BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 254


__ADS_3

Selamat membaca ....


****


“Morning all. ( Pagi semua ).”


Fania dan Andrew datang bersama di halaman belakang untuk ikut sarapan bersama anggota keluarga mereka yang lainnya. Termasuk Dewa yang juga masih menginap di Kediaman Smith.


“Morning.”


“Pagi.”


Semua orang menjawab sapaan Fania dan Andrew yang langsung duduk ditempat mereka.


“Gue denger ada yang membuat heboh di Soho semalam?.”


Reno bertanya dan menatap Fania dengan tersenyum simpul.


“Heboh apaan?.” Sahut Fania santai.


“One of the pool Queen was in action at Albert’s Cafe, last night?. ( Satu dari ratu biliar beraksi di kafenya Albert semalam? ).” Tambah Reno.


“Yang punya skill tingkat dewa.” Sambar John.


“Biasa aja.” Sahut Fania.


“Jadi apa lagi yang lo bisa, Jol?. Coba tolong kasih tau. Jadi andainya lo melakukan suatu hal yang menakjubkan, jantung gue ga was – was lagi. Mungkin lo bisa mengemudikan helikopter atau pesawat terbang?.” Celetuk Jeff yang membuat lainnya terkekeh.


“Sayang, aku ga disana.” Michelle ikut nyeletuk.


"Tenang Chel, ada videonya kok." Sahut Dewa.


“Ah, lebay aja lo Kak Jeff.”


Timpal Fania sembari mengambilkan makanan untuk Andrew.


“Gue bicara kenyataan, oke?.” Sahut Jeff. “Race Wars dan semalam?. Semua berawal dari insiden yang membuat jantung gue hampir meledak.”


Keluarga Smith pun terkekeh lagi.


“Lo aja sih, suka ngeremehin gue.”


“Ya bukannya gue meremehkan. Tapi coba lihat diri lo. Ga akan terbayang lo sanggup punya kemampuan menyetir mobil dan bermain billiard diatas rata – rata. Bahkan jauh diatas rata – rata.” Ucap Jeff lagi. 'Wajah imut, cantik luar biasa, seksi tapi penuh sensasi yang membuat orang shocked setengah mati.' Batin Jeff bermonolog. 'Belum lagi kalau mengamuk.'


“Jeff was right, Heart. ( Jeff itu benar, Sayang ). Kamu itu sering membuat kami semua shock.” Andrew menimpali.


“Ya itu sumber masalahnya kan kamu juga. Cewe – cewe ulet bulu kamu tuh yang pada cari gara – gara duluan sama aku.”


“Aku lagi.” Celetuk Andrew yang merasa disalahkan, namun anggota keluarganya malah terkekeh. Ia memilih pasrah. “Mereka bukan cewe – cewe aku, oke?. Teman!.”


Fania memutar bola matanya malas. “Ya, ya.”


***


Hari – hari dengan kesibukan sudah sampai lagi. Selama beberapa minggu ini rasanya kehidupan Fania dan Andrew beserta seluruh keluarganya dalam mode normal.


Para pria muda kembali ke aktifitas kantoran mereka. Sementara Fania dan Michelle juga sudah kembali ke rutinitas perkuliahan mereka. Sementara Ara sudah kembali berkutat di butik miliknya. Dad dan Mom kadang sibuk dengan yayasan dan segala yang berhubungan dengan kegiatan sosial mereka. Ataupun sekedar berkumpul dengan teman – teman seusia mereka.


Sementara Dewa beserta Mama Anye dan John sudah kembali ke Indonesia. Sejak satu minggu yang lalu.


Siang itu Fania berencana datang ke kantor Andrew selepas kuliah. Sengaja ga menginfokan pada Donald Bebek kesayangan. Mau bikin surprise sekalian mau ngetes itu si botak macem - macem lagi apa engga. Mengendarai sendiri mobil hadiah ulang tahunnya dari Andrew yang jarang ia gunakan itu.


Langit London nampak cerah di siang menjelang sore itu. Fania merasa senang, karena bagaimanapun posesif nya Andrew padanya, suaminya itu tidak terlalu mengekangnya.


“Jarang – jarang kan gue bisa nyetir sendiri.” Gumam Fania dalam mobilnya. “Tapi tetep aja, ga bisa bebas – bebas amat.” Gerutunya sambil melirik kaca spion depan dan nampak mobil Alex yang berada tepat dibelakang mobilnya.


Fania melajukan mobil yang ia kendarai dengan kecepatan sedang. Hingga sampai ke depan lobi Perusahaan Smith dan memberhentikannya disana. Tak perlu parkir sendiri, karena sudah ada petugas yang pastinya sudah sigap menyambut Fania kala ia datang.


“Good afternoon, Mrs. Fania. ( Selamat siang, Nyonya Fania ).” Sapaan para karyawan Perusahaan yang berpapasan dengan Fania dia siang hari menjelang sore itu rata – rata sama. Termasuk senyum terbaik yang mereka berikan pada Fania.


“Good afternoon.” Fania tak melewatkan untuk menjawab setiap sapaan juga dengan senyuman. “Hi.” Fania menyapa resepsionis Perusahaan yang sudah berdiri sejak Fania memasuki area dalam gedung.

__ADS_1


“Good afternoon, Mrs. Fania, how do you do?. ( Selamat siang, Nyonya Fania. Bagaimana kabar anda? ).”


Tanya sang resepsionis dengan sopan tentunya juga dengan senyuman.


“I’m good of course. As you can see ( Aku baik, seperti yang kamu lihat ).” Jawab Fania dengan santai dan ramah. “Is my husband in his office right now?. ( Apa suamiku sedang ada di ruangannya saat ini? ).” Fania menanyakan keberadaan Andrew.


“Mister Andrew was in Mister Reno’s office since few minutes ago, Ma’am ( Tuan Andrew sedang di ruangan Tuan Reno sejak beberapa menit yang lalu, Nyonya ).”


Fania manggut – manggut. “Alright then, thanks. I’ll go to my brother’s office then. ( Baiklah, makasih. Kalo gitu aku ke ruangan kakakku ).”


****


Fania sudah sampai di lantai khusus kantor Reno seperti halnya milik Andrew. Lantai pribadi yang terpisah dari area kantor divisi lainnya. Kantor khusus bagi Reno dan staff – staff pilihannya.


“Kemana lagi itu, si Kelly?.” Fania celingukan mencari sekertaris pribadi kakak gantengnya itu yang saat ini tidak ada dimeja kerja nya. “Oh, lagi maksi.” Ia bergumam sendiri setelah melihat kertas terlipat diatas meja Kelly yang tertulis, ‘’Lunch’’.


Fania mengendikkan bahunya lalu berjalan menuju ruangan Reno yang nampaknya sedikit terbuka.


“Jadi itu yang membuat mereka tiba – tiba datang?.”


Suara Andrew terdengar dari dalam.


Fania menghentikan langkahnya sejenak. Takut kalau Andrew dan Reno sedang membicarakan pekerjaan atau hal yang penting dan Fania takut mengganggu.


Belum ada suara lagi setelah Andrew terdengar berbicara barusan. Fania memutuskan akan masuk.


“Ya seperti itu. Tapi jangan sampai Little F tau soal ini. Dia pasti kepikiran.”


Fania tak jadi melangkah masuk setelah mendengar suara Reno barusan.


‘Jangan sampe gue tau?.’ Batin Fania bertanya sendiri.


“Gue ga ingin dia kepikiran soal ini. Semuanya sudah menjadi keputusan gue. Ga bisa diganggu gugat. Lagipula mereka pikir, mereka itu siapa bisa seenaknya.”


“Lo sudah membicarakan ini dengan Ara?.”


“Sudah. Sudah sejak lama. Ara juga sudah memprediksikan hal ini. Dan dia sangat menyetujui keputusan gue.”


Fania masih mendengarkan dari luar saat Andrew dan Reno berbicara didalam ruangan kakak gantengnya.


“Hanya Ayah. lainnya hanya sampah!.”


Fania sedikit terkejut mendengar ucapan kakak gantengnya barusan. 'Ada apa sih?.' Hati Fania mendadak gelisah.


“Menurut lo Ayah tahu soal ini?.”


“I don’t know exactly. ( Gue ga tahu persis ).”


‘Ini mereka ngomongin soal apa sih?.’ Batin Fania bermonolog lagi.


“Pastikan aja dua orang itu ga membuat ulah dan mencari masalah dengan keluarga kita disini, R. Terlebih lagi dengan Little F. Karena jika itu terjadi, you know what I’m going to do, right?. ( lo tau apa yang akan gue lakukan, kan? ).”


“Gue pun akan bertindak, Ndrew. Fania adik gue, ga perduli ga ada ikatan darah antara kami. titik.”


Fania semakin gagal paham dengan pembicaraan Andrew dan Reno saat ini.


“Langkah lo selanjutnya?.”


“Nanti gue beritahu lo. Dan untuk saat ini jangan sampai Little F tahu. Gue ga mau dia merasa ....”


‘Apa yang ga boleh gue tau?.’ Fania masih bertanya – tanya dalam hatinya. Sampai sebuah suara menyadarkan sekaligus mengagetkannya.


“Miss Fania?. ( Nona Fania? ).”


Nino ternyata si pemilik suara. Dan sepertinya Andrew dan Reno juga mendengar suara Nino dari dalam.


Fania sedikit kikuk. “ Eh, Kak Nino.”


“Little F?.” Reno muncul dari balik pintu bersama dengan Andrew yang kemudian keduanya saling tatap penuh arti. 'Apa Little F dengar pembicaraan gue dan Andrew barusan?.' Batin Reno sedikit khawatir.


“Heart?. Sejak kapan kamu datang?.”

__ADS_1


Andrew menghampiri Fania.


“D, Kak Ren.” Sahut Fania mencoba bersikap biasa. “Aku baru mau masuk.”


Fania langsung mencium tangan Andrew dan Reno dengan takdzim.


“Kok ga bilang mau datang, hem?.” Andrew pun terlihat menunjukkan sikap biasa pada istrinya itu. Saking biasa ga lupa ngasih sosoran maut Donald Bebeknya di bibir Fania.


“Ck!. Dasar Donald Bebek! Main cium sembarangan! Ada orang nih!.” Protes Reno dengan kelakuan si Donald Bebek yang hobi nyosor ke bibir Fania itu. Tak perduli kapan pun, dimanapun dan didepan siapapun. Seperti saat ini. Meski ada Reno dan Nino, Andrew tak memperdulikan mereka.


Nino hanya geleng – geleng saja melihat kelakuan Andrew yang seringnya suka pamer kemesraan dengan istrinya itu. Andrew nya sih yang kadang terlalu berlebihan.


“My wife, Mine, Halal. ( Istri gue, milik gue, halal ).” Ucap Andrew dengan santainya.


“Apa sih kamu, nih.” Fania ikut protes.


“Memang benar, kan?.” Sahut Andrew santai. “Kok kamu ga info mau datang?. Sudah makan?.”


Fania menggeleng. “Justru ini mau ngajak makan siang bareng. Kalian udah makan siang?.”


Andrew dan Reno menggeleng bersamaan.


Hanya Nino yang tak menjawab.


“Ya udah yuk makan. I’m starving. ( Aku kelaparan ).” Ucap Fania yang menunjukkan sikap yang biasa. Meski sebenarnya dia sangat ingin bertanya soal pembicaraan Andrew dan kakak gantengnya tadi. Namun Fania urungkan.


“Ya udah ayo kita pergi makan. R, come ( ayo ).” Andrew meraih pinggang Fania dan mengajak Reno ikut serta.


“Nino are you coming?. ( Nino, ikut yuk? ).”


Fania mengajak Nino untuk ikut makan siang bersama mereka.


“Thank you for you offered Miss, but I already got my lunch. ( Terima kasih atas tawarannya Nona, tapi saya sudah makan siang tadi ).”


Ucap Nino dengan sopan menolak tawaran Fania untuk ikut makan bersamanya serta Andrew dan Reno.


“Too bad. But Okay. See ya, then. ( Sayang banget. Tapi ya udahlah. Sampe ketemu ya ).”


Ucap Fania seraya pamit dan kemudian berjalan bersama Andrew didepan Reno.


“Kalian duluan. Gue ada perlu sama Nino sebentar. Tunggu gue di bawah.”


Reno menghentikan langkahnya setelah ia seperti teringat sesuatu.


“Oke!.” Sahut Andrew dan Fania bersamaan lalu langsung memasuki lift.


****


“Nino, Did you already do what I have told you?. ( Nino, lo udah lakukan apa yang gue minta? ).”


Nino menjawab pertanyaan Reno dengan anggukan yakin. “I already sent someone to follow them. ( Saya sudah menyuruh seseorang untuk mengikuti mereka ).”


Reno tampak manggut – manggut.


“Are they leaving London?. ( Apa mereka akan meninggalkan, London? ).” Tanya Reno sambil setengah berpikir.


“I don’t think so. ( Saya pikir tidak ). Sandy was sent me message that both of them was make a room reservation in Lansbury ( Sandy mengirim pesan kalau mereka berdua memesan kamar di Lansbury ).” Ucap Nino pada Reno mengenai informasi yang dia punya.


“Are we have trusted guy in Lansbury?. ( Apa kita punya orang terpercaya di Lansbury? ).” Tanya Reno pada Nino.


“Of course. ( Tentu saja ).”


“Good.  I want to put a tap at their room. ( Bagus. Gue mau pasang penyadap dikamar mereka ).”


“Okay. I will tell them to do that soon. ( Baik. Saya akan menyuruh mereka melakukannya itu secepatnya).”


“Make sure they have no opportunity to meet Fania. ( Pastikan saja mereka tidak memiliki kesempatan untuk menemui Fania ).”


***


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2