
Selamat membaca...
Fania terus menatap Andrew sejak dirinya merasa kalau Andrew tadi membentaknya. Memperhatikan Andrew yang sedang bicara pada Bi Cici sampai Kepala ART itu pamit pergi dari hadapan mereka berdua. ‘Bisa – bisanya bentak gue.’
Merasa kesal dan tak terima karena dibentak Andrew, Fania hendak berbalik tapi Andrew kembali mengejar dan
mencekal lengan Fania.
Fania menoleh masih dengan mukanya yang menunjukkan kekesalan. “ Lepas.”
Andrew tentu saja menghiraukan ucapan Fania. “ Ganti baju. Setelah itu baru kita bicara.” Ucap Andrew.
“Udah ga mood.” Sahut Fania.
“Berhenti bersikap kekanak – kanakan. Naik, ganti baju. Kalau masih keras kepala, gue gendong sampe kamar. Kalo perlu gue yang gantiin bajunya sekalian.” Ucap Andrew setengah mengancam Fania.
“Terserah.” Sahut Fania dan mencoba melangkah.
Syutt! Andrew meraih perut Fania dan mengangkat gadis itu hingga sampai masuk ke kamarnya, karena memang waktu Fania menginap di rumah Andrew, dia menyuruh Fania agar tidur di kamarnya saja.
“Apa – apaan sih Lo, hah?!.” Ucap Fania kesal saat Andrew menurunkannya di kamar.
“Lo ga denger apa yang tadi gue bilang ke bi Cici. Gue ga suka dibantah.” Ucap Andrew dengan penekanan.
Fania ingin membalas ucapan Andrew tapi gadis itu jadi emosi. “ Mau lo apa jadinya?. “ Ucap Fania seperti menantang Andrew.
“Ga usah teriak bisa?.” Sahut Andrew. “Sini.” Andrew lalu meraih tangan Fania dan mengajaknya duduk di sofa dalam kamar.
Meski kesal Fania mengikutinya lalu duduk bersebelahan dengan Andrew sambil laki – laki itu menghadapnya.
Fania melirik Andrew sebentar saat sudah duduk lalu membuang pandangannya.
“Fan... .” Andrew membelai kepala Fania lembut dan suaranya sudah kembali normal.
Fania terkejut dengan apa yang dilakukan Andrew, tapi dia tetap bergeming sambil mengatur nafasnya karna tadi sempat emosi.
“Lo kenapa sih tiba - tiba begini sama gue, hem?.” Tanya Andrew sambil masih membelai kepala Fania. “Liat gue sini.” Andrew pun menghadapkan wajah dan tubuh Fania padanya.
__ADS_1
Fania mau tak mau menatap Andrew yang wajahnya lumayan dekat dengan wajahnya.
“Lo marah, karna gue ga sempet menghubungi lo saat gue di Italy?.” Tangan Andrew kini meraih telapak tangan
Fania. Membuat gadis itu spontan menoleh kebawah melihat tangan Andrew yang menggenggam tangannya kemudian menatap Andrew.
“Yang bilang gue marah gara – gara itu siapa?.” Akhirnya emosi Fania mereda. “Lo aja yang terlalu sensi.”
Andrew tersenyum tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Fania. “Kalo gue sensi, dari dulu setiap elo ucapkan hal – hal sembarangan ke gue, kita, lo, gue, R, ga akan sedekat ini. Kita berdua terutama. “
“Ya kan emang lo yang mulai dari dulu juga.” Sahut Fania.
“Okay, my mistake then.” Ucap Andrew mengalah. “ Sekarang jawab, lo kenapa berubah sikap sama gue. Hem?.”
Fania terdiam sesaat. “ Gue bisa minta minum dulu ga?. “
Andrew tersenyum sambil geleng – geleng. ‘ Ada aja alasannya. ‘ Batin Andrew. “ Sebentar gue ambilkan.” Ucap Andrew lalu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kulkas kecil yang tersedia di kamarnya. “ Mau minum apa?. “ Tanya Andrew.
“ Apa aja.” Jawab Fania lalu gadis itu beranjak dari duduk untuk sekedar menghirup udara malam. Berusaha menetralkan hati karena wajahnya sempat terlalu berdekatan dengan Andrew. ‘Hati, tolong tenang.’
“Air mineral atau soda?.” Tanya Andrew sambil membawa dua macam minuman.
“Bir.” Sahut Fania asal sambil berdiri memegang sanggahan besi di balkon kamar Andrew.
Fania mencebik lalu mengambil air mineral yang kek ada manis – manisnya gitu dari tangan Andrew.
“ Sekarang jawab, lo kenapa berubah sikap sama gue. Hem?.” Andrew mengulangi pertanyaan yang tadi belum dijawab Fania saat gadis itu menenggak air mineral yang diberikan Andrew.
Fania menarik nafas sejenak setelah menelan air yang ditenggak nya tadi.
“Gue Cuma ga pengen ganggu hubungan lo sama cewe lo, Nald.” Ucap Fania sambil masih memandang langit malam yang terhampar di hadapannya.
Andrew menaikkan satu alisnya. “Cewe gue?. Tau dari mana gue punya cewe?.” Tanya Andrew sedikit terkejut dengan ucapan Fania.
‘ Tuh kan bener yang waktu terima telpon itu cewenya dia.’ Batin Fania lesu.
“Tau darimana gue punya cewe, hem?.” Tanya Andrew lagi.
“Gue pernah telpon lo waktu lo di Italy. Yang terima cewe lo. Gue takut ganggu kalo kita terlalu deket.” Ucap Fania.
‘Astaga, Beatrice. Ga bisa bedakan mana Fania mana Fannya (Vanya).’ Batin Andrew.
__ADS_1
“Mulai sekarang kita bertemen biasa aja ya?.” Ucap Fania setelah menghela nafasnya pelan lalu menoleh pada Andrew kemudian kembali menatap langit malam, seperti sedang menguatkan hatinya sendiri. “Gue ... .”
“ She wasn’t my girlfriend.” Sahut Andrew sebelum Fania meneruskan kata – katanya.
Fania menoleh sebentar lagi pada Andrew.
“Dah la Nald, ga usah ga enak sama gue. Gue ga masalah lo punya cewe. Kalo seandainya pas kita ketemu lagi lo juga udah nikah kayak kak Reno juga ga masalah. Toh kalian punya kehidupan pribadi yang ga mungkin gue ganggu.” Ucap Fania panjang lebar.
“Gue ga punya pacar Fania.” Sahut Andrew atas ucapan panjang Fania barusan.
“Nald, please. Jangan terlalu ga enak sama gue. It’s okay, beneran. Gue Cuma sadar diri aja, kan enam tahun kita ga ketemu. Lo dan kak Reno jalani hidup masing – masing , gue pun sama. “ ucap Fania lagi.
Andrew masih mendengarkan tanpa menginterupsi saat Fania berbicara.
“Gue ga akan mencampuri urusan pribadi lo dan kak Reno. Kalo kak Ara bisa terima gue sampai seperti ini welcome nya, mungkin karena kak Reno sering cerita kan sama dia. Dan untungnya lagi kak Ara itu baik banget, tulus banget. “ ucap Fania lagi yang kembali menatap malam setelah tadi sempat bicara sambil menghadap pada Andrew yang bersandar di pintu penghubung kamar dan balkon.
Andrew masih mendengarkan.
“Nah kalo cewe lo gue kan belom kenalan. Belom tentu dia bisa terima gimana akrabnya gue sama elo. Yang ada ntar gue di bilang gatel. “ Fania masih saja terus bicara.
“Lo sendiri punya pacar?. Makanya bicara begini sama gue?.” Pertanyaan Andrew membuat Fania menoleh padanya lalu gadis itu tertawa kecil.
“Pacar darimana tau.” Sahut Fania.
“Punya ga?.” Tanya Andrew.
“Pacar ga punya. Ga pernah punya. Abang - abangan ganteng ada dua.” Ucap Fania sambil tersenyum tipis dan memandang langit. ‘ Orang gue nungguin lo. Makanya gue hidup sebagai jojoba.’ Batin Fania.
“Yang terima telpon lo waktu gue di Italy itu bukan pacar, tapi sekretaris sekaligus orang kepercayaan gue. Beatrice
namanya. She’s already married and have one child.” Ucap Andrew menjelaskan.
“Yakin lo?.” Ucap Fania yang hatinya sedikit bahagia saat mendengar apa yang dibilang Andrew barusan.
Andrew tersenyum. “ Yakin. Dan gue memang ga punya pacar ... . “ Andrew men jeda omongannya. “Tapi orang yang gue suka, ada.”
Deg. Hati Fania kembali berwarna abu – abu.
“Hh.” Samar samar terdengar Andrew menghela nafas. “ Dan gue rasa gue udah jatuh cinta sama dia.”
‘ Pupus sudah. ‘ Batin Fania merasakan nyeri dihatinya meski ga punya sakit jantung.
__ADS_1
***
To be continue...