BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 214


__ADS_3

Selamat membaca...


“Untuk sementara, ini hanya antara kita. Aku sedang tidak ingin membahas atau sampai berdebat dengan siapapun soal ini.” Andrew berbicara saat mobil sudah memasuki halaman Kediaman Smith. “Kita bicara di kamar nanti.”


Namun Fania bergeming. Tak menyahut bahkan tetap tak mengalihkan pandangannya pada Andrew.


Saat mobil sudah berhenti pun, Fania buru – buru keluar dan bergegas masuk ke dalam rumah tanpa lagi menoleh atau menunggu Andrew.


Bahkan Fania menutup pintu mobil dengan kencang. Berjalan cepat karena rasa kecewanya yang teramat sangat pada Andrew.


Andrew menghela nafasnya kasar sembari keluar dari mobil. Namun ia berusaha untuk tetap tenang kembali.


Ia tau Fania nya sedang gusar. Namun ini sudah menjadi keputusannya untuk menyuruh Fania menggunakan alat kontrasepsi sementara waktu.


***


“Heart, aku harus kembali lagi ke kantor. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Andrew berbicara saat dia dan Fania sudah berada di dalam kamar. Beruntung saat mereka sampai tadi tidak ada satupun anggota keluarga Smith yang ada di rumah. Jadi tidak ada yang melihat kegusaran Fania saat sampai rumah tadi.


Fania tidak menjawab. Wanita itu langsung masuk ke dalam walk in closet, menyambar sembarang baju dan berjalan menuju kamar mandi tanpa memperdulikan Andrew. Lagi, Andrew menghela nafasnya.


“Aku tinggal dulu ya. Aku usahakan pulang cepat. Paling lambat sebelum makan malam. Kamu jangan lupa makan siang.”


Fania terus saja berjalan masuk ke kamar mandi. Menutup pintunya lumayan keras. Membuat Andrew menggeleng.


Kemudian ia keluar dari kamarnya dan Fania untuk segera kembali ke Perusahaan Smith. Merogoh saku jasnya, mengeluarkan sesuatu yang ia ambil dari Judith tadi, menatap benda pipih yang masih terbungkus dalam satu lempengan itu, lalu memasukkan kembali ke sakunya dan bergegas memasuki mobil kembali menuju Perusahaan.


***


“Assalamu’alaikum.” Andrew datang bersama Jeff kembali ke Kediaman Smith.


“Wa’alaikumsalam.” Sahut para anggota keluarga yang sedang menunggu para pelayan menyiapkan makan malam mereka.


“Dua pengusaha rajin baru pulang?.” Ara menyapa dengan ledekan. Andrew dan Jeff tersenyum.


“Ibu hamil jangan usil.” Ara setengah terkekeh dan Jeff langsung mengambil tempat dan duduk bersama di ruang keluarga.


“Where’s Fania? ( Fania mana? ).” Andrew bertanya karena tak melihat istrinya itu di ruang keluarga tersebut.


“Baru saja naik, mau ambil hp katanya.” Sahut Mom.


“Hem ... ya sudah Andrew ke kamar dulu kalau begitu.” Ucap Andrew dan berbalik untuk pergi ke kamarnya.


“Bentar lagi waktu makan, jangan dimodusin dulu ade gue.” Celetuk Reno. Andrew hanya mengangkat tangannya tanpa menoleh sambil terus berjalan menuju kamarnya dan Fania.


“Assalamu’alaikum.” Andrew mengucapkan salam saat masuk ke kamarnya. Fania belum terlihat. “Heart?.”


Memanggil Fania sembari membuka jas, rompi dan dasinya matanya mencari keberadaan Fania.


“Assalamu’alaikum.” Andrew mengulang salamnya saat menemukan Fania sedang merokok di balkon kamar. “Bukannya dosa ya kalau ga jawab salam?. Dari suami apalagi.”


Namun Fania tetap tak bersuara. Acuh. Menoleh pun tidak. Andrew menghela nafas pelan.


“Ditunggu yang lain untuk makan malam.” Ucap Andrew lagi. Fania mematikan rokoknya. Berjalan melewati Andrew tanpa bicara ataupun menoleh. ‘Sabar Andrew.’ Batinnya.


***

__ADS_1


Ada pemandangan tak biasa saat makan malam. Fania terlihat pendiam lagi seperti tadi pagi. Bahkan lebih pasif. Tak bersuara hanya tersenyum saat datang ke meja makan. Tak mengoceh saat makan, juga terlihat acuh, sangat acuh pada Andrew.


Namun tak ada yang bertanya padanya kenapa. Mungkin sedang sedikit bertengkar dengan Andrew, pikir mereka. Karena Andrew juga nampak ikut jadi pendiam dan wajahnya nampak sangat datar.


“Fania langsung ke kamar ya.” Fania langsung berpamitan pada yang lain selepas menyelesaikan makan malam. Membuat anggota keluarga yang lain makin heran.


“Kamu sakit, Sweety?.” Tanya Ara. “Kok tumben habis makan langsung ke kamar?.”


“Engga Kak. Mau menyelesaikan nonton drakor, nanggung.” Ucap Fania mencoba tersenyum.


“Oh.” Ara hanya ber OH ria.


“Yuk ah, semua.”


Fania langsung berjalan menuju kamarnya setelah berpamitan. Tak menoleh pada Andrew yang juga nampak memperhatikan istrinya itu dalam diam.


“What’s wrong?. (ada apaan?).” Tanya Reno pada Andrew saat Fania berlalu.


“PMS.” Jawab Andrew singkat. “Well, I’m a little bit tired. See you all tomorrow. (Baiklah aku juga sedikit lelah. Ketemu lagi besok).” Andrew ikut berpamitan, menyusul Fania.


Dijawab dengan anggukan oleh para anggota keluarga yang lain. Kecuali Reno yang tidak puas dengan jawaban Andrew. ‘Something’s wrong, I guess. (Kayaknya ada yang ga beres nih).’ Batinnya berspekulasi.


“Masih bertengkar mereka kayaknya ya?.” Celetuk Ara saat Andrew sudah berlalu.


“Sepertinya begitu.” Timpal Mom.


“They were okay when Fania came to office. (Mereka kayaknya masih baik – baik aja waktu si Fania dateng ke kantor).” Celetuk Jeff.


“Lalu?.” Tanya Mom.


“Some problems at Company?.(***Apa ada masalah di Perusahaan?***).” Dad bertanya.


“Nope!. Everything are okay Dad. (Engga!. Semuanya baik – baik saja). No problem at all about Company. (Ga ada masalah sama sekali di Perusahaan).”


“Mungkin mereka memang sedikit lelah.” Ucap Mom. “Biarkanlah, lebih baik kita jangan ikut campur dahulu sebelum diminta. Toh mereka sudah menikah, punya masalah sendiri pastinya.”


“Mom is right. Just let them. Don’t ask anything to them for a while. (Mom benar. Biarkan saja mereka. Jangan bertanya dulu untuk sementara) about their problems (tentang masalah mereka).” Dad menambahkan.


Yang lain mengangguk paham atas ucapan kedua orang tua tersebut.


'Bukannya mereka janjian sama Judith siang tadi?.' Ara membatin. 'Ada masalah soal kehamilan atau kesuburan mereka apa ya?.'


****


Fania melihat Andrew yang masuk ke kamar, tak lama setelah ia masuk. Namun Fania masih mengabaikan, pura – pura sibuk dengan mengotak – atik channel TV.


Andrew tak langsung duduk. Ia memilih untuk masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri terlebih dahulu. Hanya menatap Fania yang nampak masih mengabaikannya, ia pun tak berbicara.


“Heart.” Andrew menghampiri Fania yang lagi – lagi sedang menyesap batang nikotin ditangannya. Fania tak menjawab, tak menoleh. Masih acuh. “Take this and drink. (Ambil ini dan minum).”


Meletakkan lempengan yang terdiri dari jejeran pil KB yang diperoleh Andrew siang tadi dimeja samping Fania beserta dengan segelas air minum. Fania melirik dengan ekor matanya. ‘Ya Tuhaaan pengen gue maki – maki


ini suami sumpah.’ Batinnya.


Tak ingin berdebat, menghindari Andrew karena tak mau meminum pil KB tersebut. Fania mematikan rokok dan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Hendak masuk ke dalam kamar, Namun Andrew mencekal tangannya. “Minum dulu pil itu, Heart.”


“Aku ga mau!.” Fania menjawab ketus sembari menghempaskan tangan Andrew yang mencekalnya, melanjutkan masuk ke kamar langsung beringsut ke ranjang.


Andrew menghela nafasnya meraih pil dan gelas berisikan air minum dari atas meja yang ada di balkon lalu meletakkan dua barang tersebut di atas nakas samping tempat tidur. Kemudian duduk disamping Fania yang sudah


merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


“Get up. (Bangun).” Andrew menarik pelan tangan Fania menyuruh istrinya itu untuk bangun dengan sabar. Fania menatap sinis lalu menyampingkan tubuhnya membelakangi Andrew. “Jangan uji sabar aku.”


“Aku ga akan minum pil itu.” Fania berbicara masih membelakangi Andrew.


Andrew meraih pinggang Fania, mendudukkan istrinya itu dengan paksa. “Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kamu harus minum!. Jangan buat ini sulit.”


Fania menatap Andrew tak percaya dengan matanya yang mulai berkaca – kaca. “Kamu yang buat ini sulit!.” Ucapnya pada Andrew yang berdiri sembari memegang gelas dan sebutir pil yang sudah ia keluarkan dari bungkus lempengan. “Kamu kenapa sih, Hah?!. Kenapa kamu suruh aku minum pil KB?. Kita bahkan belum punya anak, Nald ..?....”


“Minum dulu pil ini, setelah itu kita bicara.” Andrew masih teguh dengan pendiriannya.


“Aku belum pernah melahirkan. Kalau aku udah mengkonsumsi pil ini, bisa – bisa kita lama baru bisa punya anak. Paham ga sih kamu?!.” Fania juga teguh dengan pendiriannya.


“Banyak cara untuk bisa mendapatkan anak.” Ucap Andrew datar. “Untuk sekarang, ambil pil ini dan minum. Buka mulut kamu.” Andrew setengah memaksa.


Fania diam, membuang pandangan ke sebelah kanannya.


“Harus aku paksa?!.” Ucap Andrew dengan penekanan. Fania berdiri dengan kasar, menghadap Andrew.


“Paksalah! Emang kamu selalu memaksakan kehendak kamu, kan?!.” Fania yang gusar sedikit mendorong tubuh Andrew dengan matanya yang sudah basah, karena sesak dihatinya pada keegoisan Andrew.


“Fania!.” Andrew hilang sabar. Menyebut nama Fania bukan lagi dengan panggilan sayang. Menatap istrinya itu tajam. Menghardiknya.


Namun mungkin tak terdengar dari luar, karena kamar Andrew kedap suara. Pintu balkon pun sudah ia tutup rapat.


“Nanti kalau aku susah hamil, ujung – ujungnya kamu yang akan salahin aku!. Hal standar laki – laki untuk selingkuh dari istrinya!.” Fania sudah berlinang air mata.


“Jaga bicara kamu!.” Bentak Andrew dengan gusar sambil telunjuknya mengarah pada Fania. “Jangan pernah samakan aku dengan laki – laki lain!.”


“Memang, kamu berbeda!.” Fania meraih pil dengan kasar dari tangan Andrew beserta gelas berisikan air minum juga. “Kalau laki – laki lain akan berharap istrinya segera hamil!.” Meminum pil tersebut di depan mata Andrew, hingga air minum habis ia tenggak. “Tapi kamu malah ga ingin istri kamu hamil!.” Meletakkan gelas dengan kasar diatas nakas. “Puas?!.”


*****


To be continue....


Jangan lupa ritualnya


LIKE


VOTE 


KOMEN


-Boleh mampir juga ke Novel Author yang baru. Hehehe. Klik langsung profil Author kalo kepo-


Jangan lupa di Follow juga Author nya bila berkenan.


Maacih

__ADS_1


__ADS_2