BUKAN SEKEDAR SAHABAT

BUKAN SEKEDAR SAHABAT
Episode 250


__ADS_3

Selamat membaca ...



“Kita mau RW? Apa ke Southend?.” Tanya Fania saat dia dan Andrew sudah berganti baju dan kini mereka sudah berada di garasi pribadi nya Andrew dan Reno.


“Soho.” Sahut Andrew dan Fania hanya manggut – manggut. Sementara Andrew berjalan menuju satu ruangan lagi dibagian dalam yang Fania sendiri belum pernah memasukinya.


Segan!. Fania tak pernah ingin tahu harta benda Andrew. Baginya, Andrew sudah benar – benar mencukupi kebutuhannya. Bahkan lebih dari yang Fania bisa bayangkan. Dan perhatian Andrew tidak hanya padanya seorang, tapi juga pada Keluarga Cemara.


Meski sudah beberapa kali masuk ke garasi pribadi milik Andrew dan Reno, tetapi ia selalu takjub dengan apa yang ada di dalam tempat itu. Koleksi pribadi beberapa mobil mahal milik suami dan kakak gantengnya. Ada juga milik dua J. Dad pun juga punya koleksi pribadi mobil klasik namun tersimpan disebuah tempat lain.


‘Ini orang – orang bayar pajak mobil berapa coba?.’ Batin Fania yang sulit membayangkan.


“Heart....” Andrew terdengar memanggil dari dalam dan Fania seraya menoleh. “Come ( Sini ).”


Fania berjalan menghampiri. “Oh iya, D. Kita ngapain ke Soho?.” Tanyanya.


“Kencan.” Sahut Andrew. “Sekalian aku kenalkan sama teman aku juga yang punya tempat hang out yang lumayan nyaman.”


Fania manggut – manggut lagi.


“Cewe, cowo?.”


Andrew tersenyum. “Cowo.... Pakai ini dulu.”


“Helm?. Kita mau off Road?.” Fania sedikit heran karena Andrew memakaikan helm padanya.


“Look at in the mirror ( Lihat di kaca ). Mana ada helmet off Road seperti itu?.” Ucap Andrew setengah terkekeh.


Fania langsung bergegas melihat ke pintu kaca. ‘Eh iya ini mah helm motor.’ Batin Fania. ‘Cakep juga ini helm, cocok kayaknya buat pake naek mio. Nanti gue minta ah ini helm buat si Priwitan.’


“Kamu mau ngaca semalaman, Heart?.” Celetuk Andrew pada Fania yang nampak fokus ngaca itu. Dan Fania langsung tersadar.


“Ini kamu pakein aku helm?. Kita naik motor?.” Tanya Fania yang baru ngeh.


Andrew tersenyum. “Yuk.” Ia mengkode dengan kepalanya agar Fania mengikutinya.


“OMG!.” Fania memekik sumringah saat melihat dimana Andrew duduk saat ini.


Lagi – lagi Andrew tersenyum. “Naik.” Namun Fania tak langsung naik, sibuk takjub dengan sepeda motor yang sedang diduduki Andrew. Membuat Andrew geleng – geleng dibuatnya.


“Ini punya kamu?.” Tanya Fania masih takjub. Andrew mengangguk.


“Punya kamu juga.”


“Ya ampun, D. Sumpah keren banget.”


“Memang aku keren dari dulu, juga.”


“Ish, motornya!.”


Andrew terkekeh. “Ya udah ayo naik.”


“Kok kamu ga bilang, kamu punya motor begini sih?.” Fania sudah duduk dibelakang Andrew.


“Kamu ga tanya.” Andrew menstarter motornya. “Pegangan ya. Yang erat.”


“Balon kali ah, kupegang erat – erat.”


“Seperti yang pernah aku bilang, waktu melamar kamu kan?.”


Fania terkekeh sambil memeluk Andrew yang sudah melajukan Harley nya ke arah jalanan. Melirik pada kaca spion, mengagumi wajah dengan garis rahang tegas milik sang suami. Benar – benar dirasa cocok melihat pria berotot berkepala plontos nan tampan itu menunggangi sebuah moge.


“Kamu suka?.” Tanya Andrew sedikit menolehkan kepalanya. Cup!. Fania mengecup pipinya.


“Banget.” Ucap Fania sambil mengeratkan pelukannya. “Aku ga sangka kamu bisa naik motor, D.”


“Naikin kamu apalagi. Sangat bisa.” Sahut Andrew sambil terus melajukan kuda besi yang ia kendarai bersama sang ratu hatinya.


Fania dan Andrew terkekeh bersama. Menikmati waktu kala duduk berboncengan, diterpa angin kota London malam ini. Menikmati setiap momen kebersamaan mereka. Tak pernah mencoba untuk bahagia, karena saat bersama, hal itu terjadi begitu saja.


**


“Ini tempat teman kamu?.” Fania menunjuk pada sebuah bangunan yang tampak seperti kafe atau semacamnya setelah Andrew memarkirkan motornya.


“Yap.” Sahut Andrew sambil melepaskan helm Fania. Lalu melepaskan helm yang ia pakai. Menggandeng Fania untuk bergegas masuk.


“Hey, married Man! ( Hei, Pria menikah! ).” Seorang pria bule menyapa Andrew dan memberikan pelukan persahabatan padanya. “Fania, right? ( Fania, kan? ).” Pria itu juga menyapa Fania. “Albert.” Ia mengulurkan tangannya pada Fania dan Fania pun menyambutnya.


“Fania.”


“Come, we’ve been waiting for you guys ( Ayo, kita udah nungguin kalian ).” Albert mengajak Fania dan Andrew lebih kedalam. Dan seperti biasa mata si Kajol berkeliling.


Selain suara musik yang tidak terlalu bising dari band yang sedang bermain ditempat itu, interior dan isi dari tempat tersebut lumayan membuat Fania suka.


“Heart, kenalkan ini teman – teman aku. Beberapa teman waktu kuliah.” Andrew memperkenalkan Fania pada beberapa temannya yang sudah berkumpul ditempat itu. Ada juga yang membawa pasangan yang juga dikenalkan pada Fania. Sementara Andrew sudah mengenal semuanya.


“Hey, Andrew’s wife. We’ve heard a lot about you ( Hei, istrinya Andrew. Kami udah dengar banyak tentang lo ).” Ucap salah seorang pria bule selain Albert.


“Ya? I hope it’s a good thing ( Oh ya? Gue harap itu hal yang bagus ).” Sahut Fania dengan ramah.


“Way, too good Ma’am. ( Lebih dari bagus, Nyonya ). You’re the new Queen on the line, right? ( Lo ratu baru di lintasan, kan? ).” Ucap pria berambut pirang tersebut dengan senyuman lebar.

__ADS_1


“Haha, that’s too much ( itu terlalu berlebihan ).” Sahut Fania lagi.


“Don’t try to woo my wife, Darrel ( Jangan coba merayu istri gue, Darrel ).” Ucap Andrew seraya bercanda pada


temannya yang sedang mengobrol dengan Fania itu.


Darrel pun terkekeh dan Fania hanya tersenyum. Masih sedikit canggung dengan orang – orang yang dikenalkan Andrew padanya malam ini. Sepertinya suaminya ini punya beragam teman dari berbagai macam kalangan.


Seingat dia saat melihat Andrew di RED, orang – orang yang berada di tempat yang sama dengan Andrew kala itu berpakaian lebih formal. Berbeda dengan mereka yang Fania temui hari ini. Casual dan nongkrong di tempat yang bisa dibilang asik buat hang out.


“Kirain ga jadi dateng.” Sebuah suara yang muncul dari belakang Fania membuat si Kajol menoleh.


“Ka Dewa? Kesini juga?.” Ucap Fania pada Dewa yang juga ada ditempat itu.


“Jangan dekat – dekat sama istri orang.” Andrew mendorong pelan bahu Dewa yang menurutnya berdiri sangat dekat dengan Fania.


Dewa seperti biasa sering terkekeh dengan kelakuan Andrew yang menganggap dirinya itu seperti bahaya yang sedang mengintai kalau dia udah deket – deket sama Fania. Padahal walau Dewa masih menyimpan sedikit rasa untuk Fania, tapi dia tak berniat mengganggu hubungan Andrew dan Fania.


“Hey, Kajolita lama banget lo.” John pun ternyata ada juga ditempat tersebut.


“Kayak ga tau dia aja sih.” Fania menunjuk Andrew dengan kepalanya.


“Sebagai suami yang baik, aku harus menafkahi istri aku, kan?.” Ucap Andrew dengan lebay sambil memegang dadanya.


Membuat Fania, John dan Dewa memutar bola matanya malas.


“Kak Jeff ada disini juga?.” Tanya Fania pada John dan Dewa.


Keduanya pun kompak menunjuk ke satu arah disudut dekat sebuah mesin permainan.


“Amit deh, penjahat wanita dasar.” Cibir Fania yang melihat Jeff sedang bermesraan bersama seorang wanita disana.


Andrew, John dan Dewa pun terkekeh. Mata Fania kembali berkeliling. Tempat milik temannya Andrew baru Fania perhatikan lebih detail ternyata cukup menarik.


Tak hanya beberapa mesin permainan otomatis yang nampaknya diperuntukkan untuk para pria adu kekuatan, karena pengunjung ditempat tersebut memang didominasi pria.


Membuat Fania, tentu saja menjadi perhatian para kaum Adam yang saat ini ada disana, jika melihat wajah cantik dan bentuk tubuhnya yang lumayan bisa membuat para kaum Adam sedikit berfantasi, mengingat aura keseksian Fania yang terpancar meski dia tak memakai pakaian terbuka.


“Fania, drink? ( Fania, mau minum? ).” Albert menawarkan minuman pada Fania. “I’ll make it free for you ( Gue gratisin deh buat lo ).” Tambah Albert sambil tersenyum.


Fania tersenyum balik pada Albert. “Yes, please and thanks before ( Tentu, dan makasih sebelumnya ).”


“Just give her mocktail, no alcohol ( beri dia mocktail aja, tanpa alkohol ).”


Ucap Andrew pada Albert dan pria itu mengangkat jempolnya.


“Dia yang punya tempat ini, D?.”


Andrew mengangguk. “Suka sama tempatnya?. Kalau ga suka kita pergi.”


“How sweet ( Manisnya ).”


Seseorang menginterupsi kemesraan Andrew dan Fania.


“Hi, Elle.” Andrew menyapa seorang wanita dengan tubuh proporsional yang menginterupsinya dengan Fania barusan.


Fania memperhatikan wanita itu dengan seksama saat Andrew dan wanita bernama Elle itu saling menyapa dengan berpelukan dan cipika cipiki.


Lalu Elle beralih pada Fania. “You must be Fania, right? ( Kamu pasti Fania, kan? ). I’m Elle, your husband Bestie ( Sahabat suami kamu ). Was, when we were in University ( Dulu, waktu di Universitas ).”


Elle menyapa Fania dengan ramah. Dan Fania tersenyum pada Elle. “Nice to meet you, Elle ( Senang bertemu denganmu ). So, you are my husband bestie? ( Jadi kamu sahabatnya suami aku ).” Fania melirik pada Andrew yang hanya tersenyum.


“He must be told you everything about me, didn’t he? ( Dia pasti cerita banyak tentang aku ke kamu, kan? ).” Ucap Elle dengan aura percaya dirinya, lalu beralih ke Andrew. “ You told her about me right?. Don’t say you’re not. Cause you’re gonna hurting me ( Kamu ceritain aku dong pasti ke dia. Jangan bilang engga ya, nanti gue kecewa loh ).”


Fania memandang Andrew dengan tatapan datar, namun membuat Andrew sedikit salting. “Ah, that.. ( Ah, itu.. ).” Menggaruk belakang lehernya yang tak gatal.


“Well, too bad he didn’t tell me anything about you ( Yah sayang sekali dia ga pernah cerita apapun tentang kamu ).” Ucap Fania datar.


“What? Is that true Andrew? Oh, you're breaking my heart ( Apa? Bener itu Andrew? Oh, kamu menghancurkan hati aku, kalo gitu ).”


Elle berbicara dengan wajah dan sikap sok imut.


‘Kok gue geli lama – lama ya?.’ Batin Fania yang melihat sikap Elle.


“Very sorry for that ( Maaf kalo gitu ).” Sahut Andrew pada Elle.


“Ya, very sorry, El-le. Maybe that you not ‘so important’ to tell to me. So my husband won’t let me wasting time, to hear a bored story about you, sorry *( Ya maaf ya, El –le. Mungkin karena kamu ga terlalu**‘sepenting’**itu buat diceritakan ke aku. Jadi suami aku ga ingin membuang waktu aku untuk mendengarkan cerita yang membosankan tentang kamu, Maaf lohhhhh... )*.” Sepertinya si Kajol mulai gerah.


Wajah Elle sedikit berubah. “I see, then ( Oh gitu ya ).” Sahut Elle pada Fania dengan senyuman yang sepertinya dipaksakan. Lalu melirik pada Andrew yang nampaknya merasa tak enak pada Elle atas ucapan Fania pada wanita itu.


“Lo melihat sesuatu yang menarik, Wa?.” Bisik John pada Dewa yang kebetulan masih ada dibelakang Fania. John sudah paham betul karakter si Kajol kalo udah mulai ga suka sama orang.


“Sepertinya begitu.” Sahut Dewa pada John dengan tersenyum seperti halnya John yang sedang mesem – mesem.


“Well, I’m about to say Hi to the others. Catch you guys later? ( Kayaknya aku akan menyapa yang lainnya. Nanti kita ngobrol lagi ya? ).” Ucap Elle yang terlihat sedikit salting juga.


Andrew mengangguk dan tersenyum tipis. Senyuman yang menggambarkan ketidak enakannya atas sikap Fania pada wanita itu.


“Gi dah.” Gumam Fania pelan sambil pura – pura berbalik menghadap John. Si bule koplak dan Dewa makin lebar. Sementara wajah Andrew nampak sedikit serius.


“Heart....”


Andrew meraih pelan lengan Fania.

__ADS_1


“Apa?.” Sahut Fania malas.


“Kamu harusnya jangan bicara seperti tadi pada Elle. Ga sopan, Heart. Dia pasti tersinggung.”


Ucap Andrew pada Fania yang ia tau sepertinya kurang suka pada Elle. Berpikir kalau Fanianya mungkin cemburu pada teman wanitanya itu yang memang cantik dan memiliki tubuh bak model profesional. Yang notabene, Elle memang seorang model catwalk.


“Aku ngomong kenyataan kok. Emang kamu ga pernah cerita, kan? Soal dia ke aku?.” Sahut Fania dengan datar.


“Iya, tapi cara bicara dan kalimat kamu seharusnya ga perlu seperti tadi, Heart.”


Fania menghela nafasnya pelan, tetap menunjukkan wajah biasa pada Andrew.


“Aku ga perduli. Dia mau tersinggung kek, dia mau marah kek. Terus kamu mau apa?.”


Gantian Andrew yang menghela nafasnya. “Ga apa – apa, aku Cuma kasih tau kamu aja, Heart. Dia teman aku, kami hanya berteman, ga pernah lebih dari itu. Kamu ga perlu cemburu sama dia.”


“Dih, siapa juga yang cemburu sama cewe kurus kering begitu.” Sahut Fania dengan cepat. Membuat Andrew menyunggingkan senyum lebar sambil geleng – geleng. John dan Dewa pun sama.


“Betul banget, Naomy. Jauh kalo dibandingin kamu.” Celetuk Dewa.


“Ga usah cari perhatian istri orang.” Sahut Andrew sinis pada Dewa, yang dibalas dengan kekehan oleh Dewa.


Mereka pun terlibat obrolan terlepas dari Elle, dan Jeff juga sudah ikut nimbrung setelah puas tebar pesona ke cewe yang tadi bersamanya. Sesekali juga beberapa teman mereka ikut nimbrung untuk mengobrol dan tertawa bersama.


Ting .. Ting ..


“Can I have your attention, guys please? ( Bisa perhatiannya sebentar temen – temen semua? ).” Elle mendentingkan botol bir ditangannya.


“Mau ngapain lagi itu si krempeng?.” Gerutu Fania yang membuat Andrew menoleh padanya. “Kenapa?.” Ucap Fania pura – pura oon.


“Sudahlah, Heart. Hem?.” Andrew membawanya dalam dekapan.


“I have an idea, to make our meet, tonight more interesting ( Aku punya ide untuk membuat pertemuan kita ini menjadi lebih menarik ).” Ucap Elle dengan senyumannya.


“Tell us?! ( Apa tuh?! ).” Celetuk salah seorang dari mereka.


“Pool match with me ! ( Tanding billiard sama gue ) With a bet! ( Dengan taruhan ).” Sahut Elle. “What about you, Andrew? Are you dare? ( Bagaimana dengan kamu, Andrew? Apa kamu berani? ).” Elle menantang Andrew.


“Me? ( Gue? ).” Sahut Andrew. Elle mengangguk. “What the bet? ( Apa taruhannya? ).”


“You don’t want to ask permission from your wife, first? ( Ga mau minta ijin dari istri kamu dulu? ).” Ucapan Elle membuat teman – teman Andrew menoleh pada Fania. Termasuk Andrew, dua J dan Dewa.


“Silahkan aja.” Sahut Fania sambil mengendikkan bahunya.


“Do you mind, Fania? ( Apa kamu keberatan Fania? ).” Ucap Elle lagi dengan senyuman pada Fania.


“Go a head ( Silahkan aja ).” Sahut Fania lagi dengan santai.


“What the bet then? ( Apa taruhannya kalo gitu? ).” Andrew bersuara.


“If you win from me, you or maybe your wife could ask me anything. ( Kalau kamu menang dari aku, kamu ataupun istri kamu bisa minta aku melakukan apa saja ).” Sahut Elle dan mendapat sambutan riuh dari teman - teman mereka.


Andrew menoleh pada Fania. “Any request, Heart? ( Ada permintaan, Sayang ).”


Fania nampak berpikir. “Yeah sure ( Ya tentu ).”


“What you want me to do if your husband win? ( Kamu mau aku ngapain kalo suami kamu menang? ).” Tanya Elle.


“What about.. you get lost from our life forever? Cause you’re so annoying ( Gimana kalo.. lo pergi jauh – jauh dari hidup kami? Karena lo cukup mengganggu ).” Jawab Fania dengan senyuman tak bersahabat.


Dan suasana jadi hening seketika diantara mereka yang sedang berkumpul itu, mendengar ucapan Fania yang jelas menunjukkan ketidak sukaannya pada Elle. Membuat yang mendengarnya malahan jadi canggung, sementara yang barusan ngomong nampak dalam mode woles.


“Heart....” Andrew menatap pada Fania, seolah bilang jangan begitu. Namun Fania hanya mengendikkan bahunya tanda ga perduli.


“Okay. I’ll deal with that ( Baiklah, aku setuju dengan itu ).” Elle menyanggupi tersenyum tipis nampak memaksakan.


Andrew hanya menghela nafasnya dengan sikap Fania yang ditunjukkan dengan jelas kalau istrinya itu tidak menyukai Elle.


“Maybe you should challenge someone else, Elle ( Mungkin sebaiknya kamu menantang orang lain, Elle ).” Andrew yang merasa tak enak pada Elle yang memang bisa dibilang cukup akrab dengannya saat kuliah dan wanita itu banyak juga membantunya belajar. "Beside, I'm not really usual to dare a woman. ( Lagian gue ga bisa nih tanding sama cewe )." Andrew mencoba mencairkan suasana.


Tapi si Kajol ga suka, gimana dong?.


“Are you afraid to lose from her, my husband? ( Apa kamu takut kalah sama dia, suamiku? ).” Ucap Fania datar. Sementara Elle tersenyum.


“So you agree if I challenge Andrew to have a pool match with me? ( Jadi kamu setuju kalau aku menantang Andrew main Billiard? ).” Ucap Elle lagi dan Fania manggut – manggut. “We have a deal Andrew, let’s start the match then ( Sepertinya kita udah sepakat Andrew, ayo mulai tanding ).”


Fania malas menanggapi, ia hanya menikmati minumannya tanpa mau menoleh lagi pada Elle.


“Ah, I haven’t told about what I want as a prize if I win ( Ah iya, aku belum bilang tentang hadiah apa yang aku mau kalau menang ).” Ucap Elle lagi.


“Say it ( Bilang ). What do you want? ( Lo mau apa? ).” Andrew yang bertanya.


“If I win, I want you to kiss me ( Kalau aku menang, aku mau kamu mencium aku ).”


BLLLURFFF!.


Fania menyemburkan minuman yang baru saja disesapnya.


***


To be continue ...


__ADS_1


Hayoo Author dah ngebut up nih. Bab ini 2.600 kata sekian loh. Biar Cuma satu episode. Lumayan panjang kek coki – coki.  Jadi Author minta belas kasihan para reader Author semua yang blaem – blaem buat dukungan jempol, komen dan vote.😄


Terima kasih sayang – sayangkuh semua ..**


__ADS_2