
Selamat membaca ...
*
Fania dipulangkan oleh Andrew ke rumah baru keluarga cemara esok harinya. Untuk fiting baju dan segala hal lainnya dilakukan di tempat terpisah. Khusus untuk Fania dan keluarganya, fiting baju dan segala hal lainnya pun para kru WO bahkan sampai ke designer gaun pengantin pun orang – orang yang bersangkutan yang di perintahkan untuk datang ke rumah Keluarga Cemara.
Fania ga boleh cape !. Demikian titah Andrew Adjieran Smith. Tak boleh dibantah. You know lah, kalau kata Reno dan anggota Keluarga Smith lainnya. Reno paham, karena dia dan Andrew kurang lebih sama. Maunya ya maunya. Katanya ya Katanya. Once again Sultan mah Bebas. Banyak bacod dikepret duit. Selesai.
Lagipula sepertinya tidak ada pihak yang berani membantah kalau Keluarga Smith sudah menurunkan perintah. Takut sengsara datang dalam waktu cepat bagi mereka yang cari masalah dengan Keluarga tersebut.
Seperti halnya tradisi di Indonesia soal pingitan pun dilaksanakan selama tiga hari menjelang hari H. Andrew dilarang keras menemui Fania hingga saat penghulu datang dan ijab kabul terlaksana.
Demi bisa mempersunting orang yang dicintai pastinya. Dilan rela jauh dari Milea, biar kata rindu itu berat. Tiga hari doang, setelah itu serah dah.
Sesuai pembicaraan terdahulu antara Keluarga Cemara dan Keluarga Smith sebelum Fania diboyong pulang ke Indonesia. Akad nikah dan resepsi di lakukan di hari yang berbeda. Karena Papa Herman dan Mama Bela ingin proses ijab kabul dilakukan di rumah. Lebih sakral, lebih santai.
Meskipun rumah baru Keluarga cemara tidak sebesar, seluas dan semewah Keluarga Smith. Namun Andrew dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Toh pada saat hari Akad Nikah hanya mengundang keluarga dan tetangga dekat Keluarga Cemara dari tempat tinggal mereka yang dulu, juga tetangga di tempat tinggal mereka
sekarang.
Rezekinya Keluarga Cemara, bahkan ditempat tinggalnya yang baru pun mereka dikelilingi oleh tetangga yang baik hati dan tidak sombong dan doyan dangdutan juga. Yah namanya orang Indonesia. Apalagi tinggal di Bekasi. Boong kalo ga kenal dangdut mah biar kata ga doyan – doyan amat dengerinnya.
Dua hari sebelum hari H. Tenda super mewah sudah terpasang. Tak tanggung – tanggung satu baris jalanan komplek depan rumah Keluarga Cemara yang baru, tenda itu dibentangkan. Setelah minta persetujuan dari pihak RT, RW dan para tetangga tentunya yang entah udah di kasih bingkisan apa tau sama Keluarga Smith. Hingga
mereka rela depan rumahnya tertutupi oleh Tenda yang super mewah itu.
Membuat orang bertanya – tanya tentang siapa sebenarnya Keluarga yang baru pindah itu. Terlihat biasa saja tak jauh seperti mereka mungkin karena tipe rumahnya sama. Luas memang, dua lantai , dua garasi. Tapi Tenda yang terpasang menggambarkan ini bukan pernikahan biasa. Bahkan di lapangan tenis yang tersedia di area tersebut di sulap menjadi panggung yang indah yang juga tertutup tenda.
Spesial banget itu panggung dengan dekorasi yang indah juga, plus layar plasma . Inisiatif buat nge – zoom goyangan kayaknya.
Tak ada prosesi siraman, karena Fania ogah ribet. Hanya ada pengajian besar – besaran yang digelar. Dengan Catering dan bingkisan untuk dibawa pulang yang lumayan menggetarkan jiwa rakyat jelata.
***
“Terlalu berlebihan.” Gumam Fania sejak para WO bahkan designer kenamaan ke rumahnya yang terbilang biasa untuk pelanggan designer itu hingga saat Tenda super mewah terbentang berikut hampers alias bingkisan untuk para tamu yang datang ke acara pengajian.
Yang tidak diprotes Fania hanyalah anak – anak yang kurang beruntung yang juga diundang dan bingkisan juga amplop berisikan uang untuk diberikan kepada mereka.
“Udeh Kakakkkk .... Istirahat aje ga usah uplek sama ginian.” Celetuk Mama Bela yang ga rela anak nya yang udeh cakep rapih buat pengajian masih ikut bantuin menyiapkan hampers.
“Biarin si.” Sahut Fania.
“Iya Nyonya Fania, biar kami saja yang urus ini semua. Nanti kalau Tuan Andrew dan keluarganya tau Nyonya masih repot begini, kami yang kena teguran.” Ucap salah seorang panitia dari sebuah EO kenamaan yang juga disediakan oleh Keluarga Smith untuk acara pengajian.
“Tuh Nyah, denger kaga itu die ngomong?.” Ledek Mamah Bela yang membuat Panitia yang ada disitu senyam senyum aja melihat dan mendengar kalo Keluarga Cemara udah bicara dan berkelakuan.
“Ah ribet banget.” Gerutu Fania.
“Tau si Kakak ih. Noh orang udah pada dateng tamu. Mah, tetangga yang dirumah dulu juga pada dateng noh nyariin Mamah. Papah udeh didepan.” Ucap Prita yang menghampiri Mama dan Kakaknya.
__ADS_1
“Kak. Tuh Keluarga calon laki kamu dateng noh.” Ucap Si Papah yang masuk rumah sedikit tergesa. Menginfokan pada Fania dan istrinya kalau rombongan besan yang tentu saja minus Andrew sudah datang untuk ikut acara Pengajian untuk Selamatan Pernikahan Andrew dan Fania lusa.
Sekaligus mengajak Keluarga Cemara keseluruhan untuk menyambut Keluarganya Andrew yang baru saja datang. Kalau acara Reno dan Ara dulu ada rentetan siraman dan sebagainya. Nah keluarga calon besan Keluarga Smith yang satu ini beda lagi. Calon penganten cewenya ogah ribet kalo pake siraman. Terserah Fania aja maunya gimana kalau kata mereka.
Keluarga Smith tidak mengadakan acara pengajian di tempat mereka. Andrew dan yang lainnya hanya menyambangi beberapa Yayasan Yatim Piatu untuk memberikan bingkisan dan sejumlah uang sebagai bentuk rasa syukur dan meminta doa untuk kelancaran acara Pernikahan Andrew dan Fania. Jadilah hari ini seluruh Keluarga
Smith datang ke acara Pengajian yang di gelar Keluarga Cemara.
Fania beserta orang tua dan adiknya bergegas untuk menyambut Keluarga Smith yang baru saja tiba.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Smith sekeluarga termasuk dua J yang sudah menjadi bagian keluarga tersebut.
“Wa’alaikumsalam.” Sahut Keluarga Cemara beserta orang – orang yang mendengar salam mereka.
Fania menyambangi mereka satu persatu dengan senyum indah diwajah cantiknya yang hari itu berpakaian muslim bak wanita solehah yang kadang gesrek kelakuannya.
“Masya Allah, adem.” Sapa Reno saat Fania sudah menghampirinya dan rombongan.
“Wakakak. Kayak orang bener yak gue kalo begini Kak?.” Fania malah cekakakan saat Reno menyapa begitu padanya. Membuat Reno juga Ara yang juga memakai pakaian muslimah itu tergelak mendengar ucapan si Kajol.
“Hush, udah alim begini pakaian. Yang kalem sedikit kenapa.” Ucap Ara sambil terkekeh dan Fania mencium punggung tangan kedua orang itu.
“Masuk Kak.” Ucap Fania mempersilahkan Reno dan Ara untuk masuk ke dalam rumah. Lalu ia menghampiri Dad dan Mom yang sudah disambangi kedua orang tuanya lebih dulu.
“Aduh cantiknya menantu Mom and Dad.” Sapa Mom Erna yang melihat Fania dan langsung menciumi pipi calon menantu yang udah berasa menantu duluan. Fania pun salim dengan takdzim pada Dad Anthony dan Mom Erna seraya mempersilahkan mereka masuk juga.
“Widih. Bule Insap.” Celetuk Fania saat melihat dua J dalam balutan baju koko berwarna biru yang senada dengan warna Keluarga Smith dan Keluarga Cemara. Dua J pun tergelak. Selain Reno, mereka adalah laki – laki yang menjadi perhatian para tamu yang sudah sebagian besar datang terutama orang – orang selain dari tetangga
“Gila, Kajolita Esperansah de La Costa kalau begini manglingin banget. Ck,ck.” Puji John sambil berdecak kagum. “Kayak orang bener lo.”
“Embeeerr....” Sahut Fania
Mereka bertiga pun tergelak lagi. Masih berdiri. Dan dua J masih jadi perhatian beberapa wanita muda yang ada disitu. Bahkan mungkin para orang tua yang punya anak gadis di rumah mereka sepertinya akan mencari celah untuk bisa berkenalan dengan dua J. Yang kalau dilihat sekilas tanpa kenal akhlak mereka yang kurang itu, dua laki – laki ini terlihat amat sempurna seperti laki – laki di Keluarga Smith lainnya.
“Bentar – bentar gue fotoin dulu lu Jol. Kasian yang dirumah udah gelisah akibat di pisahkan dari belahan jiwanya. Haha....” Andrew yang dimaksud Jeff yang sudah mewanti wanti dirinya sebelum pergi agar nanti Jeff memfoto Fania dan mengirimkan padanya.
Dan si Kajol pun berfoto dengan manisnya kek orang bener.
“Hati gue tiba - tiba teduh kalau liat lo begini Jol.” Celetuk si Bule Gila, lagi lagi mereka tergelak lalu masuk kedalam rumah.
Dan Acara pengajian hari ini di rumah Keluarga Cemara berjalan dengan amat sukses dan lancar tanpa kendala apapun.
Selesai acara seluruh Keluarga Smith berpamitan pulang karena mereka pun akan beristirahat seperti halnya keluarga Cemara untuk menyiapkan tenaga agar Fit di hari H, esok lusa.
“Besok orang dari Spa datang ya Fania, untuk perawatan pengantin kamu.” Ucap Ara sebelum bertolak pulang.
“Iya Kak. Ma Acih ya.” Fania nyengir dan melepas kepergian Keluarga Smith bersama Keluarga Cemara. “Hati – hati.”
**
__ADS_1
“Ga nyangka Papah Kak, akhirnya bisa liat kakak nikah juga.” Ucap Papa Herman kala Keluarga Cemara sudah bersantai ria pada malam harinya seusai rumah mereka sudah rapih kembali selepas acara dan mereka pun sudah bebersih badan.
“Iye Jol. Kawin juga lo akhirnya.” Timpal si Mamah.
‘Kawin mah udah duluan. Diajak khilap ama si botak.’ Batin Fania. “Iye Alhamdulillah biar pada seneng nyak babeh aye.”
“Papah sama Mamah Cuma pesen sama Fania, jadi istri yang baik buat nak Endru. Jadi menantu yang berbakti juga. Nak Endru, Nak Reno sama keluarganya sudah terlalu baik sama kita, Kak.” Ucap si Papah.
“Iye tuh Kak, jangan suka ngelawan ama suami. Dosa.” Timpal si Mamah.
‘Nasehatin anak pinter, sendirinya doyan ngelawan suami.’ Batin Papa Herman sambil melirik istrinya.
“Iye. Diusahakan.” Celetuk Fania menanggapi ucapan Mama Bela.
“Awas lu jangan macem – macem. Jangan coba coba selingkuh. Sebelum Nak Endru Mamah duluan yang patahin leher kamu kalo coba – coba selingkuh dari Nak Endru.” Ancaman Mama Bela sungguh ruar biasa.
“Het dah. Mikirnya jauh amat Syahelah.” Fania cekikikan. “Mana ada kepikiran nyelingkuhin dia. Yang ada Fania yang kudu was was sama para wanita yang menjadi ancaman sebagai pelakor kelles. Tau calon mantu nye mendekati sempurna.”
“Makanya harus pinter – pinter kamunya lah jadi istri biar suaminya ga kemana – mana.” Ucap si Papah.
“Banyak – banyak bersyukur loh Kak.” Sambar Prita yang ga kelar kelar ngegares Cake yang super enak dan mehong lebihan acara plus bawaan tambahan dari Keluarga Smith yang sebagian sudah dibagikan untuk beberapa saudara mereka yang tak banyak juga para tetangga dekat di tempat tinggal mereka dahulu, meski gesrek tapi baik hati dan rajin membantu.
“Ikut – ikutan aje lo bocah.” Sahut Fania. “Cobain itu kue, ambilin sini gue mau coba yang kayak lo makan.”
“Iye bener kata si Karina Kapur Baru noh. Banyak – banyak bersyukur kamu Jol dapet calon suami kayak Nak Endru tuh. Sayang sama perhatiannya ga ada yang ngalahin ke kamu.” Ucap Mama Bela. “Padahal Mamah si yakin di sekeliling dia banyak itu perempuan yang selevelan sama dia yang jauh lebih cakep dari elu Jol. Tapi nyatanya
dia udah kepantek ama anak Mama yang cantik kek emaknya ini.”
“Aer laut sape yang ngasinin?.” Celetuk si Papah yang mendengar istrinya memuji diri sendiri.
“Yah emang saya cakep sih. Kalo ga cakep situ ga mungkin buru – buru ngelamar saya kan nih.” Mama Bela masih membanggakan dirinya. Papa Herman memilih manggut – manggut aja cari aman.
“Nih Kak.” Prita memberikan Cake yang Fania minta. “Iye tau Kak. Kak Fania dapet kak Andrew itu Anugrah. Nah Kak Andrew dapet kak Fania namanya Musibah. Hahaha.”
“Ye kampreto.” Timpal Fania atas ucapan adiknya yang sering asal jeblak. “Dih dia sih yang beruntung dapet gue. Cakep dari belom berbentuk gue mah.”
Dijawab dengan kerucutan kocak dari wajah Prita yang membuat Fania tergelak.
Sementara Papa Herman dan Mama Bela hanya geleng – geleng saja melihat kelakuan dua anaknya itu. Ada bahagia campur sedih dalam hati mereka karena suasana lengkap bersama kedua putrinya seperti hari ini sudah akan jarang terlihat dimata mereka saat Fania sudah resmi dipersunting Andrew esok lusa.
“Mah, Pah, ma kasih ya. Udah jadi orang tua Fania. Ma kasih karna Papah sama Mamah selalu ngertiin Fania, merawat Fania dari kecil sampai sekarang.” Fania tiba - tiba bersimpuh di hadapan orang tuanya yang sedang duduk.
“Eh Kakak?.” Papa Herman dan Mama Bela kaget. Termasuk Prita.
“Maafin Fania ye kalo sering ngelawan . Tapi Fania bangga sama Keluarga ini. Sama Papah, Mamah sama ini juga kucrit satu.” Ucap Fania sambil tersenyum namun matanya berkaca – kaca. “Fania bangga jadi anak Papah sama Mamah. Bangga kalau Keluarga Cemara ini adalah keluarga Fania yang akan selalu jadi kesayangan Fania.”
“Kita semua yang bangga punya Fania.” Ucap Papah Herman yang kemudian memeluk putri sulungnya. Termasuk Mama Bela dan Prita yang sudah meneteskan air mata mereka seperti Fania dan Papa Herman.
*
__ADS_1
To be continue..