
Selamat membaca..
Tok .. Tok .. pintu kamar Hotel tempat Andrew menginap terdengar di ketuk.
“Room Service. ( Pelayanan Kamar ).” Suara dari luar pintu. Andrew bergegas membuka pintu kamar hotel yang tidak terlalu mewah tersebut. Sengaja Andrew tidak kembali ke Villa tempatnya dan Fania agar mudah bergerak untuk mencari dan menemukan Fania.
Andrew mempersilahkan pelayan hotel yang membawa tray tersebut masuk ke kamarnya.
“Sir ( Tuan).” Ucap si pelayan ramah menyapa Andrew.
“Tell me ( Katakan padaku ).” Ucap Andrew.
“There are two men watching you outside ( Ada dua orang yang mengawasi anda di luar ).” Ucap si Pelayan Hotel tersebut.
“I know Jamil ( Gue tau Jamil ).” Sahut Andrew sambil memandang keluar jendela. “They were together right? ( Mereka bersama kan? ).”
“Yes, Sir ( Ya Tuan ).” Jawab pria bernama Jamil yang merupakan salah satu orang suruhan Reno.
“Do you bring everything I ask? ( Apa kau bawa semua yang kupinta? ).” Tanya Andrew sembari membalikkan badannya.
“Of course Sir. ( Tentu saja Tuan ).” Jamil membuka tutup makanan yang ada diatas tray yang dibawanya. Dua buah senjata api yang diminta Andrew sebelumnya ada didalam tutup makanan tersebut.
“You can leave now ( Kau bisa pergi sekarang ).” Ucap Andrew. “They will getting suspicious if you here too long ( Mereka akan curiga jika kau terlalu lama disini ).
“Well excuse me then, Sir. ( Saya permisi kalau begitu Tuan ). And Fabian just inform that he has found Mrs. Fania ( Dan Fabian memberitahu kalau dia sudah menemukan Nyonya Fania ).” Jamil bergegas pergi setelah mengangguk hormat sambil membawa kembali tray bersamanya, setelah Andrew mengambil beberapa barang yang ia minta.
“Tell Fabian to be careful until Chaisay people arrive ( Bilang Fabian untuk berhati – hati sampai orang – orangnya Chaisay sampai ). I’ll go as soon as possible ( Aku akan secepatnya berangkat ).” Ucap Andrew dan Jamil sekali lagi mengangguk kemudian keluar dari kamar yang Andrew tempati.
Andrew menekan satu nomor di ponselnya.
“Where is she?. ( Dimana dia? ).” Tanya Andrew.
‘At the XX Bar Sir, not far from your place. ( Di Bar XX, Tuan. Tidak jauh dari tempat anda ).’ Sahut seorang wanita dari sebrang telpon.
“Okay.” Ucap Andrew lalu memutuskan panggilan. Kini ia menghubungi Ezra. “Wait me at the XX Bar. ( Tunggu gue di Bar XX ).”
‘Yes Sir. ( Baik Tuan ).’ Jawab Ezra di sebrang telpon.
**
__ADS_1
“How dare you being rude to her! ( Beraninya kalian berlaku kasar padanya!).” Pria di belakang Fania dan para penyekapnya itu berteriak dan terdengar marah.
Seketika raut wajah ketiga pria tersebut berubah dan pria yang menjambak Fania, melepaskan buru – buru tangannya dari kepala Fania.
Fania menoleh dan langkah kaki pria tersebut semakin mendekat.
“Nick?!.” Ucap Fania dan tanpa pikir panjang ia pun langsung mendekati pria itu.
Berharap Nick akan menolongnya, karena melihat ketiga orang itu langsung melepaskannya saat mendengar suara Nick berteriak tadi.
“Nick? You’re here? Help me! They kidnapped me! ( Nick? Kamu disini? Tolong aku! Mereka menculikku! ).” Fania meminta pertolongan pada Nick.
“Don’t worry babe, I’m here. ( Jangan khawatir sayang, aku disini ).” Ucap Nick seraya tersenyum pada Fania.
Meski risih dengan panggilan Babe oleh Nick padanya, namun Fania tak menggubrisnya. Yang penting ia bebas dari para penyekap itu pikirnya. Fania tersenyum tipis seraya mengangguk pada Nick.
“Wait me outside ( Tunggu aku diluar ).” Ucap Nick lembut pada Fania. “Gale, take her to my car ( Gale, bawa dia ke mobil ku ).” Nick berbicara pada seorang pria bertubuh kekar dan pria itu mengangguk sambil mempersilahkan Fania agar ikut dengannya.
“Nick, they have gun. ( Nick mereka punya senjata ). Better we go ( Sebaiknya kita pergi ).” Ucap Fania mengajak Nick pergi meski ia melihat beberapa pria yang datang bersama Nick juga.
“It’s okay. I bring a lot of people ( Ga masalah. Gue bawa banyak orang ) .” Sahut Nick santai. “Just go with him into the car. I won’t be long ( Ikutlah dengan dia ke mobil. Aku ga akan lama ).” Nick menunjuk pada salah satu orangnya yang bernama Gale itu agar Fania ikut bersama orang tersebut.
“Don’t worry Babe, I’m fine. ( Jangan khawatir sayang, aku baik – baik saja ).” Jawab Nick sambil tersenyum pada Fania. ‘So fine. ( Sangat baik ).’ Batin Nick. Lalu ia menyuruh supirnya untuk segera menjalankan mobil
“Thank you for saving me. ( Terima kasih sudah menyelamatkanku ).” Ucap Fania tulus pada Nick. “Can I borrow your cell phone? ( Boleh aku pinjam ponselmu? ). They thrown away mine ( Mereka sudah membuang milikku).”
Nick tersenyum penuh arti. “What for? ( Untuk apa? ).”
“I wanna call my husband ( Aku ingin menelpon suamiku ).” Jawab Fania.
“Your husband .... ( Suamimu .. ).” Nick setengah bergumam, namun Fania mendengar. Membuat wanita itu sedikit heran dengan gumaman Nick barusan. Dan pria itu juga tampak menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.
“He must be worried ( Dia pasti khawatir ).” Ucap Fania sambil menunggu Nick memberikan ponsel miliknya yang ingin Fania pinjam untuk segera menelpon Andrew.
“Why you hide from me all this time? You also blocked me to get any communication with you? ( Kenapa kamu bersembunyi dariku selama ini? Kamu juga memblokir semua akses komunikasi denganmu? ).” Tanya Nick tiba – tiba dan membuat Fania sedikit heran sekaligus terkejut.
Fania mencoba tenang, meski heran dengan Nick yang tiba – tiba bertanya seperti itu. “I.... ( A... ).” Kalimat Fania terpotong karna Nick kembali berbicara.
“You know exactly how the way I feel for you right, Fania? My Love?... ( Kamu tau betul bagaimana perasaanku padamu kan, Fania? Cintaku? ). Nick memandang Fania sambil menyentuh wajahnya dengan pandangan yang sedikit menakutkan untuk wanita itu.
Fania menghindari sentuhan Nick di wajahnya.
__ADS_1
“I know. ( Aku tau ).” Ucap Fania pelan. “But I ever told you before, right? I don’t have any special feeling to you. ( Tapi aku sudah pernah bilang kan? Aku ga punya perasaan spesial padamu ).” Fania menatap Nick.
Nick seperti setengah terkekeh. Membuat Fania bertanya – tanya dalam hatinya melihat sikap Nick sekarang.
“Can I borrow your cell phone now? ( Bisa aku pinjam ponselmu sekarang? ). Tanya Fania to the point.
“No! ( Tidak! ).” Sahut Nick cepat dan menatap Fania dengan pandangan tajam.
“Why? ... ( Kenapa? ).” Tanya Fania yang mulai was – was.
“Cause you’re mine! ( Karena kamu adalah milikku! ).”
***
“YOU’RE CRAZY!. ( LO UDAH GILA! ).” Fania berteriak histeris saat tau otak penculikan dan penyekapannya ternyata adalah Nick.
“HAHAHA ....” Nick tertawa dengan keras. “ I am ! ( Memang ) I’m crazy for you, Fania. ( Aku tergila – gila padamu, Fania ). I’m sure you know about that ( Aku yakin kau tau ).” Nick tersenyum dengan menyeringai.
“I’m married, remember?! ( Aku sudah menikah, ingat?! ).” Ucap Fania dengan keras.
“So? ( Terus? ).” Sahut Nick santai. “ Remember what I have told you before?. ( Ingat apa yang pernah ku bilang padamu? ). You belong to me! ( Kau milikku! ).”
“Put your hand off from me! Let me Go! ( Lepaskan tanganmu dariku! Lepaskan aku! ).” Fania meronta pada Nick yang menyeretnya untuk masuk ke sebuah kapal.
“I’ll never let you go, Babe! Ever! ( Aku ga akan pernah melepaskanmu lagi, sayang! ). Ucap Nick yang sukses memaksa Fania masuk ke dalam kapal hingga sampai kapal itu berjalan. Fania meronta. “Calm yourself or I’m gonna tell my people to tie you up ( Tenangkan dirimu, atau aku akan menyuruh orangku untuk mengikat mu ).”
“YOU SICK! ( LO SAKIT! ).” Teriak Fania. “HELP! HELP ME! ( TOLONG! TOLONG AKU! )." Fania kembali berteriak, berharap ada yang mendengar teriakannya. Nick hanya tersenyum sinis.
“Tie her up! ( Ikat dia! ).” Ucap Nick pada salah satu orangnya.
“NICK ALISTER YOU SICK! ( NICK ALISTER LO SAKIT JIWA! ).” Teriak Fania sekali lagi.
“Tie her lips also ( Bungkam dia ).” Tambah Nick pada orangnya yang kemudian mengikatkan sebuah sapu tangan dimulut Fania setelah mengikat wanita itu.
‘Nald, tolong aku cepat.’ Batin Fania lirih.
***
To be continue..
Jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1