
Selamat membaca..
“Aku minta kamu berhenti nyanyi.” Ucap Andrew pada Fania. Yang tentu saja permintaannya itu mengejutkan Fania.
“Apa?!.” Pekik Fania.
“Aku minta kamu berhenti nyanyi.” Ucap Andrew lagi sambil memandang wajah Fania yang terlihat akan membantah.
“Apa – apaan sih permintaannya Nald. Jangan iseng deh.” Ucap Fania.
“Liat muka aku seperti lagi iseng atau bercanda ga?.” Ucap Andrew seraya bertanya. Dan Fania pun menatap Andrew.
“Kalo gue ga mau?.” Tanya Fania balik.
“Harus mau. Tau kan aku ga suka dibantah.” Jawab Andrew datar.
“Lo juga tau kan, kalo gue suka nge bantah?.” Ucap Fania yang seperti menantang Andrew.
“Aku bicara serius Fania.” Ucap Andrew menatap Fania balik yang setengah melotot padanya. “Kamu harus berhenti nyanyi. No choice.”
“Engga ga bisa. Gue ga mau. Jangan terlalu ngatur gue Nald, gue ga suka. Minta yang lain. Jangan minta gue menjauhi musik atau nyanyi.” Ucap Fania yang teguh pada pendiriannya.
“Andrew was right Fania. Lo harus berhenti nyanyi.” Reno ikut bicara dan menghadapkan wajah seriusnya pada Fania.
“Ah please Kak Ren, jangan ikut – ikutan juga deh.” Fania mulai merajuk. Gadis itu mulai gusar karena Reno dan Andrew yang memintanya untuk berhenti nyanyi.
“Lo harus berhenti nyanyi. Mau ga mau.” Ucap Reno menegaskan.
“Ini apa – apaan sih?. Kalian lagi – lagi mulai mojokin gue.” Ucap Fania yang berdiri dari duduknya sambil menatap Andrew dan Reno bergantian.
'Hem, mulai deh.' Batin Jeff.
Ara dan John masih jadi penonton.
“Kalo soal kerja, iya oke, gue setuju. No choice. Kalau alasan gue dapet uang dari gaji kalian udah kasih gue uang
bulanan berkali kali lipat dari gaji gue. Tapi kalau nyanyi engga!.” Ucap Fania dengan muka serius dan suara yang mencerminkan kalau gadis itu sedang gusar.
__ADS_1
“Faniaaa.” Ucap Reno dan Andrew.
“Nyanyi dan musik itu bukan soal uang. Itu kepuasan batin gue. My soul.” Fania masih berbicara. “Kak Reno waktu pertama kali ketemu gue, liat kan gue lagi ngapain?. Gue bahkan reguler sama anak – anak di Hotel lo, Kak. Jadi kalo kalian minta gue untuk berhenti nyanyi. Engga deh. Sayang sih sayang gue sama kalian, tapi ga gini juga harus nurutnya kebangetan!.” Nada suara Fania mulai terdengar kesal.
“Kamu kan janji mau nerusin kuliah Fania.” Ucap Andrew yang ikut berdiri pada akhirnya.
“Yah, kuliah mah kuliah, nyanyi mah nyanyi. Apa hubungannya juga sih?. Tinggal ngatur waktunya aja. Gampang.” Ucap si Biduan lagi ga mau kalah argumen.
“Memang ga ada hubungannya, Fania. Tapi..” Reno berbicara tapi sebelum dia menyelesaikan kalimatnya si Little F sudah menyela.
“Dah ah, gue males bahas beginian.” Fania yang sedang kesal itu malas untuk melanjutkan perdebatan. Dan gadis itu berbalik hendak naik ke kamar Andrew.
“Gimana lo akan tetap nyanyi disini, sementara lo harus ke London.” Ucap Andrew yang melihat Little F nya udah mulai ngambek.
Dan Fania menghentikan langkahnya serta berbalik kembali. “Hah? Apa? Ke London?. Ngapain?.” Tanya Fania pada Andrew.
“Kuliah apalagi?.” Jawab Andrew sambil geleng – geleng.
“Kuliah?.” Tanya Fania lagi. “ Gue kuliah di London?.”
“Fania, Fania. Ck...ck...ck... masih muda, cantik, suaranya bagus, tapi daya ingat sangat buruk.” Ucap Reno.
“Ih, apaan sih kak Reno.” Decih Fania.
“Emang?.” Tanya Fania. “Seriusan? Ih gue pikir kalian Cuma asal ngomong doang.” Ucap Fania dengan muka tanpa dosa.
‘Ish, kalo ga ada orang udah gue cium itu bibirnya.’ Batin Andrew. ‘Bikin kesal tapi menggemaskan.’
“Makanya kalau orang ngomong jangan suka dipotong. Kebiasaan.” Ucap Reno lagi sambil geleng – geleng dan membelai kepala Fania.
“Ya maap. Emang disini aja ga bisa Kak?. Kuliah di Indonesia aja gitu. Sama aja kan belajar mah dimana aja.” Ucap Fania.
“Ga bisa.” Sahut Andrew.
“Ck.” Sahut Fania sambil melirik Andrew sambil berdecih.
‘Beneran ntar gue cium bertubi tubi ini anak.’ Batin Andrew saat melihat Fania meliriknya seperti itu.
“Udah lah Little F, ga usah membantah. Lo kuliah di London. That’s it!.” Tegas Reno. “Lagipula bukannya lo udah bilang ke mama sama papa lo soal ini?.”
“Ya emang udah, tapi kan gue Cuma sekedar ngebahas aja waktu itu sama mereka.” Jawab Fania.
“Mereka kasih ijin kan?.” Tanya Reno.
__ADS_1
“Ya kasih sih emang.” Jawab Fania lagi.
“So? Kenapa lagi?.” Tanya Andrew kini.
“Ya sebenarnya rada berat ninggalin keluarga cemara. Kangen kan gue pasti nanti sama mama, papa, prita.” Ucap Fania.
“Nanti kalo ada waktu senggang kan bisa balik kesini.” Sahut Reno.
“Ya kali asal kangen pulang.” Sahut Fania lagi.
“Engga gitu juga, pas liburan gitu pulang kesini.” Ucap Andrew.
Fania tak lagi menjawab. Gadis itu tampak sibuk dengan pikirannya meski matanya memandangi Reno dan Andrew bergantian sambil tolak pinggang dan bibirnya digerakkan ke kiri dan ke kanan. Lalu di kerucutkan.
‘Oh Tuhan, bisa cium sekarang aja ga?.’ Batin Andrew.
“Apalagi? Mikir apa lagi?.” Tanya Reno.
“Berarti besok abis perform, gue harus langsung balik ke Bekasi supaya bicarakan hal ini lagi sama mama n papa. Terus nanti senin gue ketemu sama kak Rita n anak – anak band buat ngomongin hal ini.” Jelas Fania. “Aduh gue gimana ngomongnya sama anak – anak Band n kak Rita.”
“Gampang itu bisa diatur Nona Muda.” Sahut John yang terlihat menguap setelahnya. “Udah ah, gue tidur duluan.”
“Sama. Dah ngantuk gue juga.” Sahut Jeff yang kemudian mengikuti John yang sudah duluan melangkah menyusuri tangga.
“Ya udah, that’s it ya Little F. Pembicaraan masalah kuliah lo di London udah selesai. Masalah passport visa dan
yang lainnya nanti diurus John.” Ucap Reno. “Dah gue mau Sunnah Rasul dulu. Yuk Babe.”
Ara yang paham maksud ucapan Reno tersenyum simpul lalu meraih tangan Reno yang sudah mengajaknya.
“Tidur duluan ya Andrew, Fania. Kalian jangan begadang.” Pamit Ara. Lalu berjalan bersama Reno menuju kamar mereka.
“Sunnah Rasul apa?.” Tanya Andrew pada Fania.
Fania yang paham maksud dua kata itu hanya cengengesan. “Urusan orang dewasa itu sih.”
“Aku juga orang dewasa. Beda 1 tahun aja sama R.” Sahut Andrew.
“Udah ah. Gue ngantuk.” Sahut Fania balik lalu berjalan menuju kamar Andrew dan sudah pasti laki – laki itu mengikutinya.
‘Asik bisa cium.’ Batin Andrew.
**
__ADS_1
To be continue ....