
♦EVERYTHING’S GONNA BE ALRIGHT ♦Semua Akan Baik – Baik Saja♦
💗
Selamat membaca...
“Take me! (Ambil aku!) Take me God, just take me! (Ambil aku Tuhan, ambil saja aku!).”
“Heart ....”
“Take Me! But Not My Baby! ... (Ambil Aku! Tapi Jangan Bayiku!).”
“Heart!.”
“JANGAN!.”
“HEART!, For God Sake! (SAYANG!, Demi Tuhan!).”
“Jangan. Hhh....”
“Heart, Hey, look at me (Sayang, Hei, lihat aku).”
“D, bayi, bayi kita?.”
Nafas Fania tersengal, keringat dingin sudah bercucuran didahinya. Andrew menghapusnya dan langsung menghadapkan wajah Fania padanya.
“Bayi kita, bayi kita D.”
Fania menunduk dan menatap langsung ke perutnya. Mengusapnya pelan, lalu terisak melihat perutnya yang buncit itu.
“Kamu mimpi buruk. Heart?.”
Andrew menatap Fania dengan khawatir, berpikir seburuk apa mimpi yang istrinya itu alami sampai membuat wajahnya amat sangat pucat seperti tak ada darah yang mengalir ditubuhnya.
Fania mengangguk sambil memandang kosong dan memegangi perutnya dengan nafas yang masih setengah tersengal.
“Minum dulu.”
Andrew membantu Fania untuk meminum air dari gelas yang sudah diambilnya dan Fania pun langsung meminum habis dengan tergesa.
“Hey, slowly Heart (Hey, pelan – pelan Sayang).”
Fania menghela nafas panjang setelah menenggak habis air didalam gelas dan Andrew meletakkan kembali ke atas nakas dengan cepat lalu kembali lagi beralih pada Fania dan menghadapkan wajah istrinya itu lagi padanya.
Menghapus sisa – sisa keringat didahi, dan sisa air mata Fania yang tadi mengalir deras. “Heart ...”
“D..... aku takut...”
“Tenang Heart, aku disini.”
Andrew mendekap Fania dan mengecupi pucuk kepalanya. Membiarkan Fania sebentar bersandar didada bidangnya, karena sepertinya istrinya itu masih sedikit gelisah.
“D ....” Ucap Fania lirih.
“Iya, Heart?.” Sahut Andrew sambil menangkup wajah Fania agar menatapnya.
“Jangan ambil bayi aku. Jangan ambil dia dari aku .....”
“Hey, kamu hanya bermimpi Sayang. Bayi kita masih disini. Lihat?.” Ucap Andrew sambil tersenyum dan memegang tangan Fania yang belum pindah dari perutnya. “Tenang ya?.”
Fania terdiam lalu menunduk memandangi lagi perutnya. Mengelus dengan sedikit sedih yang masih tersisa.
“Jangan apa – apakan dia ya D?.”
“Heart, kamu hanya bermimpi Sayang. Jangan terlalu dipikirkan, hem?.”
Membawa Fania kembali dalam dekapannya.
“Janji ya D, jangan apa – apakan dia? ....” Ucap Fania pelan. “Jangan lakukan hal yang buruk pada bayi kita.”
Andrew kembali lagi membuat Fania menatapnya. “Aku akan mengusahakan segala hal yang terbaik untuk kamu dan bayi kita, Heart. Kamu yang tenang ya?.” Fania mengangguk dan Andrew membawa Fania kembali untuk berbaring, sambil tak lepas mendekap istrinya itu.
***
*Yang deg – deg ser di episode sebelumnya coba ngacung bareng – bareng. Wkwkwkwk*
***
Pagi hari, setelah mimpi buruk yang dialami Fania semalam, membuat wanita itu merasa tidak tenang. Kepalanya terasa sedikit pusing dan ia enggan beranjak dari ranjangnya.
Semalam pun rasanya Fania sulit untuk memejamkan matanya lagi, karena mimpinya yang terasa nyata. Takut, kalau seandainya ia terlelap dan mimpi itu terulang lagi.
Namun Andrew setia dan sabar menemaninya, pun ikut tetap membuka matanya, tanpa sedikit pun merasa
terbebani.
“Heart, apa kepala kamu masih terasa sakit?.”
“Sedikit.”
__ADS_1
“Aku akan meminta Theresa membuatkan kamu susu dulu ya?.” Ucap Andrew. “Kamu sepertinya jarang minum susu kehamilan kamu.
“Aku maunya susu buatan kamu, D.”
“Jadi itu alasan kamu jarang minum susu kamu, hem?.” Ucap Andrew sembari tersenyum dan Fania mengangguk. “Memang beda rasanya kalau aku yang buat?. Sama aja kan, aku membuat sesuai instruksi dalam kotak.” Sambungnya.
Fania mengendikkan bahunya manja.
“Ga tau, beda aja kayaknya rasa itu susu kalau kamu yang buat. Lebih enak.”
“Mungkin karena aku membuatnya dengan cinta?.”
Fania tersenyum.
“Mungkin.”
“Ga apa – apa kalau aku tinggal sebentar ke bawah?.” Ucap Andrew yang melonggarkan pelukannya.
“Ga apa – apa.”
“Ya sudah, aku tinggal sebentar ya.” Ucap Andrew yang bergegas berdiri setelah mencium pipi Fania dan Fania
mengangguk.
****
“Morning (Pagi) Kak Andrew. “
“Morning Chel.” Sahut Andrew yang berpapasan dengan Michelle di tangga.
“Loh Kak Fania mana?.”
“Di kamar. Sedikit kurang enak badan.” Ucap Andrew. “Bisa tolong temani dia sebentar, Chel?. Gue mau membuatkan susu dulu untuk dia.”
“Ga usah Kak Andrew bilang juga aku mau menghampiri Kak Fania sekarang.”
Andrew tersenyum pada adik kandungnya itu yang memang menyayangi Fania seperti keluarga mereka yang lainnya.
“Makasih Chel.”
“Ck!. Orang Kak Fania kakak aku si, ngapain juga berterima kasih.” Ucap Michelle. “Udah sana buatin susu dulu untuk istrinya. Sarapannya juga sekalian.”
“Okay!.”
****
“Eh, Chel?.”
Fania mengangkat dirinya yang tadi masih mager berbaring di ranjangnya saat Michelle datang kekamarnya dan Andrew.
“Eh, Kak Fania berbaring aja sih.” Ucap Michelle yang buru – buru berjalan ke arah Fania untuk mencegah Kakak
iparnya itu bangun dari ranjangnya.
“Ga apa – apa, Chel. Udah pegel juga tiduran terus.”
“Kak Fania sakit?.”
“Engga sih, Cuma agak pusing aja.”
“Apa ada yang sedang mengganggu pikiran Kak Fania?.”
“Sedikit.”
“Would you like to share? (Apa kakak mau berbagi?).”
“Hanya mimpi buruk semalem, Chel. Kepikiran itu aja sih, jadi sedikit takut.”
“Itu kan hanya mimpi, Kak. Jangan terlalu dipikirkan, nanti malah stress, kasihan kan calon ponakan aku ini.”
Ucap Michelle sambil mengelus perut Fania dan membuat kakak iparnya itu tersenyum.
“Makasih ya Chel.”
“Makasih untuk apa coba?.”
“Makasih udah perhatian adik iparku sayang.”
“Ah, kak Fania nih. Suka basa basi.” Ucap Michelle dan mereka berdua terkekeh. “Pokoknya Kak Fania jangan terlalu banyak pikiran yang buruk. Jangan hanya karena sebuah mimpi, Kak Fania malah lupa jaga kesehatan.”
“Gue Cuma takut terjadi apa – apa sama bayi gue, Chel. Itu aja sih.”
“Ga akan terjadi apa – apa Kak, selama Kak Fania terus berdoa dan berpikir positif.” Ucap Michelle. “Everything’s
Gonna Be Alright (Semua akan baik – baik saja).” Sambungnya. “Terlebih Kak Andrew sangat mencintai Kak Fania, dan pastinya sangat menantikan kelahiran bayinya ini, seperti kami semua. And of course my very rare sister in law has to be healthy as the baby also (Dan sudah pasti kakak iparku yang unik ini juga harus sehat seperti bayinya). ”
Fania tersenyum pada Michelle yang bergegas berdiri.
“Iya. Makasih ya Chel.”
__ADS_1
Tak lama kemudian Andrew masuk dengan membawa nampan berkaki ditangannya yang berisi susu dan sarapan untuk dirinya dan Fania.
“Your milk, my Queen (Susu anda, Ratuku).” Ucap Andrew sembari tersenyum dan mendekati Fania beserta nampan ditangannya. “And your breakfast (Dan sarapanmu juga).”
Fania setengah terkekeh melihat sikap Andrew yang sedikit jenaka dimatanya, karena memberikan bow layaknya pelayan saat sudah meletakkan nampan diatas paha Fania.
“Ya sudah, aku tinggal ke bawah ya. Sehat – sehat ya Kak Fania. Jagain itu ponakan aku.” Ucap Michelle sambil
berjalan keluar dari kamar Andrew dan Fania.
“Thanks ya Chel!.” Ucap Andrew dan Fania berbarengan.
“Suami istri yang kompak.” Ucap Michelle lagi. Lalu mereka pun terkekeh dan Michelle keluar dari kamar
tersebut.
****
“You barely make me unable to move, Heart (Kamu hampir membuatku tidak bisa bergerak, Sayang).” Ucap Andrew pada Fania yang tak lepas memeluknya setelah menghabiskan susu dan sarapan mereka.
“Jadi kamu ga suka aku peluk?.”
Andrew terkekeh.
“Bukan begitu, aku suka, saaangaatt suka!. Bumil sedang manja ya, hem?.” Gantian Andrew yang memeluk Fania.
“Ga boleh?.”
“Boleh dong. Sangat boleh. Malah bahagia aku kalau kamu manja begini, itu kan tandanya kamu ga mau jauh – jauh dari aku, iya kan?.” Ucap Andrew mesra dan Fania mengangguk.
“Maaf ya D, gara – gara aku kamu jadi ga ngantor deh.”
“Ga masalah. Aku kan Boss.” Ucap Andrew lalu ia menangkup wajah Fania. “No more thinking about your bad dream last night, okay? (Jangan lagi memikirkan soal mimpi buruk kamu semalam lagi, oke?).” Ucapnya lagi. “Aku akan selalu melakukan semua yang terbaik, baik untuk kamu ataupun bayi kita. Aku tidak akan memilih, karena aku akan memastikan segala hal berjalan sebaik - baiknya untuk tidak membuat satu pilihan antara kamu atau bayi kita.
Tidak akan ada yang dikorbankan, baik bayi kita ataupun kamu terlebih lagi, mengerti?.”
Fania mengangguk.
“Everything’s gonna be alright, Heart. Trust me, hem? (Semua akan baik – baik saja, Sayang. Percaya padaku, hem?).” Ucap Andrew.
“Makasih ya, D.” Ucap Fania yang memeluk lalu mencium bibir Andrew.
“Haish!.”
“Kenapa?. Apa pelukan aku terlalu erat lagi?.”
“Kamu memancing aku, Heart. Aku frustasi nih, karena kamu sedang sakit sekarang.”
“Siapa yang sakit sih?. Orang aku Cuma pusing aja.”
“Jadi boleh? Kebetulan aku haus.”
“Boleh apa?. Haus ya minumlah!.”
“Pura – pura ga paham ini Nyonya Andrew. Aku haus, tapi mau minum susu langsung dari pabrik susu terbaik di
dunia.”
Fania tergelak. Paham maksud Andrew yang melirik ke area dadanya yang memang makin terlihat montok.
“Kamu nih, pagi – pagi otaknya udah kesitu aja.”
“Yah, habis punya istri terlalu seksi, sekarang makin seksi dengan perut yang sudah membesar.”
“Halah gombal!.” Celetuk Fania. “Dah ah aku mau mandi.”
“Aku temani.”
“Ga usah. Sebentar doang juga aku.”
“Aku kan suami siaga, Heart. Jadi aku harus memastikan kamu baik – baik saja saat mandi. Okay?.” Mode modus Bapak Bebek on, sambil mengekori Fania yang berjalan ke arah kamar mandi mereka.
“Everything’s gonna be alright, D (Semua akan baik – baik aja, D).” Ucap Fania. “Kalo aku mandi sendiri.” Sambung
Fania yang langsung menutup pintu kamar mandi dengan cepat lalu menguncinya sebelum Andrew sempat masuk.
“Heart, please.....” Andrew berusaha merajuk sambil mengetok agar Fania membukakan pintu kamar mandi. “Haish! Aku yang ga alright nih!.”
Ucap Andrew sedikit kencang, karena terdengar suara air yang sudah mengucur dari shower. Dan ia menatap iba pada adik bebeknya dibawah sana.
“Bodo!.”
****
To be continue.....
*** Ritual Jempol Jangan Lupa Ya My Bebi Bala - Bala semua. Komennya juga ditunggu\, mayan biar Author ada bacaan. Wkwkwk. Kalo Vote bebas dah yak . Yang penting Readernya BSS pada bahagia ***
Loph Loph
__ADS_1