BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 260


__ADS_3

Selamat membaca..



“Is there any medicine that she has to take?. ( Apa ada obat yang harus dia minum? ).” Tanya Andrew pada Dokter Owen. “She said her head is in pain. ( Dia bilang kepalanya sakit ). Her body is a little bit heartburn too. ( Badannya sedikit panas juga ).”


Dokter Owen tersenyum pada Andrew.


“I will call Judith to come. ( Aku akan menelpon Judith untuk datang ). I can give her some medicine for her, but I think I have to make Judith to check her too. ( Aku bisa memberikannya obat, tapi aku rasa Judith juga harus memeriksanya ).”


“D ....” Fania sekuat tenaga mengangkat tubuhnya untuk duduk. Rasanya ia penasaran melihat Andrew yang nampak sedikit serius berbicara dengan Dokter Owen. Fania memanggil Andrew setelah berhasil duduk.


“Hei, Heart.” Andrew sedikit panik yang melihat Fania sudah terduduk. Ia tak memperhatikan, karena fokus berbicara dengan Dokter Owen. “ Kenapa bangun, hem?. Berbaring lagi ya?.”


Fania menggeleng pelan.


“Kamu lapar?.” Tanya Andrew.


Fania menggeleng lagi.


“Aku kenapa?. Apa aku sakit parah?.”


“Engga Heart, kamu ga apa – apa. Kamu hanya perlu banyak istirahat.”


“Tapi kok kayaknya kalian bicaranya serius?.”


Dokter Owen yang sedikit kembali mendekat hanya tersenyum karena tak paham ucapan Fania.


“Tell her what you have told me, Owen. ( Katakan padanya apa yang tadi kau bilang padaku, Owen ).”


Andrew beralih pada Owen agar dokter keluarga mereka itu mengatakan pada Fania tentang kondisinya.


“You just need some rest, just like I said before. Complete rest and try to Relax. I already text Judith to come, and she’ll be here any minute. Close by. ( Kamu hanya butuh istirahat, seperti yang sudah aku bilang. Istirahat total dan


cobalah untuk rileks. Aku sudah mengirim pesan pada Judith untuk datang, dan ia akan segera kesini tak lama lagi, kebetulan sedang berada dekat sini ).” Jelas Dokter Owen.


“Doctor Judith?.” Tanya Fania yang sedikit heran.


“Yes, Fania.” Sahut Dokter Owen yang masih tersenyum.


Fania memegang perutnya. “Something wrong?. ( Apa ada yang salah? ).”


Wajah Fania sedikit khawatir. Andrew mendekatkan dirinya pada Fania.


“Hey, Heart. Tenang aja. Ga akan ada apa – apa.” Andrew coba menenangkan Fania. “You told her to get relax, but make her worried, damned Owen. ( Lo bilang suruh dia rileks, tapi sekarang lo malah bikin dia khawatir, sialan lo Owen ).”


Andrew malah jadi ngomel pada si Owen yang masih senyam senyum ga jelas dimatanya.


“I don’t mean that Andrew, I just want to make sure. ( Gue ga ada maksud Andrew, Cuma ingin memastikan ).”


Ucap Owen dengan santai, namun Fania masih terlihat khawatir.


Andrew kembali mencoba menenangkan Fania.


“Jangan berpikir yang bukan – bukan, ya?.”


****


“Kamu ada Janji dengan Judith, Babe?.” Tanya Reno pada Ara. Dan Ara langsung menggeleng. Reno sedikit heran atas kedatangan Judith yang merupakan Dokter Kandungan itu.


“Mungkin Judith mau menjemput Owen.”


Ucap Ara yang menanggapi pertanyaan Reno dan laki – laki itu pun hanya manggut – manggut. Mereka berdua pun menyambut Judith yang sudah berada ditengah – tengah mereka saat ini.


“Good afternoon, everyone. ( Selamat siang, semuanya ).”


Judith datang menyapa.


“Good afternoon, Judith. ( Selamat siang, Judith ).”


Keluarga Smith yang sedang berkumpul di ruang keluarga menjawab sapaan Dokter Judith.


“Please, have a seat Judith. ( Silahkan duduk Judith ).” Dad mempersilahkan.


“Thank you, Mister Anthony, but I need to see Fania. ( Terima kasih Tuan Anthony, tapi aku harus bertemu Fania ).” Sahut Judith dengan sopan. “Owen ask me to come. ( Owen memintaku untuk datang ).”

__ADS_1


“Is something wrong with my sister?. ( Apa ada yang salah dengan adikku? )” Tanya Reno setengah khawatir. “Is her unconsciousness related with something that she did that day?. ( Apa pingsannya dia ada hubungan dengan apa yang pernah dia lakukan waktu itu? ).”


Reno sedikit menduga soal Fania yang pernah melakukan tindakan nekat dengan menenggak semua pil kontrasepsi saat itu. Ia takut ada efek buruk yang berkepanjangan. Dan ucapan Reno juga memancing reaksi khawatir keluarganya yang lain.


“Well, I hope not. ( Aku harap tidak ).” Jawab Judith dengan tenang dan tersenyum.


“Come, I’ll take you to their room. ( Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar mereka ).”


Reno mengajukan diri untuk mengantar Judith ke kamar Andrew dan Fania.


“Excuse me. ( Aku permisi ).” Ucap Judith mohon diri untuk mengikuti Reno.


“Mom ikut.” Celetuk Mom. “Ara kamu disini aja. Udah bolak balik keatas kamu tadi.” Mom melarang Ara yang tadinya hendak ikut juga.


Ara mengangguk patuh.


“Aku ikut juga.” Michelle juga langsung berdiri dan berjalan bersama Mom.


“I wish Fania is okay. ( Aku harap Fania baik – baik saja ).” Ucap Mom saat berjalan menuju kamar Andrew dan Fania dengan wajah khawatirnya.


Michelle merengkuh bahu pelan bahu Mom sambil mengusap – usap. “Kak Fania pasti hanya kelelahan, Mom.”


****


“Ndrew. Judith is here. ( Ndrew, Judith datang ).”


Andrew mengangguk dan mempersilahkan Judith untuk memeriksa Fania yang wajah khawatirnya masih belum hilang.


Ya, Fania sudah memiliki ketakutannya sendiri akan ada suatu masalah pada dirinya, terutama rahimnya.


Sebenarnya Andrew juga sedikit merasa khawatir, namun ia bisa menyembunyikan kekhawatirannya didepan Fania. Tak mau Fanianya berpikir tentang hal – hal yang buruk.


“Do you recently more easy to feel tired, Fania?. ( Apa akhir – akhir ini kamu merasa cepat lelah, Fania? ).” Tanya Judith disela pemeriksaannya pada Fania.


Fania setengah berpikir. “Not so sure. ( Ga tau juga ). I don’t really have attention on it. ( Aku ga terlalu memperhatikan hal itu ).”


“Tentu aja Kak Fania ga memperhatikan. I think she’s only be quiet when she’s sleeping. ( Aku rasa sih dia diam hanya pada saat dia tidur ).” Celetuk Michelle yang duduk disamping Fania.


Semua orang terkekeh mendengarnya. Mengingat si Fania yang memang susah diam itu. Ngomong aja badannya ikut bergerak.


“How do you feel now?. ( Apa yang kamu rasakan sekarang? ).” Tanya Judith lagi pada Fania.


“My head feel dizzy to pain. ( Kepalaku pusing dan sampai sakit ).” Jawab Fania.


“Still feel it now?. ( Masih merasakannya sekarang? ).”


Fania mengangguk pelan.


“Something disturbing your mind?. ( Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? ).” Judith bertanya lagi dan Fania mengangguk setelah sempat melirik Reno dan Andrew. “Try to more relax from now on, okay?. ( Cobalah untuk lebih rileks dari sekarang, oke? ).”


Fania mengangguk lagi.


“But nothing serious, right Judith?. ( Tapi ga ada yang serius kan, Judith? ).“  Tanya Mom pada Judith seraya lebih mendekat pada Fania dan mengelus kepala menantunya itu dengan lembut.  Fania tersenyum tulus pada Mom.


“Maybe. ( Mungkin ).” Ucap Judith dengan tenang dan tersenyum. Namun ucapannya membuat Keluarga Smith yang ada disitu malah berubah makin khawatir.


Andrew segera mendekat. “What is it, Judith?!. ( Ada apa Judith? ).” Suara Andrew terdengar khawatir.


“Am I.. Am I suffering of something?. ( Apa.... apa aku menderita sesuatu? ).” Tanya Fania ragu – ragu dan sedikit takut.


"Tenang Heart, kamu pasti baik - baik saja, hem?." Andrew merengkuh Fania dalam dekapannya.


Namun Judith malah masih tersenyum. “ Well, I don’t know who’s going to be suffer in the first week. ( Yah, aku ga tau siapa nanti yang lebih menderita pada minggu pertama ).”


Judith memandang Fania dan Andrew bergantian.


“You mean?. ( Maksud kamu? ).”


Mom nampak sudah menangkap maksud perkataan Judith. Karena Judith makin melebarkan senyumnya saat Mom berucap sambil memandang padanya.


Mata Mom terlihat berbinar dan wajah sumringahnya terlihat.


“Kenapa Mom?.” Fania sedikit heran, termasuk Andrew, Reno dan Michelle.


“When the last time you get you period?. ( Kapan terakhir kali kamu datang bulan? ).”

__ADS_1


Tanya Judith pada Fania, dan Fania nampak mengingat – ingat. Judith menyodorkan sebuah kotak pada Fania.


“You mean I ... I..... ( Maksudmu aku ... aku ... ).”


Fania berkata dengan terbata. Sebuah kotak yang ia tau persis apa isinya itu membuat mata Fania membulat dan mulai berbinar.


“Make sure, then. ( Pastikanlah kalau begitu ).” Ucap Judith pada Fania kembali menyodorkan kotak ditangannya.


“D ....” Fania memandang Andrew dengan mata berkaca – kaca namun rona bahagia terlihat diwajahnya yang sedikit pucat. Andrew langsung mendekat dan duduk tepat disamping Fania. Menatapnya sebentar sambil tersenyum penuh arti lalu beralih pada Judith.


“ You mean she’s pregnant?. ( Maksudmu dia sedang hamil? ).”


Andrew bertanya dengan antusias membuat Reno berjalan mendekat dengan wajah bahagianya. Michelle juga ikut berbinar dan sumringah.


Judith tersenyum pada Andrew dan Fania. “You can find out about it now. To make sure of my prediction?. ( Kamu bisa mencari tahu tentang itu sekarang. Untuk lebih meyakinkan prediksiku? ).” Judith menunjuk pada testpack yang sudah dipegang Fania, yang langsung disambut anggukan antusias oleh Fania.


Andrew membantu Fania berdiri. “How to use it?. ( Bagaimana cara menggunakannya? ).”


“Bodoh. Begitu aja ga paham.” Celetuk Reno dengan wajah sumringahnya meledek Andrew yang tak tahu cara penggunaan alat uji kehamilan berbentuk stik itu. Padahal dia juga sama waktu membantu Ara mengetes kehamilan sebelumnya.


“Ck. Ga usah sok!.”


Andrew berdecak dan Reno tak lagi terkekeh namun ia tergelak.


“You know how to use it, Fania?. ( Kamu tahu cara menggunakannya, Fania ? ).”


Tanya Judith pada Fania dan si Kajol pun mengangguk. Jelas ia tahu, karena sudah pernah menggunakan sebelumnya saat mengira keterlambatan datang bulannya waktu itu karena ia hamil.


Andrew memapah Fania ke kamar mandi.


******


“Aku bisa sendiri, D.”


Fania sudah bersama Andrew di dalam kamar mandi pribadi mereka.


“Aku ga akan meninggalkan kamu. Nanti kalau kamu jatuh?. Tadi kamu bilang pada Judith masih pusing kan?.”


“Iya, tapi kamu keluar dulu. Nanti kalau aku selesai aku panggil.”


“Kenapa sih?. Jangan bilang kamu malu.”


“Ya risih aja, kalo pipis diliatin.”


“Aku bahkan sudah melihat tempat sumber mata air itu keluar, Heart. Sudah sering merasakannya juga.”


Andrew berkata dengan enteng tanpa dosa. Sukses mendapat timpukan kotak testpack yang Fania lempar secara spontan.


*


“So?*. ( Jadi ? ).”


Reno yang paling antusias saat melihat Andrew keluar dari kamar mandi sambil menggandeng Fania. Mom dan Michelle pun tak kalah antusiasnya karena mereka juga mendekat pada Andrew dan Fania. Judith dan Owen hanya mesam – mesem saja melihatnya.


“Sini lihat coba.” Reno mencoba meraih test pack dari tangan Fania.


“Ck.” Andrew berdecak sambil menepis tangan Reno. “Suaminya elo apa gue sih?.”


Si Donald Bebek sewot pada Reno yang terlihat sangat penasaran itu.


“Ih Kak Andrew sama Kak Reno nih.” Ucap Michelle dengan sebal melihat dua kakaknya seperti anak kecil yang akan memperebutkan mainan.


“Tau ih, orang Mom penasaran juga!. Jadi, gimana hasilnya Fania?. Berapa garisnya?.” Tanya Mom dengan sebal namun semangat disaat yang bersamaan.


“Duaa....”


**


To be continue ..


Gimana – gimana, udah bosen sampe sini?😁


Jangan lupa ritualnya, jadi Author bisa sekuat tenaga bisa up sampe Duaa.... 


Mudahan bisa lebih bahkan, kalo belum pada bosen itu jugaa...😁

__ADS_1


Loph Loph 💗💗


__ADS_2