
♣ HEART THINGS ♣ Soal Hati ♣
******
Selamat membaca......
Disuatu belahan bumi ...
‘Priwitaaaannnn .... lo ga mau mampir sini?. Babang John kaga jadi kawin. Wkwkwk ....’
Pesan dari Fania yang masuk dalam aplikasi pesan dalam ponsel Prita, membuat gadis itu terkekeh.
‘Maksud loh?.’
‘Iya kali mao menghibur hati yang syedih.’
‘Lo pikir gue boneka mampang?.’
‘Ngahahahahaha .... Iye kali mau minjemin bahu lo buat bersandar. Asik asik jos.’
‘Sabodo amat!. Urusan die. Mau patah hati kek, mau bunuh diri kek, udeh kaga ada urusan sama gue!.’
‘Wa elah sewot amad neng. Iye udeh mending lo fokus aje di akademi Gymnastic lo. Kaga usah mikirin laki, apelagi om – om atu noh. Wkwkwkwk. Cari yang krenyes – krenyes jangan yang udeh hampir alot. Kebanting ama lo. Cekakak.’
Prita terkekeh geli membaca pesan dari kakaknya yang gesrek itu.
‘Au amatan.’ Balas Prita lagi.
‘Wkwkwkwkwk. Ya udeh bae – bae ye ade kuh sayang. Ntar kalo ada bahan gibahan gue WA lagi.’
“Heran gue sih, cowok sekeren Kak Andrew bisa cinta ama cewe model kakak gue yang gesrek begini.”
Prita geleng – geleng setelah selesai berbalas pesan dalam aplikasi dengan sang kakak.
‘Sayangnya gue udah terlanjur mundur, meski sekarang lo udah ga lagi sama dia kak....’
**
London ....
Fania dan Andrew serta Andrea sedang menginap di Mansion Adjieran Smith. Jadwal mingguan mereka yang selang – seling berpindah tinggal. Seperti halnya dengan Reno, Ara dan juga Varen. Minggu ini mereka berkumpul semua di Mansion mewah nan megah itu. Minus mama Anye karena dia sedang berada di Indonesia saat ini.
John pun sudah kembali tinggal di Mansion. Pria yang sedang mengobati luka akibat patah hatinya itu memilih untuk tinggal dan berkumpul bersama keluarganya daripada terpuruk sendirian meratapi nasib ditinggal calon tunangan di Penthouse nya.
Andrew sedang bersiap – siap untuk berangkat ke kantor. “D, hari ini Andrea imunisasi.” Ucap Fania sambil membantu memasangkan dasi Andrew.
Andrew menepak keningnya.
“Ah, I forget about that. (Aku lupa soal itu). Aku pikir besok, Heart.” Ucap Andrew.
Fania terkekeh. “Ckckck. Pengusaha hebat, tapi pelupa.” Ucapnya.
“Very sorry Momma. (Mohon maaf Momma).” Sahut Andrew sambil menangkup wajah Fania. “Aku akan minta Jeff saja yang mewakili aku untuk meeting di Manchester.”
“Ah ga usah sih. Bukannya meeting itu penting? Kan katanya meeting perwakilan cabang?. Berarti kehadiran kamu disana pentinglah.”
“Tidak ada yang lebih penting dari kamu dan Andrea.”
“Udah aku bisa kok pergi sendiri, Cuma imunisasi doang. Habis itu aku langsung pulang.”
“Oh jangan, aku ga tenang kalau kamu pergi sendiri.”
“Ya kan aku diantar supir juga. Ada Ben, kan?. Kamu sudah harus bisa melepaskan kekhawatiran kamu yang berlebihan itu, D.”
“Sayangnya masih belum bisa, Heart.” Sahut Andrew yang kemudian membawa Fania dalam pelukannya. “Aku akan mengantarkan kamu dan Andrea.”
“Jangan D. Ini kan meeting penting. Kamu sama Kak Reno kan harus hadir. Udahlah aku ga apa – apa kok. Kan ada siapa tuh yang suka ngawal juga yang gantiin Ezra sementara waktu ini.”
“Daniyal.”
“Iya dia.” Ucap Fania. ‘Jadi kangen Alex.’
Andrew menggeleng. “Aku hanya tenang kalau ada keluarga kita yang ikut menemani kamu. Sementara Dad sama Mom kan sedang ga ada disini. Ara in her Boutique. (Ara sedang di butiknya).”
Fania nampak berpikir, sedang mencari jalan keluar. Dia tak ingin Andrew terlalu sering mengorbankan urusan Perusahaan hanya untuk hal – hal kecil seperti ini. Karena yang Fania pikir urusan pekerjaan Andrew saat ini ada urusan Perusahaan Smith yang notabene adalah Perusahaan Keluarga yang harus dikelola sebaik – baiknya demi hajat hidup orang banyak, oleh Andrew dan Reno dibantu oleh orang – orang kepercayaan mereka yang juga adalah keluarga seperti dua J dan Nino.
“Aku sama Kak John aja deh. Daripada dia gila gara – gara si Aila. Mending dia ikut aku tebar pesona di rumah sakit.”
__ADS_1
Andrew terkekeh. “Aku bisa switch sama John. Biar dia sama Jeff dan R ke Manchester.” Ucapnya.
“Ga usah. Kamu urus urusan Perusahaan Smith aja. Aku biar sama Kak John ke rumah sakit buat imunisasi Andrea.”
“Yakin ga apa – apa kalau aku ga anter, hem?.”
“Iya ga apa – apa.”
“Ya sudah. Ayo kita turun sarapan, sekalian bilang sama John untuk mengantar kamu ke rumah sakit.”
“Yuk.” Sahut Fania dan langsung meraih Andrea dari dalam box bayinya.
**
Fania ditemani John ke Rumah Sakit. Pria itu dengan senang hati mengantar Fania untuk imunisasi Andrea.
“Sini Andrea gue yang gendong, Jol.” John menawarkan.
“Cie Babang John latihan nih ye.”
“Latihan apaan sih?.” Sahut John atas ledekan Fania.
“Latihan jadi bapak, apelagi.”
Fania memberikan Andrea pada John yang sempat berdecak sebal. “Lo nyindir?.” Sahut John lagi.
Fania terkekeh lagi.
“Oh iya gue lupa. Ada yang abis di hempas.” Ledek Fania pada John. Yang kadang membuat John tak habis pikir sama istrinya si Donald Bebek ini. Saat tau kalau John sedang terpuruk karena jalinan kasihnya diputuskan secara sepihak oleh wanita yang bernama Aila itu, Fania yang paling sering memberikan dukungan semangat padanya.
Tapi sekarang, itu perempuan satu juga yang paling berani nyindir dia soal masalahnya dengan sang mantan. Meski kadang sebal, namun John hanya bisa pasrah. Toh biar usil mulutnya, tapi Fania yang paling sabar mendengarkan setiap keluh kesahnya dan menghiburnya.
“Mulai....”
Fania terkekeh lagi.
“Iya iya. Ga usah sewot Abang John. Semangka ....”
“Udah ayo.”
“Eh Ka ..”
“Tuh ....”
Fania menunjuk ke satu arah saat mereka sudah berada di dalam Rumah Sakit. John pun langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Fania dengan kepalanya.
“Damned.” John mengumpat pelan saat pandangannya menangkap sosok seseorang yang sudah menghancurkan hati dan mimpinya.
“Sabar Kak.” Fania mengelus punggung John. “Yuk.”
Fania paham yang dirasakan John saat ini. Ia langsung mengajak John kembali berjalan saat melihat Aila sedang bersama seorang pria di kursi roda, dan nampak berinteraksi dengan mesra.
“John....”
John menghiraukan Aila yang memanggilnya saat mereka berpapasan. Fania pun diam hanya melirik saja.
“John, tunggu...” Aila menahan lengan John yang sedang menggendong Andrea. Karena John mengabaikan panggilan wanita itu yang sebelumnya.
“Kak.” Fania mengkode agar John berhenti. “Sini gue yang pegang Andrea.” Fania hendak mengambil Andrea dari buaian John, takut anaknya di remes sama si bule koplak kayaknya karena John nampak sedang menahan genderang dihatinya.
“Ga usah Jol. Biar Andrea tetap sama gue.” Sahut John. “Mau apalagi?.” John berkata dengan datar dan dingin pada Aila tanpa menatap pada wanita itu.
“Maaf sebelumnya.” Ucap Aila, lalu wanita itu menyapa Fania dengan anggukan kepalanya dan Fania membalasnya dengan cara yang sama. “Ini ..”
Aila menyodorkan kotak kayu indah yang sudah bisa ditebak kalau isinya adalah sebuah cincin.
John hanya meliriknya sekilas.
“Kau simpan saja, kau buang pun aku tak perduli.” Ucap John masih dengan datar dan dingin. “Ayo, Jol.” Mengajak Fania untuk kembali berjalan ketempat Judith.
‘Tak perlu kau pulangkan lagi Semua yang telah aku berikan, Biarlah menjadi luka. Berharap pun takkan bisa merubah Kenyataan kau memilih dia’
Fania hanya memperhatikan John yang nampak terlihat tenang, tapi Fania tau kalau hati John pasti sedang menahan perihnya saat ini.
**
John lebih banyak diam setelahnya. Dari mulai saat Andrea diimunisasi hingga kini dia dan Fania juga Andrea yang kembali ia bawa dalam buaian nya. Ben sudah melajukan mobil yang mereka tumpangi.
__ADS_1
Fania tak ingin mengganggu John yang nampak sedang galau berat tapi sok cool itu.
“Kak.” Tapi apa daya mulut si Kajol gatel.
“Hem?.” Sahut John singkat sambil bermain dengan Andrea.
“Udeh jangan terlalu berlarut – larut. Lo harus move on sih. Cewe bukan dia doang.”
John nampak menaikkan satu sudut bibirnya. “Udah ga gue pikirin Jol.” Ucap John sambil masih menggoda Andrea. “I’m okay now.” Ucapnya lagi.
“Eleh, lo ga usah sok bae – bae aja didepan gue Kak. Gue tau hati lo pasti masih sakit, iya kan?.” Ucap Fania memberikan supportnya seperti biasa. “Lo harus bertemu dengan orang yang salah dulu baru nanti akan ketemu
cinta sejati lo, Kak.” Ucapnya lagi perhatian dengan kata – kata bijaknya.
“Thanks Jol.” John tersenyum, menoleh pada Fania. Merasa beruntung dia punya Fania yang sering menyemangatinya dalam keluarga.
“Nih, gue punya lagu yang cocok nih buat lo.” Muka Fania yang ngeselin itu muncul lagi. Sambil memilih satu lagu dalam perangkat musiknya yang langsung terhubung ke audio di mobil yang di supiri oleh Ben.
🎶
Pernah aku jatuh hati, Padamu sepenuh hati
Hidup pun akan kuberi, Apa pun 'kan ku lakui
Tapi tak pernah ku bermimpi, Kau tinggalkan aku pergi
Tanpa tau rasa ini, Ingin rasa ku membenci
Tiba-tiba kamu datang, Saat kau telah dengan dia
S'makin hancur hatiku
Jangan datang lagi cinta, Bagaimana aku bisa lupa?
Padahal kau tau keadaannya, Kau bukanlah untukku
Jangan lagi rindu cinta. Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia, aku tak apa, Biar aku yang pura-pura lupa
🎶
“Emang sialan istrinya si Andrew.” John mendengus sebal pada Fania, tapi kemudian dia terkekeh. “Yang sabar ya
ponakan Uncle John punya Momma yang usilnya setengah mati.” Ucap John yang beralih mengajak bicara Andrea.
“Ahahahaha ....” Fania tergelak geli.
John menggeleng dan tersenyum.
‘Biar aku yang pura – pura lupa, Aila. Dan semoga aku cepat melupakanmu dengan segera.’
***
“Oh iya Jol, si Prita apa kabar?. Udah seminggu gue ga liat dia update status. Chat gue juga udah seminggu hanya
centang satu. Foto profilnya juga ga ada. Ganti nomor dia, saking mau menghindari gue?.” Tanya John saat dia dan Fania sudah sampai di Mansion.
“Lah, bule oon. Itu mah namanya nomor lo udeh di blokir sama si Priwitan.”
“Hah?!.”
“Kaga sadar lo emangnya? Kalo lo itu udeh diblokir dari wa sama sosmednya si Priwitan.”
“Haaahh?!.” John benar – benar tak habis pikir kalau Prita sampai memblok kontaknya.
Double kill buat John. Yang pertama dia diputusin Aila yang sudah hampir dia lamar, dan kini si Prita benar – benar menjauhinya.
“Pendendam banget sih adik lo!.”
“Salah lo sendiri!”
“Haish!. Awas lo ya Priwitan kalo ketemu.”
John menggerutu sebal, saat Fania sudah membawa Andrea dan kembali ke kamarnya. John membuka akun sosmednya. Mencari nama akun Prita dalam kotak pencarian tapi tak muncul. Mengotak - atik selama beberapa waktu tapi tetap nihil.
"Wah beneran ini si Priwitan ngajak ribut."
__ADS_1
**
To be continue...