
Selamat membaca ...
“Welcome to your husband Office, Mrs. Andrew.” (Selamat datang di ruangan suami anda, Nyonya Andrew**)**. Ucap Andrew sesaat setelah membawa Fania masuk ke ruangan pribadinya. Berkata santai, tanpa beban. Seperti tidak terjadi apa – apa sebelumnya.
Fania hanya tersenyum dan Andrew membawanya untuk duduk disofa setelah membantunya melepaskan coat dan menggantungnya di gantungan kayu. Fania mengedarkan pandangannya selagi ia duduk dan Andrew seperti menghubungi seseorang dari jalur telpon pribadinya. Tak lama kembali pada Fania.
“Maaf ya, soal yang dibawah tadi.” Ucap Andrew sambil merebahkan kepalanya diatas paha Fania. Posisi favorit Andrew. “Jangan marah lagi, ya?.” Membelai wajah Fania dengan lembut. Fania kembali hanya tersenyum saja.
Tok. Tok. Tok. Suara pintu ruangan Andrew diketok dan Andrew mempersilahkan masuk. Tanpa merubah posisinya yang lagi rebahan dengan kepala diatas paha Fania.
“Ehem. Excuse me Mister Andrew.” (Permisi Tuan Andrew). Seorang wanita cantik berpakaian formal namun berkesan seksi, masuk ke dalam ruangan Andrew dengan membawa dua cangkir minuman diatas nampan.
Sedikit kaget dengan posisi Bosnya kala itu. ‘Wow’. Batinnya.
Melihat sang atasannya seperti sedang bermanja –manja. Tambah lagi mengelus – elus dengan lembut pipi wanita yang pahanya dijadikan bantal oleh Andrew, tanpa memperdulikannya.
“Nald.” Ucap Fania pelan yang canggung dengan posisi Andrew yang udah Pewe itu.
“It’s okay. She’s my Secretary, Eve.” (Ga apa – apa, ini sekertaris aku, Eve). Ucap Donald tanpa menoleh kepada sekertaris pribadinya, hanya memandangi Fania.
“Nice to meet you Mrs. Andrew.” (Senang bertemu anda Nyonya Andrew). Sapa Eve dengan tersenyum dan memberi hormat dengan kepalanya karena sedang memegang nampan. “I bring tea for you and your wife, Sir.” (Aku bawakan teh untuk anda dan istri anda Tuan).
Fania tersenyum padanya. “Thank you. Sorry for bothering you, Miss Eve.” (Terima kasih. Maaf merepotkanmu Nona Eve).
Eve menoleh dan tersenyum manis. ‘Wow. So polite. (Wow. Sopan sekali). Very different than that arrogant Cindy.(Beda banget sama si sombong Cindy).Even way more beautiful (Jauh lebih cantik bahkan).’ Batinnya. “My pleasure. Ma’am.” (Dengan senang hati, Bu). Lalu ia permisi keluar.
“Kamu marah banget ya sama aku? Hem?.” Andrew melanjutkan bicaranya. Karena merasa Fania masih tersinggung atas apa yang menimpanya di Lobby, karena gadis itu tak banyak bicara. Hanya baru bicara pada
Eve saja bahkan. Tidak padanya.
Fania menggeleng sambil tersenyum.
“Say something (Bicara sesuatu) Kalau memang sudah ga marah.” Ucap Andrew lagi sembari bangkit dan menghadapkan Fania padanya.
“I Love You.” Fania menyentuh wajah Andrew dan mencium bibir Donald Bebek kesayangannya.
**
“So gimana Fan, hari pertama berkunjung ke kantor calon suami dan kakak ganteng kamu?.” Tanya Ara saat mereka semua sudah berkumpul di salah satu restoran Turki di tengah Kota London. Dan wanita itu membuka – buka buku menu sembari menunggu Fania menjawab.
Fania menatap lima laki – laki yang ada bersama mereka di meja itu dengan wajah yang penuh arti sambil tersenyum pada Reno, Andrew, dua J dan Nino.
__ADS_1
Reno menatap Fania intens.
“Hum?. Ada masalah?.” Ara menatap Fania karena tidak mendapatkan jawaban. Lalu menatap suaminya dan kemudian menatap Fania lagi. Andrew dan dua J serta Nino pura – pura sibuk melihat buku menu.
“Ada sih dikit.” Jawab Fania santai dan Reno langsung melotot padanya tanpa disadari Ara yang ada disampingnya.
“Oh ya?. Kenapa?. Tapi kamu diterima dengan baik kan?.” Tanya Ara santai. “Ga mungkin kan dua pria ini sampai lupa menyambut kamu, Sweety?.” Wanita itu terkekeh.
“Ehem.” Reno berdehem.
“Kenapa Hon?.” Tanya Ara.
“Gatal tenggorokan aku.” Jawab Reno cepat.
“Sangaaaaaat baik. Ka Ara. Aku disambut dengan heboh!.” Ucap Fania yang tangannya ikut andil saat gadis itu berbicara.
“Oh ya?.” Ara tersenyum lebar. “Dibentangkan red carpet gitu?.” Tanya Ara sambil terkekeh.
“Bukan lagi Kak. Pake Band pengiring segala.” Sahut Fania santai.
“Untung bukan dangdutan ya, Sweety?. Hahaha.” Sahut Ara sambil tertawa. Reno ikut tersenyum lebar. Terpaksa biar bininya ga curiga. Tambah lagi sebal melihat Fania yang menatapnya seperti mengejek.
“Hahahaha. Iya.” Sahut Fania yang tertawa penuh arti. ’Coba tadi Rosalinda ada.’ Batin Fania.
“Terus masalah yang kamu bilang, apa?.” Ara melanjutkan pertanyaan pada Fania. Reno langsung melotot lagi pada adiknya yang gesrek itu.
Andrew memilih diam. Posisi dia sih udah aman soalnya udah dicium Fania tadi.
“Gue... tadi....” Fania berbicara seperti sedang ragu untuk cerita. Reno menyenggol kaki si Kajol sambil kembali memberi pandangan yang sebenarnya bikin Fania pengen ketawa. “Kak Reno tadi ....”
‘Puasa gue seminggu.’ Reno mengusap wajahnya gusar.
‘Mati lu Ren. Kalo si Fania sampai cerita ke Ara soal insiden tadi.’ Batin dua J.
‘Please, Miss Fania. Don’t tell anything about what was happened. Not only R will get in trouble, but me too.’ (Tolong Nona Fania, jangan cerita apapun soal tadi. Ga Cuma R yang akan kena masalah, tapi gue juga).’ Batin Nino.
‘Kalau Fania cerita sama Ara, gue juga akan kena marahnya Ara ini. Ah masa bodoh. Yang penting gue udah dicium tadi’. Batin Andrew.
“Kak Reno tadi sama Andrew ninggalin gue karena ada meeting mendadak. Jadi gue bete sendirian.” Ucap Fania.
‘Hhh ... Selamat.’ Batin Reno. “Nanti kita beli gitar oke, Little F?.” Sahut Reno sambil tersenyum lebar. Fania menatapnya malas.
“Oh sogokan damai nih ceritanya?.” Sahut Ara. “Belikan yang paling mahal , Hon.”
“Satu toko aku belikan kalau perlu, buat adik kesayangan aku.” Ucap Reno sambil menaikkan alisnya pada Fania.
__ADS_1
“Cih.” Decak Fania sebal.
**
“Assalamu’alaikum.” Ucap Fania dan Andrew yang sudah tiba di rumah kediaman Smith. Menyapa Dad and Mom serta Michelle yang sedang duduk di ruang keluarga.
“Wa’alaikusalam.” Jawab ketiga orang tersebut.
“Andrew, Fania. Have a seat here.” ( Andrew, Fania. Duduk sini ). Ucap Dad Anthony dan kedua orang itu turut bergabung setelah mencium punggung tangan Mom and Dad.
“Kalian sudah makan?.” Tanya Mom Erna.
“Sudah tadi Mom habis dari kantor nya Andrew sama Kak Reno. Makan bareng sama yang lain.” Jawab Fania. “Tapi Fania ga bawain apa – apa. Nih kata dia ga usah.” Fania menunjuk Andrew.
“Ah Kak Andrew si pelit emangnya.” Sahut Michelle sambil mencebik.
“Lamborghini mau gue sita?.” Sahut Andrew ketus pada adiknya.
‘Hah, ga salah denger gue? Mobil nya Aa Raffi bukannya si Lambo?.’ Batin Fania.
“Ih Kak Andrew, too sensitive (sensi banget).” Sahut Michelle lagi dan gadis itu beranjak dari duduknya. “Michelle tidur duluan ya.” Ia lalu mencium pipi kedua orang tuanya. Cup !. Michelle juga mencium pipi Fania.
“Ih dek Michelle baik banget sih. Dapet ciuman selamat malam juga akuh.” Goda Fania pada Michelle yang tampak sangat menyukai Fania.
“Iya dong. Soalnya calon kakak ipar aku jago bikin pastel.” Ucap Michelle sambil memeluk Fania.
Andrew dan orang tuanya tersenyum pada kedua gadis yang sedang berpelukan itu. Bahagia kalau Michelle menerima Fania dengan senang hati, mengingat gadis itu juga kadang sulit akrab dengan orang yang baru
dikenalnya dan itu anak rada judes. Cindy aja sering diabaikan sama dia.
“Dad, can we talk privately?.” ( Pah, bisa bicara secara pribadi? ). Ucap Andrew pada Dad Anthony.
“Sure ( tentu ). My office, Shall we? ( ayo ke ruang kerja ).” Ucap Dad Anthony dan ia serta Andrew pun berdiri.
“Kalo gitu, Fania pamit ke kamar duluan ya. Mau bersih bersih ini.” Ucap Fania seraya berdiri berasa badannya udah lengket. Andrew mengangguk. Dan Fania memeluk Dad serta Mom untuk mengucapkan selamat istirahat.
“Ada baiknya Mom juga ikut bicara dengan Andrew dan Dad.” Andrew berkata dengan wajah serius kepada kedua orang tuanya saat yakin kalau Fania sudah naik ke kamar.
“Mau bicara soal apa, Andrew?.” Tanya Mom karena melihat raut wajah anaknya yang serius itu.
“Fania.” Jawab Andrew singkat.
***
To be continue ...
__ADS_1