
Selamat membaca....
“You know if Fania smoking, R?.” Tanya Andrew pada Reno saat mereka sedang berdiri dan mempersiapkan bahan – bahan untuk acara barbekyu kecil – kecilan mereka bersama dua J.
“Hemm.” Jawab R.
“Lo ga larang dia?.” Tanya Andrew lagi.
“Kenapa harus gue larang?.” Reno balik tanya pada Andrew.
“She must be listened to every single word you say.” Jawab Andrew.
“I’m selfish then.” Sahut Reno. “Kita ini ber empat ini perokok. Even Ara juga perokok. Kalo gue nge larang dia, itu namanya gue egois. Kita egois.”
Andrew terdiam sejenak karena kata – kata Reno. “Ya even you’re right, but still...... masih sedikit ga rela kalau si
Little F jadi perokok juga.”
“Leave it Ndrew. Selama kita ga ada, dia udah jalani hidup yang mungkin ga harusnya dia jalani kalau selama ini kita ada dideket nya. Biarkan dia melakukan apa yang dia suka selama itu masih bisa ditolerir. “ Ucap Reno kemudian memberikan kode pada Andrew melalui matanya karena Ara dan Fania sudah datang membawa minuman, beserta bi Cici di belakang mereka.
Andrew pun coba memahami penjelasan Reno dan memilih untuk tidak lagi membahas soal Fania yang merokok. Karena sudah mendengar suara Fania juga.
“Minuman dataaaang.” Ucap Fania dengan suara yang ceria.
“Minta satu itu Bir.” Ucap Jeff pada Fania menunjuk salah satu kaleng minuman ber akohol.
“Bener kan firasat gue, ini pasti Bir elu yang request.” Celetuk Fania sambil memberikan kaleng minuman yang diminta Jeff.
“Don’t judge me, baby. Tuh si Andrew juga doyan nge bir.” Tunjuk Jeff pada Andrew. “Tuh asisten tuan Reno Alexander apa lagi.” Kini ia menunjuk John.
“So what.” Sahut John.
Fania menatap Andrew dan sedikit memberi sindiran. “ Hemm... suka nge bir larang – larang gue ngerokok lo.”
“Loh yang larang siapa?. Gue hanya nanya perasaan. Lagian ini Bir lah, ga bakal bikin mabuk kalau cuma sekaleng, bir kayak gini sih.” Ucap Andrew yang menanggapi sindiran Fania.
“Ngeles aje kayak bajaj.” Ucap Fania sambil membuka minuman untuk dirinya sendiri. “Sini kak gue yang bakarin itu dagingnya.” Fania lalu menawarkan diri untuk menggantikan John dan Jeff yang sibuk memanggang daging.
“Udah anak manis duduk aja situ ama para Bos dan Nyonya Bos. Barbekyuan gini mah kecil.” Ucap John menyuruh Fania untuk santai aja.
“Ya udah. Gue sih udah nawarin nolong loh ya.” Sahut Fania.
“Biarin aja mereka. Udah di gaji gede biar ada kerjaannya.” Sahut Reno.
Membuat mereka ber enam akhirnya terkekeh bersama. Dan acara Barbekyuan malam itu pun berlanjut dengan suasana gembira, bahagia diselingi obrolan ringan dan candaan.
***
__ADS_1
Drrrrt ...... Drrrrt
Ponsel Jeff berbunyi, lalu ia menerima panggilan tersebut. Setelah beberapa saat wajahnya terlihat serius.
Selang beberapa saat Jeff menyelesaikan panggilan tersebut, lalu bicara pada Andrew.
“Drew, five minutes.” Ucap Jeff untuk mengajak Andrew berbicara ditempat lain. Andrew pun mengangguk dan mereka berdua berjalan menjauh dari Reno, Ara, Fania dan John.
“Sebentar ya gue tinggal dulu.” Pamit Andrew pada ke empat orang tersebut.
Andrew mengajak Jeff untuk bicara ke dalam rumah, karena sepertinya kalau dilihat dari raut wajah Jeff ada hal yang serius untuk dibicarakan berdua dengannya.
*****
“Kayaknya besok kita udah harus terbang ke Italy, Ndrew.”. Ucap Jeff pada Andrew setelah Jeff menjelaskan permasalahan yang diinfokan kepadanya melalui telepon tadi.
Andrew menghela nafas kasar sambil mensedekapkan kedua tangan di dadanya dan bersandar di salah satu meja pajangan di ruang keluarga sambil menatap ke arah lantai.
“Gue bahkan belum bilang sama Fania kalau gue Cuma beberapa hari disini.” Ucap Andrew yang sepertinya bingung.
“Ya mau gimana, ini kan urusan kerjaan. Meski kayaknya juga kita agak lama di Italy ini.” Ucap Jeff lagi.
“Kalau harus besok mendadak harus berangkat ke Italy, gimana gue jelasinnya sama dia. Gue bahkan udah tahan dia supaya ga kerja besok.” Andrew bicara dengan nada suara yang terdengar lesu.
“Ga usah repot – repot jelasin. Gue paham.” Tanpa disadari Andrew dan Jeff, Fania sudah menghampiri keduanya saat dia hendak pergi ke toilet. Gadis itu juga mendengar sebagian pembicaraan Andrew dan Jeff soal mereka yang harus berangkat ke Italy besok hari.
Andrew dan Jeff yang kaget kalau ternyata Fania ada disitu dan mendengarkan mereka bicara soal keberangkatan mereka yang mendadak ke Italy.
Andrew segera beranjak karna Fania langsung berbalik pergi dari hadapannya dan Jeff setelah bicara satu kalimat tadi. Dan gadis itu tampak kecewa.
“Kak John, anter gue pulang sekarang.” Ucap Fania dengan wajah yang sukar dilukiskan.
Reno, Ara dan John terkejut melihat raut wajah Fania, ditambah lagi gadis itu minta diantar pulang dengan mendadak.
“Hey, kenapa Little F?.” Tanya Reno sambil merangkul bahu Fania. Ara juga mendekatinya.
“Ga apa – apa Kak. Gue pengen pulang aja.” Ucap Fania yang sepertinya matanya sedikit berkaca – kaca.
Tak lama Andrew datang dengan setengah berlari menghampiri Fania beserta Jeff di belakangnya.
“Hey Fan.” Panggil Andrew pada Fania mencoba meraih lengan gadis itu yang sedang di rangkul Reno.
“Ayo Kak John. Cepetan anter gue pulang. Kalo engga gue panggil taksi.” Ucap Fania pada John. Gadis itu mengabaikan Andrew yang mencoba bicara padanya.
Andrew yang diabaikan mengerti kalau sepertinya Fania marah setelah tadi mendengar dia akan berangkat ke Italy
besok.
“Hey, Little F, sini, sini.” Ucap Andrew sambil menarik pelan Fania dan membuat gadis itu berdiri menghadapnya. “Liat gue. Kenapa tiba – tiba mau pulang gini?.” Ucap Andrew lagi karena meski berdiri menghadapnya tapi Fania enggan menatap si Donald.
“ Lo mau ke Italy kan besok?. Ya udah ngapain juga gue disini lama – lama.” Ucap Fania ketus.
“Hey denger dulu dong, ....” Andrew coba bicara untuk menjelaskan tapi Fania langsung memotong kata – katanya.
“Udahlah. Gue udah denger kok. Gue ga minta penjelasan. Gue Paham. Urusan kerjaan kan? Perusahaan. Tau gue kalian para Bussinessman yang sibuk. Perusahaan kalian amat sangat penting. Toh itu juga kan dulu yang bikin kalian hilang perhatian sama gue?. Sampe hilang nomor kontak gue?!. Iya kan?. Ya udah gue paham.” Fania berbicara dengan panjang seperti meluapkan kekesalannya. Dan sepertinya Reno juga ikut kena sindir Fania.
__ADS_1
‘Ya Tuhan, Fania.’ Batin Reno lalu pria itu mendekati Fania. Sementara Andrew diam menatap Fania yang bicara panjang lebar itu.
“Fania, tenang dulu Sweety.” Ucap Reno mencoba menenangkan Fania yang tampak gusar itu.
“Tenang kok, gue udah tenang. Udah selesai kan?. Kita udah ketemu kan?. Udah kumpul lagi meski sebentar. Ya udah. Kalian bisa balik jalanin kehidupan kalian seperti sebelom ketemu gue lagi. Gue ga larang.
Ada hak apa gue?. Emang gue ini siapa larang – larang kalian?!. Kalo mau tanya kabar bisa telpon kan?. Bisa WA. Ga perlu repot – repot jauh- jauh terbang dari London kesini. Jangan buang waktu berharga kalian buat gue. Gue bahagia bisa ketemu kalian lagi. Oke? Makasih. Gue mau pulang!.” Fania langsung menyambar
ucapan Reno dan langsung terus bicara panjang lagi.
Ada, kesal campur sedih yang tergambar di tiap ucapannya. Membuat semua orang yang ada disitu merasakan apa yang kini seorang Fania rasakan. Terlebih lagi untuk Reno dan Andrew. Semua yang diucapkan Fania seperti mengiris hati mereka.
“Little F.” Reno mencoba menghentikan Fania yang sudah berbalik saat hendak pergi meninggalkan tempat itu.
Saat Reno, juga Ara hendak menghentikan Fania. Andrew memegang lengan gadis itu dan menariknya dalam pelukan.
“Engga seperti itu Fania. Engga seperti itu.” Ucap Andrew lirih sambil memeluk Fania.
“Udahlah Nald. Udah. Stop it. Jangan perlakukan gue, seolah – olah gue ini berharga banget buat lo. Buat kalian.”
Ucap Fania melepaskan pelukan Andrew.
“Little F. Lo emang berharga buat gue sama Andrew. Please jangan bicara begitu.” Ucap Reno yang terlihat sedih mendengar ucapan Fania dan Andrew pun sama.
“Fania, sayang. Kita duduk dulu yuk.” Ara mendekati dan coba menenangkan Fania.
“Engga kak Ara. Ma kasih.” Ucap Fania. “Kalian buat apa dateng kalo harus pergi lagi?.” Kini mata Fania sudah berkaca – kaca. “Cukup temuin gue sekali. Jangan kasih gue terlalu banyak kenangan baru. Karena kenangan
yang lama udah cukup indah buat gue kenang.” Dan dua titik air mata jatuh ke pipi Fania.
Sekali lagi Andrew membawa Fania dalam pelukannya. Andrew paham Fania terluka. Reno juga mendekati Fania yang sudah dipeluk Andrew. Ara pun sama. Hanya Jeff dan John yang terpaku di tempatnya melihat Fania yang dari tadi meluapkan kekesalan bercampur kesedihan yang tampak dari raut wajahnya.
Fania sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak menangis dalam pelukan Andrew meski air mata sudah tidak berhenti mengalir. Ada sakit dihatinya yang membuat gadis itu merasa sedih.
“Gue ga akan pergi besok dan seterusnya. Janji. Gue akan disini sampai lo bosen ngeliat gue , hemm?.” Andrew berbicara sambil masih memeluk Fania sambil mengelus punggung gadis itu.
Reno juga membelai lembut kepala Fania. Serta Ara juga ikut mengelus punggung bawah Fania.
Sementara Fania sendiri terdiam dalam pelukan Andrew.
“Gue sama Ara juga ga akan kemana – mana lagi, oke?.” Ucap Reno menambahkan ucapan Andrew.
“Iya Sweety. Kita ga akan ninggalin kamu lagi. Ga mungkin sayang.” Ucap Ara lembut.
“Maafin gue ya?. Duduk yuk.” Ucap Andrew lalu mengecup pucuk kepala Fania. Dia ga tega melihat Fania begini.
“Duduk dulu ya?.” Reno kembali menambahkan dan Fania pun nurut untuk akhirnya duduk dan menenangkan dirinya sendiri.
****
To be continue ...
** Up dua Episode buat readers setia Bukan**
Sekedar Sahabat. Terima kasih sekali buat Readers setianya Author, yang
__ADS_1
akhirnya bisa membuat popularitas novel ini terus meningkat. ******