BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 26


__ADS_3

♦DON’T CRY SNOWMAN♦


Jangan Menangis Snowman ♦ #3


 


Selamat membaca ....


⛄⛄⛄⛄


‘I supposed not to go when my Heart feel kinda weird from this morning. ( Aku seharusnya tidak pergi saat ada rasa yang aneh dalam hatiku sejak pagi tadi )’


Andrew membatin dalam renungannya. ‘Ini ternyata yang aku rasa saat sesuatu terasa menghantam jantungku dengan keras saat di kantor tadi.’


“Engga, seneng aja liatin kamu. Takut kangen.”


“Aku seneng banget harum badan kamu, D”


‘Aku bodoh! Aku memang bodoh! Jika saja aku tidak ke kantor hari ini, jika saja aku paham kemana arah setiap ucapan kamu saat pagi tadi, pandangan kamu, pelukan kamu.. semua ini tidak akan terjadi. You are a stupid Moron, Andrew!.( Lo benar – benar bodoh, Andrew! ).’


Andrew kembali luruh dalam tangisnya. tangis pilu seorang Andrew. Terisak, merasa frustasi karena tak peka dan merutuki dirinya sendiri.


“Ndrew ...”


Reno rasanya tak tega melihat Andrew yang tertunduk sambil menutupi wajah dan bahunya nampak bergetar kencang. Meski Reno rasanya juga sangat terpukul dengan kejadian ini.


Namun ia paham Andrew lebih merasa terpukul dari dirinya.


Bahkan pria tegap berkepala plontos yang tak kenal takut itu bisa menjadi selemah ini, menangis tanpa memperdulikan apa – apa lagi, kecuali doa yang tak kunjung putus dan besarnya asa agar Fania – nya ‘tidak pergi’. Ah, rasanya Andrew pasti gila, jika Tuhan mengambil Fania – nya.


Bahkan Andrew tak mau melihat bayinya sebelum Fania membuka mata. Menunggunya, untuk melihat malaikat kecil itu bersama – sama.


“Son. ( Nak ).” Dad duduk disisi yang lain disamping Andrew. Tak sangka akan melihat putranya se – putus asa ini. “She’s a strong women, I know .. ( Dia wanita yang kuat, aku tahu ). She’ll fight for you .... ( Dia akan berjuang untuk kamu... ). “


Dad membawa sang putra yang terus luruh menangis kini dalam dekapannya.


Dalam hati, Dad juga terus berdoa agar Tuhan memberikan kesempatan Andrew dan Fania serta bayi mereka untuk kembali bersama hingga seterusnya.


Reno menyandarkan kepala didinding belakangnya, terduduk lesu disamping Andrew yang masih menunggu Owen keluar dari ruangan dimana Dokter itu sedang memperjuangkan Fania. Jeff juga lebih banyak diam, gelisah menunggu Owen keluar dari ruangan dimana Fania berada.


‘Lo kuat Jol. Gue tau lo kuat. Balik sini Jol, kasihan si Donald Bebek Jol, dia hampir gila. Jangan pergi Jol ... jangan pergi ....’ Batin Jeff bermonolog, tanpa sadar air matanya pun keluar.


Andrew dan Reno langsung bangun dari duduknya saat menoleh dan melihat pintu besar berwarna putih itu terbuka.


Mereka berdua pun bergegas berjalan ke arahnya, dimana tak lama Owen pun keluar. Ara beserta Mom dan Michelle yang datang bersama Judith setelah dari ruangan bayi melihat anak Andrew dan Fania, pun setengah berlari ke arah dokter Owen berada, termasuk Jeff dan Dad. Sementara Nino sedang mengurus dua bodyguard yang bersama Fania saat kecelakaan.


“How... is she .... Owen....? ( Bagaimana .. keadaannya .. Owen ....? ).”


Andrew bertanya dengan ragu, takut lebih tepatnya.


Degup jantungnya kembali tertahan, takut. Takut andaikan jawaban Owen adalah sesuatu yang buruk.

__ADS_1


Takut, jika Fanianya tak jadi kembali ....


“Owen ....”


“Owen .... say something. ( Owen, katakan sesuatu ).”


Dokter tampan itu nampak termangu. Judith mendekat ke samping suaminya yang nampak berkali – kali menghela nafasnya, seperti menenangkan dirinya sendiri.


“Owen, how is she..? (Owen, bagaimana keadaannya ..?).”


Andrew kembali bertanya dengan gugup dan hati yang ketar – ketir, karena Owen belum berkata apa – apa. Menatap Andrew lamat – lamat, hampir tak berkedip.


Membuat semua orang bingung, membuat takut setengah mati.


“OWEN! TALK OWEN! HOW IS SHE?! HOW IS MY FANIA?!. ( BICARA OWEN! BAGAIMANA DIA?! BAGAIMANA FANIAKU?! ).”


Andrew mengguncangkan tubuh Owen melalui bahunya. Ia tak sabar ingin tau apa Fanianya selamat, meski takut juga. Sangat.


“Ndrew.” Reno dan Dad mencoba menenangkan Andrew.


“Sabar Andrew.”


Ara mengelus punggung Andrew.


“Tell us, Owen, please.... ( Katakan pada kami, Owen, tolong.... ).”


“She ..... she .. ( Dia .... dia ..).”


Owen terbata, menatap Andrew yang sedang memandang tajam padanya, sekaligus dengan pandangan memohon.


“She ... made it .. She’s back .. ( Dia.. berhasil ... Dia kembali..... ).” Ucap Owen pelan lalu meraih bahu Andrew. “She’s Back! Your Wife is Back, Andrew!. ( Dia Kembali! Istri Lo Kembali, Andrew! ).” Badan Owen melemas, seiring matanya yang berkaca – kaca dan menyandarkan punggungnya.


“A-are you telling me the truth. Owen?.. ( A-apa kau mengatakan padaku yang sebenarnya, Owen? ... ).” Ada hembusan kelegaan didada Andrew juga Reno dan yang lainnya. Air mata mereka pun menetes, namun Andrew masih ingin memastikan. “Tell me .... is that true...?. ( Katakan padaku ... apa itu benar ..? ).”


“Is true. She’s back .. I also can believe it, but she’s back..... ( Itu benar. Dia kembali ... Aku juga tak percaya, tapi dia memang kembali.. ).” Ucap Owen yang nampak lemas. “Oh God.. ( Oh Tuhan.. ).”


Owen menarik nafas, serasa beban berat yang rasanya tadi ada sekarang musnah sudah.


Kaki Andrew jatuh ke lantai, tubuhnya merunduk dan tangis kembali terdengar, tangis bahagia, campur tak percaya.


Suara isakan dari keluarganya pun juga terdengar. Isakan bahagia dan kelegaan. Termasuk Judith yang merasa lega, meneteskan sebulir air mata bahagia karena Fania selamat seperti yang dikatakan suaminya barusan.


Semua larut dalam haru, mengucap Syukur yang tak putus.


***


 “Thanks Owen. I really don’t know how to thank you. ( Makasih Owen. Gue benar – benar ga tahu bagaimana harus berterima kasih ke elo ).” Ucap Andrew yang memberikan pelukan sesama lelaki pada Dokter keluarga mereka itu.


“No, don’t thank me. Thanks to God above and thanks to yourself also, I guess. I think your love, your very big love, who call her to comeback ( Jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada Tuhan diatas sana dan sama dirimu sendiri juga, kurasa. Aku rasa cintamu, cintamu yang teramat besar padanya, yang memanggil dia untuk kembali ).”


“Still I owe you. ( Tetap saja gue berhutang sama lo ).”

__ADS_1


“Fania is a strong woman, and love you so much also as the way you do. Cause I can feel that she was struggled so hard to comeback for you. The power of love, damned. ( Fania itu wanita yang kuat dan dia sangat mencintaimu sebagaimana halnya kamu. Karena aku bisa merasakan kalau dia penuh perjuangan untuk kembali padamu. Kekuatan cinta, sialan ). I think that was only on a movie ( Gue pikir itu hanya ada di film ).”


Dokter Owen terkekeh, merengkuh erat pinggang Judith yang berada disampingnya, terkekeh juga mendengar ucapan Owen tentang sebuah kekuatan cinta.


Begitupun Andrew yang kini sudah bisa sedikit tersenyum.


“Owen was right. She is a fighter, struggler. Her condition even can get become stabil slowly but sure. ( Owen benar. Dia petarung, pejuang. Kondisinya bahkan stabil secara perlahan namun pasti ).” Ucap Judith.


“Thank you, thank you is all I can say to both of you. Thank you for saving our baby and thank you to help my wife back. ( Terima kasih, terima kasih sebesar – besarnya yang gue ucapkan pada kalian berdua. Terima kasih sudah menyelamatkan bayi kami, terima kasih sudah membantu istriku kembali ).


***


Author’s POV


Hantaman di kepala Fania yang sepertinya cukup hebat, maka disaat itupun Judith langsung berinisiatif untuk berusaha menyelamatkan bayi Fania saat Owen juga sedang menanganinya.


Pilhan yang sulit untuk kedua dokter itu, untuk memilih mana yang harus diprioritaskan untuk lebih dulu diselamatkan. Namun insting dan pengalaman mereka langsung berinisiatif dengan cepat untuk mengambil tindakan, dengan segala resiko yang mungkin bisa terjadi.


Hanya satu yang mereka pikirkan kala Fania datang dengan keadaan luka parah karena kecelakaan. Melakukan yang terbaik yang mampu mereka lakukan untuk menyelamatkan keduanya.


Owen dan Judith sempat putus Asa, karena Fania sempat ‘tertidur sebentar’ tanpa menghembuskan nafas, tanpa ada nadi dan jantung yang berdetak.


Melihat seorang Andrew Smith nampak sangat lemah dan menggila karena ke putus asaannya melihat sang wanita tercinta sempat ‘pergi’. Namun cinta yang membawanya kembali.


**


Andrew masih menggenggam erat tangan Fania sejak saat wanita itu dipindahkan ke ruang rawat. Masih belum sadar, tapi Owen memastikan kalau Fania baik – baik saja, setidaknya nyawanya tidak lagi terancam.


Selain luka dikepala dan lehernya, serta beberapa lebam akibat benturan. Tak banyak, karena sepertinya Fania sempat dilindungi saat kecelakaan.


Mata ini hanya untuk memandangmu sayang, Tangan ini hanya untuk menyentuhmu


Bibir ini hanya untuk menciummu sayang, Tubuh ini hanya untuk memelukmu.


Andrew menciumi tangan Fania berkali – kali.


Masih ada sisa – sisa air mata di pelupuk Andrew, akibat rasa campur aduk yang hinggap dihatinya.


Andrew masih sedikit takut karena mata Fania belum juga terbuka, sementara rasanya ia sendiri pun merasakan tubuhnya lelah. Keluarganya sudah berkali – kali menyuruh Andrew untuk istirahat sebentar.


Namun tentu saja Andrew menolak. Ia ingin terus ada disisi Fania hingga istrinya itu membuka mata, kemudian memberikan senyuman yang paling teduh pada wanita yang amat dicintainya itu.


“Heart.. apa kamu tahu?. Rasanya aku mau mati saat melihat kamu beberapa saat lalu. Jangan pernah pergi lagi.... jangan pernah meninggalkan aku. Ajak aku kemanapun kamu pergi....”


Airmata Andrew kembali menggenang.


“Hey Mrs. Snowman, ( Hey Nyonya Snowman ), kamu bilang kalau aku adalah rumah kamu kan?. Pulang ya? Kembali ke aku. Kamu janji akan selalu ada untuk aku disetiap pagi hingga malam dan pagi datang lagi.. wake up Mrs. Snowman, Mister Snowman is dying without you ... ( bangun Nyonya Snowman, Tuan Snowman ini akan mati tanpa kamu.. ).”


Andrew tak dapat menahan lagi air matanya. Meski Owen bilang nyawa Fania tak lagi terancam, tetap saja Andrew belum bisa merasa lega sepenuhnya. Rasa takut masih menggelayuti hatinya.


“Don’t cry .. my Snowman.... ( Jangan menangis.... Snowman – ku.... ).”

__ADS_1


*****


To be continue.....


__ADS_2