
Selamat membaca ...
♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦
“Heart, jadi kamu sudah mantap memilih jurusan apa, hem?.” Andrew dan Reno sudah kembali sesaat sebelum makan malam.
Andrew menoleh pada Fania yang duduk disampingnya itu karena tak mendengar jawaban.
“Heart?.”
Andrew memanggil pada Fania sekali lagi dan anggota keluarga yang lain pun nampak memperhatikan Fania yang terlihat seperti sedang melamun itu.
Andrew mengusap pelan kepala Fania, karena Fania masih belum lagi menanggapinya. “Hei, Heart.”
“Ha?.” Usapan tangan Andrew pada kepala Fania, menyadarkannya dari lamunan. Ia menoleh pada Andrew yang nampak sedikit heran melihatnya. “Kenapa?.”
“Kamu yang kenapa?.” Andrew balik bertanya.
“Aku ga apa – apa.”
“Ada masalah di kampus?.” Reno bersuara seraya bertanya pada Fania.
Fania menggeleng. “Ga ada, Kak. Ga ada masalah apa – apa. Kuliah gue baik - baik aja kok. Cuma tadi penempatan major doang.”
“Lalu kamu kenapa melamun?.” Andrew kembali bertanya.
“Siapa yang melamun sih?.” Fania berkilah.
“Tadi Andrew tanya kamu apa coba?.” Ara ikut bertanya.
Fania menoleh pada Andrew.
“Emang kamu ada nanya sama aku?.”
“Makan dululah. Nanti kita bicara.” Ucap Andrew sambil kembali mengusap kepala Fania. Dan Fania pun mengangguk patuh untuk memulai makan.
“Selamat makan semua” Ucap Fania yang kemudian menyuap makanan ke dalam mulutnya. Sementara Andrew dan Reno saling bersitatap tanpa Fania memperhatikan.
Ara pun juga nampak sedang memperhatikan Fania. ‘Sepertinya ada sesuatu yang Fania sembunyikan.’ Batin Ara yang peka itu bermonolog.
***
Fania dan Andrew sudah berada didalam kamar mereka.
Keduanya duduk bersama di balkon kamar sambil sama – sama menyesap batangan nikotin yang terselip diantara jari mereka.
“Heart, you wanna tell me something? ( Sayang, apa ada yang ingin kamu ceritakan ke aku? ).”
“Tentang?.” Fania bertanya balik pada Andrew sambil menoleh pada suami yang seperti sedang menatapnya sedikit intens.
“Apapun.” Jawab Andrew tanpa memalingkan wajahnya pada Fania.
“Kenapa sih?. Kamu ngeliatin aku kok begitu?.” Ucap Fania yang sedikit agak risih dipandangi oleh Andrew yang seperti mencurigainya.
Andrew tersenyum tipis.
“Apa kamu terlibat masalah di kampus?. Atau kamu membuat kesalahan?.”
“Kesalahan apa maksudnya?.”
“Entah. Kamu aneh sejak kemarin.”
Ucap Andrew yang terus memandangi Fania.
“Perasaan kamu aja kali, D.”
“There’s something you didn’t tell me ( Ada sesuatu yang tidak kamu katakan ke aku ).” Andrew menyesap batangan nikotinnya, lalu kembali menatap Fania.
“Ga ada apa – apa juga. Kamu aja ni yang terlalu curiga sama aku.”
Andrew mematikan rokoknya. Mengambil rokok secara perlahan dari tangan Fania lalu mematikannya juga.
Menghadapkan wajah Fania tepat didepan matanya.
“Heart, aku bahkan bisa tahu dengan mudah jika ada seseorang yang menipu aku. Aku sangat tahu jika ada seseorang yang berbohong ataupun menyembunyikan sesuatu dari aku. Terlebih kamu.” Ucap Andrew sambil menangkup wajah Fania. “Katakan, ada apa, hem?.”
“Ga ada apa – apa, D. Beneran deh.” Fania berkilah sambil berusaha bersikap biasa di depan Andrew.
Andrew menghela nafasnya. Memandang dalam manik mata Fania.
“I know you from top to toe ( Aku mengenal kamu dari ujung rambut sampai ujung kaki ), Heart. Seperti aku mengenali diri aku sendiri, both inside or outside ( baik luar maupun dalam ). So I will know very easy, if these eyes is lying ( Jadi aku akan tahu dengan mudah, jika mata ini berbohong ).”
Glek!. Fania sedikit merasa takut dengan Andrew yang berbicara sambil menatapnya sedikit tajam. ‘Aduh, serem banget dia kalo udah begini.’ Batin Fania bermonolog, namun ia juga masih menghadapkan mata dan wajahnya pada Andrew.
‘’Sayangnya, Reno mendapat dukungan penuh dari suami kamu.’’
Fania teringat sepotong kalimat dari wanita yang tadi siang menegurnya di toilet coffee shop.
__ADS_1
“Tapi ya sudah, kalau kamu memang ga ingin berbagi.” Ucap Andrew yang menarik wajahnya sedikit jauh dari wajah Fania. “Mungkin aku ga terlalu berarti buat kamu, sampai masih ada hal yang kamu ingin simpan sendiri.” Andrew berdiri dari duduknya. Terdengar menghela nafasnya.
“D.”
Fania meraih telapak tangan Andrew yang sudah berdiri dan hendak masuk ke dalam kamar. Ia pun juga berdiri sedikit dibelakang Andrew.
“Hem?. Aku letih dan mengantuk. Just take your time ( nikmati saja waktu kamu ).”
Ucapan Andrew yang datar dan tanpa menoleh pada Fania, membuat wajah Fania berubah murung. “I’m sorry ( Aku minta maaf ).” Ucap Fania pelan.
Andrew menghela lagi nafasnya dengan pelan. Rasanya tak tega kalau sudah mendengar suara Fania yang terdengar sedih seperti barusan. Andrew membalikkan badannya dan menempatkan kedua tangannya diatas bahu Fania, sambil menatap mata Fania dalam – dalam.
“What is it, Heart? ( Ada apa, Sayang? ). Hal apa yang sedang mengganggu pikiran kamu, hem?.” Tanya Andrew dengan lembut.
Fania memberanikan diri menatap balik pada Andrew yang sedang menunggu jawaban darinya. “Kamu.” Jawab Fania. ‘Dan Kak Reno.’ Kalimat berikutnya terucap dalam hati saja. Andrew mengangkat alisnya, sedikit heran.
“Me? ( Aku? ).” Tanya Andrew lagi dan Fania mengangguk. “Kenapa dengan aku?. Apa ada kesalahan yang aku buat pada kamu tanpa aku sadari?.”
“Iya ....” Fania menjawab pelan.
“Come ( Sini ).” Andrew menggandeng Fania lalu mengajaknya duduk ditepi ranjang. “Aku buat salah apa, hem?.” Ucap Andrew sambil merapihkan anak rambut Fania yang saat ini di cepol atas oleh Fania.
“Aku kok merasa, akhir – akhir ini kamu kurang perhatian sama aku.” Ucap Fania pelan. ‘Maaf Nald. Aku masih bingung tentang apa yang cewe itu bilang ke aku.’ Batin Fania bermonolog, sementara mulutnya mengucapkan sedikit alasan pada Andrew.
Andrew tersenyum.
“Kenapa berpikir seperti itu, hem?.”
“Ya soalnya akhir – akhir ini kamu kayaknya sibuk banget, sampe udah ga pernah anter jemput aku kuliah, jarang ngajak aku jalan. Sampe rumah kalo ga ngecek email, asyik deh tuh nge gym sendiri.”
Andrew tersenyum lagi. “Aku dan Reno sedang mengurus beberapa hal penting, Heart.”
“Lebih penting dari aku?.”
“Of course not ( Ya enggalah ). Jangan membandingkan diri kamu dengan pekerjaan aku. Kamu atau pekerjaan itu punya arti penting dalam porsinya masing – masing.”
Andrew membawa Fania dalam dekapan.
“Kalau kamu berpikir aku mencari kesenangan diluar, lebih baik kamu singkirkan pikiran itu jauh – jauh. Kita sudah sepakat bukan?. Untuk lebih terbuka dan lebih saling percaya?.”
Fania mengangguk dan mendekap balik tubuh Andrew.
“Aku janji, setelah semua urusan yang sedang aku dan Reno tangani selesai, kita akan lebih sering meluangkan waktu bersama kalau itu yang kamu mau.”
“Janji?.”
“Iya.”
“Janji?.” Kini Andrew yang bertanya.
“Janji.” Sahut Fania.
“Who loves you? ( Siapa yang mencintai kamu? ).” Ucap Andrew mesra.
“You ( Kamu ).” Sahut Fania tak kalah mesra.
“Who loves me? ( Siapa yang mencintai aku? ).” Ucap Andrew lagi
“Me ( Aku ).” Kembali Fania menjawab pertanyaan uwunya Andrew.
“Then trust me ( Maka percayalah padaku ).” Ucap Andrew yang mengeratkan dengan mesra pelukannya pada Fania.
Ah, Author jadi baper.
****
Siang itu Fania kembali lagi datang ke Perusahaan. Andrew plus si kakak ganteng yang memintanya datang.
Fania datang bersama Andrew yang sudah menunggunya di lobi bawah tadi. Membawanya ke bagian Perusahaan tempat lantai pribadi khusus Reno dan staff – staff pilihannya.
“Hey, Little F, masuk sini.” Reno mempersilahkan Fania masuk saat Andrew membawa Fania ke ruangan yang nampak seperti ruang meeting itu.
“Assalamu’alaikum.” Fania mengucapkan salam. “Loh Ibu Peri disini juga?.” Ucap Fania saat melihat Ara juga ada disitu.
“Wa’alaikumsalam.” Sahut Reno dan juga Ara. Fania langsung menghampiri keduanya dan mencium tangan kakak angkat plus kakak ipar angkatnya itu.
“Hi, Kak Nino. Kak Jeff” Sapa Fania pada Nino dan Jeff yang juga ada di ruangan tersebut.
‘Ga konsisten banget si Kajol. Kadang manggil si Nino pake ‘Kak’. Kadang engga.’ Batin Jeff bermonolog mempermasalahkan Fania yang nampak suka – suka hatinya memanggil Nino. “Hi, Jol.”
“Hello, Miss Fania.” Sahut Nino sopan.
“Masih aja kaku, kek sapu ijuk ini orang.”
Ucap Fania setengah menggumam namun terdengar jelas oleh Andrew dan yang lainnya. Membuat mereka akhirnya terkekeh sendiri mendengar gumaman Fania yang rasanya ditujukan untuk Nino.
Mata Fania berhenti seorang pria yang tak ia kenali sepertinya, namun Fania merasa seperti pernah melihatnya di suatu tempat.
__ADS_1
“Little F, kenalkan ini Uncle Keenan.”
Reno memperkenalkan seorang pria yang Fania taksir umurnya sekitar empat puluhan dan nampak gagah dalam balutan jas formal yang pria itu kenakan. Fania mengulurkan tangannya untuk berjabat.
Pria yang dipanggil Uncle Keenan oleh Reno itu berdiri dan menyambut baik uluran tangan Fania. “Nice to meet you, Fania ( Senang bertemu dengan kamu, Fania ).”
“Nice to meet you too, Sir ( Senang bertemu dengan anda juga, Tuan ).”
“Uncle Keenan, my Dear ( Uncle Keenan, Sayangku ).”
“He was right, Heart. Just call him Uncle Keenan ( Dia benar, Sayang. Panggil saja dia Uncle Keenan ). Come, sit here ( Sini, duduk sini ).”
Andrew mendukung ucapan pria yang dipanggil Uncle Keenan itu dan meminta Fania untuk duduk ditempat yang ia tunjukkan, tepat disebelah dirinya.
“Kalian para pria menikah di Keluarga Smith memang pria – pria yang beruntung bisa memiliki wanita – wanita cantik nan mempesona sebagai pasangan hidup kalian.”
Uncle Keenan memberikan pujian yang dimaksudkan Pada Reno dan Andrew juga pada Ara dan Fania.
‘Gue kira wong londo beneran,’ Batin Fania bermonolog yang tidak menyangka kalau ternyata Uncle Keenan bisa berbahasa Indonesia. Atau memang dia seperti dua J yang bule KW super itu?.
“You are totally right, Uncle ( Kau benar sekali, Uncle ). We are very lucky men ( Kami memang laki – laki yang beruntung ).” Ucap Reno. Sementara Ara dan Fania hanya tersenyum.
Meski Uncle Keenan dirasa sangat bersahabat, namun Fania masih merasa sedikit canggung karena sepertinya baru kali ini ia bertemu dengan pria itu. Meski wajahnya dirasa Familiar oleh Fania.
“Uncle Keenan datang saat resepsi lo dan Andrew disini, Little F. Lupa memang?.”
Reno yang sadar Fania sedikit canggung saat ini memberitahukan pada Fania sedikit info tentang Uncle Keenan. Sementara yang lainnya sedang menjadi pendengar yang baik.
“Maaf , Fania lupa Sir, eh Uncle. Tamunya terlalu banyak sih. Sampe pusing aku juga waktu resepsi disini.” Ucap Fania dan lainnya terkekeh mendengarnya.
Nino yang tadinya hanya paham Bahasa Indonesia baku pun sedikit banyak sudah mulai memahami ucapan Fania yang Bahasa Indonesia suka campur – campur itu. Dengan catatan, Fania berbicara biasa ga merepet.
“Little F, Uncle Keenan ini teman baik Dad. Salah satunya. Dia seorang pengacara. Pengacara keluarga kita, juga kadang diminta bantuannya pada Perusahaan.” Ucap Reno pada Fania dan yang lain membiarkannya bicara, termasuk Fania yang memperhatikan kakak gantengnya.
Nino memberikan sebuah map yang nampaknya berisi berkas – berkas pada Reno dan Fania juga memperhatikannya.
“Dan hari ini juga gue meminta bantuan Uncle Keenan untuk mengurus sesuatu hal yang berhubungan dengan lo” Reno kembali berbicara.
“Berhubungan dengan gue?.” Fania sedikit heran.
“Iya Little F.” Sahut Reno.
“Soal?.”
“Status lo.”
“Status gue?.” Fania semakin tidak mengerti dan ia menoleh pada Andrew yang memberikan isyarat agar Fania tetap mendengarkan Reno. “Maksudnya status gue?.”
“Status lo, sebagai adik angkat gue.” Wajah Reno mulai nampak serius.
“Kenapa emangnya Kak?. Ada masalah soal itu?.” Tanya Fania yang masih gagal paham.
“Ada.” Sahut Reno dan Fania mengernyitkan dahinya. “Itulah kenapa gue meminta Uncle Keenan datang kesini supaya kita bisa segera menyelesaikannya.”
“Tunggu deh Kak, gue ga paham beneran. Lo udah menganggap gue adik lo selama ini. Trus hubungannya dengan Uncle Keenan sebagai pengacara?.”
“Karena gue ingin secepatnya mengesahkan status lo sebagai adik gue secara hukum.”
“Gue rasa itu ga perlu deh Kak. Hubungan kita sebagai kakak ade ya memang begitu adanya kan?. Ngapain segala pake acara disahkan gitu sih?.”
“Harus. Harus gue sahkan secara hukum.”
“Kenapa?. Ada hal yang lo takutkan?.”
“Kenapa bertanya dengan pandangan dan nada suara seperti itu ke gue?.” Reno nampak menangkap sesuatu dari pandangan mata Fania padanya saat kalimat pertanyaan barusan terlontar dari mulut Fania.
“Hanya memastikan, Kak.” Sahut Fania datar sambil menatap lekat pada Reno dari tempatnya sekarang.
“Soal?.” Tanya Reno pada adik angkat kesayangannya yang menyiratkan kalau Fania sedang mencurigainya.
“Soal lo yang menggunakan gue untuk merebut hak orang lain.”
***
To be continue ..
Mohon maaf masih update satu episode yah bisanya, saat ini. Insya Allah besok sangat - sangat diusahakan bisa up dua episode.
Tetep dukung Author yaaa.
Sekalian Author mau ngucapin Marhaban Ya Ramadhan . Selamat menjalankan ibadah puasa untuk semua reader yang menjalankannya.
Terima kasih untuk kalian yang masih setia.
Loph Loph selalu dari Author receh ini
💗💗💗💗
__ADS_1