BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 48


__ADS_3

🍁 A LITTLE BIT BLURRY 🍁 Sedikit Buram


**********


Selamat membaca..


Perusahaan Adjieran Smith


“Heart.” Andrew menghampiri Fania yang sedang duduk menunggunya sambil membaca majalah di sofa dalam ruangan pribadi Andrew di Perusahaan.


“Hem?.” Sahut Fania sambil menoleh pada Andrew yang sudah duduk disampingnya, lalu Fania menutup majalah yang sedang ia baca. “Kenapa kamu lupa lagi kalau ada meeting?.” Sambungnya. “Ga apa – apa sih, aku bisa kok liat lahan untuk kafe aku itu sendiri.”


“Bukan itu.” Sahut Andrew. “Aku lupa bilang kalau lusa kita akan ke Jakarta.”


“Kok mendadak?. Dua J udah dapat tempat yang di Jakarta, atau kamu ada pekerjaan disana?.” Fania sedikit terkejut karena Andrew tiba – tiba mengajaknya ke Jakarta.


“Bukan dua – duanya.” Sahut Andrew lagi.


“Lalu?.” Tanya Fania.


“Ada sedikit masalah yang mau aku urus di Jakarta.”


“Masalah apa?.”


“Jeff.”


Fania sedikit heran.


“Kenapa dengan Kak Jeff?.”


“Sepertinya dia sudah menjadi seorang Ayah sekarang.”


“Apa?!.”


**


Fania dan Andrew beserta Andrea tentunya. Juga Dad dan Mom sudah sampai di Jakarta.


“Itu gimana ceritanya tau – tau Kak Jeff punya anak umur tiga tahun?.” Jiwa kepo si Kajol menggeliat.


“Itulah kenapa kita buru – buru terbang kesini. Mom juga penasaran.” Sahut Mom. “Ada – ada aja si Jeff.” Mom geleng – geleng.


“Belum jelas juga sih sebenarnya. Karena Jeff belum bisa menemukan wanita yang diduga hamil dan melahirkan anaknya, lalu menyembunyikannya selama tiga tahun.”


“Tumben slow. Biasanya dia gercep kalau cari info.”


“Dia sedang berusaha, Heart. Sudah mencari ke alamat yang tertera di Perusahaan tapi ternyata wanita itu sudah pindah sejak empat tahun lalu. Itupun alamatnya bukan rumah, tapi apartemen. Dan wanita itu hanya sewa.


“Emang ga punya keluarga gitu?.” Tanya Fania lagi.


“Kan masih dicari tahu, Mommanya Andrea ....”


Andrew memencet gemas hidung Fania. Dad dan Mom hanya terkekeh.


***


Formasi Keluarga Adjieran Smith hampir lengkap saat lima orang yang baru sampai dari London itu tiba di Kediaman Utama yang berada di Jakarta.


Minus Michelle plus Keluarga Cemara aja yang ga ada. Termasuk si Dewa.


“Sini, Andrea sama aku.” Ara meraih Andrea dari buaian Mom. “Aku gantiin bajunya sekalian ya Sweety?.”


Ara menggendong Andrea dengan gemas.


“Sini biar aku aja yang gantiin, Kak.”


“Udah ih, kamu istirahat aja dulu. Orang Mommynya kangen ini. Ya kan Dad R?.” Ucap Ara lagi bersama dengan Reno dan Varen yang sudah berdiri didekatnya. “Kaka Varen juga kangen nih. Right my Prince?.” Varen mengangguk antusias.


“Ya udeh, iye Ibu Peri.”


“Aku bawa Andrea ke kamar dulu, ya?.” Ucap Ara sambil berjalan menuju tangga. “Bi Cici atau siapa gitu suruh bawakan peralatannya Andrea ke kamar aku.” Ucapnya lagi.


“Iya Nyah.” Sahut Fania dan yang lain hanya terkekeh. ‘Heran, emaknya si Andrea siapa sih?.’


***


“Mulai bicara Jeff.” Andrew buka suara.


Jeff menghela nafasnya.


“Well, jadi waktu itu gue sama John lagi makan di .. bla .. bla ..” Jeff memulai ceritanya. Dari mulai si John yang melihat itu anak yang mirip dengan Jeff sampai dengan akhirnya Jeff mendapatkan video rekaman CCTV dari restoran dimana ada anak laki – laki yang kata John seperti replika wajah kecilnya Jeff.


“It is you, Jeff. ( Ini sih kamu, Jeff ).” Ucap Dad saat John menunjukkan kopian rekaman video diponselnya pada Dad.

__ADS_1


“Ini udah pasti anak kamu Jeff, ga ada kebuang sama sekali.” Sahut Mom yang ikut melihat video tersebut.


“Ya, I guess so. ( Ya, aku rasa begitu ).” Sahut Jeff sambil menghela nafasnya. “But that woman was hiding him from me!. ( Tapi wanita itu menyembunyikannya dariku! ).” Ia nampak sedikit gusar. “Why?. ( Kenapa? ). Apa dia berencana memeras ku lewat anak itu?.”


“Ya lo jangan mikir kayak gitu juga. Kalo dia mau memeras lo ngapain dia nyembunyiin itu anak, coba?.” Fania menimpali. “Pasti dia punya alasan lain kalo menurut gue sih.” Tambahnya.


“Gue setuju dengan Fania. kalau wanita itu memang mau memeras lo, dia bisa melakukannya saat dia tahu kalau


dirinya hamil anak lo.” Ucap Andrew.


“Tapi gue benar – benar ga habis pikir, buat apa dia menyembunyikan itu anak dari gue, kalau memang itu anak gue?.”


Wajah Jeff nampak penuh tanda tanya.


“Intinya lo masih punya keraguan kalau anak itu bukan anak lo?.” Kakak ganteng ikut buka suara.


“Kalau gue bilang ga yakin, itu anak, like you guys see ( seperti yang kalian lihat ), benar – benar mirip gue. Dan guepun juga ga menyangkal kemiripan itu.”


“Tapi ....?.”


Fania memberikan tatapan tanda tanya pada Jeff.


Jeff lagi – lagi menghela nafasnya. “Tapi gue harus tetap bertemu mereka langsung. Anak itu dan ibunya.”


“Lo punya foto itu cewe Kak?. Pengen liat gue muka cewe yang rela hamil anak lo trus mau – maunya melahirkan


dan membesarkan anak playboy kelas kakap kayak lo.”


“Ga usah nyindir.” Timpal Jeff. “Nih.” Jeff memberikan ponselnya pada Fania.


“Ini Kak? Dia orangnya?....” Fania menatap foto di ponselnya Jeff lalu memandang Jeff.


“Iya, dia.” Sahut Jeff. “Gue inget pernah ketemu dia di club dan yah, you know what happen after ( lo tahu lah apa yang selanjutnya terjadi ).”


“Untungnya tuh cewe cakep juga.” Celetuk John. “Lumayan lah Jeff buy one get one..  Jadi Dad sama Mom ...”


“Ini kan Jihan.” Fania bersuara sebelum John menyelesaikan kalimatnya lagi. Sontak semua mata menoleh pada


Fania. Terlebih lagi Jeff yang sontak mendelik karena Fania menyebutkan nama wanita dalam foto yang ia tunjukkan diponselnya, padahal Jeff belum memberitahu nama wanita tersebut. Dan gambar wanita yang ia  tangkap di ponselnya dari tanda pengenal hanya wajahnya saja.


“Lo... kenal, Jol?....” Tanya Jeff setengah tergagap.


Fania mengangguk pasti.


***


“Chel, aku memang sayang sama kamu. Tapi sayang aku hanya sebatas sayang seorang kakak pada adiknya. Ga lebih. Dan aku sudah menikah sekarang. Maaf, Chel ....”


“Apa....?.”


Michelle terkejut setengah mati. Berkata dengan pelan dan lirih. Ia langsung melirik ke tangan Ryan. Dan yah ada sebuah cincin kawin yang melingkar disana.


‘How can I don’t see that ring?. ( Bagaimana bisa aku tidak melihat cincin itu? ).’


Sebulir air mata jatuh di pipi Michelle. Ryan coba menghapusnya.


“Aku bisa menghapusnya sendiri.”


Michelle menampik tangan Ryan secara spontan. Dan ia langsung memposisikan duduknya tegak, menghadap lurus sambil menahan cekatan ditenggorokan dan remasan yang terasa begitu sakit dihatinya.


Ryan nampak menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia sedikit merasa bersalah dan juga tak tega pada Michelle yang nampak sekuat tenaga mencoba untuk tak menangis saat ini.


“I’m so ... sorry ... Chel. ( Aku benar – benar... minta maaf... Chel ).”


“Kamu ga perlu minta maaf, Yan.” Michelle berkata pelan. “Aku yang seharusnya minta maaf.”


“Kamu ga salah, Chel.”


Michelle terkekeh getir. “Bitchy me, huh?. ( Murahan banget ya aku? ). Mencium bibir suami orang ....”


“Chel ......”


“Aku duluan ya.” Michelle berdiri dari duduknya.


Ryan spontan ikut berdiri.


“Aku antar.”


“Ga perlu. Aku bisa pulang sendiri. Permisi.”


***


“Gin Martinis!.” Michelle sudah berada di sebuah Pub di Italia.

__ADS_1


“Si, Signorina. ( Baik, Nona ).” Seorang bartender mengiyakan pesanan Michelle dan langsung membuatkan minuman seperti yang Nona muda didepannya ini minta. Lalu memberikannya pada Michelle yang langsung menenggaknya dengan tergesa.


“Ancora!. ( Lagi! ).”


“Si. ( Baik ).”


“Ancora!. ( Lagi! ).”


 “Sei sicuro, Signorina?. ( Apa anda yakin, Nona? ).”


“Ancora! One more! Do you get it?!. ( Lagi! Ngerti ga sih lo?! ).”


“Hey, Michelle?! ....”


Seorang pria menahan tangan Michelle yang ingin menenggak minuman ditangannya. Michelle setengah terkejut melihat seseorang menahan tangannya. Namun gadis itu sudah setengah mabuk.


“What happened to you?. ( Lo kenapa? ). “


“Don’t mind me ... ( Jangan perdulikan aku ..... ).” Air mata Michelle lolos ke pipinya.


“Jangan mungkin aku ga perduli, lihat kamu begini. Chel. Kamu ini kenapa?. Ayo aku antar kamu pulang.”


*****


Jakarta, Indonesia


“What?!. ( Apa?! ).”


Suara pekikan Andrew yang sedang menerima telpon itu membuat Fania terkejut dan langsung menghampiri suaminya itu.


“CK!.” Andrew berdecak. “You find out all her friends in Italy. I’ll call August. ( Kamu cari tahu semua temannya


di Italia. Aku akan menghubungi August ).”


“Kenapa, D?.” Fania langsung bertanya saat Andrew sudah selesai menerima panggilan telpon di ponselnya. “Apa ada sesuatu sama Michelle?.”


“Dia ga datang ke kantor kemarin. Ponselnya pun mati tadi Beatrice bilang. Dan Beatrice juga sudah mengecek itu anak ke apartemennya dan si Michelle ga ada disana. Haish!.”


Andrew nampak panik bercampur kesal.


Fania menjadi khawatir.


‘Duh ilah satu, belom kelar. Ada aja.’ Fania membatin.


“Aku mau hubungi orang aku dulu di Italy, Heart. Kamu turun duluan ya?.”


Fania mengangguk. Ia meraih ponselnya.


Mencoba menghubungi nomor Michelle. Meskipun tadi Andrew bilang kalau ponsel adiknya itu mati.


Siapa tahu Fania beruntung, iya kan?.


“Haduuuh Michelle. Lo kenapa si ...?.”


Benar yang dibilang Andrew, kalau ponselnya Michelle sepertinya tidak aktif. Namun Fania tidak hilang akal.


Ia membuka aplikasi sosmed, karena Michelle tergolong aktif menggunakannya.


Fania membuka akunnya Michelle. Terakhir postingan Michelle itu seperti ada di roof top sebuah kafe.


Namun Fania lihat tidak ada yang ganjil.


“Eh tunggu, tunggu.”


Fania teringat sesuatu sepertinya. Seketika wajahnya sumringah, ia setengah berlari kembali ke kamarnya untuk menemui Andrew.


“D!.”


“Sh ..” Andrew yang terkejut itu tak meneruskan umpatannya. “Ya Tuhan Heart.” Ucap Andrew ya memegang dadanya dan Fania menunjukkan barisan giginya.


“Gitu aja kaget, Donald Bebek.” Fania terkekeh sambil menoel dagu Andrew.


“Wah minta diikat diranjang. Ga tau orang lagi panik?.”


“Dih apa hubungannya coba, panik sama ikat aku diranjang?.”


Andrew terkekeh. “Ya bisa menghilangkan kepanikan aku sejenak lah.” Ia memeluk pinggang Fania. "Ayo."


“Sempet – sempetnya ish!.” Fania mencebik dan Andrew terkekeh lagi.


“Ada apa, hem?.” Tanya Andrew.


“Aku tahu siapa yang bisa cari Michelle di Italy.” Jawab Fania. “Nih, dia juga lagi di Italy.” Fania menunjukkan layar di ponselnya pada Andrew.

__ADS_1


****


To be continue....


__ADS_2