oleh Inggrid hingga tubuhnya membentur pintu kaca Perusahaan.
Fania mencoba tersenyum meski tipis, sambil masih memegang pinggang belakangnya yang dirasa agak sakit karena benturan.
“Ga apa – apa, Kak.”
“Are you sure? (Apa kamu yakin?).”
Fania mengangguk.
“Babe, Little F!.”
Reno datang bersama Nino dengan wajah yang nampak khawatir.
“Are you guys, okay? (Kalian tidak apa – apa?).”
“Ga apa – apa, Kak.”
Fania menyahut cepat.
Ara juga mengangguk.
Tak lama Andrew juga datang setengah berlari bersama Jeff.
“Heart!.”
“D.”
Andrew setengah celingukan sebelum bicara lagi pada Fania.
“Mana mereka?!.” Tanya Andrew sambil masih celingukan. Lalu kembali pada Fania.
“Sudah diamankan.” Sahut Ara pada Andrew. Sementara Reno meraih pelan tubuh istrinya.
“Nino! Did I told you to give warned for not letting them come here again?! (Nino! Bukannya udah gue suruh lo buat kasih peringatan supaya mereka ga dateng kesini lagi?!).” Reno setengah geram.
“Already, Sir (Memang sudah, Tuan).”
Nino menjawab cepat.
“And how come they got here?! (Dan gimana bisa mereka sampai sini?!).” Ucap Reno masih menatap tajam pada Nino.
“My mistake, Sir (Saya salah, Tuan).”
Nino memilih mengalah daripada menjawab lagi dengan pembelaan yang kemungkinan besar benar, namun karena melihat Reno yang nampak geram ia lebih memilih untuk tak bicara panjang lebar saat ini.
Reno kembali pada Ara, lalu Fania.
“Apa mereka menyakiti kalian?.” Andrew bertanya sambil memegangi Fania.
Fania langsung menatap Ara dan setengah menggeleng.
‘Donald Bebek sama Kak Reno ga perlu tau, soal adegan dorong mendorong tadi.’ Batin Fania yang ga mau terjadi keributan nampaknya. Paham sifat Andrew dan mungkin si kakak ganteng bisa marah juga kalau tau tadi Fania didorong oleh Inggrid karena membela Ara.
“We’re okay, Hon (Kami baik – baik saja, Sayang).” Jawab Ara pada Reno.
“Iya Kak. Kita ga apa – apa. Itu juga mereka udah diseret tuh sama Bodyguardnya Kak Ara sama security sini juga.”
Fania ikut menambahkan ucapan Ara.
“Awas saja kalau mereka berani – berani sentuh kamu!.” Andrew setengah geram. “You missed your attention to them ,R. Again! (Lo kecolongan lagi, R!).” Ucapnya ketus pada Reno yang langsung melotot pada Nino.
“I’ll go find out (Aku akan segera mencari tahu).” Ucap Nino dan ia hendak pergi.
“No need (Ga perlu).” Fania bersuara. “They’re gone, right? (Mereka udah pergi ini). Udahlah. Gue mau duduk ini. Cape.”
“Alright then, let’s go to my office (Ya udah kalau begitu, ayo ke ruangan aku).” Andrew meraih pinggang Fania.
Reno dan Ara mengangguk.
“I’m here with Nino (Gue disini dulu sama Nino).” Ucap Jeff yang belum beranjak dari tempatnya. ‘Gue yakin ada sesuatu. Muka si Kajol tadi seperti lagi nahan sakit.’ Batin Jeff bermonolog.
***
Andrew sudah membawa Fania memasuki lift pribadinya. Reno dan Ara pun ikut bersama mereka untuk pergi ke ruangan Andrew.
“Bukannya aku minta kamu untuk stay di rumah, Heart?. Kan aku sudah bilang, kalau aku akan pulang cepat.”
Ucap Andrew dengan wajah yang setengah terlihat tidak senang.
“Aku bete D, bosen.”
“Kamu juga ga bilang mau datang, Hon?. Kalau ada perlu kan bisa telpon dan aku bisa datang ke Butik.”
Reno ikut setengah memarahi Ara, seperti halnya Andrew pada Fania.
Kedua wanita hamil yang sedang setengah dimarahi itu merasa kikuk sendiri.
“Bukan salah Kak Ara, Kak. Gue yang telpon dia ngajak maksi bareng, trus mau ngajak kalian berdua juga. Makanya janjian kesini.” Ucap Fania menjelaskan. “Aku juga udah WA kamu, D. Tapi ga dibaca – baca.”
“Aku lagi yang salah.” Sahut Andrew sebal.
“Yang nyalahin kamu siapa juga.”
“Ya sudah, kalian duduk dulu. I’ll asked Eve to make some drink (Gue akan minta Eve untuk membawakan minuman).” Ucap Andrew yang kemudian memanggil sekertaris pribadinya itu.
__ADS_1
“Aku lapar si.” Sahut Fania cepat.
“Kita makan disini aja.” Timpal Reno. “Biar gue minta Andrew untuk menyuruh Eve sekalian pesan makanan.”
“Terserah kamu, Hon.” Ucap Ara yang sepertinya enggan untuk membantah karena sudah tahu suasana hati Reno saat ini. “Kita makan disini aja ya, Sweety?.”
‘Kok kayaknya gue mules ya?. Pinggang belakang kayak panas perasaan.’ Fania menelusup kan satu tangannya kebelakang, mengelus pinggang belakangnya yang dirasa sedikit panas. ‘Ck. Gara – gara kepentok tadi ini pasti.’
“Sweety?.”
Ara sedikit memperhatikan Fania karena tak langsung mendapat jawaban.
Reno juga ikut memperhatikan Fania.
“Kenapa Little F?.”
Tanya Reno pada si adik angkat kesayangannya itu. Sedikit aneh melihat Fania yang nampak terlihat meringis namun tertahan.
“Laper, Kak.”
Andrew sudah kembali setelah meminta Eve untuk membuatkan minuman untuk mereka. Ia langsung duduk pada sanggahan sofa samping Fania.
“Ndrew, sekalian minta Eve untuk pesan makanan. Kita makan disini aja.”
“Kalian mau makan apa?. Nanti Eve datang bawa minuman biar bisa minta dia langsung pesankan makanan.”
Ucap Andrew sambil merapihkan anak rambut Fania.
“Apa aja.” Sahut Ara.
“Kamu?. Mau makan apa, Heart?.” Tanya Andrew pada Fania.
‘Perut gue kok rasanya kenceng gini?.’
“Heart?.” Andrew menyebut nama Fania karena si Kajol tak menjawab.
‘Tarik nafas pelan.’ Fania berkata pada dirinya sendiri didalam hati. Berusaha tak menunjukkan kalau ia merasakan sakit karena perutnya yang terasa kencang, perpaduan antara mulas dan kram.
“Heart?. Kamu kenapa?.”
Andrew memegang bahu Fania.
“Ha?.” Fania tersadar seketika. “Kenapa?.”
Sikapnya tak luput dari mata Reno dan Ara.
“Kamu yang kenapa?. Mikirin apa?.”
“Ga apa – apa. Cuma agak pegel aja.”
Ucap Fania yang bersamaan dengan kedatangan Eve membawakan minuman untuk mereka berempat.
“Of course, Sir (Tentu saja, Tuan).”
Jawab Eve dengan sopan sambil meletakkan minuman di meja.
“You also call Jeff and Nino if they want some food to eat (Kamu juga telpon Jeff atau Nino, siapa tahu mereka mau dipesankan juga).”
Ucap Andrew lagi pada Eve.
“Okay, Mister Andrew I will call them. (Baik Tuan Andrew, saya akan menelpon mereka). What food do you want me to order? (Mau saya pesankan makanan apa?).”
Ucap Eve seraya bertanya.
“Sweety, kamu kenapa?.”
Ara sepertinya sedikit aneh melihat Fania. Reno dan Andrew yang sedang bicara pada Eve pun spontan langsung menatap Fania, karena mendengar ucapan Ara yang kini sudah mendekat dan mengelus punggung Fania.
Andrew langsung mendekati istrinya itu.
“Just order some food that we usually order (Pesankan saja makanan yang kami biasa pesan).” Ucap Andrew pada Eve sebelum dia memfokuskan diri pada Fania.
“Ga apa – apa Kak.” Ucap Fania pelan menahan agar tidak meringis dan membuat tiga orang yang bersamanya khawatir, meski ia merasakan perutnya kian melilit.
“Heart, do you feel something? (Sayang, apa kamu merasakan sesuatu?). Kamu keringat dingin begini.”
Wajah Andrew terlihat khawatir setelah melihat kening Fania yang sudah berkeringat, dan tangan Fania yang dipegang Andrew terasa dingin.
“I’m okay ... Cuma agak pegal aja.”
Fania menahan untuk tak memperlihatkan sedikit sakit pada perutnya yang sedang ia rasakan saat ini.
“Kamu yakin?.” Tanya Andrew.
“Iya.” Jawab Fania. “Minta bantal kursi aja sini.”
“Kamu berbaring di kamar aja ya?.”
Andrew mengajak Fania agar berbaring dalam kamar tempatnya beristirahat yang ada dalam ruang pribadinya.
Fania menggeleng.
“Ga usah. Aku kelaperan sama kelamaan berdiri aja ini kayaknya.” Ucap Fania berkelit.
“Andrew benar, lo berbaring aja dulu sana. Nanti kalau makanan datang dikasih tahu.” Ucap Reno yang mulai khawatir dan merasa kalau Fania sedang menahan sakit, karena Reno melihat Fania juga nampak mengatur nafas berkali – kali dengan amat perlahan. Namun Reno bisa melihatnya. “Lo sedikit pucat.”
“Iya, Sweety. Berbaring aja dulu sana ya.”
__ADS_1
“Come (Ayo).” Andrew bangkit untuk mencoba membantu Fania berdiri. “Kan aku sudah bilang agar istirahat dirumah saja, Heart.”
‘Aw, sakiiiittt....’ Fania mencoba menahan diri untuk tak memegang perutnya.
“Come (Ayo).”
Andrew meraih pelan tangan Fania. Namun Fania menggeleng. Ia meletakkan perlahan kedua tangannya untuk lebih bersandar kebelakang.
Andrew, Reno dan Ara mulai nampak lebih khawatir.
Reno berdiri dari duduknya mendekati Fania.
Sementara Andrew sudah berjongkok di depan Fania.
“Apa ada yang sakit, Heart?.”
“Bilang kalau ada yang lo rasakan, Little F.”
“Iya, Sweety ...”
Ketiga orang itu kini benar – benar khawatir melihat Fania yang tak lagi menyembunyikan kalau ia sedang menarik dan menghembuskan nafas seperti sedang melakukan pengalihan atas apa yang dirasakannya saat ini.
Fania menggigit bibir bawahnya.
“Heart....” Andrew semakin khawatir, kemudian berdiri dan mengusap kening Fania yang mulai berkeringat banyak dengan tangannya.
“Uhuk.” Fania terbatuk.
“R, tolong air mineral dimeja gue.”
Andrew meminta Reno mengambilkan air putih miliknya, karena minuman yang disajikan Eve berupa Jus dan kopi. Reno sigap setengah berlari mengambil gelas dimeja Andrew.
Fania setengah mematung setelah terbatuk. Terpaku sendiri sambil menatap Andrew dengan matanya yang mulai nampak berkaca – kaca. Merasakan ada sesuatu yang keluar dari inti tubuhnya bersamaan dengan batuknya barusan.
“Heart, say something (Sayang, katakan sesuatu).”
“Minum dulu, Little F.” Reno menyodorkan air minum yang sudah ia pegang.
“D ....” Ucap Fania perlahan sambil memegang tangan Andrew.
“Kita ke Dokter sekarang.” Ucap Andrew dengan panik dan tergesa.
“Gue suruh Nino siapin mobil.”
Reno meraih ponselnya. Wajahnya dan Ara juga sama khawatirnya dengan Andrew saat ini. Melihat Fania yang nampak tergugu sendiri dan memegangi perutnya.
“Say something, Heart (katakan sesuatu, Sayang).” Andrew sudah memposisikan dirinya untuk menggendong Fania.
“Perut aku sakit ....” Ucap Fania amat pelan bersamaan dengan sebulir air mata yang meluncur dari pelupuk matanya.
“Tahan sebentar ya....” Andrew meraih kedua kaki Fania yang sudah ia rapatkan. Untuk memudahkannya mengangkat tubuh Fania.
Namun Andrew meletakkan tubuh Fania kembali sebelum sempat benar – benar mengangkatnya. Ia merasakan lengannya sedikit basah saat menyentuh dress bagian bawah yang dikenakan Fania.
Andrew menatap pada Fanianya, Ara menghapus air mata Fania yang turun sebulir. Reno pun baru selesai menghubungi Nino untuk menyiapkan mobil. Andrew tergugu melihat lengannya yang ter bubuhi warna merah.
Ara langsung memeluk tubuh Fania. Reno terpaku di tempatnya seperti Andrew.
“She’s bleeding ..... (Dia berdarah ....).” Reno terkejut namun kakinya nampak terpaku karena syok melihat darah segar yang mengalir segaris dikaki Fania.
***
Ara nampak mengusap – usap punggung Reno yang nampak gelisah. Sementara Andrew bolak – balik tak tenang di depan sebuah ruangan menunggu kabar dari Judith yang sedang menangani Fania. Berkali – kali Andrew nampak mengusap wajahnya dengan kasar.
“What’s was really happened, Babe? (Apa yang sebenarnya terjadi, Babe?).” Reno punya firasat kalau apa yang menimpa Fania ada hubungannya dengan keributan yang katanya sempat terjadi antara Fania dan Ara dengan Inggrid dan Irvin.
“Fania try to defend me, when Inggrid gripped my hand and Irvin try to slap me (Fania mencoba membela aku, saat Inggrid mencengkram tangan aku dan Irvin hendak menampar aku) ....”
“Jangan bilang mereka berlaku kasar pada Little F.”
“Did they do something to Fania, Ara?! (Apa mereka melakukan sesuatu pada Fania, Ara?!).” Andrew sudah berada didekat Ara dan Reno karena memang hendak bertanya hal yang sama dengan Reno. Berhubung dia mendengar apa yang tadi diucapkan Ara, Andrew punya spekulasinya sendiri.
“Inggrid mendorongnya hingga membentur pintu kaca, karena posisi Fania yang sedikit tak siap.” Ara menjelaskan. Wajah Reno dan Andrew sudah menunjukkan bahwa dua laki – laki sudah geram.
“Those scoundrels ...... (Para bajingan itu ...).” Reno mengepalkan tangannya.
“Gue sudah bilang R, kalau mereka berani sentuh Little F, gue sendiri yang akan memberikan mereka pelajaran!.” Andrew menunjuk Reno dengan matanya yang mulai memerah menahan amarah. “If something bad happen to my baby and especially Fania. I’ll make them stop breathing! (Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi sama bayi gue dan terlebih lagi Fania. Akan gue buat mereka berhenti bernafas!).”
Meski amarahnya sudah terasa diubun – ubun, namun Andrew tetap memperhatikan nada suaranya karena sedang berada di Rumah Sakit. Namun tatapan dan wajahnya yang tajam sudah menandakan kegusaran dan kegeraman nya yang teramat sangat pada dua adik tiri Reno itu.
“Gue sendiri yang akan memastikan mereka berhenti bernafas kalau Little F sampai dalam bahaya.” Ucap Reno memandang Andrew dengan matanya yang juga nampak ber api – api.
“Maaf..... semua karena Little F berusaha melindungi aku....”
Ara tertunduk dan berkata lirih. Merasa bersalah dengan apa yang menimpa Fania.
Reno meraih Ara dalam dekapannya.
“Maaf ....” Ucap Ara lagi.
“Wasn’t your fault, Ara (Bukan salah lo, Ara).” Ucap Andrew yang merasa tak tega melihat Ara.
“Andrew was right. Wasn’t your fault (Andrew benar. Bukan salah kamu). Salah aku yang tidak cepat – cepat membereskan mereka.”
“Andrew!.” Suara Judith membuat Andrew menoleh dan segera menghampiri Dokter cantik itu, bersama juga dengan Reno dan Ara yang bangkit dari duduknya.
“How is she, Judith? (Bagaimana keadaanya, Judith).” Tanya Andrew cepat pada Judith sambil menengok pada pintu ruangan tempat Fania berada didalamnya.
__ADS_1
***
To be continue ...