
Selamat membaca ....
*
‘What I have been missed about all this time? About her, Fania. Me and Andrew’s Little F. (Apa yang sudah terlewat olehku selama ini? Tentangnya, Fania. Little F ku dan Andrew).’ – Reno Alexander –
‘You always can make me feel everything than no one else can’t. (Kamu selalu dapat membuatku merasakan segala hal yang orang lain tak bisa membuatku merasakannya). Mi Amore, Fania.’ – Andrew Smith –
***
“Kak Fania !!!!.” Pekik Michelle dengan wajah sumringah yang langsung berlari ke arah Fania dan memeluk calon kakak iparnya itu.
Fania memeluk Michelle balik yang kemudian jingkrak jingkrak ga jelas saking girang. Membuat si Kajol tersenyum lebar pada gadis itu.
“I’m Your number one Fans, Okay?!. (Aku fans nomer satu kamu, oke?!).” Ucap Michelle dengan mata yang berbinar pada Fania.
“Sweety..” Ara menangkup wajah Fania. “You always make us proud. (Kamu selalu membuat kami bangga). Lalu memeluk Fania dan mencium kedua pipinya.
“Fania... memang ga boleh ada yang underestimate sama lo ya, Sweety.” John menghampiri dan memeluknya juga. “Well done. (Sangat bagus).”
“Daaamneeed, You’re Snatched, (Siaaal, Lo Keren Banget) Kajolita Esperansah de la Costa.” Ucap Jeff sambil geleng –geleng karna takjubnya belum hilang juga.
“Salim suhuuuu.” Celetuk Arman yang ikut mengerubungi Fania. Membuat yang lain terkekeh karena laki – laki itu benar – benar meraih tangan Fania untuk dia cium punggungnya.
“Siaud Lo. Lebay.” Sahut Fania.
“Fucek banget emang lo, nyet.” Ucap Caca pada Fania, Lagi lagi membuat mereka tergelak.
“Ya tebya lyublyu (Aku cinta kamu- bahasa Rusia).” Ucap Vladimir sambil memegang dadanya sembari memberikan sedikit bow.
“Lo gila!.” Ucap Brian
Menyisakan dua orang yang tak henti menatap Little F mereka. Membuat Fania menatap keduanya penuh arti meski mereka belum terlalu dekat. Berinisiatif menghampiri kedua laki – laki kesayangannya.
“My One and Only, Little F. Now they see your Claws (Satu – satunya Little F gue. Sekarang mereka lihat cakar lo ).” Reno memeluk hangat Fania. “Selalu membanggakan.” Mengecup dahi adik kesayangannya yang tak memiliki hubungan darah itu.
Kini Fania berdiri menatap Andrew yang juga berdiri menatapnya. Si Donald itu tersenyum dan kadang menengok ke satu sisi lalu menatap Fania lagi, seperti tak percaya dengan apa yang tadi dia dan orang – orang disana lihat.
“Who are you? (Lo ini siapa?).” Tanya Andrew yang seperti meledek Fania.
“Hmmm .. Fania?.” Sahut si Kajol.
“you scared me to death.(Kamu benar – benar bikin aku takut setengah mati).” Andrew berhambur dan langsung memeluk erat Fania nya. Mengecup pucuk kepala gadis yang juga memeluknya erat itu berulang –ulang.
“Sorry ... .” Ucap Fania.
***
“What now?!.(Apalagi sekarang?!).” Wajah Andrew berubah tak senang melihat kedatangan Gloria ke tengah – tengah dirinya dan rombongan sedang bercengkrama membahasa balapan tadi.
Membuat Andrew jadi perhatian saat itu juga. Bersiap siap kalau salah satu pentolan di situ tiba – tiba ngamuk pada Gloria yang sebenarnya juga dianggap teman dekat oleh Andrew karena wanita itu mempunyai hobi yang sama dengan para lelaki.
__ADS_1
Namun sejak malam ini sepertinya Gloria akan masuk Blacklistnya Andrew.
“Sorry Andrew. (Maaf Andrew, I...).” Gloria bermaksud menjelaskan.
“Sorry You Say?! Hah?!. (Maaf Lo bilang, Hah?!).” Andrew berbicara kencang bahkan berdiri seakan ingin
menghakimi wanita yang membuat Fania nya terancam bahaya.
“Nald, udah.” Fania coba meredakan Andrew yang kalau sudah emosi itu susah ditutupi dan seperti tak bisa ditahan.
“Leave! Just Leave.” Ucap Reno datar namun menatap Gloria dengan tajam. Tatapan yang sudah dipahami
mereka yang kenal tabiat Reno lebih memilih mendengarkan dan melakukan apa yang laki – laki itu bilang.
Lalu Gloria memilih pergi dari sana, menjauh dari mereka, dari tempat yang pernah mengelu – elukan dirinya bahkan membuatnya berpikir dia cocok bersanding dengan Andrew Smith.
Kenyataannya sekarang dia tersisih dengan telak oleh seorang gadis asing yang di klaim Andrew dengan bangga sebagai istrinya. Gadis yang nampak terlihat biasa bernama Fania. Namun aura gadis biasa yang nampak dari luar itu menyimpan sesuatu yang luar biasa dalam dirinya.
Ucapan Reno sudah merupakan peringatan telak juga untuk dirinya. Menjauh dari sana, dari segala hal yang berhubungan dengan Reno Alexander dan Andrew Smith. Bahkan mungkin menjauh dari London saat ini.
***
The Smith Family beserta anak – anak FC Indo menghabiskan malam minggu mereka di arena balapan yang memang dibentuk oleh Reno dan Andrew atas dasar hobi mereka soal otomotif dan memacu adrenalin di arena balapan.
Menikmati dentuman keras musik sambil sesekali menonton beberapa balapan untuk sekedar senang – senang atau sekedar test drive mobil - mobil hasil modifikasi.
Pulang setelah merasa puas berada ditempat itu seraya konvoi menuju kediaman mereka termasuk juga anak – anak FC Indo yang di berikan fasilitas khusus oleh Reno dan Andrew untuk tinggal di salah satu Hotel milik keluarga Smith di Kota London yang mulai memasuki musim panas itu.
***
kediaman utama. Sudah hampir pagi saat mereka tiba dan merasa badan sudah sangat lelah.
Dan mereka saling pamit untuk masuk ke kamar masing – masing berikut juga dua J yang masih tetap tinggal di kediaman utama.
Fania juga sepertinya sudah sangat mengantuk karena di pertengahan jalan pulang dia sempat tertidur di dalam mobil Andrew.
Sesampainya di kamar, Andrew langsung menyuruh Fania duluan ganti baju dan sebagainya. Meski sebenarnya masih ada yang ingin Andrew tanya dan obrolkan dengan belahan jiwanya itu. Sekedar pertanyaan dan obrolan ringan. Cuma berhubung sepertinya Fania sudah sangat mengantuk, Andrew urung untuk bertanya dan mengajak ngobrol.
“Masih chattingan aja.” Ucap Fania yang matanya sudah tidak sengantuk tadi. Habis cuci muka, kena aer jadi melek lagi mata si Kajol yang kadang insomnia nya suka kambuh.
Melihat Andrew yang sepertinya serius sedang men - chat atau mungkin membalasnya.
“Ada yang aku urus sedikit.” Sahut Andrew sambil tersenyum, lalu meletakkan ponselnya.
“Soal?.” Tanya Fania yang akhirnya memilih menghampiri Andrew di sofa.
“Ada lah.” Jawab Andrew singkat namun seperti ada yang dia pikirkan. “Kamu istirahat duluan ya.”
“Kamu mau ngapain lagi emangnya?.” Tanya Fania lagi.
“Bersih – bersih, ganti baju, tidur.” Jawab Andrew. “Kenapa, Hem?.”
“Ga apa – apa.” Jawab Fania biasa, tapi sedang membaca raut wajah si Donald yang pada saat berbalas chat ia lihat sedikit serius.
“Ya udah, aku bersih – bersih dulu. Kamu tidur duluan. Nanti aku menyusul, okay.” Andrew berdiri mencium pucuk kepala Fania sekilas lalu melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
‘Kayak ada yang kamu sembunyiin dari aku, Nald?.’ Batin Fania.
***
“Kak Fania, udah bangun belum?.” Suara Michelle terdengar dari interkom kamar Andrew.
“Dor!.” Fania langsung membuka pintu kamarnya dan Andrew karena memang dia sudah akan turun karena tidak
melihat Andrew di kamar.
“Ayo Kak. Kita makan. Udah ditunggu Kak Ara di bawah.” Ucap Michelle dan menggandeng Fania sambil
turun.
“Yang lain mana Kak? Belum pada bangun? Tapi Andrew ga ada di kamar.” Tanya Fania pada Ara di halaman belakang yang memang tersedia juga meja makan. Kebetulan hari ini cerah, jadi Ara memutuskan untuk makan di halaman belakang.
“Udah lagi pada keluar. Ada sedikit urusan cowo cowo. Sekalian anter Mom sama Dad ke Bandara.” Jawab
Ara. “Sambil makan ah. I’m starving (Aku laper berat).
“Loh Mom sama Dad mau kemana?. Mendadak kayaknya.” Tanya Fania.
“Ada hal mendesak.” Jawab Ara dan Fania hanya ber Oh ria lalu mereka bertiga menyantap hidangan siang itu karena bangun sudah jauh melewati waktu sarapan.
“Oh iya Kak Ara. Maaf nih aku tanya. Perusahaan Smith lagi ada masalah kah?.” Tanya Fania.
“Kenapa nanya begitu?.” Ara bertanya balik.
“Engga sih, kok kayaknya si Donald dari semalem abis dari race wars. Sibuk amat sama chattingan. Mukanya serius gitu.” Jelas Fania.
“Perasaan kamu aja kali, Sweety. Perusahaan baik – baik aja kok.” Ucap Ara.
“Heeemmm, aneh aja soalnya. Kayak ada yang dia sembunyiin dari gue.” Ucap Fania.
“Perasaan Kak Fania aja itu. Cemburu nih jangan – jangan.” Goda Michelle namun nampak seperti pengalihan pembicaraan.
“Dih. Apaan sih lo Chel.” Sahut Fania.
“Iya siapa tau.” Michelle terkekeh.
“Hapus itu kecemburuan. Masih kurang keliatan memang bucin nya si Donald Bebek ke kamu, Fan?.” Timpal
Ara. “Semua cewe udah jelek aja buat dia sekarang.”
“Betul itu.” Michelle mengiyakan ucapan Ara. “Kak Fania, siap – siap aja.”
“Siap – siap?. Untuk?.”
“Eeennngg....” Michelle menggigit bibir bawahnya.
“Untuk nyiapin acara barbeque malam ini.” Ara langsung menyambar. ‘Michelle ... ‘ Batin Ara.
***
To be continue ...
__ADS_1