BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 262


__ADS_3

Selamat membaca ...



Malam sudah menyapa, belum terlalu larut, namun sebagian orang sudah terlelap dalam peraduan.


Termasuk dua wanita hamil yang sudah tidur cepat malam ini.


“Bagaimana Little F, Ndrew?.”


Tanya Reno pada Andrew saat ia, si Donald Bebek juga Jeff sedang duduk bersama di area kolam renang.


“Sudah tidur.” Andrew menghela nafasnya dan membaringkan tubuhnya dikursi malas yang tersedia dipinggir kolam renang. “Finally (Akhirnya) gue bisa terbebas sebentar dari moodnya si Little F yang membuat gue hampir gila.”


Jeff dan Reno terkekeh.


“Hati – hati sama ucapan lo barusan. Kalau si Little F dengar bisa diartikan sebagai keluhan lo sama dia.”


Celetuk Reno disela kekehannya melihat Andrew yang nampak seperti menanggung beban yang berat dipundaknya.


Andrew mendengus pelan. “Please, R.” Ia memijat pelan keningnya. “Ara seperti ini juga ga sih saat awal kehamilan?.”


Reno tersenyum lebar. “Just enjoy the moment ( Nikmatin aja waktu seperti ini ) Ndrew, namanya wanita hamil, mood mereka pasti berubah – ubah. Ara juga sama. Walau ga separah Little F sih.” Ucap Reno. “Mereka hanya ingin dimanja dan lebih diperhatikan.”


“Daripada lo harus muntah – muntah seperti R.” Celetuk Jeff.


“Yap, betul sekali. Rasanya menyiksa.” Timpal Reno. “Tapi tetap gue nikmati.”


“Better I have that nausea and vomitting every morning, day and night (Lebih baik gue mengalami mual setiap pagi, siang dan malam), daripada harus menghadapi moodnya Little F yang super extreme.”


Reno dan Jeff malah tergelak.


Lalu sesaat mereka bertiga terdiam.


“Oh ya R, soal dua adik tiri lo yang kurang ajar itu gimana?.” Ucap Andrew yang seketika teringat soal Fania yang sebelumnya sudah terhasut dan menjadi sedikit tertekan akibat ulah adik tirinya Reno itu.


“Sebut aja namanya, jangan sebut status mereka. I don’t care who they are ( Gue ga perduli siapa mereka ). Dan mereka bukan adik – adik gue.” Ucap Reno ketus.


“Mereka berdua menemui Fania dimana?. Memang Alex kemana saat itu?.” Jeff bertanya.


“Kalau seperti yang Little F bilang, waktu itu dia minta tolong Alex membelikan senar gitar. So she went to the Coffee Shop with her friends and waiting Alex to pick her up there ( Jadi dia pergi ke coffee shop dan menunggu Alex untuk menjemputnya disana ).”


Andrew menjelaskan sesuai dengan cerita Fania padanya. Reno menghela nafasnya.


“How could they talked to Little F? (Bagaimana bisa mereka bicara dengan Little F?).” Ucap Reno


“It was Inggrid (Itu si Inggrid).” Sahut Andrew. “Little F bilang cewe yang temui dia di toilet coffee shop. So it must be Inggrid (Jadi pasti si Inggrid).”


“Berarti mereka sudah mengawasi gerak – gerik Fania sebelumnya dong, R?.” Timpal Jeff. “Bukannya lo juga udah suruh Nino menempatkan orang buat mengawasi mereka selama disini?.”


“They didn’t see Fania inside (Mereka ga melihat Fania yang ada didalam).” Sahut Reno.


“Berani – beraninya!.” Andrew nampak kesal.


“Gue juga ga sampai kepikiran kalau mereka mengincar Fania.” Tambah Reno lagi sambil otaknya sedang memikirkan sesuatu.


“Lo harus bergerak cepat, R.” Timpal Jeff. “This is Alexander’s thing (Ini urusan keluarga Alexander), gue hanya akan bertindak kalau lo meminta.”


“Jangan sampai mereka bertindak lebih dari ini pada Little F. Atau gue ga akan sungkan. Ga akan gue biarkan mereka menghirup udara lebih lama kalau sampai mereka berani bertindak lebih jauh dan membahayakan istri serta anak gue.” Andrew sudah mengeluarkan peringatannya.


“I won’t let them (Mereka ga akan gue biarkan).” Ucap Reno menanggapi ucapan Andrew.


“Gue rasa Ara juga perlu proteksi yang lebih, R.” Ucap Andrew. “Mengingat betapa gilanya mereka saat lo mengambil kembali beberapa aset Bunda.”


“Andrew benar, R. Selama ini mungkin mereka ga berani mengganggu Ara, tapi we never know, right? (Tapi kita kan ga pernah tahu, kan?).” Jeff mengingatkan Reno juga. Reno mengangguk paham.


***


“Heart....”


Andrew setengah heran melihat Fania yang duduk bersandar di sandaran ranjang saat ia masuk kamar. Karena seingat Andrew tadi Fania sudah terlelap saat ia turun ke bawah untuk mengobrol dengan Reno dan Jeff.


Fania tersadar dengan suara Andrew.


“Ada apa, hem?. Mimpi buruk?.”


Fania mengangguk.


Andrew tersenyum dan membawa kepala Fania bersandar didadanya.


“Itu hanya mimpi, Heart. Jangan terlalu dipikirkan.”


Fania terdiam sejenak. Andrew mengelus – elus kepalanya.


“Aneh aja mimpi aku, D.”


“Aneh bagaimana?.”


“Aku mimpi liat darah dimana – mana.”


“Kamu habis nonton film horor?.”


“Engga.”


Fania memeluk Andrew.


“Sudahlah, itu Cuma mimpi Heart, jangan terlalu dipikirkan.”


“Cuma aneh aja. Kalau mimpi begitu biasanya aku mau dapet. Tapi kan sekarang aku lagi hamil.”


Andrew sedikit mengernyitkan dahinya.


“Dapet?.”


Fania mengangguk.


“Datang bulan maksud aku. Kalo mimpi kayak begitu biasanya beberapa hari kedepan aku datang bulan. Tapi kan ini aku lagi hamil, D. Ga mungkin dapet kan?.”


Andrew tersenyum, merengkuh tubuh Fania dengan lembut.


“Itu kan hanya mimpi. Bunga tidur. Lagipula kamu jangan terlalu percaya dengan hal – hal semacam itu.” Ucap Andrew dan Fania terdiam.


***


“D.”


Ucap Fania disela memakaikan dasi di leher Andrew.


“Hem?. Mau ikut ke kantor lagi?.”


Tanya Andrew hati – hati sambil memperhatikan raut wajah si Kajol yang bisa berubah dalam hitungan detik itu akhir – akhir ini.


Fania menggeleng.

__ADS_1


“Hari ini aku ke kampus.”


“Kamu seminggu ini bed rest dulu aja. Urusan kampus biar aku yang handle. Lagipula kan kemarin kamu sudah lumayan beraktifitas. Setidaknya hari ini kamu istirahat di rumah. Aku akan pulang cepat.”


**


Siang itu diruangan Reno dalam Perusahaan Smith...


“Sir. (Tuan).”


“What you got, Nino?. (Ada info apa, Nino?).”


“I already put some more people to be around Mrs. Ara. (Saya sudah menempatkan beberapa orang tambahan untuk berada disekitar Nyonya Ara).” Ucap Nino setelah menjalankan apa yang Reno perintahkan, mengingat ucapan Jeff semalam.


Reno manggut – manggut.


“Good.  (Bagus). They’re still here?. (Mereka masih disini?).”


Gantian Nino yang mengangguk.


“How about the record from the tap?. (Bagaimana rekaman dari penyadap?). Is there anything suspicious?. (Ada hal yang mencurigakan?).”


Nino menggeleng singkat. “No. Just some calls to your step Mom. (Tidak. Hanya beberapa panggilan ke Ibu tiri mu).”


Reno menatap tajam pada Nino. “Just say her name. (Sebut saja namanya). She’s nothing for me. (Dia bukan siapa – siapa gue).”


Nino mengangguk. “I’m sorry. (Maafkan saya).”


“Make sure we know every single thing they do and make sure they stay away from my wife and Fania. (Pastikan saja kita mengetahui setiap hal yang mereka lakukan dan pastikan mereka jauh dari istri gue dan Fania).”


Reno memperingatkan Nino agar ia tidak kecolongan lagi seperti saat adik tiri perempuannya berhasil menemui dan memprovokasi Fania.


“I will, Sir. (Pasti, Tuan).”


Reno dan Nino teralih, karena pintu ruangan Reno diketuk dari luar dan Kelly tak lama muncul.


“What is it, Kelly?. (Ada apa, Kelly?).”


Reno berdiri dari duduknya karena Kelly terlihat tergesa dengan raut khawatir dan takut yang nampak diwajah putihnya. “Something bad happened in the Lobby, Sir. (Sesuatu yang buruk terjadi di Lobi, Tuan).”


Kelly bicara dengan takut – takut. Reno menatap tajam pada sekertaris pribadinya itu. “What is it?!. (Ada apa?!).”


**


Di ruangan Andrew..


“Sir!. (Tuan!).”


Andrew dan Jeff yang sedang ngobrol bersama dalam ruang kerja pribadinya sedikit kaget dengan kedatangan Eve, yang merupakan sekertaris pribadi Andrew dengan tergesa dan nampak panik serta nafas yang setengah tersengal.


Andrew dan Jeff segera berdiri dari duduknya.


“What happened?!. (Apa yang terjadi?!).”


Jeff menyegerakan bertanya pada Eve yang sedang berusaha mengatur nafasnya untuk berbicara.


“Mrs. Fania...”


“Fania?!.” Andrew terkejut. “What happened to her?!. (Apa yang terjadi dengannya?!).” Andrew benar – benar gusar. Pasalnya seingat dan setahu dia Fania sedang di rumah. Andrew meraih ponselnya.


Tangannya bergerak cepat melihat pesan Fania dalam salah satu aplikasi.


‘Aku otw kantor kamu. Bete di rumah.’ Pesan tertulis dari Fania satu jam yang lalu, yang belum sempat Andrew baca, karena ponselnya tertinggal diatas meja kerjanya saat ada tamu yang ingin menemuinya satu jam yang lalu.


“Damned!. (Sial!).” Andrew mengumpat. “Is she here now?. (Apa dia disini sekarang?).” Tanya Andrew pada Eve yang mengikutinya dibelakang bersama Jeff mengikuti langkah Andrew yang panjang dan cepat.


Eve menjelaskan dan Andrew sontak membulatkan matanya seiring dengan rahangnya yang mengeras dan tangannya terkepal geram.


**


“Gabut banget ih.” Fania beranjak dari ranjangnya, merasa tak betah kalau harus tinggal dirumah dan kurang kegiatan. “Apa – apa dilayan. Serasa Incess gue.” Gumamnya sambil melangkah ke walk in closet dan menyambar ponselnya.


‘Halo, Assalamu’alaikum, Sweety.”


Terdengar suara Ibu Peri dari sebrang ponsel Fania. “Wa’alaikumsalam, Kak Ara.” Fania meng – loud speaker panggilannya karena dia sedang sibuk memilih baju.


‘Suara kamu, kayak jauh sih?. Kamu dimana?.’ Ara bertanya dari sebrang.


Fania menyambar ponselnya. “Halo, Kak.”


‘Kamu lagi dimana, Sweety?.’


“Dirumah Kak. Kak Ara di Butik?.”


‘Yap. Ada apa, Sweety?.’


“Sibuk ga?.”


‘Engga terlalu. Kenapa sih?. Bete ya ..?.’


“Embeerr. Bete banget ini sendirian. Mom sama Dad lagi ke Yayasan, aku mau ikut ga boleh katanya disana mau ada acara, repot. Nanti gue kecapean lah inilah itulah. Trus si Michelle kuliah.”


‘Sabar sayang, Kak Ara juga waktu awal – awal kayak kamu gini, bosan. Apa – apa ga boleh. Takut kelelahan katanya. Tapi lama – lama terbiasa kok. Lagipula Cuma sebentar aja, Sweety. Kamu kan juga abis sakit.’


“Sakit darimana sih?. Cuman pingsan gegara belom makan doang.” Sahut Fania asal, Ara terdengar terkekeh disebrang.


'Ya udah, Kak Ara usahakan kembali ke rumah kurang lebih dua atau tiga jam lagi, gimana?.'


“Kelamaan. Yang ada gue pingsan gegara bosan.” Sahut Fania lagi.” Maksi bareng yuk Kak Ara. Bareng ama dua cogan punya kita ituh.”


Ara terdengar terkekeh sebentar. ‘Ya udah kalo gitu, kita ketemu di Perusahaan ya?. Kak Ara siap – siap dulu kalo gitu. Bereskan beberapa kerjaan. Setelahnya Kak Ara langsung kesana.’


“Oke deh, Kakaaa. Gue juga siap – siap dulu, abis itu langsung cus.”


‘Ya udah, sampai ketemu, Sweety. Keep in touch ya, kabarin kalau sudah mau jalan. Jangan menyetir sendiri.’ Ara mengingatkan Fania.


“Iyaaa ....”


Fania menutup panggilannya pada Ara.


Sejenak ia terdiam sambil memegang dadanya.


‘Perasaan gue dari semalem tuh kenapa ga enak gini, ya?.’


Fania menghela nafasnya panjang mencoba menenangkan dan agar perasaan nya yang sedikit tak enak itu hilang.


“Perbanyak Istighfar, Joooollll. Astagfirullah.” Fania berbicara sendiri sambil mengganti pakaian dan bersiap – siap menuju Perusahaan Smith. Ia meraih lagi ponselnya dan mengetikkan pesan lalu mengirimkannya pada Andrew.


‘Aku otw kantor kamu. Bete di rumah.’ Terkirim, namun belum dibaca.


Fania menyegerakan dirinya untuk berangkat dengan diantar salah satu supir keluarga mereka. Karena Fania tidak kuliah, jadi Alex dibebas tugaskan dari menjaga Fania saat dia ada di rumah.


‘Kak, gue udah dijalan ya.’

__ADS_1


Fania mengirimkan pesan pada Ara dan tak lama si Ibu Peri membalas pesannya.


“Lagi meeting apa ya si Donald Bebek?.” Fania berbicara sendiri saat melihat pesannya pada Andrew belum juga terbaca saat dia sudah setengah perjalanan hampir sampai ke Perusahaan.


**


“Kak Ara!.”


Fania setengah berteriak saat melihat Ara yang juga baru turun dari mobilnya di lobi Perusahaan. Ara yang mendengar Fania memanggilnya dengan suaranya yang cetar itu meski hanya setengah berteriak saja langsung menoleh dan tersenyum pada adik ipar angkatnya yang hiper aktif itu. ‘Dasar si Kajol.’


“Masya Allah, bener kata Mom, cakep banget istrinya Reno Alexander biar udah buncit juga perutnya.”


“Apa sih Joooollll...” Sahut Ara pada cerocosan Fania sambil terkekeh.


Keduanya saling berpelukan dan cipika cipiki.


“Kak Ara, udah kasih tau Kak Reno kita kesini?.”


“Belum. Kamu bilang sama si Donald Bebek?.”


“Udah aku kirim pesan, tapi belum dibaca juga nih.” Fania mengecek kembali ponselnya.


“Ya udah yuk kita masuk.”


Fania mengangguk dan langsung menggandeng lengan Ara.


“Wah, wah. Akrab sekali dua wanita tidak tahu malu.” Sebuah suara dari belakang, membuat Fania dan Ara menghentikan langkah serta menoleh.


“Inggrid?.”


‘Oh Inggrid namanya?.’


Ara dan Fania sedikit terkejut dengan kedatangan Inggrid, adik tiri Reno bersama dengan seorang pria yang belum pernah Fania lihat sebelumnya.


“Coba lihat itu Kak, mereka berdua kayaknya memang merasa ya dibilang tidak tahu malu. Buktinya langsung menoleh.” Ucap Inggrid yang berbicara pada pria yang ada disebelahnya sekarang.


“Memang begitu kenyataannya, kan?. Harusnya memang merasa. Sudah menikmati harta keluarga kita dengan seenaknya.” Ucap si Pria yang bersama Inggrid memandang sinis pada Fania dan Ara.


Fania memandang pada Ara dan si Ibu Peri mengkode dengan matanya agar Fania tidak melayani mereka.


Fania menuruti Ara dan dia menutup rapat mulutnya. Hanya memperhatikan kedua orang yang memandang sinis padanya dan Ara.


Ara nampak tenang dan tersenyum pada dua orang yang tadi sudah merendahkan dirinya dan Fania dengan ucapan mereka.


“Apa kabar kalian?.” Ara menyapa dengan ramah.


Dua orang itu malah tersenyum sinis.


Sementara Fania masih diam dan masih mengaitkan lengannya pada tangan Ara. Dua orang bertubuh besar dan berjas menghampiri mereka.


“Excuse me, Mrs. Ara are they disturbing you?. (Permisi Nyonya Ara, apa mereka mengganggu anda?).” Tanya salah satu pria yang baru saja datang itu dan dipastikan kalau itu adalah Bodyguardnya Ara.


“No. (Engga).” Sahut Ara singkat.


Dua bodyguard itu sudah dalam mode siaga. Bahkan akan membawa dua adik tiri Reno itu menjauh dari Ara dan Fania sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Reno.


“Wow, apa mereka dibayar dengan uang keluarga Alexander juga, Nyonya Ara?.” Adik tiri Reno yang bernama Inggrid itu menyindir Ara. Namun Ara tetap tersenyum.


“You both have to go. (Kalian berdua harus pergi).”


“No, it’s okay. (Jangan, ga apa – apa).” Ara mencegah kedua bodyguard itu mengusir dua adik tiri Reno yang nampak sedang mengganggu kenyamanan Nyonya mereka.


“But Ma’am. We have an ordered to keep them away from you. (Tapi Nyonya, kami mendapat perintah untuk menjauhkan mereka dari Anda).”


Salah satu dari bodyguard itu bicara lagi.


“It’s okay. Let them. (Tak apa. Biarkan saja mereka).” Ucap Ara dan dua bodyguard itu mengangguk patuh namun hanya sedikit berdiri menjauh.


“Wah, hebat banget ya, dapat dua pengawal pribadi yang pasti dibayar dengan uang yang suami kamu ambil dari kami, sementara dia membiarkan kami hidup dalam keterbatasan.” Inggrid kembali berbicara dengan sindirannya.


 “Apa kalian ingin bertemu dengan Reno?.” Ara tak menanggapi ucapan Inggrid.


“Hey, Ara!. Berhenti bersikap seolah – olah lo itu perempuan baik – baik!.” Pria yang bersama Inggrid mengangkat telunjuknya di depan Ara. Membuat mereka jadi pusat perhatian seketika.


“Eh, mas!. Sopan sedikit ya.” Fania tak bisa diam begitu saja melihat sikap pria yang bersama Inggrid itu pada Ara. Dan dua bodyguard tadi langsung menahan lengan pria yang barusan menghardik Ara itu. 'Bodo deh ah, gue panggil mas.'


Inggrid mencoba melepaskan cengkraman dua bodyguard Ara pada pria yang ia panggil ‘Ka’ itu. “Let my Brother go!. (Lepasin kaka aku!).”


Ara mengkode dengan matanya agar dua bodyguard itu melepaskan kaka dari Inggrid. Dan mereka pun patuh.


“It’s okay, Sweety. (Ga apa – apa, Sweety).” Ucap Ara sambil mengusap – usap lengan Fania. “Biarkan saja mereka bicara apapun.”


“Tapi Kak, ....”


“Ga apa, Sweety.” Ucap Ara dengan lembut dan tenang lalu kembali menatap dua orang adik tiri dari suaminya itu. “Dengar ya Irvin, Inggrid, kalian tidak seharusnya membuat ribut disini. Aku ga pernah mencari ribut dengan kalian.”


“Halah! Ga usah sok baik kamu!.” Inggrid tiba – tiba menyela. “Dari dulu kamu kan yang menghasut Reno untuk menguasai harta Ayah?!. Merampas apa yang seharusnya jadi milik kami!.” Wanita itu menuding Ara.


“Harta Ayah?.” Kini Ara tersenyum sinis pada mereka. “Setahu aku itu bukan harta Ayah kalian atau merampas apa yang menjadi milik kalian. Itu milik Bunda. Bundanya Reno.” Inggrid dan Irvin nampak tak terima dengan ucapan Ara.


“Jaga mulut lo ya perempuan sialan!.” Pria yang disebut Irvin oleh Ara itu sudah mengangkat tangannya untuk menampar Ara.


Namun Fania keburu menahan tangan Irvin. “Jangan sembarangan lo ya!.” Fania menghardiknya seraya memegang kencang tangan Irvin. Kedua bodyguard Ara dan petugas keamanan pun langsung mengamankan Irvin untuk menjauh dari Ara.


“LO JANGAN IKUT CAMPUR J*ALANG SIALAN!” Irvin yang sudah dipegangi itu meronta sambil menghardik Fania. Inggrid kembali berusaha melepaskan kakanya itu.


“Orang gila!.” Ucap Fania. “Ayo Kak Ara, mendingan kita masuk.”


“Mau kemana kamu j*lang!.” Inggrid berhasil meraih lengan Ara dengan cepat.


“Kak Ara!.” Fania memekik kaget. “Apaan sih lo?!.” Mencoba melepaskan cengkraman Inggrid pada Ara.


“Ga usah ikut campur!” Inggrid melotot pada Fania dan satu bodyguard mencoba juga menariknya.


“Lepas!.” Ucap Fania sambil memegang tangan Inggrid yang masih mencengkram Ara dan si Ibu Peri mulai meringis.


“Aku bilang jangan ikut campur! Dasar perempuan sialan!.” Inggrid mendorong Fania.


DAK!!. Fania yang posisi berdirinya sedikit tak siap, terhuyung saat Inggrid mendorongnya dengan kencang. Ia meringis saat tubuhnya membentur pintu kaca lumayan keras. Ia spontan mengusap pinggang belakangnya.


“Fania!.” Ara memekik dan langsung menghampiri Fania untuk membantunya bersama beberapa orang yang kebetulan berada dekat mereka.


Security Perusahaan dan Bodyguard Ara langsung menyeret Irvin dan Inggrid dengan segera tanpa lagi menunggu aba – aba dari Ara.


***


To be continue ..


Ini satu episode yang setara dengan dua episode kayaknya sih. Wkwk.


Mayan panjang dah, meski ga sampe saur juga bacanya.


Pokoknya jangan lupa tinggalkan jejak supaya Author selalu semangat buat Up. Dan semoga reader kesayangan Author semua selalu bahagia dalam membaca ini Nopel.

__ADS_1


Wassalam.


Emaknya Queen.


__ADS_2