
Selamat membaca ....
"Pesawat lo berangkat jam berapa, Nald?.” Tanya Fania pada Andrew saat mereka sudah berada di sebuah restoran dalam salah satu hotel bintang lima di daerah Jakarta Selatan.
“Bebas aja.” Ucap Andrew santai.
“Dih, orang tanya bener juga.” Sahut Fania.
“I already answer your question, Fan.” Ucap Andrew dengan nada datar.
“Kenapa sih? Sinis amat sejak dari kantor. Bete kelaparan?. Segitunya.” Tanya Fania sambil menggerutu.
“Gue bebas aja mau berangkat jam berapapun. Mau ga jadi berangkat juga ga ada masalah.” Jawab Andrew.
Sementara Ara dan Reno pura – pura sibuk liat menu sambil pasang kuping untuk mendengarkan drama dua orang di depannya.
“Dih, mana ada orang naek pesawat bebas. Sayang kan kalo tiketnya hangus. Buang – buang duit.” Ucap Fania sambil membolak – balik buku menu. Fania memang belum tau kalau Andrew memiliki pesawat pribadi seperti halnya Reno, yang notabene mereka beli dengan uang mereka sendiri yang ga ada serinya itu.
Bukan sekedar gaya – gayaan sebenarnya kalau Reno dan Andrew memiliki pesawat pribadi sendiri. Karena kebanyakan mereka melakukannya untuk perjalanan bisnis agar lebih memudahkan mereka dalam hal itu. Selain digunakan untuk hal – hal yang mendadak, ya contohnya Fania.
“Terserahlah.” Ucap Andrew malas.
Kemudian seorang pelayan datang untuk menanyakan apakah ke empat orang tersebut sudah siap untuk memesan.
‘Kenapa sih ni orang.’ Batin Fania.
****
“Oke , gue pamit dulu ya. See you guys.” Pamit Andrew pada Reno, Ara serta Fania saat sudah menyelesaikan makan siang mereka. Andrew melewati dessert time karna dia buru – buru harus berangkat ke Italy menyusul Jeff.
Fania merasa sedikit aneh dengan sikap Andrew padanya yang terlihat lebuh cuek, ga kayak biasanya. Dia melihat ke arah Andrew saat pria plontos itu berdiri untuk berpamitan dengan Ara dan Reno.
“Kenapa? Mau dipeluk juga?.” Tanya Andrew setelah selesai berpamitan pada Ara dan Reno dengan suara datar pada Fania. Sementara Fania mencebik malas karena Andrew yang seolah nyuekin dirinya.
__ADS_1
‘Masa gegara telat makan siang aja jadi sensi begini itu dia. Nanya tapi sinis.’ Gerutu Fania dalam hatinya.
Tapi disatu sisi sebenarnya dia sedikit sedih karna si Donald nya mau pergi ke Italy dan katanya ada kemungkinan agak lama.
“Udah jangan pasang muka sedih gitu. Tadi di kantor ketawa – tawa.” Ucap Andrew masih dengan nada suara yang datar. “Dah sini.” Menarik Fania untuk dipeluk tapi sebentar, itu pun ga pake acara ngegodain atau ngejahilin Fania kayak biasanya yang suka Andrew lakukan. “Dah jangan lama – lama. Takut ada yang marah.”
Lalu Andrew pun segera pergi dari hadapan Reno, Ara dan Fania. Jalan gitu aja tanpa nengok ke belakang lagi. Padahal sama Ara aja cipika cipiki, tapi Fania Cuma dipeluk sekilas aja. Ada rasa sedih menggelayuti hati Fania.
‘Kenapa sih buru – buru amat pengen sampe Italia?.’ Gumam Fania dalam hatinya. ‘Tadi dia bilang jangan peluk lama – lama karna takut ada yang marah?! Donald punya pacarkah?.’
“Bener sih kayaknya dugaan aku, Hon.” Ucap Ara setengah terkekeh pada suaminya. Tapi Fania tidak terlalu memperhatikan ucapan Ara tersebut karena dia sibuk dengan pertanyaan yang ada di hati dan kepalanya.
Tak lama pelayan datang lagi dengan membawa tiga buah piring yang berisikan dessert. Satu slice strawberry ricotta cheesecake di setiap piringnya. Sebenarnya dessert ini salah satu dessert kesukaan Fania di restoran tersebut, tapi berhubung dia lagi kepikiran soal sikap dan ucapan Andrew tadi, jadi dessert itu pun tidak menggugah selera Fania.
Ara dan Reno yang memperhatikan kalau Fania seperti melamun mencoba berbicara. “Udah ga usah dilipat gitu mukanya. Nanti kalah cakep sama serbet.” Ucap Reno mencoba iseng dengan ucapannya.
“Apaan sih Kak Reno, gaje banget.” Akhirnya Fania menyahut.
“Nanti juga Andrew pasti balik kok, Sweety.” Ucap Ara sambil tersenyum.
“Udah abisin itu strawberry ricotta nya.” Ucap Reno yang menyuruh Fania untuk segera menghabiskan dessert nya.
****
‘Berarti dia berkirim kabar dong ke Kak Ara sama Kak Reno, kok ke gue engga?.’ Batin Fania
“Woy Zaskia Gotik. Bengong lu aja lu.” Mela mengagetkan Fania yang sedang menunggu para rekan kerja di divisinya termasuk sang atasan, Pak Freddy, untuk acara farewell party nya Fania siang itu. Fania meminta Reno agar mengusahakan supaya bisa spesial request waktu reservasinya karena malam nanti Fania ada jadwal
manggung. Ya pasti bisa lah kalo Reno udah ngomong mah.
Fania yang memang sedang melamun memang sedikit terkejut karna dikagetkan oleh Mela. Lalu is menyalami Bobby, Dimas dan pak Freddy serta memeluk lalu cipika cipiki dengan Mela dan Mba Dian.
Fania memilih salah satu restoran yang katanya adalah salah satu restoran termahal di Jakarta. Yang tarifnya bisa mencapai satu juta lebih per orang untuk bisa makan di restoran tersebut selama kurang lebih 2 – 3 jam.
Restoran yang mengusung konsep molekular gastronomi itu menjadi pilhan Fania dari beberapa rekomendasi restoran yang diberikan oleh Reno dan Ara. Toh Fania memang belum pernah mencoba makan direstoran ini meski sudah pernah melihat salah satu stand up komedian mereview saat ia makan ditempat ini.
Apalagi kalo liat biaya buat makan per orangnya, dulu mah ga kepikiran kali makan di restoran unik dan mahal ini. Berhubung sekarang Fania udah naik kasta jadi ade angkatnya seorang Reno Alexander ya tinggal nunjuk sama ngomong aja mau makan dimana. Jangankan di booking satu restoran, itu restoran yang mungkin jadwalnya
__ADS_1
tutup dihari senin, mau ga mau buka karena nama Reno Alexander yang disebut saat melakukan reservasi.
“Susah emang adenya Sultan...... ruarr biasah sekali ngajak makan disini.” Ucap Bobby dengan semangat 45. Yang bahagia bisa ngerasain makan di tempat yang mewuah kek orang – orang tajir.
“Coba keudikan anda tolong dikantongin dulu Pak Bobby.” Celetuk Dimas membuat Fania, Mela, Mba Dian serta Pak Freddy terkekeh.
Akhirnya mereka ber enam duduk di tempat yang memang sudah disediakan oleh pihak resto. Dan acara farewell party Fania hari itu pun berjalan dengan lancar. Fania dan rekan kerja, serta atasannya yang bentar lagi jadi mantan rekan dan mantan atasan itu benar – benar menikmati waktu mereka dengan berbagai macam hidangan
yang sesuai dengan tema resto tersebut saat itu.
Menikmati menu – menu unik yang dipresentasikan dengan sangat keren diatas piring saji. Sungguh pengalaman ruar biasah untuk mereka karena seumur umur makan baru ini ada acara pake jas ujan.
Belum lagi snacks, appetizer, soup, main course sampai dessert yang jauh rasanya suka jauh berbeda dari tampilannya. Unik dan mengagumkan lah pokoknya. Bahkan ada keripik singkong yang disajikan langsung dengan umbinya. Serta lilin kecil disebelah umbi tersebut bahkan bisa dimakan dan rasanya itu adalah sambal
balado. Jadi kurang lebih kalo di sinkron kan mereka makan keripik singkong balado tapi dipresentasikan dengan cara yang ruarr biasaaaah uniknya.
Sejenak Fania melupakan Andrew yang belum juga menghubungi bahkan membaca pesannya. Ia
menikmati menit tiap menit bersama para rekan kerja serta atasannya dengan bercanda ria sore itu.
Saat sudah berpisah dengan para mantan rekan kerja serta atasannya itu di lobby gedung di restoran tempat Fania mengadakan acara farewell party nya, Fania mengecek lagi aplikasi chatnya sambil menunggu supir pribadinya Reno menjemputnya.
Ara dan Reno serta John tidak bisa ikut acara farewell party Fania karena Reno sudah ada janji untuk bertemu salah satu rekan bisnisnya di Bandung dan baru pulang nanti malam.
Mata Fania berbinar dan bibirnya sedikit tertarik ke atas karena chatnya ke si Donald sudah berubah warna. Tanpa pikir panjang dia langsung mencoba menghubungi nomor Andrew karena merasa pengen ngomel sama itu orang yang ga lupa menghubungi dirinya sampe sekarang.
‘Awas aja, gue omelin loh ya.’ Niat Fania dalam hati. Tut ... Tut ... nada sambung sedang menghubungi panggilan sudah berbunyi.
Agak lama Fania menunggu Andrew mengangkat teleponnya. Dan kemudian ada suara sahutan dari sebrang.
‘Hello’. Suara seorang wanita menyapa.
Deg!
'Jadi bener ...?.'
*****
__ADS_1
To be continue ...