
Selamat membaca...
🎶🎶
Oh, I don't know what you've been told
But this girl right here's gonna rule the world
Yeah, that's where I'm gonna be, because I wanna be
No, I don't wanna sit still, look pretty
...........................................................
🎶🎶
****
Paris ..
“R, tell Fania to check her phone. I tried to call her but it seems that her phone is dead. ( R, bilang Fania suruh cek ponselnya. Gue udah coba telfon dia tapi sepertinya ponselnya mati ).” Andrew menghubungi Reno melalui ponselnya.
Setelah sebelumnya menelpon Fania beberapa kali tapi tak tersambung. Pesannya pun belum terkirim sepertinya.
‘Fania?.’ Suara Reno terdengar heran. ‘She’s not here. ( Dia ga ada disini).’
“Ck!. Come on R, I really need to talk to her. ( Ck!. Ayo dong R, gue perlu bicara sama dia ). Gps ponselnya masih di rumah. Dia bilang tadi sore mau ke tempat lo. And gue baru sempat telfon, sekarang. Urusan gue baru selesai. Gue rasa ponselnya mati.”
‘Lo habis buat ulah?.’ Tanya Reno masih santai.
“Ck!. Ulah apa sih. Ga ada.” Cebik Andrew. “Tadi sore dia bilang sudah jalan ke tempat lo. Lo jangan iseng untuk membuat gue khawatir.”
Reno nampak terdiam sejenak di sebrang telfon. ‘Dia sama Alex bukannya?.’ Tanya si kakak ganteng, dan Andrew merasa kalau apa yang dibilang Reno barusan benar adanya, kalau Fania memang belum sampai kesana.
Andrew sudah dapat membaca kalau gelagat Reno yang bilang Fania ga ada itu memang benar.
“Jadi dia benar – benar ga ada ditempat lo saat ini?.” Ucap Andrew. “Ck! Kemana dia?.” Andrew mulai khawatir.
‘Dia sama siapa?.’ Reno nampak mulai ikut khawatir.
“Menyetir sendiri.”
‘Kenapa lo kasih dia menyetir sendiri!.’ Reno terdengar mulai gusar.
“Biasanya juga ga pernah tiba – tiba menghilang seperti ini kalau dia menyetir sendiri.” Ucap Andrew makin khawatir. “Ya sudah sebentar gue cek GPS mobilnya.”
‘Let me know everything!. ( Kasih tau gue kalau sudah ada info ).’
“Okay.” Andrew memutuskan panggilannya pada Reno. “Where are you, Heart?. ( Kamu dimana, Sayang? ).” Membuka aplikasi pelacak yang terhubung dengan mobil Fania.
🎶
Oh, I don't know what you've been told
But this girl right here's gonna rule the world
Yeah, that's where I'm gonna be because I wanna be
No, I don't wanna sit still, look pretty**
You get off on your 9 to 5
Dream of picket fences and trophy wives
But no, I'm never gonna be 'cause I don't wanna be
No, I don't wanna sit still, look pretty
Sit still, look pretty
Sit still, look pretty
Sit still, look pretty
Sit still, look pretty
🎶
__ADS_1
**
“Thank you!.”
“Wow! Look at you Mrs. Andrew Smith! You Rock, Babe!. ( Wow! Coba liat lo Nyonya Andrew Smith! Lo keren banget! ).”
Shita dan Jeannie tampak amat sumringah saat Fania turun dari panggung di Kafe yang tak sengaja disambanginya.
“Why you never showed that act in our music club, huh?. ( Kenapa lo ga pernah menampilkan yang kayak gitu kalo di klub musik kita sih? ).” Ucap Jeannie antusias.
Fania mengendikkan bahunya, sambil menjawab juga sapaan dari beberapa orang yang memuji penampilannya barusan.
“Well, No chance for that. ( Yah belum ada kesempatan aja ).” Fania menanggapi ucapan Jeannie barusan.
“I thought you only can sing. ( Gue kira lo Cuma bisa nyanyi ).”
“Well, this year, you have to perform in at the Campus Festival. ( Pokoknya tahun ini, lo harus ikut serta di Festival kampus ).”
Fania mengendikkan bahunya sekali lagi.
“We’ll see about it. ( Kita liat aja nanti ).”
“You want some more drink, Fania?. ( Lo mau tambah minum, Fania? ).”
Fania tidak menjawab pertanyaan Jeannie barusan. Ia sedang sibuk meraba – raba kantong celana jeansnya.
“What are you doing?. ( Lo ngapain? ).”
“I forgot where I put my cell phone, I guess. ( Gue lupa naro hp gue dimana, kayaknya ).”
“I didn’t see you holding up your cell phone from what I’ve remember. ( Seinget gue, dari tadi lo ga kelihatan memegang ponsel lo ).” Ucap Jeannie yang diiyakan Shita dengan anggukan.
“You don’t even bring a bag, Fania. ( Lo bahkan ga bawa tas, Fania ).”
Fania nampak mengingat – ingat.
“Maybe I left those in my car. ( Mungkin ketinggalan di mobil ).”
Fania melirik jam tangannya. Matanya sedikit membola. “Oh ***!*. ( Oh sial! ).”
“Why?. ( Kenapa? ).” Shita dan Jeannie sedikit heran.
“I supposed to be in my brother's house, few hours ago. ( Gue seharusnya ke rumah abang gue beberapa jam yang lalu ).” Fania mulai panik. “I have to go now, bye. ( Gue harus pergi sekarang, dah ).”
“See ya and thank you!. ( Sampai ketemu dan makasih! ).” Pekik Fania sambil berjalan ke arah keluar dari kafe yang terus saja ramai itu, dan melambaikan tangannya pada Jeannie dan Shita. ‘Mati gue!.’
***
“Mana hape gue?.”
Fania mencari – cari ponselnya didalam mobil setelah ia berhasil keluar dari kafe. Ia mengecek di keseluruhan mobil bahkan di kolong jok setelah tak menemukan ponselnya didalam tas maupun di dalam dashboard mobilnya.
“Ck!. Ketinggalan di kamar kayaknya. Lupa lagi gue charge!. Ngamuk ini pasti si Donald Bebek. Ntar aja gue telpon dari rumah Kak Reno lah.”
Fania buru – buru menyalakan mesin mobil dan tetap melajukan nya ke rumah Reno dan Ara.
***
“Assalamu’alaikum.” Fania mengucap salam saat sudah memasuki ke dalam kediaman Reno dan si kakak ganteng nampak berdiri menatapnya dengan wajah dingin sambil berkacak pinggang.
“Dari mana lo?!.”
“Wa elah, orang jawab salam dulu, kek.”
Fania menghampiri sang kakak angkat sambil cengar – cengir lalu mencium tangan Reno dengan takdzim.
“Wa’alaikumsalam!.” Jawab Reno sedikit ketus. “Darimana?!.”
Reno mengulang kembali pertanyaannya sambil masih menatap dengan menyelidik pada Fania.
“Itu....”
“Ita itu, ngomong yang benar!.”
“Ya dari rumahlah.”
“Jangan bohong. Andrew barusan telfon, dia bilang lo udah berangkat dan bilang mau kesini sejak sore.”
“Dih emang bener gue dari rumah si. Hape gue mati lagi di charge lupa gue bawa. Lagian macet itu jalanan. Summer ini summer, Kak.”
“Jangan banyak alasan. Semacet – macetnya jalanan menuju kesini, ga mungkin semacet Jakarta, kecuali ada Godzilla nyebrang.”
__ADS_1
Fania tergelak geli. “Sa aje bapaknya Varen nge lawak. Temennya Denny cagur yak?.”
“Jangan ketawa! Lo pasti mampir ke tempat aneh – aneh.”
“Dih, siapa juga yang mampir ke tempat aneh – aneh si. Orang tadi gue niat mau beli makanan di Charlie.”
“Lo bantuin beres – beres di Charlie sampai jam segini?.” Reno masih ngomel.
“Ya enggalah.”
“Bener dari Charlie?.”
“Iya ....”
“Mana kue atau roti, kalau memang lo dari sana?. Kosong aja itu tangan lo!”
Fania melirik tangannya lalu kembali nyengir pada Reno.
“Hehehe, lupa.”
“Bohong kan, berarti?.”
“Ya engga gitu, Kak. Tadinya kan gue niat ke Charlie, tapi tadi ada kafe yang rame bener, jadi gue penasaran masuk. Eh keenakan nongkrong disitu. Khilap.”
Fania kembali nyengir.
Reno geleng – geleng dengan wajah yang sebal.
“Lo nih! Hobi banget membuat orang panik!.”
“Ya maap. Ga ada maksud si.”
Ponsel Reno kemudian terdengar berdering.
“Nih si Donald Bebek telfon. Siap – siap lo diamuk sama dia!.”
Glek!
**Paris...
“Theresa, could you please get into my room dan Fania, check for her cell phone inside. ( Theresa, bisa tolong masuk kekamarku dan Fania, cek apa ponselnya ada didalam ).”
“....”
Andrew menghubungi Theresa ke Kediaman Smith, meminta si kepala asisten rumah tangga keluarganya itu untuk masuk ke kamarnya dan Fania untuk mengecek ponsel sang istri, yang GPS menunjukkan kalau ponsel itu ada di rumah.
“Ezra, I sent you a cafe’s name and address. You go there and check it what my wife been doing there. ( Ezra, gue kirimin lo nama sebuah kafe dan alamatnya. Lo pergi kesana dan periksa apa yang istri gue lakukan disana ).”
Andrew juga menghubungi Ezra yang menjadi orang kepercayaannya juga, untuk mengecek keberadaan Fania dari GPS mobilnya.
“Kamu jangan merusak kepercayaan aku, Heart.”
***
Fania sedang berleha – leha bersama Reno sekeluarga di taman belakang rumah si kakak ganteng itu.
“Varen, Varen, Varen, Sudah besar mau jadi apa?.” Fania yang sedang menggendong Varen dalam pangkuannya, mengajak si pangeran kecil itu bercanda. Sementara yang diajak bercanda, memandanginya tanpa ekspresi. “Judes beut kayak bapaknya.”
“Ya dia aneh lah liat lo!.” Celetuk Reno.
“Enak aja aneh! Orang cantik gini Aunty nya payeeennn.”
“Jangan suka ganti – ganti nama anak orang!.”
Fania terkekeh, begitupun Ara dan Mama Anye melihat Reno yang nampak sedikit ketus pada Fania.
“Kamu rencananya berapa hari mau menginap disini memangnya, Sweety?.” Tanya Ara.
“Kayaknya sampe Andrew balik kesini, Kak. Di rumah sepi. Dad sama Mom pasti sibuk dah tuh kumpul bareng temen – temen mereka summer gini. Si Michelle pergi holidey juga tuh sama temen – temennya. Mending gue disini dulu deh sampe si Donald Bebek balik.” Cerocos Fania.
“Kita buat pastel, gimana?.” Ajak Ara.
“Boleh aja sih. Tapi kayaknya gue balik dulu ke Mansion mau ambil hape.”
“No need. ( Ga perlu ).”
*
To be continue ...*
__ADS_1
Satu episode lagi deh ya, Emak lagi mager. Insya Allah akan up lagi nanti di hari ini juga.