
Selamat membaca ...
*
“Jol!.” Tiba – tiba John memanggil Fania saat mereka selesai dengan acara makan malam dan sedang mengobrol sambil menunggu para supir menghampiri dengan mobil mereka, membuat si Kajol menoleh saat John memanggilnya.
“Apa?.”
“Liat nih!.” Si bule koplak tersenyum lebar, menunjukkan sesuatu pada Fania.
“Uweeewww.”
Fania bersorai sendiri dengan senyuman lebar memandang pada sesuatu yang ditunjukkan oleh John dengan muka tengilnya.
Para anggota keluarga yang lain termasuk Mama Anye pun akhirnya ikut menoleh, karena si Kajol bersorai sendiri sambil menghampiri John yang cengengesan.
Andrew memandang malas dan sinis saat melihat sesuatu yang ditunjukkan oleh si bule koplak pada Fania. Dia tau itu mengarah kemana, termasuk Reno dan Jeff.
‘God, damned you, John ( Emang sialan lo, John ).’ Batin Andrew yang mengumpat kesal pada John.
“Wow, tiang!.” Celetuk Fania, si John cengengesan dan terkekeh geli. Tiga laki – laki lainnya yang paham memandang sebal, sementara yang tak paham mengernyitkan dahi mereka.
“What is it Fania? ( Ada apa, Fania? ).” Tanya Dad mewakili mereka yang gagal paham maksud Fania dan John.
Sebuah tiang lampu yang ada didekat lobi vallet restoran membuat pikiran jahil John muncul untuk meledek Andrew, Reno dan Jeff.
“Nothing Dad ( Ga ada apa – apa, Dad ).” Jawab si Kajol sambil cengengesan. “It’s just this lamp, P-O-L-E interest me ( Cuma ini T-I-A-N-G lampu buat aku tertarik ).”
Dad makin mengernyitkan dahinya begitupun lainnya yang tetap gagal paham. Sementara tiga lelaki yang paham sedikit menahan kesal.
“Ah jadi pengen joged.” Celetuk si Kajol dengan muka tengilnya sambil mengeluarkan ponselnya. John sudah hampir tak kuat menahan tawa.
“Jogedlah, Jol. Masa kalah sama....” John sengaja menggantungkan kalimatnya sambil melirik tiga laki – laki yang saat ini makin sinis memandangnya.
“Nah. Pas!.” Celetuk si Kajol saat sepertinya ia menemukan sesuatu yang menarik di ponselnya.
Keluarga Smith belum beranjak meski satu persatu mobil yang dikemudikan supir mereka sudah tiba.
Masih penasaran dengan apa yang sedang John dan Fania bahas, dan apa hubungannya dengan tiang lampu?.
Karena si Kajol sudah bersandar pada tiang lampu tersebut dengan muka yang nampak seperti sedang meledek.
‘Entah apa yang sedang mereka berdua pikir dan rencanakan.’ Batin Andrew bermonolog sambil memperhatikan Fania dan John yang lagi cengengesan bareng.
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
Ponsel Fania sepertinya berbunyi, namun nampaknya bukan nada dering.
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
Bukan satu kali kamu buat begini
Bukan satu kali kamu bikin makan hati
Kalau terus begini, serong kanan,
cari lain lebih baik
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
‘Oh My Lord! ( Oh Tuhanku! ). Unbelievable! ( Sukar dipercaya! ), Little F punya kelakuan.’ Batin Reno sambil kepalanya geleng – geleng melihat apa yang sedang adik kesayangannya itu lakukan.
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
Di depan mata lagaknya teman biasa
Tapi di belakang aksinya luar biasa
Aduh, ampun dasar lelaki memang buaya
🎶🎶🎶🎶��🎶🎶🎶
‘Demi Apapun di dunia ini!.’ Batin Jeff ikut bermonolog namun dia tak bisa menahan diri untuk tak terkekeh .
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
Kamu sepuluh, aku sebelas ..
Kamu selingkuh, aku balas
Kamu sebelas, aku dua belas..
Kamu tak jelas, aku lepas
🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶
Ara dan yang lainnya membuka mulut lebar – lebar dan terkekeh geli melihat Fania yang asyik lipsync lagu dangdut itu kayaknya, sambil goyang – goyang ga jelas deket tiang lampu.
__ADS_1
Andrew memijat pelan pelipisnya, lagi – lagi tak habis pikir dengan kelakuan Fania yang sering diluar dugaan.
‘Gue berharap Amnesia saat ini.’ Batin Andrew bermonolog yang rasanya campur – campur sekarang.
Kesal dapet sindiran gara – gara si John membahas tiang lampu, plus Fania yang langsung konek sama si John. Ditambah lagi si Kajol segala lipsync sambil goyang – goyang begitu. Rasanya Kesal dan malu, keduanya tumbuh jadi satu buat Andrew saat ini.
Tak pelak membuat Fania menjadi perhatian orang – orang disekitar mereka yang senyam senyum melihat Fania yang bergoyang bersama tiang lampu. Fania nampak cuek, si Andrew yang malu sendiri.
John yang nampak tergelak puas dengan kelakuan si Kajol yang memang jelas sedang menyindir Andrew. ‘Memang ga ada yang samain si Kajol punya kelakuan, haha.’ Batin John yang tak tahan untuk tergelak juga.
Prok! Prok! Prok!
Wajah Fania sedikit merona saat mendengar suara tepuk tangan dari beberapa orang yang tidak dia kenal sedang menepukinya setelah dia selesai membuat pertunjukkan di dekat tiang lampu. John masih tergelak sambil juga ikut bertepuk tangan, sementara Reno dan Jeff geleng – geleng namun juga terkekeh pada akhirnya dan ikut bertepuk tangan.
Termasuk anggota Keluarga Smith yang lain berikut Mama Anye yang ikut membuka mulut mereka dengan lebar sambil bertepuk tangan, setelah melihat aksi Fania yang susah diungkapkan dengan kata – kata. Terlalu lincah dan centil istrinya si Andrew. Tapi lucu. Begitu pikir mereka sepertinya.
Hanya Andrew yang tak bertepuk tangan. Si Donald Bebek yang kena skak mat barusan yang memandangi Fania dengan wajah yang sulit digambar dan diartikan.
“Ayo kita pulang!.” Celetuk Fania tanpa dosa. Setelah rasanya puas menyindir si Donald Bebek. “Kenapa? Mau beliin aku tiang?.” Ucapnya sambil melirik Andrew lalu masuk ke dalam mobil.
*****
“Where’s Little F? ( Little F mana? ).” Tanya Reno selepas sarapan dan Keluarga Smith berkumpul di hari Sabtu nan indah itu.
“Sedang mengambil ponsel di kamar, mau menelpon sekalian katanya ada perlu.” Jawab Andrew sambil mendudukkan dirinya di sofa semi lesehan di ruang santai sambil bersandar pasrah, nampak sedikit lelah.
“Mau pesan tiang dia?.” Celetuk John sambil terkekeh dan dilempar bantal kursi oleh Andrew.
“Bisa ga lo berhenti cari gara – gara?.” Ucap Andrew ketus pada John. “Udah empat malam gue menderita, oke?!.”
John makin terkekeh. “Chill out, Man ( Santai Bro ). Gue kan hanya nanya. Siapa tau si Kajol mau pasang tiang di kamar kalian?.”
Jeff dan Reno ikutan terkekeh.
“Ah, iya! Dari semalam Mom ingin tanya. Kalian membahas tiang terus kayaknya Mom dengar. Ada apa sih?. Ada apa hubungan tiang dengan Fania?.” Mom bersuara, menanyakan rasa penasarannya sejak semalam.
Sepertinya juga mewakili Dad, Michelle dan Mama Anye yang juga sedikit penasaran. Sementara Ara sudah dapat cerita versi lengkap dari Reno pastinya. Nyonya Reno itu terbilang sangat peka kalau ada hal – hal yang sedikit aneh menurutnya.
“I don’t wanna talk about it, Mom ( Aku males bahas soal itu, Mom ).” Andrew kembali bersandar malas.
“Are you sick, Andrew? ( Apa kamu sakit, Andrew? ).” Tanya Dad yang melihat Andrew nampak sedikit lesu itu.
“No Dad, I’m okay. Just a little bit crick ( Engga Dad, aku baik – baik saja. Hanya sedikit pegal – pegal ).”
“Kenapa kamu Ndrew?.” Tanya Mom Erna. “Oh iya maksudnya kamu sudah menderita selama empat malam, itu apa?.”
“Mungkin ga dapet jatah ya kamu, Ndrew. Lagi halangan Fania nya? Jadi lemes?.” Ledek Mama Anye.
‘Bisa tidur kembali di ranjang aja gue bersyukur.’ Batin Andrew. “Hanya sedikit lelah aja Mom, Mam.”
“Kalian berantem lagi?.” Tanya Mom.
‘Bertengkar terus deh mereka.’ Batin Michelle.
“Ada apa sih?.” Tanya Mom lagi penasaran. “Kenapa kamu sampai tidur di sofa?. Pasti kamu buat kesalahan yang lumayan fatal, ya?.”
“Bukan lumayan lagi, Mom.” Celetuk Ara.
“Oh ya?.” Sahut Mom. “Coba ceritakan.”
Andrew menatap malas pada Mom Erna. “Ck!.” Ia berdecak.
“Jadi gini Mom, Andrew itu awalnya bohong saat pulang dari Italy sama si Kajol.... bla..bla....” Jeff angkat suara bercerita kronologis awal mula keapesan mutlaknya Andrew.
“Apa?!.” Wajah Mom sudah hampir tertawa. “Jadi si Donald Bebek plontos ini tertangkap basah oleh Fania, sedang ada di Klub striptease?!.”
“Yah kurang lebih begitu.” Sahut Jeff.
“Hahahahahaha ....” Gelak tawa pun pecah saat itu juga dari mulut Mom, Dad, Michelle bahkan Mama Anye.
“Kapookkkkk!.” Celetuk Mom Erna dan kembali tergelak puas.
“Seriously, Mom? ( Plis deh, Mom? ).” Andrew makin sebal.
“Seru banget kayaknya. Pada ngetawain apa sih?.”
Fania sudah datang bergabung di ruang santai keluarga.
Mereka yang sedang tertawa lebar berusaha untuk menghentikan gelakan mereka.
Fania memandangi satu persatu dengan tatapan heran.
Semuanya nampak tertawa kecuali satu orang. Siapa lagi kalo bukan si Donald Bebek plontos yang sedang jadi bahan pembulian dari seluruh anggota keluarga.
“Kamu jadi mau beli tiang, Sweety?.” Celetuk si bumil sambil melirik ke Andrew. Dan kembali terkekeh.
*****
Hari dimana Keluarga Smith mengadakan acara empat bulanan bayi dalam kandungan Ara tiba. Meski sudah menggunakan jasa Event Organizer terkenal di London, tetap saja seluruh anggota keluarga tidak berdiam diri. Terutama para wanita yang jelas otomatis merepotkan diri mereka untuk mengecek segala hal demi kelancaran acara hari itu.
“Reno, Ara, sepertinya acara sudah bisa dimulai.” Ucap Mom Erna saat tamu sudah banyak yang datang begitupun seorang pemuka agama Islam yang juga lumayan terkenal di komunitas muslim London.
__ADS_1
Reno dan Ara mengangguk.
“Shall we? ( Ayo? ).” Ajak Dad pada sepasang calon orang tua yang punya acara untuk segera mengambil tempat bersama keluarga yang lainnya juga, termasuk Mama Anye.
Acara pun segera dimulai dan berlangsung dengan khidmat. Terucap doa untuk keselamatan dan kesehatan Ibu dan bayinya, juga untuk seluruh keluarga mereka. Setelahnya Keluarga Smith mempersilahkan para undangan mereka untuk menikmati hidangan yang mereka sediakan dengan sangat baik dan berbaur dengan para tamu mereka.
“Dewa jadi datang, Babe?.” Tanya Reno pada Ara disela acara santai.
Ara mengangguk. “Ini aku lagi tungguin. Udah dijalan katanya.”
“Dia langsung dari Norweg?.” Tanya Reno lagi.
“Udah sampe dari semalam katanya sih di London.” Jawab Ara. “Nah itu dia. Aku sengaja mau kasih kejutan sama Andrew. Biar jadi kejutan sobat lamanya dateng.”
“R, Ara. What you guys R doing here? ( R, Ara. Kalian berdua ngapain disini? ).” Andrew datang menghampiri Reno dan Ara yang berada di ruangan depan.
“Assalamu’alaikum, wahai dua pria sukses dan kaya raya serta satu wanita hamil yang super duper cantik.”
Seorang pria tampan nampak muncul dari pintu depan dengan senyuman lebar dengan kedua tangan yang ia bentangkan ke samping.
“Drunken God is coming ( Dewa mabuk datang ).” Ucap Reno sambil menyambut pria yang bernama Dewa yang sedang mereka tunggu.
Reno dan Dewa saling berpelukan.
Ara dan Andrew pun nampak tersenyum lebar.
“I thought you’re dead already ( Gue kira lo udah mati ).” Celetuk Andrew yang juga langsung memberikan pelukan persahabatan pada pria yang bernama Dewa itu, yang merupakan sepupu jauh Ara.
Dewa tersenyum lebar. “Sorry, ga dateng ke pernikahan lo.” Lalu ia menghampiri Ara dan memberikan pelukan serta kecupan dipipi. “Apa kabar, sepupuku yang cantik?.”
“Kabar baik dong.” Sahut Ara. “Dateng sama siapa?.”
“Sendiri.”
“Masih ga punya pasangan?.” Ledek Ara dan Dewa tertawa.
“Well, sayangnya kecelakaan beberapa tiga tahun lalu membuat gue kehilangan kesempatan mendapatkan pasangan.” Ucap Dewa dengan mimiknya yang langsung terlihat kecewa. “Dan gue butuh waktu dua tahun untuk bisa kembali berjalan, namun sayangnya lagi, wanita pujaan gue udah diambil orang.”
Andrew, Reno dan Ara hanya tersenyum tipis.
“Curhat nih?.” Celetuk Ara, Reno, Andrew dan Dewa pun tertawa. Lalu mengajak Dewa untuk segera masuk ke dalam mansion.
Reno dan Ara berjalan di depan Andrew dan Dewa yang berjalan berdampingan di belakang mereka.
“Lo masih penasaran sama cewek yang lo kejar – kejar itu?.” Tanya Andrew saat sedang berjalan santai bersama Dewa ke area dalam rumah.
Andrew dan Dewa merupakan sahabat lama. Namun sejak beberapa tahun lalu Dewa tinggal di Norwegia, memilih untuk menjalankan terapinya disana sejak ia kecelakaan. Dan baru ini lagi dia bisa mengunjungi Andrew, termasuk Ara dan Reno.
Dewa manggut – manggut. “Yah, pengen memastikan sih sebenarnya. Karena dia dulu kayaknya juga mau menerima gue. But like you know ( Tapi seperti yang lo tau ), gue keburu kecelakaan sebelum sempat memastikan perasaannya ke gue.”
“Perlu bantuan?.” Ucap Andrew sambil tersenyum.
‘Yakin lo?.’ Dewa membatin. “Mau bantuin gue merebutt istri orang, maksud lo?.”
Andrew tergelak. “Jadi lo ditinggal nikah?.” Dewa tersenyum.
“Bukan ditinggal sih, anggap aja gue kurang beruntung karena kalah cepat.”
Andrew manggut – manggut. “Dewa yang gue kenal pantang menyerah, bukannya?.”
“Kalo dia belum nikah, pasti gue kejar sampai dapat.” Ucap Dewa.
“Kenapa ga lo coba pastikan perasaannya ke elo?. Who knows she married for another reason but love with her husband? ( Siapa tau dia nikah atas alasan lain, dan bukan cinta ke suaminya? ).”
Dewa menatap Andrew sambil tersenyum tipis. “Yap, that’s why I came to London ( Ya itulah kenapa gue dateng ke London ) selain buat dateng ke acara ini. Mau menghilangkan rasa penasaran gue aja sih, mau tau aja dia ada rasa yang spesial ga sebenarnya sama gue.”
“Spesial pakai telur?.” Ucap Andrew dan Dewa terkekeh. “Jadi dia di London?.” Tanya Andrew sambil menghentikan langkahnya. Dewa mengangguk.
‘Dia di London, disini....’ Batin Dewa bermonolog. “By the way, istri lo mana?.”
“Ada didalam.” Sahut Andrew. “Tapi tolong jaga mata lo.” Andrew memperingatkan sambil terkekeh.
“Gue tau muka istri lo. Ara kirimkan foto pernikahan lo ke gue.” Sahut Dewa.
“Gimana pilihan gue?. Bahkan lo ga bisa mengukur pakai skala.” Ucap Andrew bangga.
“Sama cantiknya sama mantan gebetan gue.” Sahut Dewa.
“No... istri gue ga bis dibandingkan dengan siapapun, Bro. Dia sangat, sangat special.”
“Hey, kalian mau ngobrol sampai kapan?.” Ara muncul lagi, mengingatkan dua sahabat lama yang sedang asik mengobrol itu agar segera masuk. “Ndrew, dicari Fania tuh.”
“Okay.” Sahut Andrew. “Yuk gue kenalin sama istri gue. Lo Cuma liat dari foto aja kan, pas liat aslinya gue ingatkan lagi jaga mata lo, hati lo juga kalo perlu.” Ucap Andrew seraya bercanda.
“Ya , ya.” Sahut Dewa. ‘Mudah – mudahan.’ Batinnya.
Kemudian mereka melanjutkan berjalan.
“Eh iya lo bilang cewe pujaan lo itu ada di London, kan?. Siapa namanya gue lupa, mungkin gue kenal.” Tanya Andrew.
“Naomy.”
__ADS_1
***
To be continue ...