BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 186


__ADS_3

Selamat membaca...



Lima menit


Sepuluh menit


Lima belas menit


Tapi Fania juga tak nampak, karena Andrew tak mendengar apapun dari dalam walk in closet, dan ranjangnya pun tak menunjukkan pergerakan selain dirinya.


Andrew tak mampu membendung rasa penasaran. Ia bangkit dari ranjang menuju ke arah walk in closet yang ternyata pintunya terbuka, tak ia perhatikan tadi saat keluar dari kamar mandi. Terlalu fokus untuk menghindar dari Fania.


Tak menemukan Fania didalam walk in closet, Andrew keluar dari situ mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. Tas Fania tak ada.


“Ah, shit! ( Ah, sial ! ).” Umpat Andrew sambil bergegas keluar dari kamar.


Hatinya seketika resah, berpikir kalau Fania meninggalkan Villa karena kesal padanya. Toh Andrew juga sempat mendengar istrinya berteriak mengatakan ‘TERSERAHLAH’ yang sudah menandakan kalau wanita itu kesal.


“Heart?.” Panggil Andrew. Area luar kamar sedikit temaram, sepi. Karena Andrew memang memerintahkan seseorang yang biasanya membantu di Villa itu pulang setelah Andrew dan Fania kembali kesana. Agar mereka berdua dapat lebih menikmati privasi mereka saat berbulan madu. Hanya beberapa orang penjaga yang ditempatkan di gerbang dan di luar Villa oleh Andrew. Termasuk supir yang senantiasa mengantar Andrew dan Fania bepergian di Thailand pun baru akan datang saat pagi hari.


Bergegas untuk turun ke lantai bawah, namun ekor matanya melihat pergerakan air di kolam renang meski dari sudut dia berdiri tak terlihat siapapun disana.


Tanpa menunda Andrew langsung bergegas ke area kolam renang.


Ia menghembuskan nafas lega karena wanita yang ia cari ada disana. Merendamkan dirinya didalam kolam, bersandar pada satu sisi sambil menatap ke arah luar. “Heart?.” Panggil Andrew lagi sambil mendekat, namun sepertinya Fania tak dengar karena ada headset yang tercantel di kedua telinganya.


****

__ADS_1


“Terserahlah!.” Fania berjalan keluar kamar sambil meraih tas kecil yang tadi dia bawa saat makan malam.


Berjalan menuju arah kolam renang, duduk disalah satu lalu mengeluarkan ponsel dan headset nya sambil meraih handuk yang ada di atas kursi santai kolam renang. Melipat handuk tersebut lalu memasang headset nya pada ponsel dan meletakkan ponsel tersebut diatas handuk yang sudah dia letakkan disalah satu sisi kolam renang.


Mengabaikan hawa dingin dari hembusan angin malam, Fania masuk perlahan ke dalam kolam renang, masih dengan mini dress yang ia pakai. Sebal, kesal, sedih karena ketidak percayaan Andrew padanya.


Memandang langit Thailand dari dalam kolam renang sambil mendengarkan musik melalui headset yang terpasang dengan ponselnya. Berusaha mendinginkan hati karena dirasa sedikit sesak, membuat matanya mulai memproduksi air mata.


Berkali – kali menghela nafasnya sambil memandang jauh pada hamparan langit diatasnya.


Hingga merasakan ada pergerakan dibelakangnya yang sudah menghimpit sambil memeluknya.


“Heart.” Suara bariton nan seksi itu amat dikenal Fania. Ia buru – buru menghapus air mata yang satu dua tetes tadi turun ke pipinya. Menangkap wajah Andrew yang bersandar diatas bahu kirinya melalui ekor mata. Suaminya itu sedang menatapnya.


Fania beringsut perlahan dari tempatnya. Ingat untuk melepaskan headset yang terpasang ditelinganya dan perlahan melepaskan diri dari pelukan Andrew menuju tangga stainless yang ada disisi lain untuk naik tanpa menoleh pada Andrew.


“Heart .... “ Mencekal tangan Fania sebelum istrinya itu menggapai tangga kolam renang. “Hey, sini lihat aku?.” Mendekatkan dirinya pada Fania sembari mencoba membuat istrinya menoleh padanya.


Fania menolak pelan dengan menggeser kepalanya saat Andrew meraih dagunya, kembali menghindari Andrew, mencoba meraih tiang tangga di tepian kolam renang.


Syuuutttttt !!!


Andrew mengangkat tubuh Fania dengan mudah. Mendudukkan wanita yang dicintainya setengah mati itu di tepian kolam renang. Terlanjur dan terlalu cinta, hingga cinta itu mampu mengesampingkan ego seorang Andrew untuk meminta maaf pada seorang wanita. Satu - satunya wanita yang bisa membuatnya merasakan apa yang namanya cemburu.


Fania tak melakukan penolakan, namun masih enggan menatap Andrew yang sedang menopang kan dagu dipahanya sembari menatap dengan wajah menyesal.


“Heart, you don’t want to look at me? ( Kamu ga mau lihat aku ? ).” Tanyanya penuh harap, namun Fania masih bergeming tak mau menatapnya. Membuang pandangan ke arah luar Villa. “Kamu benci sama aku sekarang?.”


Masih ada sisa air mata yang lolos turun setetes ke pipi Fania. Wanita itu segera menghapusnya kasar. Membuat Andrew kembali menghela nafasnya merasa bersalah, lalu langsung naik dari kolam renang, mendudukkan dirinya tepat di samping Fania.

__ADS_1


“Heart, look at me. (Sayang, lihat aku).” Andrew menangkup wajah Fania dengan kedua tangannya. “Maafkan aku ya?. Maaf, aku terlalu cemburu.”


Andrew kemudian mencari sesuatu untuk membalut tubuh Fania yang sepertinya kedinginan. Menemukan handuk lain di kursi santai kolam renang, kemudian memakaikan nya pada tubuh Fania.


“Kita ke dalam dulu ya?. Nanti kamu sakit.” Andrew beranjak dari duduknya lalu menarik tangan Fania pelan agar istrinya itu berdiri.


Fania menuruti apa yang Andrew bilang dan seketika bangun. Berdiri tanpa bicara dan menoleh pada Andrew lalu menyambar ponsel yang tadi dia letakkan diatas handuk disisi kolam renang dan menyambar tasnya.


“Sini aku bawakan. Kamu langsung masuk aja.” Andrew mencoba meraih tas istrinya setelah Fania memasukkan ponselnya kedalam tas.


“Aku bisa bawa sendiri.” Ucap Fania datar masih tak mau menatap Andrew kemudian berbalik seraya berjalan untuk masuk kedalam Villa, karena memang tubuhnya sudah setengah menggigil.


Andrew hanya memperhatikan dengan hati yang sedikit mencelos pada Fania yang sudah berjalan didepannya.


Syutt!.


Andrew meraih tubuh Fania dan mengangkatnya ala Bridal Style.


“Aku bisa jalan sendiri.” Ucap Fania namun Andrew tak menggubris. Terus berjalan membawa Fania masuk dalam gendongannya.


“Tunggu sebentar, aku ambilkan kamu baju ganti.” Ucap Andrew saat sudah berhasil membawa Fania masuk kedalam kamar mandi dikamar mereka, sambil membuka kaosnya yang basah, lalu menyambar sebuah handuk kemudian masuk kedalam shower room untuk melepas juga celananya yang basah karena tadi ia masuk ke dalam kolam renang masih dengan pakaian lengkap seperti halnya Fania.


Andrew mendudukkan Fania dimeja wastafel yang beralaskan keramik. Bergegas keluar setelah memakai handuk sebatas pinggang, untuk segera mengambilkan Fania baju ganti.


“Aku rasa bulan madu kita sudah cukup.” Ucap Fania sebelum Andrew keluar dari kamar mandi. Andrew menghentikan langkahnya.


*


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2