BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
NEW CHAPTER OF LIFE HAS BEGUN 40


__ADS_3

♣ HIDUP ITU BAGAIKAN SUNGAI ♣



Selamat membaca ...


*


“Masih memikirkan soal Prita?.”


“Iya. Penasaran aku.”


“Penasaran kenapa?.”


“Penasaran mau mastiin, tuh anak beneran naksir om – om apa engga.”


“Apa?!.” Andrew memekik.


“Sssttt!.” Fania menempatkan telunjuknya dibibir Andrew. “Ntar Andrea bangun ih.”


 “Prita jadi Sugar Baby?!.” Andrew mendelik kaget mendengar ucapan Fania.  Kali ini berbicara dengan sedikit berbisik.


“Ih amit – amit!. Coy – coy.”


“Terus maksud kamu, Prita sama om – om?.”


“Bukan Prita sama om – om. Ish si Donald Bebek nih.” Ucap Fania. “Aku mikirnya ....” Fania menggantungkan kalimatnya.


“Maksudnya Prita suka pria yang usianya terpaut jauh sama dia?. Dia naksir sama John, maksud kamu?.”


Gantian Fania yang mendelik. “Ish kok pikiran kamu bisa sama kayak aku sih, D?.”


“Ya itu salah satu keuntungan kita sering menyatukan tubuh, Heart. Jadi ga hanya hati kita yang terpaut, tapi pikiran juga. Yuk.” Andrew menyeringai jahil.


“Ish, ga jauh – jauh emang si Donald Bebek otaknya. Apa tau hubungannya.”


“Namanya usaha.” Andrew terkekeh pelan. “Aku sudah menduga sejak melihat sikap Prita tadi siang. Setelah perdebatan antara dia dan John ya aku makin yakin kalau adik kamu itu naksir sama John.”


“Kak John dan yang lainnya mikir yang sama kayak kamu?.” Tanya Fania.


“Entah. Ga ada pembahasan setelah kamu menyusul Prita.” Jawab Andrew.


“Terus menurut kamu gimana D, kalau seandainya si Prita beneran naksir Kak John?.”


“Ya mau gimana?. Hati ga ada yang bisa kontrol. Hak Prita juga kan, mau suka sama siapa.”


“Iya sih bener kalo soal itu.”


“Tapi ya, kamu coba bicara dengan Prita pelan – pelan. Kalau memang benar dia menyukai John, lebih baik segera ia hilangkan sebelum rasa yang dia punya makin besar.” Andrew memberi saran. “Karena dari yang aku lihat dan aku rasa kamu juga lihat bagaimana dia tergila – gila sama wanita bernama Aqila itu.”


“Aila.”


“Ya whateverlah, siapapun itu namanya. Yang jelas si John cinta banget sama dia. Ya even kamu, Ara dan Michelle benar soal itu cewe yang ga cinta sama John. Akupun merasa demikian, yah mungkin dia punya perasaan spesial pada John, hanya tidak sebesar perasaan John padanya.”


“Kalo bener itu si Priwitan suka sama Kak John, pusing aku bakalan.”


“Yah kamu beritahu pelan – pelan aja, Heart. Sebelum perasaan dia terlalu dalam, semakin terluka nantinya.”


“Iya itu satu, kedua, kenapa sih mesti Kak John gitu?. Si Prita napa doyan om – om sih?. Jauh banget kan beda usianya.” Ucap Fania.


“Intensitas ketemu mereka kan sering kalau di Indonesia. Udah kenal dan akrab juga sebelum kita ketemu lagi kan?. Kalau soal usia sih, Dad sama Mom aja terpaut sepuluh tahun. Papa sama Mama Bela juga sama kan?.”


“Ck. Iya sih, tapi kalo soal akrab sama Kak John kan duluan aku. Ga ada rasa apa – apa tuh sama dia. Dari pagi kadang ketemu pagi lagi liat mukanya itu si bule koplak.” Ucap Fania.


“Kan hati kamu udah terpaut sama aku, Momma.” Sahut Andrew.


Fania terkekeh pelan. “Untung Kak John ga naksir aku ya, kalo engga bisa bunuh – bunuhan sama kamu kali.”


“Dia paham kalau harus jagain jodoh aku juga.” Sahut Andrew. “Udah ayo kita tidur, cape aku bicara terus. Haus , mau minum susu.”


Tangan Andrew mulai bergerilya.


Si Kajol pun pasrah. Emang pengen.


***


Kamu jangan asal bicara, Prita. Aila ga seperti itu. Apa yang kamu lihat dia diluar ga jauh berbeda dengan apa yang didalam dirinya.


“Terus gue harus bilang wow, gitu?."


Ada yang sedang sewot sambil terisak didalam kamar.


Kamu ga tahu dia, so please. Jangan asal bicara tentang Aila, karena gue ga suka.


“Masalah buat gue?.” Masih ngedumel sendiri.


Dan kamu dengar ya Prita. Cukup itu untuk kamu. Jangan pernah lagi menjelekkan Aila. Jangan karena kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, kamu bisa bicara seenaknya.


“Suka – suka gue, mulut – mulut gue!.”


Masih kesel.

__ADS_1


You know nothing about my Aila ( Kamu ga tau apa – apa tentang Aila gue ).


“Bodo Amaaaat!....” Prita menahan teriakan yang berbarengan dengan isak kan nya dengan bantal.


Prita!.


“Bisa – bisanya lo bentak gue Kak. Biasanya juga lo manjain gue.” Sebagian ucapan John yang terasa menggores hati Prita terputar diotaknya. “Gue ga terima dibentak! Biar cinta juga!.”


Kembali terisak hingga akhirnya si Priwitan terlelap menahan kesal yang sepertinya akan berkepanjangan.


**


“D, aku cek Prita dulu, udah turun belum dia.” Ucap Fania kala ia dan Andrew serta Andrea sudah rapih pagi ini, dan bersiap turun ke lantai bawah untuk sarapan.


“Sini biar, Andrea sama aku.”


“Oke.” Fania memberikan Andrea pada Poppanya, dan ia pun melangkah pergi menuju kamar Prita.


**


“Good morning, selamat pagi.” Fania menyapa semua orang yang berada di halaman yang sudah bersiap untuk sarapan.


“Morning.”


“Pagi.”


Semua orang menjawab sapaannya.


Fania mendudukkan dirinya dan siap menyantap makanan yang sudah tersaji dengan rapih seperti biasa.


“Prita ga bareng kalian?.” Celetuk Reno.


“Mau sarapan dikamar aja katanya.”


“Ish tuh anak kalo ngambek, jelek banget kelakuan. Bentar mama panggilin.”


“Biar John aja Ma, sekalian John mau minta maaf.” John hendak berdiri dari duduknya.


“Dia ga mau turun sarapan, karena dia malas lihat muka lo. Jadi ga usah lo tambah moodnya adik ipar gue makin ga bagus segala sok – sok nyamperin dia.” Celetuk Andrew sambil memandang malas pada si bule koplak.


“D, ih apaan sih.”


“Ya memang benar. Pasti si Prita ga mau turun gara – gara masih marah sama dia.” Tunjuk Andrew pada John.


“Ya that’s why ( itulah kenapa ) gue mau minta maaf.” Sahut John.


“Percuma. Dia ga bakalan buka pintu buat lo. Nyahut aja juga engga pasti.” Ucap Andrew lagi. ‘Yakin gue itu si Prita sama kayak kakaknya, kalo udah marah, ngambek nya lama.’ Batinnya bermonolog.


“Udah lo sarapan aja. Si Prita emang gitu kalo lagi ngambek. Biarin aja dulu. Percuma kalo di bae – baein sampe dia nongol sendiri. Lo terusin sarapan lo aja. Nanti juga kan abis dari Truro lo pulang ke Indo nya bareng keluarga cemara.” Sahut Fania. ‘Meski gue ga yakin lo bakal diajak ngomong lagi sama si Priwitan gegara abis ngebentak die semalem.’ Fania membatin.


**


“Priit ...” Fania menyambangi kamar si Prita yang masih tertutup rapat itu.


“Apaan Kak?.” Terdengar sahutan dari dalam.


“Buka! Gue mau masuk. Gue dobrak kalo kaga mau buka!.” Suara si Kajol yang nyaring itu terdengar membahana di lantai dua.


“Lo ama siapa?.”


“Ama keluarga gue yang metal – metal.” Sahut Fania lagi.


“Serius ih!.”


“Sendiri gue cumi. Cepet buka ga!.” Fania menggoyang – goyang knob pintu dengan tak sabar. “Satu ..”


Suara kunci yang dibuka terdengar ditelinga Fania. Ia langsung pun nyelonong masuk ke kamar adiknya itu saat Prita membuka pintunya.


“Ngambek, tapi makan kaga putus lo.” Fania menoyor kepala adiknya yang wajahnya sedikit sembab itu.


“Laper. Gue makanlah.” Sahut Prita sembari kembali duduk di sofa dan melanjutkan sarapannya. "Stok asi si Andrea abis?." Tanya Prita yang melihat kakaknya membawa pompaan asi berikut botol susu. Fania mengangguk.


“Makanya jangan gegayaan sok ngambek kaga mau ikut sarapan bareng dibawah.” Ucap Fania yang mengambil tempat disamping ade nya itu lalu membuka kancing bajunya untuk mengeluarkan asinya dengan pompaan yang sudah ia pegang. "Kunci dulu itu pintu."


“Males gue liat mukanya.” Sahut Prita sambil kembali berjalan ke arah pintu kamarnya untuk mengunci.


“Ya jangan lo liat. Susah amat.”


“Ya ga mungkin gue ga liat mukanya lah kalo gue ikut sarapan tadi!.” Si Prita rada nyolot.


“Tadi Kak John mau nyusulin lo, mau minta maaf sekalian. Dia ada hubungin lo?.” Fania sedang memompa asinya.


“Lo baca aja itu WA gue.”


“Terus lo jawab ape?.”


“Ga gue jawab, gue baca aja kaga. Males amat.” Prita menyahuti kakaknya sambil tetap memakan sarapannya.


Fania menggeser dirinya dan Prita untuk berhadapan.


“Lo jujur sama gue. Lo kayak gini, karna lo suka sama Kak John, kan?.”

__ADS_1


“Engga, gue ga suka sama dia.”


“Kaga usah boong sama gue lo Priwitan. Gue udah tau lo dari orok. Upil lo aja gue tau gimana bentuknya.”


Si Priwitan terkekeh.


“Jangan ketawa lo, jawab yang bener. Lo suka kan sama Kak John?.”


“Gue ga suka!. Ga hanya suka. Gue cinta!.”


“Hah, kejadian juga dah ah pikiran gue.”


“Salah emang kalo gue jatuh cinta sama dia?.”


“Ya ga ada salahnya jatuh cinta, Prita. Tapi kenapa mesti sama dia?. Kenapa lo mesti jatuh cinta sama Kak John sih???...”


“Mana bisa gue kontrol hati gue sih, Kak?. Orang dateng gitu aja itu perasaan.” Prita sudah menyelesaikan sarapannya.


“Ya gue paham kalo soal itu. Tapi Prita, satu, Kak John itu jauh diatas lo belasan tahun. Masa lu bisa – bisanya naksir om – om girang kek Kak John?.”


“Kalo gue bisa ngatur hati gue, gue juga ga mau kali jatuh cinta ama om – om. Nah tau – tau hati gue malah kecantol die, gue bisa ape?. Salah lo juga kan?. Pake nitipin kita orang sama dia kalo di Indo, jadinya gue sering


jalan kemana – mana sama dia, bahkan dia suka jemput gue ke sekolah. Cinta datang karna terbiasa.”


“Sok beut iye lo.” Fania menoyor lagi kepala si Prita, yang kemudian kembali nampak sendu memandang kearah luar jendela di sampingnya.


“Jadinya gue terlalu terbiasa dengan kehadiran Kak John. Terlalu nyaman.”


Fania menghela nafasnya. Menghentikan kegiatannya memompa asi untuk Andrea yang baru dapat sebotol itu.


“Prit, bagaimanapun perasaan lo ke Kak John, itu emang hak lo.” Fania mengusap pelan lengan Prita. “Sorry, gue bukan mau nyakitin hati lo dengan omongan gue ini. Tapi pada kenyataannya, cinta lo bertepuk sebelah tangan. Lo tau sendiri, gimana perasaannya Kak John ke itu cewe, dia bahkan udah mantap mau mempersunting cewe itu. Bulan depan mau ngelamar. Dan lo liat kan sikapnya semalem waktu lo nge-jelekin itu cewe.”


“Iya Kak, gue tau.” Ucap Prita lirih. “Gue udah kalah sebelum berperang kan?. Dia Cuma anggep gue anak kecil. Dia sampe bentak gue kayak semalem saking belain itu cewenya. Gue kesel Kak, kuping gue panas, hati gue panas, makanya gue kesel banget denger dia muji – muji itu cewe terus.”


“Iya gue paham Prit. Tapi mulai sekarang lo harus berusaha ngilangin perasaan lo ke Kak John, supaya hati lo ga semakin sakit saat nanti lo lihat dia benar – benar jadi milik orang lain.” Fania membelai kepala adiknya. “Lo mendingan fokus sama cita – cita lo buat mengukir prestasi di Gymnastic, anggap aja perasaan lo yang ga berbalas ini salah satu kerikil dalam hidup lo.”


“Susah Kak, gue udah coba, waktu gue tau dia lagi jatuh cinta sama cewenya yang sekarang. Dia juga cerita kok sama gue. Sejak itu gue udah coba, karena gue pikir juga gue sekedar suka gegara cinlok seringan sama dia, tapi


nyatanya susah. Ga bisa ampe sekarang. Malah makin dalem. Sialan banget kan nih hati gue?.”


Prita mulai terisak. Fania membawa adiknya itu dalam pelukan.


“Gue bukan anak kecil lagi Kak, gue tau pasti yang gue rasa ini cinta. Makanya gue sakit hati dibentak begitu karena Kak John segitu belain cewenya. Dia ga pernah kasih gue kesempatan karena dia selalu anggap gue anak


kecil. Gue udah menyerah Kak, waktu Kak John bilang mau ngelamar itu si Aila, tapi perasaan gue kan ga bisa ilang gitu aja ....”


Fania membiarkan Prita mengeluarkan unek – uneknya.


“Udah gede ya si Priwitan sekarang.” Ucap Fania sambil masih memeluk adiknya itu.


“Jelas itu. Gedean juga ***** gue daripada ***** cewenya Kak John malah.” Sahut si Prita yang membuat Fania terkekeh.


Fania menegakkan tubuh Prita sambil melihat kearah dada adiknya itu. “Wah iye bener. Montok juga lo ye?.” Ucap Fania cekikikan. "Tapi masih gedean gue juga."


Prita pun terkekeh sambil menghapusi air matanya. "Ya elo kan n*tein dua bayi." Fania tergelak.


“Ya udah lah Prita, gue sebagai kakak, Cuma bisa kasih masukan buat lo, gue Cuma pengen lo bahagia dan jalani hidup lo dengan baik. Lo mau ikut kejuaraan gimnastik kan?. Nah lo fokus aja kesitu. Siapa tau lo ketemu dengan John – John yang lain. Ya John Cena mungkin?.” Ucap Fania sembari menghibur Prita.


“Bukan om – om lagi kalo buat gue sih itu si John Cena. Aki – aki yang ada.”


“Haha iye bener – bener.”


“Makasih ye Kak.” Ucap Prita dan Fania mengangguk.


“Hidup itu bagaikan sungai, Prita.”


“Mengalir aja ya Kak?.”


“Bukan?.”


“Oh panjang ya Kak?.”


“Bukan juga.”


“Oh becek ya Kak?.”


“Apalagi itu, Bukan.”


“Oh gue tau Kak ....”


“Ssstt .. elo diem. Hidup itu bagaikan sungai. Ada aja tokai yang lewat.”


“Au amatan.”


**


To be continue..


Selamat menikmati hari libur my bebi bala - bala semuaa ..


Ritual jempol jangan lupa

__ADS_1


♦Noted: Buat Kak Dewi Wulandary, tolong lihat halaman Info Pemenang give away yah♦


Ma acih


__ADS_2