BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 212


__ADS_3

Selamat membaca.....


- - -


“Morning (Pagi).” Andrew menyapa Fania dengan senyumnya. Sudah rapih dengan stelan kantornya hanya belum memakai jas saja.


“Morning (Pagi).” Sahut Fania dengan suara khas serak bangun tidur. Mengerjapkan matanya sebentar dan melihat Andrew yang sudah rapih. “Jam berapa ini?.”


“Jam 8, Heart.” Jawab Andrew.


“Kamu udah rapih dari jam berapa?. Kok ga bangunin aku? Harusnya kan aku yang siapkan keperluan kamu, Nald.”


“It’s okay. ( Ga apa – apa ).”


“Kamu bangun jam berapa?.”


“Jam 7.”


“Ga Sholat Shubuh kamu berarti?.”


“Engga. Terlewat. Biasanya kamu yang bangunkan aku, kan?.”


“Sorry, haid aku belum selesai. Lupa juga pasang alarm.” Fania beringsut dari ranjang. “Aku mandi dulu kalo gitu.”


Andrew mengangguk. “Aku tunggu dibawah ya.”


“Ya.” Sahut Fania singkat sambil berjalan masuk ke kamar mandi.


Andrew menyadari kalau Fania sedang tak enak hati pagi ini gara - gara semalam pasti.


**


“Hon.” Ara dan Reno sedang berada di mobil untuk menuju ke Rumah Sakit memeriksakan kandungan Ara.


“Hem?.” Sahut Reno mesra. “Kenapa? Kok seperti ada yang dipikirkan?.”


“Kamu merasa ga sih, ada yang aneh dengan Andrew dan Fania pagi ini?.”


“Aneh gimana?.”


“Sepertinya Fania sedikit lebih pendiam tadi saat sarapan. Apa mereka bertengkar?.”


Reno terdiam sejenak. “Mungkin Andrew seperti biasa bikin Little F ngambek. Tapi coba nanti aku tanya.”


Ara mengangguk. Lalu membahas hal yang lain yang berurusan dengan pekerjaan serta rencana untuk membujuk mamanya Ara agar mau tingga di London bersama mereka.


“Good Morning, Mister and Mrs. Alexander. ( Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Alexander ).” Sapa seorang Dokter wanita yang akan mengecek kandungan Ara. Istri dari Owen, Dokter Pribadi Keluarga mereka.


“Good morning, Judith. ( Selamat pagi , Judith ).” Jawab Reno dan Ara berbarengan. Mereka sudah akrab dengan Dokter Wanita itu karena selama ini Reno dan Ara berkonsultasi masalah kesuburan mereka dengan Judith.


“Finally, the time is come to both of you to become parents. ( Akhirnya, datang juga waktu untuk kalian berdua menjadi orang tua ). Congratulation once again. ( Sekali lagi selamat ).” Ucap Judith yang ikut berbahagia pada Reno dan Ara.


“Thank you, Judith ( Terima kasih, Judith ).” Sahut Reno dan Ara atas ucapan Judith.


“You are very welcome. ( Sama – sama ).” Judith tersenyum. “ See, just like I said, you both are okay. Just waiting for the moment. A gift from God. ( Liat kan, seperti yang sudah saya bilang kalau kalian baik – baik saja. Hanya menunggu masanya tiba. Hadiah dari Tuhan ).”


Reno dan Ara mengangguk seraya tersenyum pada Dokter cantik nan ramah itu.


“Shall we?. ( Ayo? ).” Judith pun mengajak Ara untuk berbaring di ranjang pemeriksaan dengan seorang perawat yang sudah bersiap untuk mengoleskan gel di perut Ara.


Dokter Judith mulai melakukan pemeriksaan. Menunjukkan kepada Reno dan Ara si jabang bayi yang masih amat sangat kecil, yang nampak masih seperti gumpalan. Memberikan segala macam informasi seputar kehamilan dan lain sebagainya. Terutama informasi untuk kehamilan di Tri mester pertama.

__ADS_1


“Anything else that you both want to ask?. ( Apa ada hal lain lagi yang kalian berdua ingin tanyakan? ).” Judith bertanya pada Reno dan Ara mungkin masih ada informasi yang ingin diketahui oleh pasangan itu.


“Well, we think that’s all enough for now. ( Kami pikir rasanya cukup untuk sekarang ).” Ucap Reno setelah bertanya terlebih dulu apa masih ada hal yang ingin Ara tanyakan pada Judith seputar kehamilannya. Ara pun sudah merasa cukup dengan informasi yang Judith berikan padanya dan Reno.


“Okay.” Sahut Judith lalu memberikan resep yang berupa vitamin untuk Ara.


“Do you free this noon?. Maybe we can have lunch together also with Owen. ( Apa kamu bebas siang ini?. Mungkin kita bisa makan siang bersama dengan Owen juga ).” Reno menawarkan.


“Hm, I would like to. But I have another appointment this noon. With your brother and his wife. ( Hm, pengennya sih, tapi saya ada janji lain siang ini. Dengan saudara laki – lakimu dan istrinya ).” Ucap Judith.


“Andrew and Fania? They have an appointment with you? ( Mereka punya janji sama kamu? ).” Tanya Ara dan Reno bersamaan. Judith mengangguk.


“Maybe they also want to have a consultation about pregnancy. ( Mungkin mereka juga ingin berkonsultasi seputar kehamilan ).” Ucap Ara. "They probably want to have a baby as soon as possible ( Mungkin juga karena ingin cepat - cepat punya bayi )."


“Um, maybe. ( Um, mungkin ).” Judith tersenyum namun seperti ada yang enggan ia sampaikan perihal kedatangan Andrew dan Fania siang nanti.


Pasalnya Andrew sebenarnya sudah mengatakan pada Judith maksud dan kedatangan Andrew beserta Fania nanti. Namun kembali lagi, segala permasalahan pasien adalah suatu privasi.


Reno dan Ara berpamitan pada Judith lalu bergegas kembali ke Kediaman Smith.


**


Ting!!. Pintu salah satu lift eksekutif di Smith Company terbuka.


“Good Afternoon, Mrs. Fania. ( Selamat siang Nyonya Fania ).” Beberapa staf di ruangan eksekutif itu pun menyapa Fania.


“Good Afternoon ( Selamat siang ).” Fania menjawab tiap sapaan dengan ramah dan tersenyum. Siang itu Fania diminta Andrew untuk menyusulnya ke Perusahaan dengan mengirim salah seorang anak buahnya untuk menjemput Fania di rumah.


“Please, Mrs. Fania. Mister Andrew has been waiting for you in his office. ( Silahkan Nyonya Fania, Tuan Andrew sudah menunggu anda di ruangannya ).” Ucap seorang anak buah Andrew yang datang bersamanya.


“Thank you Tracy. ( Terima kasih Tracy ).” Ucap Fania pada wanita yang menjemputnya tadi atas suruhan Andrew.


“You are very welcome, Ma’am. ( Sama – sama Nyonya ).” Jawab wanita yang bernama Tracy tersebut dengan sopan pada istri Bosnya itu.


“Kenapa tu orang?.” Gumam Fania yang tak menyegerakan diri masuk ke ruangan Andrew. “Is that Jeff?. ( Apa itu Jeff? ).” Tanya Fania pada Tracy.


“Yes, Ma’am that Mister Jeff. ( Ya Nyonya, itu Tuan Jeff ).” Tracy menjawab dengan amat sopan.


‘Bule gila begitu ternyata kalo ngomel. Serem juga kek bosnya.’ Batin Fania yang melihat Jeff sedang memarahi salah seorang Karyawan sedikit jauh darinya.


Fania berjalan ke arah Jeff berada, Tracy mengikutinya.


“Kak!.” Fania memanggil laki – laki itu saat sudah berada di dekatnya. Jeff menoleh.


“Fix that report! Give it to me less than one hour!. ( Perbaiki laporan itu! Berikan padaku kurang dari satu jam! ).” Ucap Jeff pada karyawan yang tadi ia marahi itu.


“Yes, Sir. ( Baik Pak ).” Ucap si karyawan patuh. Lalu pamit pada Jeff dan juga Fania dengan hormat untuk memperbaiki pekerjaannya.


“Bule gila, bisa marah – marah juga lo ternyata.” Celetuk Fania.


“Eh Kajol. Udah dateng lo?.” Sapa Jeff yang wajah marahnya sudah berubah jadi biasa.


“Would you please excuse me now, Mister Jeff, Mrs. Fania. ( Kalau begitu saya permisi Tuan Jeff, Nyonya Fania ).” Tracy mohon diri. Jeff hanya mengangguk.


“Thank you, Tracy!.” Ucap Fania pada salah satu karyawan terbaiknya Andrew tersebut.


“Ca elah, bule gila sok beut iye lo. Ngomelin orang sampe kayak gitu.” Celetuk Fania pada Jeff sambil mengabsen laki – laki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Ngomong apa sih lo Jol .. Jol.” Sahut Jeff. “ Sana ke ruangan Andrew. Udah ditungguin dari tadi.”


“Iya, iya. Aneh aja liat lu marah – marah. Baru liat!. Kek orang bener lo kalo begini.” Melihat si bule gila yang rapih dalam stelan jas kantor. Nampak berwibawa ga seperti kalo dirumah. Slengean.

__ADS_1


“Profesionalism, okay?. ( Profesional, oke? ).”


“Iya deh. Serah lo!. Dah gue nemuin itu si Donald Bebek dulu.” Fania kemudian berlenggang menuju ruangan Andrew.


Tok.... Tok.... Fania mengetuk pintu ruangan Andrew.


“Come in!. ( Masuk! ).” Terdengar sahutan dari dalam.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikusalam.” Andrew menoleh dan tersenyum dari tempatnya. “Hey, Heart.”


Fania menghampiri Andrew yang juga segera berdiri untuk menghampiri istrinya itu. “Suruh aku kesini, ada apaan?.”


“Aku mau ajak kamu ke suatu tempat, bertemu seseorang. Tapi tunggu sebentar ya. Kamu duduk aja dulu.”


‘Mulai deh rahasia – rahasian.’ Batin Fania saat dia mengangguk dan mengambil tempat di sofa tamu dalam ruangan pribadi Andrew. Dan suaminya itu kembali ke meja kerjanya.


“Kamu mau minum?.” Andrew menawarkan.


“Masih lama kamu emangnya?.”


“Engga sih.”


“Ya udah ga usah kalo gitu. Nanti aja minumnya.”


“Okay.”


Andrew melanjutkan kembali pekerjaannya sebentar. Tak lama ia beranjak dari kursinya, meraih jas lalu menghampiri Fania.


“Ayo!.” Andrew mengulurkan tangannya untuk menggandeng Fania. Wanita itu menyambut uluran tangan suaminya, meski sebenarnya dia masih sedang malas karena sikap si Donald semalam.


“Mau kemana sih?. Jangan ajak aku ke tempat yang menyeramkan lagi.” Ucap Fania saat dia dan Andrew sudah dalam perjalanan.


“Engga, aku ga akan bawa kamu ke kastil lagi.”


“Baguslah!.” Sahut Fania membuat Andrew tersenyum tipis.


Fania sedikit heran dan terkejut saat dia dan Andrew sudah sampai di tempat yang Andrew maksud yang ternyata adalah sebuah Rumah Sakit besar di Kota London.


“Ngapain kita kesini, Nald?. Ketemuan sama Kak Reno sama Kak Ara?. Tapi mereka kan tadi pagi cek kandungan. Masa jam segini belom balik juga?.” Cerocos Fania.


“Bukan.” Jawab Andrew singkat.


“Terus?. Ada temen kamu yang sakit?.”


“Ketemu Judith.”


“Judith?.”


“Yap!.” Andrew menjawab setiap pertanyaan Fania sambil terus berjalan. “Excuse me, I want to meet Judith, please. ( Permisi, saya ingin bertemu Judith ).


Andrew berbicara pada seorang perawat wanita di depan sebuah ruangan Dokter.


“Mister Andrew Smith. Doctor Judith has been waiting for you. Please ( Tuan Andrew Smith. Dokter Judith sudah menunggu anda. Silahkan ).”


Perawat itu berbicara ramah dengan senyumnya lalu berdiri untuk mengantar Andrew ke ruangan Dokter tersebut.


Fania membaca papan yang ada di pintu ruangan dokter tersebut.


“Obstetricians. ( Dokter Kandungan )?.”

__ADS_1


**


To be continue..


__ADS_2