
Selamat membaca......
***********************
Ciiittttt...
Fania yang tiba – tiba minta Reno untuk menghentikan mobilnya, membuat Reno menginjak rem dengan mendadak. Namun untung saja Reno adalah pengemudi yang cekatan. Jadi meskipun refleksnya cepat saat menginjak rem, tapi kontrol Reno dibalik kemudi dirasa sangat halus saat ia menginjak rem dengan cepat dan mendadak.
Untungnya lagi sih, saat itu Reno juga mengemudi dengan kecepatan yang sedang dan santai karena sudah berada dalam komplek perumahan elite yang memang selalu lengang.
“Fania, kenapa ngagetin gitu sih?.” Ucap Ara.
“Tau nih, biasa aja kenapa kalo minta berhenti. Untung aja ini jalanan lagi kosong.” Timpal Reno. Fania yang merasa sebagai tersangka itu hanya nyengir – nyengir kuda.
“Iya maapkeun.” Ucap Fania cengengesan.
“Kamu mau beli apa Fan?.” Tanya Ara karena mobil Reno memang berhenti di dekat Pujasera komplek tersebut.
“Mau makan bakso?.” Tanya Reno juga.
“Ih, tadi kan kita udah makan juga di rumah. Engga itu gue mau ke lapangan dulu. Nostalgila!.” Ucap Fania yang langsung keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju lapangan basket tersebut.
Ara dan Reno bertatapan saling lempar senyum melihat Fania yang ga sabar untuk memasuki lapangan basket tersebut.
“Sekalian aja kita tunggu mereka disini, gimana Hon?.” Tanya Ara pada Reno.
“Iya udah aku telpon si John biar ajak Andrew langsung kesini aja.” Jawab Reno pada Ara. “Yuk.”
Reno mengajak Ara untuk keluar dari mobil dan mengikuti Fania, sambil Reno mencoba menghubungi John
agar datang langsung ke lapangan basket yang berada di dalam lingkungan tempat tinggal mereka itu saja.
“Aku beli minuman dulu deh kalau gitu ya, Hon?.” Ucap Ara yang berbelok akan masuk ke Pujasera dan Reno bergegas menyusul Fania yang sudah berada dalam lapangan basket, setelah melihat Ara sudah berhenti di salah satu kios minuman.
“Ok, Babe.” Reno menyahuti Ara dan menyusul si Little F nya.
“Kak, sini buruan.” Fania memanggil Reno sambil mengkode dengan tangannya dengan wajah yang sumringah.
Fania sudah memegang bola basket yang dia lihat tergeletak di salah satu sudut lapangan lalu kemudian dia ambil. Sambil coba mendribble bola basket tersebut ia menunggu Reno menghampirinya.
“Emang udah jago maen basket?.” Ucap Reno pada Fania dari pinggir lapangan basket.
“Loh Kak Ara mana?.” Tanya Fania yang menghentikan aksi dribble nya yang asal karena tidak melihat Ara.
“Tuh lagi beli minuman disana.” Reno menunjuk ke tempat Ara sedang bertransaksi dengan pedagang minuman.
__ADS_1
Dan Fania hanya ber OH ria kemudian mendekati Reno.
“ Ayo Kak kita maen basket. Mengenang masa lalu.” Ucap Fania sambil cengengesan.
“Malas ah, panas. Nanti gue hitam. Bisa berkurang nanti kegantengan gue” Sahut Reno.
“Ah ga asik ni. Ayo dong nombok dong.” Fania berjalan kembali ke arah lapangan dan berbalik lagi menghadap Reno yang masih berdiri di tempatnya. “Ayo kak, masukkan bola ke dalam keranjang, dong nombok dong, nombok dong.”. Ucap Fania lagi sambil menirukan satu baris lagu milik salah satu Rapper Indonesia yang sempat ngehits pada masanya.
Reno hanya geleng-geleng sambil terkekeh melihat kelakuan si Fania yang ngerap dan goyang-goyang ga jelas di tengah lapangan.
‘Kenapa juga bisa sayang ama dia?’. Batin Reno saat melihat kelakuan adek angkatnya yang suka lupa sama urat malu.
Tak lama Ara pun datang membawa tiga minuman berbeda rasa yang dikemas dalam gelas plastik kekinian
dan ia pun kini berdiri berdampingan dengan suaminya.
“Nih Hon, mau yang mana?.” Tanya Ara menyodorkan tiga jenis minuman pada suaminya.
“Aku yang mana aja, Babe.” Jawab Reno.
Lalu Ara membuka plastik sedotan dan menancapkan pada salah satu minuman tersebut kemudian memberikan pada suaminya.
“Ini Hon. Oh iya kamu udah telpon John suruh dia datang langsung kesini aja?.” Tanya Ara pada suami tampannya itu.
“Aku ga sabar liat muka mereka berdua pas ketemu.” Ucap Ara lagi sambil senyam senyum yang membayangkan
bakal ada adegan drakor kayaknya antara Fania dan Andrew.
“Fan, minum nih.” Ucap Ara sedikit kencang pada Fania yang asik mendribble lalu coba memasukkan bola basket ke dalam ring tapi ga masuk – masuk.
“ Iya Kak Ara, nanti aja.” Sahut Fania yang kayaknya lagi asik banget.
Reno pun akhirnya menghampiri Fania ke tengah lapangan. “Udah bertahun-tahun tetep aja ga bisa main basket. Payah.”
“Dih, orang gue baru ini lagi megang bola basket namanya juga. Wajarlah.” Sahut Fania pada sindiran Reno.
“Ah kebiasaan dari dulu bisanya ngeles aja.” Sindir Reno lagi.
“Ini aja ringnya yang ketinggian.” Sahut Fania ngeles lagi.
“Elo aja yang pendek.” Tambah Reno.
“Ih suka sembarangan, gue udah tinggi tau sekarang.” Sahut Fania ga mau kalah dengan gaya centil nya.
“Buktinya ga nyampe masukin bola ke ring.”
__ADS_1
“Justru itu. Nih gue rasa ringnya di tinggiin lagi deh”
“Dasar.” Ucap Reno untuk menghentikan debatnya dengan Fania.
“Eh Kak, tau ga?.” Tanya Fania.
“Engga.” Reno langsung menyambar ucapan Fania.
“Ish. Nih dulu ya, pas lo udah cus tuh ke London, gue ama si Donald sering banget maen basket disini!" Cerita Fania dan dia berdiri menghadap Reno sambil memegang bola basket dengan kedua tangannya.
“Trus gue harus bilang Wow, gitu?.” Ucap Reno sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Ih Kak Reno mah. Trus, ya karna dia sebel ngeliat gue ga becus masukin bola ke dalem ring jadi dia suka gendong gue tuh biar sukses masukin bola ke ring. Ga tega katanya liat kurcaci ga bisa-bisa masukin bola. Kan lemes banget mulutnya itu orang. Donald Bebek namanya juga. Haha ....” Cerocos Fania.
Reno hanya senyam-senyum mendengarkan cerocosan Fania.
“Awas nanti orangnya denger.” Ucap Reno
“Bodo.” Sahut Fania. “Nah sekarang lo aja yang gendong gue buat masukin ini bola ke ring, gimana?. Senengin lah hati adikmu yang cantik ini.”
“Ya sudah coba” Reno menyahuti ucapan Fania.
“ Coba apaan, gendong?.”
“Coba aja dribble dulu sama shoot sekali.”
“Kalo tetep ga masuk gendong loh ya”
“Ya udah coba.” Ucap Reno lagi.
Fania mulai mendribble bola basket yang dari tadi dia pegang saat dirinya bicara dengan Reno. Lalu memposisikan tubuhnya untuk menembak bola ke dalam ring.
Fania sedikit berjinjit dan dia bersiap loncat untuk menembakkan bola ke dalam ring yang sudah di keker sebelumnya.
Dan ....
Syuuuuut..
Tiba - tiba tubuh Fania yang ramping itu pun terangkat. Membuat gadis itu tertawa karena ga mengira kalau Reno langsung mengangkat tubuhnya sehingga akhirnya sukses memasukkan bola ke dalam ring.
***
To be continue..
Udah Klik Tanda Love Beyom?
__ADS_1