
♦HI and GOODBYE ♦ Hai dan Selamat Tinggal ♦
***
Selamat membaca.....
“Don’t cry .. my Snowman.... ( Jangan menangis.... Snowman – ku.... ).” Sebuah sentuhan lembut dari tangan halus yang bergerak pelan, menyentuh wajah seseorang yang menopangkan pipi disisi ranjang dengan mata terpejam.
‘Oh, Heart, aku mulai berhalusinasi ....’ Andrew menggumam kala kedua matanya ia pejamkan. Hanya sekedar melepas lelah sambil menunggui Fania membuka mata. Merasa seperti Fania berbicara padanya sembari mengelus pipinya, seperti yang biasa istrinya itu sering lakukan.
Andrew menghapus bulir sisa air matanya yang menetes, juga membasahi tangan Fania yang berada dalam genggamannya.
“Don’t cry .... my Dear Snowman ... ( Jangan menangis.. Snowman ku sayang.... ).”
Andrew membuka matanya dengan cepat, merasakan suara yang terdengar ditelinganya itu seakan dekat. Hingga sentuhan lembut membelai pelan kepalanya bersamaan dengan suara yang begitu familiar mulai nyata.
“D...” Andrew langsung tersentak, diri berikut jantungnya.
Laki – laki berbadan tegap yang penampilannya sudah kacau itu terkesima dengan apa yang matanya tangkap saat ini.
‘Oh Tuhan, jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku.’
Andrew membatin menatap lekat – lekat wajah pucat seorang wanita yang nampak masih lemas namun akan selalu cantik dimata Andrew, dan kini sedang tersenyum padanya. Senyuman yang Andrew tunggu - tunggu.
“Hai .. Donald Bebek ....”
Wajah pucat itu bersuara. Pelan, namun cukup jelas untuk Andrew dengar.
“Heart!.” Andrew memekik. Lagi – lagi matanya mulai basah. Ia sedang sendirian saat ini. Reno sedang pulang bersama Ara untuk berganti baju dan akan kembali sesegera mungkin.
Sementara Jeff sedang membelikan makanan untuk Andrew. Sementara Dad dan Mom diminta pulang oleh Andrew untuk beristirahat. Dan Michelle ikut juga pulang bersama Dad dan Mom hanya untuk mengambilkan baju ganti untuk kakaknya dan Jeff.
“Ini nyata kan, Heart? ....”
Andrew membelai wajah Fania pelan dan berhati – hati.
Fania mengangguk pelan sambil tersenyum.
“Aku ga tega ninggalin kamu ..”
“Oh, Heart....”
Tangis Andrew pecah dihadapan Fania yang sudah sadar sekarang. Luapan kelegaan dan bahagianya atas Fania yang sudah membuka mata. Membuat Fania sekali lagi mengangkat tangannya untuk membelai wajah pria yang sedang menangis dihadapannya sekarang.
“Please don’t cry my Snowman... ( Tolong jangan menangis Snowman ku... ). Hem?.” Fania mengusap pelan pipi Andrew yang basah dengan air mata. “Aku ga akan kemana – mana lagi ....”
“Janji?.”
“Janji...”
“Aku hampir gila, kamu tahu?. Hampir mati bahkan.” Ucap Andrew sembari menghapus sendiri air matanya. “Aku akan menyusul jika kamu benar – benar pergi, Heart ....”
Fania tersenyum.
“Jangan ... kasihan nanti bayi kita.” Fania mengusap perutnya, namun dia merasakan sesuatu yang lain. Perut buncitnya sudah tak ada. “D..” Tenggorokan Fania rasanya tercekat. Menatap Andrew penuh tanda tanya, namun suaranya urung keluar untuk bertanya.
“Our baby is save.. ( Bayi kita selamat ).” Ucap Andrew dengan lembut, paham mimik wajah Fania setelah mengingat bayinya. “Judith menyelamatkannya terlebih dahulu, Heart.”
Gantian tangis Fania yang kini pecah. “Dia selamat D? .. Bayi kita hidup?....” Ucap Fania pelan dan lirih.
__ADS_1
“Iya, Heart. Kamu jangan khawatir ya?. Dia sehat, hanya harus diinkubasi karena prematur. Tapi dia sehat.” Ucap Andrew. “Kamu jangan banyak bergerak, aku akan panggilkan Dokter.”
Fania mengangguk pelan.
***
“Letty in a real life.. ( Letty dalam kehidupan nyata ).” Ucap Jeff yang berdiri samping Andrew di dekat ranjang rumah sakit saat dia datang dari membeli makanan dan melihat Andrew sudah bersama seorang Dokter rekomendasi Owen, karena dokter itu dipersilahkan untuk pulang dan beristirahat setelah begitu berusaha
menyelamatkan Fania.
Jeff menggeleng saking tak percaya, Fania yang tadi sudah dinyatakan tiada dan dia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya juga menjadi saksi saat Andrew sempat ‘gila’ karena frustasi, kini wanita itu sudah kembali menunjukkan senyumnya. Meski senyuman itu tipis dan wajahnya yang masih pucat dan masih juga terlihat lemah.
“Sebentar Heart. Aku bicara dengan dokter dulu ya?.”
“Iya.” Sahut pelan.
“Jeff gue titip Fania sebentar.” Ucap Andrew pada Jeff lalu keluar dari ruangan bersama Dokter untuk mengetahui kondisi Fania.
“Okay.” Jeff mengangkat jempolnya pada Andrew lalu duduk di kursi yang tadi ditempati Andrew. “Oh, Kajol. Lo jangan pernah lagi bikin prank seperti ini, okay?.”
Fania tersenyum lebar pada Jeff, meski badannya masih ia rasa lemas.
“Ga usah ketawa lo. Kita semua tadi udah hampir kena serangan jantung gara – gara elo sempat travelling ke alam lain. Pake ga nafas segala. Jol.. Jol.. Suami lo tuh udah seperti orang gila tadi. Bagus lo cepet – cepet balik. Kalo engga, bisa – bisa si Andrew pergi menyusul lo.”
“Gue tau, Kak. Langkah gue berhenti karena denger suara dia yang lama – lama makin kenceng.” Ucap Fania memandang pada langit – langit atap rumah sakit diatas kepalanya. “Terus ada suara yang manggil gue ‘Mama’.”
“Gue kira lo bikin rusuh disana, terus diusir malaikat suruh balik ke bumi.”
Fania terkekeh pelan mendengar ucapan Jeff barusan.
“Eh iya Ka.”
“Apa?. Bayi lo aman. Cuma masih di inkubator. Makanya lo cepat sehat biar bisa lihat bayi lo itu.”
“Lalu mau tanya apa jadinya?.”
“Alex sama Ezra gimana kondisinya?. Gue belum sempat tanya sama Andrew. Alex itu langsung meluk gue saat mobil kami ditabrak kenceng dari samping sampai berhenti karena menghantam sesuatu. Abis itu gue ga tau lagi.” Fania menjelaskan. “Mereka berdua baik – baik aja kan?.”
Jeff seketika terdiam.
*****
“Ndrew, gue pulang sebentar untuk ganti baju dan bersih – bersih. Gue akan kembali secepatnya kesini. Sekalian gue mau mengecek kondisi Alex dan Ezra. Gue benar - benar belum sempat tanya soal mereka ke Nino.” Ucap Reno pada Andrew.
“Ah iya R, gue sampai lupa tanya soal Ezra dan Alex. Kita semua terlalu fokus sama Little F soalnya. Nanti setelah Little F sadar dan baik – baik saja... gue akan mengunjungi mereka.” Ucap Andrew
Reno manggut – manggut. “Iya, gue duluan yang melihat mereka sebelum pulang.”
“Jeff sedang menghampiri Nino sepertinya.” Ucap Ara.
“Ezra dan Alex di rumah sakit ini juga kan?.” Ucap Andrew.
*“Jeff.” Panggil Reno pelan pada Jeff yang baru saja masuk tak lama Nino juga masuk. “**Nino, how are they?( Bagaimana mereka? ).”*
“R, Ndrew.” Jeff saling tatap dengan Nino. “Ezra masih kritis.” Ucap Jeff pelan.
“Alex?.”
Jeff dan Nino kembali saling tatap.
__ADS_1
*“**Alex... she’s not survived**( Dia ga selamat ).”*
*“**She’s the one who died on the spot ... Sir**( Dia yang langsung meninggal di tempat kejadian .... Tuan ).”*
*“**Oh God**.. ( Oh Tuhan .... ).”*
***
“Ezra masih dalam masa kritis. Kita masih menunggu dia melewatinya.” Ucap Jeff saat Fania menanyakan tentang keadaan dua orang yang bersamanya saat kecelakaan.
Fania tak bersuara. Hanya menutup mulutnya karena ia prihatin dengan kondisi Ezra. “Padahal dia mengemudikan mobil dengan hati – hati dan melaju saat lampu sudah hijau. Entah bagaimana tiba – tiba ada mobil dari arah lain yang melaju dengan cepat.” Sebulir air mata jatuh dipipinya. “Lalu Alex? Apa dia kritis juga? Karena sebelum gue merasa kepala gue menghantam sesuatu, dia melindungi gue dari hantaman mobil yang meluncur ke sisi gue. Sigap banget dia.”
Jeff tersenyum tipis. “Sangat. Dia sangat berdedikasi pada pekerjaannya buat melindungi lo sekuat tenaga.” Ucapnya.
“Terus apa dia juga kritis kayak Ezra?.” Tanya Fania dengan suara yang lirih.
Jeff menghela nafasnya sebentar. “Jol, Alex ga selamat. She died on the spot ( Dia meninggal ditempat ).”
“Apa Kak ....?.” Wajah Fania berubah sendu, air matanya sudah kembali menetes.
Jeff tak bersuara, hanya manggut – manggut saja.
“Ya Allah, Alex ....” Fania tak dapat menutupi kesedihannya atas apa yang terjadi pada pengawal pribadinya itu, seperti yang dikatakan oleh Jeff barusan. “Dia sampai kehilangan nyawa buat melindungi gue, Kak...” Fania terisak lirih.
Jeff mengusap pelan lengan Fania. “Ya udah Jol, jangan terlalu dipikirkan soal itu. Kami sudah mengurusnya. Pemakaman dan segalanya. Besok gue dan keluarga kita akan menghadiri pemakaman Alex. Lo fokus sama kesembuhan lo dulu.” Ucapnya.
****
“Hey, Heart .. apa ada yang sakit?.” Andrew menghampiri Fania dengan tergesa saat masuk kembali keruangan Fania dan menemukan istrinya itu terisak lirih.
“Gue udah bilang sama Fania soal Ezra dan Alex.” Ucap Jeff dan Andrew memberikan pandangan tajam padanya. “Dia tanya, so gue kasih tahu yang sebenarnya.” Sambung Jeff lagi karena paham maksud tatapan Andrew padanya, yang seolah bilang, kenapa harus lo ceritakan sekarang.
Andrew berdecak. “Itu bukan salah kamu, Heart. Jangan sedih ya?. Kamu juga harus memikirkan kondisi kamu sendiri.”
“Aku hutang nyawa sama Alex, D....”
“Aku yang berhutang banyak pada Alex, bukan kamu.” Andrew membelai lembut wajah Fania sembari menghapus air matanya. Ingin sekali memeluk Fania saat ini, tapi urung karena takut tubuh istrinya itu masih sakit, ditambah luka di kepala dan tulang leher Fania yang sedikit bergeser. ”Aku yang berhutang nyawa padanya, karena dia
menyelamatkan kamu dan bayi kita.”
“Seandainya aku bisa datang ke pemakaman Alex .. Hanya untuk mengatakan selamat tinggal dan terima kasih sama dia ....”
“Sudah ya, jangan menangis?. Aku yakin Alex bahagia karena usahanya untuk menyelamatkan kamu dan bayi kita tidak sia – sia.”
“Seengganya aku mau bertemu keluarganya. Mau bilang pada ibunya, kalau dia punya seorang anak yang hebat, mau bilang maaf, karena demi aku, anak nya sampai kehilangan nyawa.”
Andrew dan Jeff menghela nafas mereka dalam.
Mereka paham kesedihan Fania, karena Alex memang sudah sangat dekat dengannya.
“Sudah ya?. Aku akan memberikan yang terbaik untuk keluarganya untuk pengorbanan Alex pada kita. Pada kamu dan bayi kita. Sudah ya, jangan menangis lagi.”
“Iya Jol, besok gue sampaikan belasungkawa lo pada keluarga Alex. Mereka juga pasti paham kondisi lo.”
“Gue titip pesan ya, Kak. Bilang sama Alex, makasih banget buat pengorbanan dia ke gue. Maaf gue ga bisa dateng buat kasih penghormatan terakhir. Bilangin makasih udah setia nemenin gue selama ini, dengerin celotehan gue, ngerasain keisengan gue yang kadang bikin dia susah. Sampaikan terima kasih dan selamat tinggal gue untuk dia...”
“Iya ....”
‘Thank you Alex, and Good bye.’
__ADS_1
***
To be continue ..