BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 09


__ADS_3

♦DISTURBING FEELING ♦Perasaan yang Mengganggu♦


*


Selamat membaca ...*




London ...


Fania sudah dibawa Andrew kembali ke London.


Selain liburan musim panas yang sudah berakhir dan Fania harus kembali kuliah, Andrew juga harus menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang tertunda, dari sejak ia tiba – tiba memutuskan kembali dari Paris juga  karena insiden sang istri yang minggat instan itu.


Reno menggelengkan kepalanya saat Fania dan Andrew sudah masuk ke dalam Mansion.


“My Dear, Fania Andrew Smith. Hidup lo ga lengkap apa ya kalau ga bikin orang panik?!.”


Jeff menyambut Fania dengan sindiran.


Sementara yang disindir hanya mengerucutkan bibirnya, lalu menyalami dengan takdzim dua orang tua yang tua beneran. Serta dua orang muda yang Fania tua kan. Emak bapaknya si Varen.


“Udah puas mainnya?.” Ucap Reno menatap si adik angkat itu setengah ketus.


“Iya maap. Lagian siapa suruh pada ribet nyariin sih?.” Sahut Fania tanpa beban.


“Ngomong kayak ga ada dosa.” Sambung Reno lagi. “Kalo lo kenapa – napa gue harus mempertanggung jawabkan sama keluarga cemara!. Belum lagi nanti tuh si Donald Bebek bisa gila kalau lo hilang!.”


Fania menunjukkan barisan giginya pada si kakak ganteng.


“Iya maap.... Oh iya ngomong – ngomong Mama Anye mana?.”


“Sedang ke Jerman, Sweety. Bertemu Dewa dan keluarganya.”


Fania hanya ber Oh ria.


“Varen mana?.”


“Sedang sama Nanny nya.”


“Lita?.”


“Bukan. Nanny baru.” Ucap Reno menanggapi pertanyaan Fania. “Tuh.”


Reno menunjuk ke satu arah dan terlihat Varen yang sedang digendong oleh seorang wanita yang  usianya nampak diatas Fania namun masih dibawah Ara.


“Excuse me, Mrs. Ara I think Varen is thirsty( Permisi, Nyonya Ara, sepertinya Varen haus ).”


Wanita itu tersenyum dan berkata lembut pada Ara. Dan Ara pun mengangguk lalu langsung membawa Varen dalam gendongannya.


“Sweety, ini Merryl. Dia Nanny barunya Varen.” Ucap Ara yang sudah berdiri sambil menggendong Varen. “Merryl this is Mrs. Fania, Mister Andrew’s wife ( Merryl, ini Fania, istrinya Tuan Andrew ).” Ara memperkenalkan Fania pada baby sitternya Varen yang baru itu.


“Hi, Merryl.”


Fania mengulurkan tangannya pada wanita itu.


Wanita itu pun tersenyum dan meraih uluran tangan Fania. “Nice to meet you, Ma’am ( Senang bertemu anda, Nyonya ).”


“Nice to meet you too, Merryl ( Senang bertemu dengan kamu juga ).” Sahut Fania balas tersenyum. ‘Cakep amat ini baby sitter.’ Batinnya.


******


Kalau dibilang ga tau deh apa yang ada diotaknya Fania, rasanya memang benar. Istri Andrew Smith itu kadang punya pemikirannya sendiri, yang berbeda dari pemikiran orang lain.


Entah apa yang ada didalam otak dan hatinya, tapi yang jelas sudah seminggu ini dia memperhatikan baby sitter Varen yang bernama Merryl itu.


‘Ini cewe sih kayaknya bae, tapi kok gue ngerasa kurang sreg ya?.’


“Heart ...” Suara Andrew membuyarkan lamunan Fania.


“Hem?.” Sahut Fania yang nampak sedang memperhatikan Merryl saat dia dan Andrew mengunjungi Varen, Reno dan Ara di kediaman pribadi si kakak ganteng.


Andrew beserta Reno memperhatikan Fania yang pandangannya belum lepas dari Varen, Ara juga baby sitter yang bernama Merryl itu yang kini sedang mengajak Varen bermain di sebuah kolam renang kecil, sedikit jauh dari tempat Fania duduk bersama Andrew dan Reno.

__ADS_1


“Kenapa sih?.” Tanya Reno pada Fania lalu menoleh ke tempat Ara dan Varen berada. “Jangan bilang mikirin soal kehamilan lo yang belum terjadi lagi .....”


“Engga. Bukan itu yang gue pikirin.”


“Jadi?.”


“Itu yang milih baby sitternya Varen siapa?.”


“Ibu Peri. Siapa lagi?.”


“Kenapa harus pake baby sitter sih?. Di Mansion Dad kan banyak yang jagain. Disini juga. Kalau kalian ada urusan kan bisa titip ke gue juga itu si Varen.”


“Kita ga mau ngerepotin teruslah.”


“Alah. Ngerepotin dari mana sih?. Timbang jagain satu bayi gue bisa kali.”


“Kamu kan kadang ada jadwal kuliah, Heart. Ga bisa total punya waktu dengan Varen. Kalau seandainya R dan Ara ada keperluan yang ga bisa membawa itu pangeran kecil, dan kamu juga sedang ada urusan, termasuk semua orang? Gimana?.” Ucap Andrew yang menyela diantara pembicaraan Fania dan Reno.


“Andrew was right, Little F ( Andrew benar, Little F ).” Sahut Reno. “Beside, she’s a good woman ( Lagipula dia wanita yang baik ). Sangat cekatan dan bertanggung jawab menjaga Varen. Dan gue juga sudah menyelidiki latar belakangnya. Lurus - lurus aja.”


“What’s wrong, hem? ( Kenapa sih, hem? ).” Tanya Andrew.


“Nothing ( Ga ada apa – apa ).” Fania menggeleng. “Kak Ara kenapa ngambil baby sitter yang cakep begitu sih?.”


“Don’t tell you’re jealous on her ( Jangan bilang lo cemburu sama dia ). Masih cantik cewe - cewe Keluarga Smith lah.” Celetuk Reno.


“Ayolah, Heart. Kamu jangan lagi berpikir aneh – aneh.” Sahut Andrew. “Aku menatapnya aja engga.”


“Ck! Siapa yang cemburu sih?!.” Cebik Fania.


“Ya siapa tahu?.”


‘Gue Cuma sedikit merasa ga sreg aja.’


***


Sudah dua bulan, tapi sepertinya tidak ada yang salah dengan kelakuan si baby sitter nya Varen dari yang Fania lihat.


Normal – normal aja perasaan sikapnya itu baby sitter. Jadi Fania pada akhirnya mengenyampingkan pikiran buruknya pada baby sitter yang bernama Merryl itu.


“Halo, Assalamu’alaikum kak Ara. Lagi dimana?.”


“.....”


“Yah, gue kira ada di rumah. Udah depan gerbang lagi nih.”


“...”


“Oh, Varen di rumah?.”


“....”


“Ya udah, jangan lama – lama pulangnya Kak. Ntar si Varen jadi anak baby sitter loh. Mendingan kasih gue deh.”


“....”


“Bye Ibu Peri. Assalamu’alaikum.”


“....”


Fania memutuskan panggilannya pada Ara. Menjawab sapaan para penjaga lalu memarkirkan mobilnya di halaman rumah Reno dan Ara.


‘Kak Reno bukannya suka pake ini mobil?. Bukannya harusnya masih di kantor itu orang?.’ Batin Fania bermonolog. ‘Pake mobil yang laen kali. Tapi biasanya ni mobil kalo ga dipake ditaro dalem garasi.’ Masih membatin. ‘Au ah, ntar gue tanya si Nina.’


“Hi, Mrs. Fania ( Hai Nyonya Fania ).” Nina, asisten rumah tangga kepercayaan Reno dan Ara menyambut Fania saat wanita itu masuk kerumah kakak ganteng dan ibu perinya itu.


“Hi, Nina. Where’s Varen? ( Hai Nina, Varen mana? ).”


“I think in his room with his Nanny ( Sepertinya di kamarnya bersama si pengasuh ).”


“I’m going to check Varen then ( Aku liat Varen dulu kalo gitu ).” Ucap Fania pada Nina.


Nina mengangguk sambil tersenyum.


“By the way Nina, why is my brother’s car is outside. Is he home already? ( Ngomong – ngomong Nina, kenapa mobil kakak gue ada di luar. Apa dia udah pulang? ).”

__ADS_1


“Oh yes, Mister R is a little bit unwell. His taking rest in his room, now ( Oh iya, Tuan R sedikit kurang enak badan. Dia sedang beristirahat di kamarnya ).”


“Okay. Thanks.”


***


Fania hendak ke kamar Varen, tapi suara tawa dari kamar sebelahnya membuat Fania urung ke kamar si anak Sultan. Fania melenggang ke arah kamar Reno dan Ara.


Membuka lebar pintu yang setengah terbuka itu. Pemandangan yang membuatnya risih tertangkap matanya.


“Kak?.” Ucap Fania saat memasuki kamar si kakak ganteng.


“Eh, Little F?. Masuk sini. Lo sama siapa?.” Ucap Reno yang menoleh sambil mengajak main Varen diatas ranjangnya dan Ara.


“Sendiri.” Jawab Fania atas pertanyaan Reno tapi matanya menatap sedikit menyelidik pada wanita yang sedang berdiri  didalam kamar si kakak ganteng dan ibu peri.


“Good afternoon Mrs. Fania ( Selamat siang Nyonya Fania ).”


Wanita itu tersenyum menyapa Fania dan Fania hanya menjawab dengan anggukan.


“What are you doing, here, Merryl? ( Ngapain kamu disini, Merryl? ).” Tanya Fania datar pada si pengasuh yang ada di dalam kamar kakak ganteng dan ibu perinya itu. “You are not allowed to be here ( Kamu ga seharusnya ada disini ).”


“It’s okay, Little F, I’m the one who asked her to take Varen here ( Ga apa – apa, Little F, gue yang minta dia bawa Varen kesini ).” Sambar Reno yang masih mengajak Varen bercanda tapi sadar kalau Fania sedang menatap tak suka pada pengasuh putranya itu.


“Tapi dia bisa langsung pergi kan, setelah bawa Varen ke bapaknya. Ngapain juga dia masih disini?.” Fania mulai menatap sinis pada si pengasuh. “Don’t you here what I’m saying Merryl?. You are not allowed to be here ( Lo ga denger yang gue bilang Merryl?. Lo ga sepantasnya ada disini ).” Bukan lagi tatapan, tapi ucapannya sudah mulai sinis juga pada pengasuh Varen itu.


“Sor – sorry, Ma’am ( Ma – maaf, nyonya ).” Ucap pengasuh bernama Merryl itu sedikit terbata, nampak tersenyum namun seperti terpaksa.


“Out now ( Keluar sekarang ).” Ucap Fania.


“Yes, Ma’am.” Ucap Merryl, lalu wanita itu bergegas keluar dari kamar Reno dan Ara.


“Lo ga perlu sekasar itu, Little F.” Ucap Reno. “Lo jangan mikir aneh – aneh.”


“Risih gue liatnya. Kak Ara lagi ga ada di rumah, ngapain itu baby sitter dikamar kalian. Ga tau diri banget!.” Ucap Fania sinis sambil mengangkat Varen dan membawanya dalam gendongan. “Halo my little prince.” Fania beralih pada Varen.


“Jangan gitulah. Lo jangan suka mikir yang ga bagus. Kalo gue mau ngapa – ngapain sama dia, ngapain itu pintu kamar gue buka?.” Sahut Reno. “Lo dari kampus?.”


“Iya. Dari kampus. Untung gue cepet sampe sini.” Ucap Fania ketus pada si kakak ganteng. “Lo pas banget momen sakitnya, saat Kak Ara ga ada di rumah dan Varen ga dibawa sama dia?.”


“Jangan suka Su’udzon. Memang gue dari pagi juga udah merasa a little bi unwell ( sedikit kurang enak badan ), tapi karena ada meeting dan Andrew masih di Italy, jadi mau ga mau gue paksakan ke Perusahaan.” Ucap Reno


panjang lebar.


“Kan bisa lo suruh dia langsung keluar setelah nganter Varen ke kamar lo?.” Ucap Fania sambil membawa Varen keluar dari kamar kakak gantengnya itu.


“Iya, iya gue salah. Galak banget punya adik.” Sahut Reno.


“Ye gue Cuma ngingetin doang!.”


“Iya, iya akan gue inget omelan adik gue yang cetar membahenol ini.” Ucap Reno sambil mengacak – acak rambut Fania. “Lo sudah makan?.”


“Ini baru mau minta makan!.”


Reno terkekeh setelah mendengar ucapan Fania. Lalu pergi ke ruang makan bersama adik angkat kesayangan yang tiada duanya itu.


***


“Die mau ikut makan juga tuh?.” Ucap Fania pada Reno menunjuk Merryl dengan kepalanya, yang terlihat keluar dari dapur dengan membawa semangkuk makanan yang mungkin untuk si anak sultan.


Reno terkekeh.


“Mode julid on.” Celetuk Reno.


“Ya udah lo makan duluan, biar si Varen gue yang suapin.” Ucap Fania.


“Varen udah makan lah.” Sahut Reno.


“Nah itu dia bawa mangkok apaan?.”


“Excuse me Mister R, I made a soup for you. It can help to warm your stomach ( Permisi Tuan Reno, aku membuatkan sup untuk anda. Bisa membantu menghangatkan perut anda ).” Pengasuh Varen itu meletakkan mangkuk yang dibawanya dengan nampan, kemudian disajikan untuk Reno.


‘Ga beres nih baby sitter.’


***

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2