BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 274


__ADS_3

Selamat membaca ...


Fania dan Andrew sudah kembali ke London lebih dulu bersama Jeff juga John yang juga ikut karena ada urusan bisnis dengan salah seorang kolega mengenai bisnis barunya. Sementara Reno dan Ara berikut Mama Anye, Dad dan Mom masih tinggal di Jakarta.


Dan Dewa juga kembali ke Jerman untuk mengurus segala hal tentang bisnis restoran yang baru dirintis nya.


Andrew dan Jeff kembali disibukkan dengan urusan Perusahaan, baik Perusahaan keluarga maupun Perusahaan pribadi Andrew sendiri.


Sementara Fania sudah kembali memulai perkuliahan bersama Michelle.


“Morning. ( Pagi ).” Sapa Fania dan Andrew yang sudah menyambangi dua J beserta Michelle di ruang makan, ketiga orang itu pun menyapa Fania dan Andrew dengan sapaan yang sama.


“Ga terasa udah musim dingin lagi.” Ucap Fania yang merasakan badannya sedikit menggigil akibat hawa dari luar yang nampak mendung.


“Kenapa?. Kamu kedinginan?. Mau aku hangatkan sebentar?. Masih bisa kok. Jeff juga bisa berangkat duluan.” Celetuk Andrew sambil memasang wajah konyolnya pada Fania.


“Amit deh. Pagi – pagi udah ngomongin begituan.” Fania melengoskan wajah Andrew yang tampak menyebalkan itu. ‘Gara – gara Purwoceng, gue kaga bisa napas asal die dirumah.’


Batin Fania menggerutu karena Andrew meminta stok jamu untuk stamina pria itu dibawa ke London.


Andrew tergelak puas, karena sudah menebak apa yang dipikirkan si Kajol. Sementara dua J dan Michelle hanya memutar bola mata mereka malas.


“Ndrew, nanti temani gue ketemu calon rekan bisnis gue. Lo kan jago baca karakter orang.” Ucap John pada Andrew.


Andrew manggut – manggut. “Boleh. Jam berapa?.”


“Lunch time. ( Pas makan siang ).”


Andrew kembali manggut – manggut.


“Kamu kuliah hari ini?.” Andrew beralih pada Fania.


Fania hanya mengangguk, sedang mengunyah sarapannya.


“What time?. ( Jam?. ).”


“Siang.”


“Mau ikut dengan aku dan John?.”


“Emang lo bisnis apaan sih Kak?. Ajak gue join dong.”


“Bisnis laki. Ga ada urusan sama cewe.” Sahut John menanggapi Fania.


Fania mencebik.


“Kamu mau bisnis?.”


Tanya Andrew disela suapan nya.


Fania mengangguk. “Ya abis duit dari kamu kan udah banyak tuh, belom yang dari Bunda, Ka Reno lagi. Sayang kalo dianggurin.”


“Gila, gila. Kajol jadi horang kayah sekarang!.” Celetuk Jeff sambil cengengesan. “Bunda kan ninggalin bisnis resto bukannya?.”


“Iya, tapi kan di Jakarta. Udah gue serahin ke Keluarga Cemara juga. Cocok sama si mamah.”


“Just concentrate to your study first, Heart. ( Konsentrasi saja dulu dengan kuliah kamu, Sayang ).”


“Ya, kuliah kan ada liburnya, D. Gabut aku kalo di rumah.”


“Kenapa ga buka butik seperti Kak Ara?.” Celetuk Michelle seraya bertanya.


“Bakat gue ga disitu, Chel.”


“I’m finish. ( Aku sudah selesai ). Kamu nanti berangkat kuliah bareng Michelle?. Nanti pulangnya aku jemput.”


“Aku berangkat sendiri.” Sahut Fania. “Michelle kuliah pagi. Ya kan Chel?.”


Michelle mengangguk. “Iya. Aku ada quiz soalnya pagi ini.”


“Ya sudah. Kamu berangkat bersama Alex. Informasikan ke aku kamu selesai jam berapa ya, biar aku jemput.”


Fania manggut – manggut. ‘Nurut aje gue deh.’


“Jeff lo udah selesai?.”


Andrew beralih pada Jeff yang djawab dengan anggukan sambil juga berdiri. Begitupun John yang sudah selesai dengan sarapannya dan juga langsung berdiri.


“Aku berangkat dulu, Heart. Nanti sebelum berangkat ke kampus kamu hubungi aku.”


“Iya.” Sahut Fania sambil mencium tangan Andrew dengan takdzim.


“Love you.” Andrew mengecup pucuk kepala, dahi dan bibir Fania. “Aku berangkat ya.”


Fania mengangguk. "Love you more." Mengantar Andrew sampai mobil.


“Berangkatlah sayaaang, hati – hati dijalan. Doa kusertakan mohon kepada Tuhaaaan...”


Kurang bahagia apa hidupnya si Andrew punya istri kek si Fania. Mau berangkat kerja aja segala dinyanyiin ama si Kajol plus pake gaya.


Andrew dan dua J hanya bisa terkekeh geli melihat kelakuan Fania.

__ADS_1


“Udah selesai nyanyinya?. Terusin kalau masih ada.” Ucap Andrew setengah terkekeh.


“Akyu tidak minta oleh – oleh.. emas permata dan juga uaaannggg... eh tapi yang kuharap engkau pulaaannggg.. dengan membawa kesetiaaaaaannn.....” Dan istri Andrew yang sedang kumat gesreknya itu pun melanjutkan. “Sawerannya, bang.”


Ucap si Kajol sambil menadahkan tangannya pada Andrew yang sedang tertawa lebar itu.


“Nanti pulang aku kerja ya. Aku sawer pakai cinta yang membara.”


“Ooogggahhhh!.” Fania menjawab cepat karena paham kemana arah tujuan ucapan Andrew barusan.


**


“So, what kind of the new business that you’d like to start?. ( Jadi, bisnis baru apa yang mau lo mulai? ).”


Andrew dan John sedang berada di Perusahaan, minus Jeff yang sedang mewakili Andrew bertemu dengan salah seorang kolega bisnisnya.


“Exclusive Travel.” Sahut John menanggapi pertanyaan Andrew.


“With one of man, here at London?. ( Dengan salah satu orang di London sini? ).”


“Nope. A Business man from Sydney. ( Bukan. Seorang pengusaha dari Sydney ).”


Andrew manggut – manggut. “Old or New player?. ( Pemain lama atau baru? ).”


“Lama. Tapi baru pindah ke sini. Kebanyakan bisnis dia ada di Sydney dan beberapa negara Asia.”


“Have you find out all informations of him?. ( Udah lo cari informasi tentang dia? ).” Andrew sekedar mengingatkan. “Hanya sekedar berjaga – jaga.”


John mengangguk.


“Sudah pasti gue cari informasi mendetail dulu tentang dia, sebelum gue terima tawarannya.”


“Ya sudah. Mau berangkat kapan?. Ini sudah hampir jam makan siang.” Andrew melirik arlojinya.


“Ayolah.”


***


“Fania!.”


Jeannie dan Shita menghampiri Fania di bangku pada taman yang ada di kampus mereka.


“Hey!.”


“What are you doing?. ( Lo lagi ngapain? ).”


“Browsing something. ( Lagi cari – cari sesuatu ).”


“Something for my Wedding Anniversary. ( Sesuatu buat perayaan perkawinan gue ).” Ucap Fania. “You guys have any idea?. ( Lo berdua ada ide? ).”


Shita dan Jeannie saling tatap dan menyeringai jahil. “Sure we have. ( Tentu kita punya ).” Lalu mereka tergelak.


“What?. ( Apa? ).” Tanya Fania pada dua orang teman terdekatnya di kampus itu. Dan Jeannie berbisik dengan Shita, lalu membisikkan nya di telinga Fania. “WHAAT?!. ( APPAAAA?! ).”


**


“Ndrew.”


Andrew dan John sudah menyelesaikan pertemuan bisnis dengan kolega John, dan kini Jeff sudah menyambangi mereka berdua.


“Apa?.”


“Nanti Dad sama Mom mau dijemput di Bandara?.” Tanya Jeff pada Andrew.


“Ga usah katanya. R, Ara dan Mama Anye juga ikut.”


Jeff hanya manggut – manggut. “Udah siapin hadiah Anniversary buat si Kajol, lo?. Jangan sampai engga. Bisa di cuekin sebulan.”


Andrew dan John terkekeh.


“Jeff was right. ( Jeff benar ). Disuruh tidur di balkon nanti yang ada kalau lo ga kasih dia hadiah.”


John menimpali ucapan Jeff.


“I already prepared everything. ( Gue udah mempersiapkan segalanya ).” Ucap Andrew lalu menenggak minumannya.


“Jadi gimana soal bisnis baru lo John?.”


“Akan mulai berjalan bulan depan.” Sahut John menanggapi pertanyaan Jeff.


“Oke menurut lo, Ndrew?.”


Andrew hanya manggut – manggut menjawab pertanyaan Jeff.


“Ada yang bisa gue bantu?.”


Tanya Jeff pada John yang tidak ditanggapi John, karena si bule koplak itu tampak sedang melamun.


“Woy, John!. Gue lagi ngomong nih!. Malah melamun lo!.”


John terhenyak karena Jeff melempar serbet padanya.

__ADS_1


Sementara Andrew hanya geleng – geleng.


“Memikirkan apa sih lo?.” Tanya Jeff yang sedikit heran karena sekilas John nampak tersenyum dalam lamunannya.


“Ga penting!.”


“Dia lagi terpesona.”


Celetuk Andrew menanggapi penasarannya Jeff.


“Sama rekan bisnis lo yang baru?.” Tanya Jeff lagi.


Andrew menjawab dengan anggukan.


“Bukannya rekan bisnis lo itu laki – laki?. Pengusaha dari Sydney itu kan?.”


“Rekan bisnisnya memang laki – laki. Tapi adiknya perempuan.” Celetuk Andrew. ‘Calon bucin sama seperti gue sebentar lagi gue rasa ini si John.’


“Cantik?.”


“Lebih cantik Fania gue.”


Sahut Andrew dan Jeff mencebik, John hanya senyam – senyum ga jelas.


“Oh Man, jangan bilang lo sedang jatuh cinta John?.” Jeff nampak antusias.


“Sepertinya begitu.” Jawab John dengan tersenyum penuh arti.


“Ah, gue jadi penasaran sama wajah itu cewe yang bisa buat lo akhirnya akan mengikuti jejak si Andrew dan R.”


“Jejak apa maksud lo?.”


“Bucin lah. Apalagi?.”


Andrew pun tergelak.


“Terserah!. Yang jelas, senyumnya meruntuhkan dunia gue.”


John menggeleng sambil tersenyum sendiri dan memegang dadanya.


**


“Adooyy.. kenapa lah gue jadi ngikutin saran dua cewe kaga ada akhlak itu?.” Fania menggumam sendiri dalam walk in closet di kamarnya dan Andrew saat malam sudah menjelang.


Sudah sekitar setengah jam Fania mondar – mandir ga karuan di dalam walk in closet, memikirkan soal hadiah pernikahan yang akan ia berikan pada Andrew malam ini, tepat dijam dua belas malam yang akan sampai sebentar


lagi.


“Hell No, I’m not doing that!. ( Gila kali, gue ga mau ngelakuin itu! ).”


“There’s no gift could compare with that, Fania. ( Ga ada hadiah yang sebanding dengan itu, Fania ).”


“Shita was right. Your husband will be like it!. No he would looveeeeee it!!. ( Shita bener. Suami lo pasti bakal suka. Eh bukan deh, dia akan saaangaatt sukaaa!! ).”


“Emang dua cewe sialan!.”


Fania mengumpat dalam kegelisahannya.


“Heart?.”


Suara Andrew terdengar dari luar walk in closet. Nampak juga sedang mencoba membuka pintunya yang di kunci dari dalam oleh Fania.


“Y – ya.” Fania terhenyak gugup.


“What are you doing?. ( Kamu sedang apa? ).” Teriak Andrew yang sepertinya heran karena tumben – tumbenan Fania mengunci pintu. “Why you lock the door?. ( Kenapa kamu kunci pintunya? ).”


“Eh iya! Sebentar!.” Fania menyahut dan langsung mematikan lampu walk in closet. Setelahnya ia berjalan ke pintu untuk membuka kunci.


Ceklek.


“Heart?.”


Andrew sedikit heran karena walk in closet yang digelapkan oleh Fania.


“Heart, what are.. ( Sayang, kamu sedang.. ).” Andrew tak melanjutkan kalimatnya kala lampu kembali menyala, terdengar sayup – sayup musik yang terdengar ditelinga, membuatnya membalikkan badan.


‘Ah gue berasa kek ulet keket kalo begini, coba?.’ Batin Fania yang sedang merutuki dirinya sendiri, sembari meliukkan badannya di dinding pintu walk in closet, dengan rona merah yang bersemu diwajahnya. Sementara


Andrew membulatkan mata sambil menelan kasar salivanya.


“Heart....”


Suara Andrew yang parau menggambarkan degupan jantungnya melihat pemandangan didepannya saat ini.


“Happy Anniversariiihh .....”


Fania kemudian mendekat sambil berjalan dengan liukan menggoda hanya dengan memakai lingerie yang teramat sangat provokatif dan sukses membuat Andrew terpaku, membeku. Antara Syok dan deg – deg serrr!.


“Purwoceng mana Purwoceng!.”


**

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2