BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 73


__ADS_3

Selamat membaca ....






Andrew dan Fania sudah bergabung dengan John dan Jeff, yang tampak sedang mencari – cari sesuatu sambil meraba – raba kantong celana dengan sebatang rokok yang sudah ada di selipan bibir mereka.


John menoleh saat Fania dan Andrew.


“Fan, korek.” Ucap John sambil menadahkan tangannya pada Fania.


Andrew melihat sekilas dan ia berpikir John menitipkan korek apinya pada Fania.


“Eleh, kebiasaan. Fakir korek dasar.” Ucap Fania sambil membuka resleting tasnya. Andrew tidak terlalu ngeh dengan apa yang diucapkan Fania barusan.


“Hehehe .... cakep deh Dek Fania kalo begitu mukanya.” Ucap John sambil menoel dagu Fania.


“Nih.” Fania lalu mengeluarkan sebuah korek api gas dan memberikannya pada John. Dan ia pun duduk di salah satu kursi santai di pinggir kolam renang.


Fania mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tasnya. Andrew tidak melihat Fania mengeluarkan sebungkus rokok itu karena ia sedang menghadapkan dirinya ke arah yang lain saat akan menyalakan rokok yang


sudah terselip di bibirnya.


Setelah Andrew berhasil menyalakan rokoknya, ia berbalik seraya kaget melihat Fania yang juga menyelipkan sebatang rokok di bibir seksinya.


Spontan Andrew mengambil dengan sedikit kasar rokok yang sedang terselip dibibir Fania, sebelum gadis itu membakarnya.


“Sejak kapan lo ngerokok?!.” Tanya Andrew setengah melotot pada Fania.


“Udah lama.” Jawab Fania singkat sambil mengambil kembali rokoknya yang dirampas Andrew barusan.


“Lo tau, John?.” Tanya Andrew pada John dengan tatapan yang seperti akan marah.


“Tau lah. Reno juga tau ni adek kesayangannya ngerokok.” Jawab John sambil menyesap rokoknya.


Andrew kembali merampas rokok Fania yang sudah siap di bakar oleh gadis itu saat sudah memegang korek api gas miliknya dan mengarahkan pada ujung depan rokok.

__ADS_1


“Sejak kapan?.” Tanya Andrew pada Fania yang sepertinya ga rela kalo Fania jadi perokok.


“Ih rese banget.” Fania merampas lagi sebatang rokok miliknya dari tangan Andrew. “Sejak dua abang gue pergi sampe ga ada kabarnya. Ninggalin gue, lupain gue!. Jelas?!.” Ucap Fania dengan ketus


kali ini serta sukses membakar rokoknya.


“Udah sih Ndrew, udah besar ini dia juga.” Ucap Jeff yang melihat sedikit ada ketegangan dan merasa kalau Fania sedikit kesal dengan Andrew.


Fania tidak menyadari kalimatnya barusan sedikit menyakiti hati Andrew. Membuat rasa bersalah laki – laki plontos yang tampan itu, seketika muncul lagi.


Andrew menghembuskan nafas berat. “ Maaf, gue sama sekali ga pernah bermaksud untuk ninggalin lo seperti itu. Bukan mau gue ataupun Reno, tapi keadaan Fan. Yang sulit bagi kita berdua untuk menghubungi lo.


Gue sama Reno terlalu sibuk, iya gue akui. Banyak hal yang lagi kita urusin saat itu, banyak hal yang terjadi yang membuat gue dan Reno mengesampingkan elo.” Kini Andrew sudah berjongkok di depan Fania. “Jejak nomor telpon lo, yang gue dan Reno punya itu memang hilang. Saat kita mau hubungi lo, ya itu jadi susah.”


Fania hanya diam menatap serta mendengarkan semua yang Andrew katakan padanya dengan wajah Andrew yang menyiratkan penyesalan dan rasa bersalahnya.


“Gue, sama Reno itu mencari lo selama kurang lebih 6 tahun ini udah kayak apa. Tanya mereka berdua.” Andrew masih menjelaskan pada Fania sambil menunjuk dua J bergantian. “ So please, jangan pernah


bilang lagi kalau gue ini sengaja melupakan lo.”


Andrew sudah meletakkan rokok yang tadi sudah sedikit dia hisap di dekat kakinya dan kedua tangannya ia letakkan diatas lutut Fania.


“Bener yang Andrew bilang Fan. Reno sama Andrew itu ga pernah sama sekali lupa sama lo.” John menambahkan.


“Iya Fania, bener yang di jelasin Andrew, yang barusan dibilang John, semuanya bener. Reno sama Andrew, terutama dia nih.” Tunjuk Jeff pada Andrew yang bicara sambil menoleh pada Fania. “ Mencari segala informasi tentang lo itu tanpa putus. Berapa kali tuh gue diajak terbang dari London ke Jakarta buat datengin toko buku favorit lo plus keluar masuk gang di rumah lo yang dulu.” Jeff ikut menjelaskan.


Fania menatap Andrew yang juga menatapnya. Masih dalam posisinya yang tadi.


“Iya sorry, gue ada maksud bikin lo merasa bersalah.” Ucap Fania lirih. Rokok yang tadi dia bakar pun hanya sempat ia hisap sekali. Setelah itu ia hanya memegangnya saja di selipan dua jarinya karna Andrew yang tiba – tiba berjongkok di depannya sambil memberikan penjelasan.


“Maafin gue ya?.” Ucap Andrew sambil mengelus kepala Fania. Gadis itu pun mengangguk.


Lalu Andrew memposisikan dirinya duduk dengan bersandar pada kedua kaki Fania sambil badannya menghadap ke arah kolam renang.


Andrew pun menyalakan rokok yang baru serta menyesap nya. Fania juga akhirnya melanjutkan menghisap rokok miliknya yang sudah tinggal setengah.


“Ngerokok nya jangan sering – sering.” Ucap Andrew.


“Hemm.” Sahut Fania.


***

__ADS_1


Reno dan Ara sudah kembali datang ke rumah Andrew selepas maghrib. Seperti yang dibilang Andrew kalau malam ini makan malam di tempatnya.


Tapi ada sedikit perubahan, karena dua J mengusulkan untuk mengadakan acara barbekyu kecil – kecilan.


Hitung – hitung perayaan acara tali kasih yang sukses sepenuhnya antara Reno, Andrew dan Fania.


“Jadi kita barbekyu-an nih?.” Tanya Ara pada Andrew yang terlihat lumayan excited.


“Yap. Tuh lagi disiapin.” Jawab Andrew.


“Little F, mana?.” Tanya Reno yang belum melihat Fania.


“Diatas. Mandi terus sholat katanya.” Jawab Andrew pada Reno.


“Mmmm, ya udah.” Sahut Reno.


Tak lama Fania pun datang menghampiri lima orang lainnya yang sudah berkumpul di area kolam renang.


“Kak Reno, Kak Ara.” Panggil Fania dengan muka cerianya pada kakak angkat dan kakak ipar angkatnya sambil nyempil di antara kedua orang itu, seraya memeluk pinggang keduanya.


“Udah selesai mandi sama sholatnya?.” Tanya Reno yang seperti biasa mengelus kepala Little F nya.


“Udah. Nih ga nyium apa udah wangi begini.” Jawab Fania setelah melepaskan pelukannya dari pinggang Reno dan Ara.


“Mendingan cium bidadari syurga pribadi gue.” Ucap Reno yang membuat Fania berdecak sebal dan Reno terkekeh melihatnya.


“Kak John, minuman udah ada belom?.” Tanya Fania yang sudah mendekati John.


“Oh iya, belum sih kayaknya.” Jawab John.


“Ya udah gue ambilin deh.” Ucap Fania sambil berjalan menuju ke arah dapur rumah Andrew yang tidak jauh dari area kolam renang. Hanya saja dapurnya Andrew ada di bagian dalam rumah.


“Tanya bi Cici aja Fan. Udah gue minta siapkan, Cuma belum sempet dibawa kesini aja.” Sahut Andrew yang melihat Fania hendak ke dapur.


“Oke”. Jawab Fania singkat.


“Ikut Fan.” Ucap Ara menyusul Fania. Lalu mereka berdua berjalan dengan saling merangkul pinggang menuju dapur.


*****


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2