BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 228


__ADS_3

Selamat membaca...


“This is what you want, isn’it? (Ini yang kamu mau, kan?).” Andrew setengah menyeringai. “Let’s have sx then (Mari kita berhubungan itim kalau begitu).”


Andrew mencoba menarik kaos Fania ke atas tubuh istrinya itu dengan sedikit kasar seperti tak sabar. Membuat Fania menatap nya dengan pandangan tak percaya dan matanya mulai berkaca – kaca.


Fania mendorong kasar tubuh Andrew dengan sekuat tenaga. Ia terlepas dari kukungan Andrew karena sepertinya, suaminya itu melonggarkan sendiri kukungan nya pada Fania.


Fania pun segera bangkit dengan membetulkan kaosnya sambil menghadap Andrew yang kini juga sudah berdiri menghadapnya.


“Kamu anggap apa aku, Hah?!.” Hardik Fania menatap Andrew dengan sebutir air mata yang sudah turun dari pelupuk matanya. “Kamu anggap apa aku?!!!.”


Fania tak percaya dengan apa yang tadi dilakukan Andrew padanya. Meski Andrew adalah suaminya, namun sesaat ia merasa dilecehkan oleh ucapan dan perlakuan seorang Andrew Smith padanya.


Andrew tak menjawab hardikan Fania barusan. Hanya menatap Fania dalam diam.


“Ini ya ternyata sifat asli kamu?!.” Fania menuding Andrew dengan rasa kecewa dan benci di hati dan pandangan matanya, dengan bulir air mata yang kembali turun dari pelupuknya.


Andrew maju selangkah dan Fania memundurkan juga tubuhnya.


“Jauh – jauh kamu dari aku!.” Fania mulai terisak. “ Jauh – jauh!.”


Andrew menatapnya, sambil menghela nafasnya pelan.


“Jangan sentuh akuuuuu....!!!.”


Fania meronta sembari memukuli dada bidang Andrew, karena si Donald sudah membawanya dalam pelukan, merengkuh tubuh Fania dengan sangat erat.


“Release it. Release all your emotion to me (Keluarkanlah. Keluarkan semua emosi kamu ke aku). Silahkan memaki aku sesuka kamu, Heart. Aku yang salah....”


Fania masih meronta, mendorong dorong dada Andrew agar suaminya itu melepaskannya. Namun tenaga Fania terbuang percuma. Dekapan Andrew masih saja erat.


“Lepas ....” Fania mulai berhenti meronta, namun masih memukul – mukul dada bidang Andrew sembari terisak.


Andrew menempatkan pipinya pada pucuk kepala Fania sambil membelai rambut istrinya yang sedang terisak itu dengan lembut.


“Please forgive me ( Tolong maafkan aku ) ....”


Andrew berkata lirih dan Fania masih terisak dalam dekapannya.


Merasakan Fania tak lagi meronta, Andrew membawanya untuk duduk di atas ranjang. Fania masih terisak sambil menghapusi air matanya dengan wajahnya yang ia tundukkan.


“Heart, lihat aku.” Andrew meraih wajah Fania yang nampak enggan menatapnya kini. Menyeka air mata Fania yang ada di pipi dan pelupuk mata istrinya itu.


Fania yang sudah berhenti terisak namun masih sesenggukan itu, tetap tak mau menatap Andrew yang sudah menangkup wajahnya meski dengan lembut. Mata Fania masih sengaja dialihkan ke arah lain.


“I’m so sorry, Heart .... I’m so sorry.... (Aku benar – benar minta maaf, Sayang. Aku benar – benar minta maaf ....)." Andrew menempelkan kening nya pada kening Fania. “Aku tidak bermaksud melecehkan kamu .... Maaf


kalau aku belum mampu memahami kamu sepenuhnya. I’m stupid, right? (Aku bodoh, iya kan?).”


“Aku rasa kita sudah terlalu terburu – buru untuk menikah.” Fania melepaskan keningnya dari kening Andrew. Menyandarkan dirinya pada kepala ranjang dan memandang ke arah lain.


“Heart....” Andrew berucap lirih sembari menggengam erat tangan Fania.


“Kita terlalu terpaku pada hubungan persahabatan di masa lalu. Menganggap sudah saling mengenal, menikah karna rasa tanpa memasukkan logika. Seharusnya aku berpikir dulu sebelumnya, apa aku bisa menjadi istri yang baik, karena pada kenyataannya aku jauh dari itu.”


Andrew menelan salivanya. Ada rasa takut yang membayangi kalau andainya Fania bilang, wanita itu menyesal menikah dengannya.


“Lihat aku, Heart.” Andrew meraih wajah Fania untuk dihadapkan padanya. “Lihat aku ....”


“Benar yang kamu bilang, harusnya aku sering introspeksi diri aku sendiri.” Fania memandang Andrew sebentar lalu kemudian menunduk. Sedikit terkekeh getir. “Harusnya emang aku sering – sering ngaca.... kekanakkan....”


Air mata Fania mulai terbentuk lagi.


“Kamu salah kayaknya udah milih aku jadi istri kamu, Nald.”

__ADS_1


“Heart, hentikan.”


Fania terdiam sejenak. “Kamu ... pantas mendapat perempuan yang jauh lebih baik dari aku....”


“Stop it, I said (Hentikan, aku bilang).”


“Yang lebih dewasa ....”


“Enough! (Cukup! ).”


Andrew mencegah Fania berkata – kata lagi dengan menempelkan telapak tangannya pada bibir Fania.


Setengah menghardik, karena ucapan Fania yang secara tidak langsung terdengar seperti permintaan untuk berpisah itu, terasa menggores hati Andrew.


“Nald.”


“Stop talking, okay?. Stop talking like that, I beg on you (Berhenti bicara, oke?. Berhenti bicara seperti itu, aku mohon ke kamu).” Andrew mengiba. “Tidak ada yang salah dengan keputusan aku menikahi kamu, tidak ada yang salah dengan pernikahan kita. Aku.... aku yang salah.”


Kembali menangkup wajah Fania dengan kedua tangannya. Bulir air mata sudah tampak lagi jatuh di pipi Fania.


“Kamu pantas, sangat pantas. Mungkin aku yang ga pantas.”


“Nald ....”


“Tapi satu hal yang harus selalu kamu ingat. Ga akan aku lepas meski kamu yang ingin melepas. Itu yang perlu kamu ingat baik - baik,” Andrew membawa Fania dalam pelukannya. “Apa cinta kamu sudah hilang begitu saja sama aku, hem?.”


Fania menggeleng dalam pelukan Andrew. “Aku kesel!. Hati aku sakit kamu perlakukan aku kayak tadi.”


“I’m wrong. Please forgive me. I really don’t mean it (Aku salah. Tolong maafkan aku. Aku benar – benar ga bermaksud seperti itu).”


Andrew mengecup pucuk kepala Fania berulang – ulang.


“Sini.” Andrew meraih tangan kanan Fania. PLAK!. Menamparkan tangan Fania ke pipinya.


“Nald!.” Fania menarik tangannya dengan sedikit kasar. Kaget karena Andrew membuatnya menampar pipi suaminya itu secara tidak langsung. “Kamu apa – apaan sih?.”


“Aku ga suka....”


Andrew tersenyum.


“Maafkan aku?.”


Fania mengangguk. Membuat Andrew melebarkan senyumnya.


“Makasih, Heart.”


“Iya. Jangan pernah kamu ulangi lagi.” Fania memperingatkan. “Nanti aku suruh Kak Reno buat pukulin kamu.”


Andrew terkekeh sambil membawa Fania dalam pelukannya.


“Iya, I promise I won’t do that anymore (Iya, aku janji aku ga akan pernah melakukannya lagi).”


**


Keluarga Smith sudah berkumpul di halaman belakang rumah. Minus Andrew dan Fania. Pagi yang cerah membuat mereka memutuskan untuk sarapan di meja makan dalam area terbuka tersebut.


“Theresa, is my Sister already came out from the guest room? (Theresa, apa adikku sudah keluar dari kamar tamu?).”


Reno menanyakan perihal keberadaan Fania pada Theresa, kepala pelayan di Kediaman Smith.


“Already Sir. That room was open wide when I checked it (Sudah Tuan. Kamar itu terbuka lebar saat saya mengeceknya).”


“Where is she now? (Dimana dia sekarang?).”


Andrew dan Fania datang bersamaan disaat Reno bertanya pada Theresa.

__ADS_1


Kelegaan pun nampak diwajah keluarga mereka yang melihat Andrew dan Fania datang bersama sambil berpegangan tangan.


“Pagi semua.” Fania menyapa dengan senyuman, yang lain menjawab sapaannya pun dengan senyuman.


“Halo Fania, Andrew.” Sapa Ara.


Andrew hanya tersenyum dan mengangguk. Sementara Fania menghampiri Ara.


“Debay apa kabar?.”


Fania mengelus – elus perut Ara sambil mengajak bayi di dalam perut Ara bicara.


“I’m good Aunty (Aku baik, Tante).”


Ara menjawab Fania dengan menirukan suara anak kecil, membuat yang lainnya terkekeh.


“Ck,ck. Udah selesai ributnya kalian berdua?.” Celetuk Jeff. “Bikin pusing.”


“Yeeee rese, mulai pagi – pagi.” Sahut Fania.


“Ya lagian kalian, berantem melulu. Orang pada pusing semalam gara – gara kalian berdua.” Celetuk Jeff lagi. “Kemana sih lo kemarin?. Sinyal GPS segala pakai di palsukan.”


“Jalan – jalan lah.”


Jeff memutar bola matanya malas.


Dad dan Mom hanya menggeleng kalau melihat Jeff mulai iseng pada Fania.


“what did he do last night? (Dia ngapain lo semalem emang?). Sampai lo kayak gitu?.”


Tanya Reno pada Fania sambil melirik Andrew.


Andrew melirik balik sedikit sinis pada Reno.


“Ga usah rese, R!. Jangan fikir gue ga tau, kalau itu pasti kerjaan lo yang mengacaukan sinyal GPS nya Fania.”


Reno nampak tersenyum meledek pada Andrew. “Apapun untuk adik gue tercinta. Apapun yang dia minta pasti gue kabulkan.”


“Gue akan bikin perhitungan sama lo.” Ancam Andrew dalam ucapannya, namun wajahnya nampak biasa.


Reno manggut – manggut. “Ok gue tunggu.”


“After breakfast? (Abis sarapan ya?).”


“Oke. Siapa takut.” Reno dan Andrew kemudian sama – sama tersenyum dengan arti yang hanya mereka pahami sendiri nampaknya.


Dad dan Mom lagi- lagi menggeleng melihat dua putranya yang sering adu mulut itu. Sementara yang lain, sepertinya paham dengan kedua obrolan dua laki – laki tersebut kecuali Fania.


“Udah sih. Ga usah debat kalian berdua.” Celetuk Fania lalu memulai sarapannya bersama anggota keluarga yang lain.


****


“Ayo Kak! Tunjukkan kekuatan kalian.”


Fania yang habis mengambil ponselnya dan Andrew di kamar langsung berlari ketika mendengar suara Michelle seperti sedang berteriak di halaman belakang.


“Kak Reno! Donald!.”


**


To be continue ..


Jangan lupa ritualnya ya reader - reader ku thayank


LIKE - VOTE - KOMEN

__ADS_1


MAKASIH BANYAK - BANYAK UNTUK KALIAN SEMUA.... MUAHHHHH


💋


__ADS_2