
Selamat membaca....
Author’s POV on
Bahagia, meski datangnya kadang telat, tetap saja namanya Bahagia. Seberapa pun kadarnya, besar ataupun kecil, banyak bahkan sedikit, Bahagia ya Bahagia.
Sperti itulah yang saat ini dirasakan oleh Reno, Andrew dan Fania serta beberapa orang yang mengetahui kisah tiga sahabat ini yang Bukan Sekedar Sahabat.
Bahagia kini ada ditengah – tengah mereka. Reno, Andrew dan Fania. Menghapus segala sesal bahkan sedih di hari – hari sebelum hari ini, saat ketiganya bisa berkumpul lagi seperti beberapa tahun lalu.
Lega rasanya bisa berkumpul lagi dengan orang – orang yang pernah dekat, bahkan sangat dekat. Kenal, berteman dan bersahabat tanpa adanya cerita tentang kisah cinta segitiga. Murni persahabatan rasa keluarga. Terlalu berharga kalau sampai ditinggalkan apalagi dilupakan.
Kedekatan yang terjalin antara Reno, Andrew dan Fania memang murni adalah rasa saling perduli dan sayang. Saling mengisi hari, berbagi cerita, kadang tertawa dan kadang berbagi keluh kesah. Bahkan si tomboy Fania bisa jadi bahan hiburan untuk Reno dan Andrew.
Simple. Mungkin seperti itu kisah antara Reno, Andrew dan Fania sebagai teman, sahabat dan hubungan layaknya kakak beradik.
Reno yang anak tunggal dan korban broken home karna perceraian kedua orang tuanya, merasa bisa melupakan kesepian dan kesedihannya sejak mengenal Fania bahkan keluarganya. Dan ia bersyukur bisa kenal dengan seorang Fania yang lucu, polos meski waktu kenal dulu, Fania itu ga ada manis – manisnya karna anti sama yang namanya atribut yang kecewe – cewe an.
Biarpun Fania itu selebor dan super tomboi, tapi dia adalah gadis yang apa adanya. Mungkin hal itulah yang bikin Reno bisa sayang pada seorang Fania. Bahkan Fania itu kadang suka bikin Reno ketawa ngakak entah dari celotehan atau kelakuannya. Hal yang langka buat seorang Reno Alexander.
__ADS_1
Sementara seorang Fania untuk Andrew pada awal dia kenal, hanya seorang gadis tomboi yang dekat dengan sahabatnya, Reno. Sejak kembali dari Bandung Andrew sering melihat Reno main dengan Fania. Membuat dirinya penasaran, karena Andrew tau Reno itu seorang yang introvert. Tapi melihat Reno sering main dengan Fania dan gadis itu juga sering menginap di rumah Reno, bahkan Almarhumah Bundanya Reno juga sepertinya menyayangi gadis tomboi itu membuat Andrew penasaran.
Seiring karena seringnya ketemu, bahkan jalan bareng akhirnya membuat Andrew mengenal lebih dekat seorang Fania. Meski tomboi, asal, selebor, tapi ga tau kenapa itu anak cewek jadi –jadian bisa bikin dia nyaman.
Seperti halnya Reno, Andrew itu menganggap Fania itu lucu, polos , rada aneh. Andrew sering suka iseng menjahili Fania. Suka sebel juga itu si Andrew sama Fania, karna kalo abis dijahilin dan si tomboi ga terima pasti dia bakal dikejar Fania sampe dapet terus dipukulin.
Makin dekat hingga makin akrab, membuat Andrew memahami kenapa Reno bisa sayang sama Fania sampe segitunya. Fania itu apa adanya, ga neko neko. Bahkan keluarga Fania yang sempat beberapa kali ia temui juga sama seperti Fania yang apa adanya.
Toh Fania tau betul bagaimana keluarga Reno dan Andrew yang notabene seperti langit dan bumi dengan keluarga Fania.
Tapi Fania ga pernah sama sekali minta dibelikan ini itu meski sering diajak main ke Mal. Malah kadang Reno dan Andrew geregetan sendiri sama Fania yang kalo di tanya. “Mau ini ga?.” Pasti itu anak geleng – geleng.
Boro – boro minta dibeliin barang branded, diajak makan donat sama es coklat aja udah girang itu si Fania.
Cewek aneh mau dibeliin boneka Panda yang gede nan lucu, dia malah milih skateboard. Berasa Avril Lavigne, kayaknya si Fania.
Reno dan Andrew bagi Fania adalah keberuntungan yang amat sangat yang hadir dalam hidup Fania. Mereka adalah sosok yang ga hanya sekedar teman, lebih ke kakak bahkan mereka bak Guardian Angel bagi Fania.
Dua orang cowok keren yang umurnya sedikit jauh diatas Fania itu baiknya pake banget. Meski Reno dan Andrew memang dua cowok keren dengan kepribadian dan kelakuan yang bertolak belakang. Yang satu Cool yang satu Rese.
__ADS_1
Tapi mereka perduli dan sayang sama Fania tanpa sedikit pun risih dengan kondisi keluarga Fania yang kala itu sangat – sangat biasa. Bahkan kalo maen ke kontrakan Fania yang kecil itu, mereka berdua ga ada jijik – jijiknya meski harus duduk di lantai.
Makanya Fania bahagia dan bersyukur bisa kenal dengan Reno dan Andrew yang bagaikan kakak yang ga pernah ia punya karena Fania anak sulung.
Kehidupan Reno, Andrew dan Fania sih berjalan biasa aja. Ga terlalu spesial. Hanya ketiga orang itu saling menspesialkan satu sama lain karna rasa sayang.
Sampai akhirnya ketiganya pun berpisah lalu menjalani hari – hari di dua benua yang berbeda. Normal pada awalnya, karna Reno dan Andrew rajin berkirim kabar dengan menelpon Fania ke telpon rumah pemilik kontrakan
tempat Fania dan keluarganya tinggal kala itu.
Waktu terlewat sebulan, dua bulan, setahun hingga enam tahun lamanya Fania hilang kontak dengan Reno dan Andrew. Kalau Reno dan Andrew tetap dekat karena mereka pindah dan tinggal di benua yang sama. Bahkan Reno sudah diangkat anak oleh Mom dan Dadnya Andrew.
Hingga akhirnya penantian selama 6 tahun berakhir bagi Reno, Andrew dan Fania. Hari dimana ketiganya bisa bertemu dan berkumpul seperti dulu saat Fania masih remaja. Saat dulu mereka saling menghabiskan waktu dengan bercengkrama, main basket dan skate board, tertawa serta saling menjahili.
Bahagia! Itu yang kini dirasakan oleh Reno, Andrew dan Fania. Bisa ketemu lagi, kumpul, ketawa – tawa sambil bertukar cerita. Rasa bagai mimpi bagi ketiganya, terlebih lagi bagi Fania.
Author’s POV off
***
__ADS_1
To be continue ...